ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Tamu yang Dibawa Bara


__ADS_3

Bayu menghisap rokoknya sembari menonton berita yang ditayangkan pada televisi kecil di ruangannya. Ruang berukuran 3 x 2 meter itu kini menjadi kamar pribadinya dengan fasilitas ranjang kecil, lemari pakaian, meja, televisi, kipas angin, kulkas, serta kamar mandi dalam. Fasilitas yang cukup mewah untuk ukuran sel tahanan.


Namun, fasilitas sepeeri itu tetap membuatnya stres. Selama di dalam sel baru itu, dia tidak diijinkan untuk menerima kunjungan dari siapapun. Bayu juga tidak diijinkan untuk menggunakan ponselnya. Dia dilarang berhubungan dengan pihak luar karena dikhawatirkan akan membocorkan rahasia negara kepada pihak luar.


Berita yang ditampilkan TV membuatnya bosan. Hanya seputar berita kriminal, sensasi artis , serta acara lelucon yang sama sekali tidak menarik baginya. Selama ini, dia memang jarang sekali menonton TV jadi rasanya tidak menarik hanya menyimak berita dari kotak televisi itu.


Klek Klek!


Terdengar suara gembok pintu di buka. Bayu memasang sikap waspada. Semalam ini siapa yang mau masuk ke ruangannya. Apa dia akan di bawah lagi ke tempat pertemuan rahasia seperti biasa.


"Hai.... "


Bara melongokkan kepalanya di pintu. Ternyata orang itu. Bayu juga kurang antusias melihat kedatangannya, karena Bara sama sekali tidak membelanya yang telah beberapa kali mengungkapkan keluhannya. Jika dia datang untuk menghibur, itu juga tidak ada gunanya.


"Sibuk apa?" tanyanya.


Bayu berdecih lirih, "Kamu kira sedang mengunjungi teman kosmu? Ini penjara, tidak usah menanyakan hal yang omong kosong."


"Hais.... Galak sekali. Nanti menyesal loh menolak kehadiranku."


"Hah! Lebih baik kamu pergi saja. Ini waktunya kami istirahat."


"Ada yang ingin bertemu denganmu di depan."


"Huft.... Siapa lagi coba.... Aku sudah sangat lelah dan butuh istirahat." Bayu mendengus kasar.


"Ikut dulu, protesnya nanti saja."


Bara menarik paksa tangan Bayu agar mau mengikutinya. Sepanjang lorong sel, banyak pasang mata yang memperhatikan mereka, terutama Bayu. Tahanan baru yang diperlakukan secara khusus di sana. Tapi, sepertinya hal itu tidak membuat mereka iri. Pasalnya, seringkali Bayu dibawa keluar dalam kondisi tangan diborgol dan kepala ditutupi kain hitam, terutama saat tengah malam. Tentu saja itu sangat mengerikan bagi tahanan lainnya.


Bayu hanya bisa pasrah mengikuti arah langkah Bara yang terus membawanya lurus menuju ke arah luar. Setibanya di area ruang kunjungan, ada seorang wanita yang sudah berdiri menantikannya.


Tanpa basa basi, ia melepaskan tangan Bayu dan berlari memekuk wanita itu dengan perasaan haru bercampur bahagia yang tak terkira. Bara membawa Prita untuk bertemu dengannya.


Pelukan erat keduanya menyiratkan betapa besar rasa cinta di antara mereka, serta kerinduan yang sudah tak terbendung lagi. Saking rindunya, mereka meluapkannya hanya dengan saling berpelukan tanpa sepatah katapun yang keluar. Posisi Bara saat ini sudah berubah seperti obat nyamuk. Rasanya iri melihat sepasang suami istri yang saling menyayangi seperti itu.

__ADS_1


"Aduh.... Adegannya jangan lama-lama di sini, ya. Kasihan yang masih jomlo."


Sindiran Bara langsung membuat keduanya saling melepaskan pelukannya.


"Ini kunci rumah dinas penjaga lapas." Bara menyerahkan sebuah kunci kepada Bayu.


"Terserah kalian mau apa di sana, tapi tolong jangan perlihatkan keuwuan kalian di tempat umum. Orang polos sepertiku bisa terkontaminasi. Aku pergi dulu."


Bara meninggalkan begitu saja mereka berdua, serasa tidak takut kalau Bayu justru akan kabur jika tidak diawasi.


"Bara.... Terima kasih!" Seru Bayu.


Bara tak berbalik badan. Ia hanya melambaikan tangan kanannya ke atas sembari terus berjalan tanpa henti.


"Aku merindukanmu sayang.... " tanpa sadar Bayu kembali memeluk Prita setelah Bara pergi.


"Mas, nanti Bara marah lagi." Prita berusaha melepaskan pelukan Bayu.


Akhirnya Bayu sadar diri. Menarik tangan Prita, membawanya berlari menuju sebuah bangunan rumah yang terletak di area depan lapas. Setidaknya malam ini ia bisa menikmati tinggal di tempat yang layak disebut rumah meskipun masih ada di wilayah lapas.


Bayu menaikkan tubuh istrinya. Reflek Prita mengalungkan kedua tangannya pada leher serta kedua kakinya melilit di pinggang Bayu tanpa melepaskan ciuman mereka. Prita sudah seperti koala yang berada dalam gendongan induknya. Dengan langkah yang ringan, seolah Prita tidak terasa berat sama sekali, Bayu membawanya berpindah menuju area kamar dengan ranjang yang cukup empuk.


Perlahan Bayu membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang itu. "Sayang, apa Bara yang membawamu datang ke sini?"


Prita mengangguk. Tangannya masih melingkar di area leher Bayu. "Semua orang sangat jahat. Mereka merahasiakan keberadaanmu dariku."


Prita seperti seorang anak kecil yang sedang mengadu. Selama sebulan ini, orang-orang tidak ada yang memberitahu dimana Bayu ditahan. Dia tak bisa berbuat apa-apa selain merasa kesal. Ketika sedang merasa putus asa itu, tiba-tiba dia teringat tentang Bara, teman Bayu yang seorang polisi. Akhirnya, ia berusaha meminta nomor kontaknya kepada Fredi. Diam-diam Prita menghubunginya tanpa sepengetahuan orang lain. Itu pula syarat yang Bara ajukan. Memang, Bayu tidak boleh membocorkan informasi apapun kepada pihak luar.


Prita menarik Bayu ke dalam pelukannya, "Mas, apa selama di sini kamu baik-baik saja? Aku sangat khawatir."


Bayu tersenyum mendengar kata kerinduan yang meluncur dari bibir Prita. "Seharusnya aku yang mengkhawatirkanmu, Sayang.... Bagaimana dengan kondisi lukamu?"


"Sepertinya sudah membaik. Aku juga sudah tidak merasakan sakit lagi."


"Coba biarkan aku melihatnya." ucap Bayu. Dia ingin memastikan luka Prita benar-benar membaik.

__ADS_1


Namun, apa yang diinginkan Bayu sepertinya dimaknai berbeda oleh Prita. Seharusnya Prita hanya perlu untum menggulung baju di bagian punggungnya agar Bayu bisa melihat bekas lukanya. Namun, yang ia lakukan justru melepas pakaian atasnya dengan santai. Hal itu di luar ekspektasi Bayu. Itu namanya bonus. Atau mungkin saja memang kode dari Prita untuknya.


Prita memperlihatkan punggung polosnya pada Bayu. Memang ada bekas jahitan luka di sana. Punggung yang biasnya mulus itu kini tiba-tiba harus memiliki bekas luka.


Klek!


"Ah!" Pekik Prita sembari memegangi kedua payu*daranya.


Dengan isengnya, Bayu melepaskan tali pengait strapless bra yang Prita kenakan hingga melorot dan lepas dari benda yang dilindunginya.


"Mas.... Kamu jahil banget.... " rengek Prita dengan nada manja khasnya.


"Talinya menghalangi pemandangan punggungmu, Sayang. Makanya lebih bagus kalau dilepas." Bayu tersenyum puas dengan perbuatannya.


"Iih.... Mas.... "


Prita kembali merengek. Suaminya sangat jahil. Bayu memeluknya dari belakang, kedua tangannya menyingkirkan tangan Prita untuk memegangi kedua benda kenyal itu.


"Biar aku membantumu memegangi ini supaya kamu tidak keberatan."


Bisikan Bayu yang dilakukan tepat di telinga Prita membuatnya meremang. Ditambah lagi dengan sensasi sentuhan pada kedua dadanya yang membuatnya seakan melayang.


"Apa Livy masih suka meny*usu di sini?" Tanya Bayu sembari memainkan kedua benda itu.


"Dia sudah tidak mau sama sekali, Mas.... "


"Syukurlah.... Jadi sekarang aku sudah tidak punya saingan lagi. Sekarang ini milikku."


"Aku sudah sangat merindukan momen berduaan denganmu seperti ini, Sayang."


"Malam ini, bantu aku memuaskan keinginan yang tidak bisa aku salurkan."


"Apa kamu mau?"


Prita juga menginginkan hal yang sama. Sudah lama ia merindukan suaminya, sentuhan kasih sayangnya. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang cukup panjang untuk melepaskan kerinduan kedua insan yang saling mencintai tu.

__ADS_1


__ADS_2