
Hari ini Prita, Andin, dan Raeka menikmati waktu jalan bertiga ke sebuah pusat perbelanjaan. Prita menepati janjinya untuk mentraktir kedua temannya makan dan belanja karena waktu itu kalah dalam permainan panahan.
Mengajak Andin dan Raeka belanja itu rasanya deg-degan. Toko yang mereka datangi tidak sembarangan, tapi toko-toko dari brand internasional yang terkenal. Prita harus tepuk jidat melihat nominal yang harus dikeluarkan untuk kedua temannya itu. Untunglah suaminya kaya, jadi uang sebanyak itu yang ia keluarkan tidak masalah.
"Jangan takut miskin ya, Ta kalau ajak kita. Hahaha.... " Andin sepertinya tertawa paling puas melihat ekspresi wajah Prita yang terlihat cemas.
"Kalian jangan keterlaluan kalau belanja, aku cuma ibu rumah tangga biasa." ucapnya sambil menggigit jari ketika menyerahkan kartu kredit untuk membayar sebuah tas kecil warna hitam yang dipilih Andin seharga 45 juta.
"Kayaknya aku ambil yang ini."
Raeka membawa sebuah tas berwarna putih gading yang berbahan dasar kulit buaya. Prita melihat banderol harganya dan hampir pingsan.
"Huwa.... Raeka.... Kamu mau merampokku. Huhuhu.... Ini bisa buat beli satu perumahan balikin sana!"
Prita mendorong tas itu agar Raeka mengembalikannya, karena harga tas itu dibanderol 2 miliyar. Kelakuan Raeka memang sama persis dengan Irgi, sama-sama mengesalkan.
"Hahaha.... Santai, Ta. Aku bayar tas ini pakai uang sendiri. Kamu bayarin yang ini saja, ya."
Raeka memperlihatkan sling bag coklat muda seharga 27 juta.
"Kalian ini hobinya membuatku jantungan, ya.... Kalau begini terus, aku mundur jadi teman kalian."
"Lebay kamu, Ta! Punya suami kaya juga ngapain pusing mikirin soal uang. Tugas wanita itu kan memang menghabiskan uang para suami yang bekerja."
"Tuh, betul yang dikatakan Andin. Nikmati saja hidupmu selagi punya lelaki yang bisa mencukupi."
Raeka terlihat bahagia menerima dua paperbag dari kasir. Andin juga, dapat tas gratis dari Prita.
"Kamu nggak beli tas, Ta?"
"Tidak, Ndin. Tas ku di rumah juga sudah banyak dan jarang terpakai."
"Ya gimana nggak terpakai, kayaknya kamu kalau pakai tas itu-itu terus nggak pernah ganti."
Andin menunjuk pada tas berwarna cream yang ditenteng Prita.
"Aku memang orangnya males ganti-ganti tas, repot harus pindahin barang-barang. Tunggu tas ini rusak atau jelek dulu baru ganti yang lain."
"Nah, ini. Orang kaya yang aneh. Tas mahal dipakai terus sampai rusak katanya? Kalau orang normal yang punya koleksi tas itu ya, tas dipakai sewajarnya, lalu dirawat supaya awet selamanya. Kalau bisa jarang-jarang dipakainya yang penting ganti-ganti."
"Setuju sama Andin."
"Tas kan gunanya memang untuk dipakai, ngapain dibeli kalau hanya untuk pajangan sih? Kalian itu aneh."
"Itu bagian dari investasi, Ta. Masa nggak paham."
"Nggak paham, aku tahunya investasi itu ya dalam bentuk logam mulia, reksadana atau saham, bukan untuk membeli barang-barang mewah."
"Ah, nggak nyambung memang ngomong sama teman kita yang satu ini."
__ADS_1
Andin dan Raeka menggeleng-gelengkan kepala, penikiran satu temannya itu memang jauh berbeda dari mereka.
"Kamu dijatah berapa sih, Ta satu bulan?" tanya Andin ingin tahu.
"Tidak dijatah, sih. Kalau bukan karena kalian juga aku tidak akan memakai kartu kredit suamiku."
"Kok bisa ya, ada istri orang kaya sepertimu."
"Ya, mau apa lagi? Semua kebutuhan sudah tercukupi, enak kan tidak perlu memikirkan apapun. Semua tas, sepatu, baju, make up, sampai skincare itu sudah dibelikan suamiku, menumpuk di rumah. Kalau aku beli lagi, itu kan pemborosan."
"Berarti Pak Bayu seleranya bagus juga ya, Ta. Baju-baju yang kamu pakai pas dan pantas untukmu." puji Raeka.
"Posesif banget dia kayaknya, semuanya diatur-atur. Kamu nggak takut?"
"Dia tidak semenakutkan itu, Andin.... Dia sangat baik."
"Baik mana kalau sama Ayash?"
Prita memutar bola matanya. Untung dia sudah tidak baperan kalau membahas tentang Bayu dan Ayash.
"Masa mau membandingkan suami kita, Ndin? Suamiku ya baik untukmu dan suamimu baik untukmu. Suaminya Raeka juga baik untuk Raeka."
"Jangan bahas yang menyenggol-nyenggol hal itu lagi deh, itu namanya mancing keributan."
"Tanya pendapat boleh kali, Ta.... "
"Sudah, sudah.... Ayo cari makan! Aku lapar."
Raeka mengalihkan pembicaraan. Ia menarik kedua temannya untuk keluar dari toko menuju area food court.
"Yakin kalian mau makan di sini saja?" tanya Prita.
Sebelumnya mereka ingin ditraktir di restoran mahal, tapi berakhir di food court masakan khas jepang.
"Nanti kita minta makan di restoran mahal kamu nangis, Ta."
"Iya, apalagi restoran mewah itu biasanya harus reservasi dulu. Di sini juga tidak apa-apa, yang penting kan makan."
"Ya sudah, kalian mau pesan apa?"
"Terserah kamu saja, Ta. Biar gampang."
"Iya, nggak apa-apa, Ta. Pesan semaumu saja. Aku suka semua menu di sini."
"Ya sudah, aku pesankan shabu-shabu porsi besar ya untuk kita bertiga."
Kedua temannya mengacungkan jempol tanda setuju.
Prita segera berjalan menuju kasir sekaligus tempat memesan makanan.
__ADS_1
"Pesan shabu-shabu porsi besar pakai daging wagyu premium, ya. Tambah sushi, mochi, dan tempura, lalu minumnya matcha 3 dan clear drink 3."
Setelah memesan dan membayar makanannya, Prita hendak kembali ke meja teman-temannya. Namun, niatnya terhenti saat Shuwan melintas tak jauh darinya.
"Shuwan!" Prita meraih tangan Shuwan untuk menghentikannya.
Shuwan kaget karena ada yang tiba-tiba menghentikannya. Ia melepaskan tangan Prita dari lengannya.
"Kamu mau kemana?" tanya Prita.
Shuwan heran, setelah kejadian waktu itu Prita masih bisa menyapanya seperti biasa seperti itu? Apa dia tidak marah atau ingin menertawakannya karena berita tentang dirinya?
"Kenapa kamu jadi sok akrab seperti ini?"
"Hah, apa?" Prita jadi malu sendiri padahal niatnya baik ingin menyapa.
"Kamu pasti mau mengejekku, kan? Mau balas dendam?"
"Kamu bicara apa sih, Shuwan. Aku bertanya karena mau mengajakmu makan bareng. Aku sedang bersama teman-temanku di sana sepulang dari klab."
Prita menunjuk ke meja temannya.
"Kita kan tidak akrab, kenapa aku harus berkumpul dengan kalian."
"Tidak apa-apa, kami juga awalnya tidak akrab. Setidaknya kita punya alasan karena ikut klab yang sama."
"Kalian bermaksud mengejekku dengan berita yang beredar, kan?"
"Ah, siapa juga yang peduli dengan berita seperti itu."
"Tapi kemarin kamu diperlakukan seperti itu di perusahaan juga gara-gara aku, tidak mungkin kan kamu tidak dendam padaku."
"Tidak, aku tidak dendam sama sekali. Lagipula karyawan yang menjahiliku juga sudah mendapat hukumannya."
"Ayo, gabung saja, daripada sendirian."
Prita menarik tangan Shuwan masuk ke area food court.
"Mba, tambah matcha 1 sama clear water 1."
Setelah menambah pesanannya, Prita membawa Shuwan ke meja teman-temannya.
Sebenarnya dua orang teman Prita itu sudah bermuka masam melihat kehadiran Shuwan. Untuk apa juga Prita membawa wanita ular itu gabung bersama mereka.
"Kebetulan aku melihat Shuwan jalan di dekat sini jadi aku mengajaknya makan bersama sekalian." ucap Prita dengan tersenyum seperti tidak ada beban sama sekali.
"Duduk, Shuwan."
"Jangan takut, mereka semua baik, kok."
__ADS_1