
"Ada yang ingin kamu sampaikan padaku?"
"Tidak ada."
Bayu sedikit kesal dengan sikap keras kepala Prita. Sampai sejauh inipun dia masih ingin menutupi keberadaan Daniel darinya. Lima tahun dia kira tidak membuat hidup orang lain menderita karena ditinggal begitu saja setelah mati-matian menyelamatkannya.
"Kamu menyembunyikan sesuatu dariku, kan?"
"Tidak ada! Sudahlah, di antara kita tidak ada apa-apa. Anggap saja kita tidak saling mengenal. Lagipula untuk apa kamu masih tetap di sini?" Prita bersikeras tak mau memberitahu apapun.
Bayu menghembuskan nafas kasar. Ia menyalakan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto pada Prita, "Apa kamu mengenal anak ini?"
Prita membelalakkan mata, foto Bayu sedang menggendong Daniel, putranya.
"Dimana Daniel? Dimana kamu menyembunyikan anakku!? Please, jangan sakiti dia. Kembalikan dia padaku!" Prita memegang lengan Bayu erat. Sekarang ia sangat ketakutan karena Bayu sudah mengetahui keberadaan Daniel.
"Apa dia anakku?"
Prita langsung melepaskan genggaman tangannya. Ia terdiam.
"Apa Daniel itu anakku?" tanya Bayu sekali lagi.
"Bukan." lirih Prita.
"Saat itu kamu sedang hamil, kan? Kamu menikah dengan orang lain saat mengandung anakku."
"Bukan. Daniel anakku, bukan anakmu."
Bayu menyeringai. Prita yang masih mengelak membuatnya gemas dan ingin sekali menggodanya. "Benarkah? Kita sama-sama tahu kan, untuk bisa menghasilkan anak diperlukan sepasang lelaki dan perempuan. Dulu kita sering melakukannya bahkan aku yang lebih dulu menyentuhmu daripada suamimu. Mungkinkah salah satu benihku tumbuh menjadi Daniel?" bisiknya.
Prita mendorong Bayu menjauh. Ia menutupi kedua telinganya.
"Hahaha.... Sampai kapan kamu mau menyembunyikan fakta kalau aku ayah Daniel? Memangnya ucapanmu bisa mengubah kenyataan?"
Bayu mengambil ponselnya untuk menghubungi Alex.
"Alex, bawa kedua anak itu ke seberang sekarang!" perintahnya.
"Ah, Ya Tuhan.... es krim nya sampai mencair." gumam Bayu.
Bayu melirik ke arah Prita yang masih terduduk sambil memegangi telinganya. Ia sengaja duduk di sebelah Prita. Membuat wanita itu semakin tak berani berkutik.
"Mama... mama.... " seru Daniel dan Dean.
Mereka tampak berlari menyeret-nyeret Alex yang kewalahan memegangi keduanya. Prita langsung bangkit mendengar suara anak-anaknya. Ibu dan anak itu berpelukan. Bayu memandang betapa wajah Prita sangat ceria dengan kehadiran anak-anaknya. Sangat jelas dia seorang ibu yang menyayangi anaknya.
"Bos... aku menyerah kalau pekerjaanku seperti ini terus!" keluh Alex dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
__ADS_1
Alex menyesal ikut ke Singapura tapi hanya menjadi pengasuh anak. Lebih baik ia tetap di Indonesia mengurusi perusahaan setidaknya masih bisa bermain game daripada tenaganya habis untuk menjaga anak-anak itu. Baru kali ini ia mengeluh. Menjaga anak kecil tak semudah dibayangkan. Saat ini saja rasanya dia mau pingsan.
"Bukannya kamu suka anak-anak?"
"Big no!" seru Alex.
"Hahaha... baiklah, ini kan hari terakhir. Besok kita juga akan pulang ke Indonesia."
"Uncle.... " Daniel menarik-narik celana Bayu. "She's my Mom." Daniel menunjuk ke arah Prita yang sedang memeluk Dean.
"Oh, iya. Uncle sudah tahu."
"Mamaku cantik, kan?" tanya Daniel.
Bayu melirik ke arah Prita. Mata mereka bertemu, "Ya, mamamu memang cantik."
"Papaku juga tampan, Uncle. Kapan-kapan kalian harus bertemu."
Bayu tersenyum, "Tentu. Apa kamu masih mau makan es krim?"
"Mau mau mau.... " seru Daniel.
"Daniel, kita harus pulang." bujuk Prita.
"Mama.... Dean juga mau es krim.... " Dean ternyata merengek hal yang sama.
"Dean juga mau digendong Uncle.... Dean mau digendong Uncle.... "
Prita tak tahu lagi kenapa kedua anaknya malah jadi lengket dengan Bayu? Apa selain pandai menggaet wanita dia juga berbakat meluluhkan hati anak-anak?
"Oh, Dean mau ikut Uncle juga, ya? Ayo!" Bayu mengambil Dean dari gendongan Prita. Mau tak mau Prita melepaskan Dean.
"Apa mamanya juga mau aku gendong juga?" bisik Bayu.
Prita mematung di tempat. Apa sekarang Bayu sedang menggoda istri orang?
"Halo, Nona Prita." sapa Alex.
"Ya?" Prita mulai mencermati Alex. Wajahnya seperti familiar tapi ia tidak ingat.
"Nama saya Alex, yang dulu suka nongkrong di Saranghae Kafe."
"Oh.... iya iya. Kamu anak yang sering bolos sekolah itu kan? Yang pagi-pagi sudah nongkrong main game di kafe sampai malam."
"Hehehe... iya. Itu perintah dari Bos Bayu."
"Kamu kerja dengan Bayu?"
__ADS_1
Alex mengangguk. "Saya masih tidak percaya Nona Prita sudah memiliki anak. Nona Prita tidak banyak berubah sejak terakhir kita bertemu."
"Benarkah? Kalau begitu kamu yang sudah banyak berubah. Dulu kamu masih kelihatan kecil sekarang sudah setinggi ini. Apa masih suka main game?"
"Ah, itu sudah menjadi bagian hidup yang tidak bisa ditinggalkan."
Setibanya di kafe, Bayu memesankan es krim dan spagetti kesukaan Daniel. Prita dan Alex ikut bergabung dengan mereka.
"Mama.... suapin." pinta Dean.
Prita segera membantu Dean memakan spagettinya. Ekor matanya terus memperhatikan kedekatan Bayu dan Daniel. Mereka berdua terlihat sangat kompak. Bayu tampak senang membantu Daniel memakan spagettinya. Sisi lembut seorang Bayu bisa muncul ketika berhadapan dengan anak kecil.
Mata Prita berkaca-kaca. Entah apa alasannya. Ia hanya terharu Daniel bisa akrab bersama ayah kandungnya. Mereka sangat mirip. Walaupun ia selalu mengelak, kenyataannya Bayu tetap ayah kandung Daniel.
Suasana makan terus berjalan dengan penuh keceriaan. Daniel dan Dean bahagia bisa memakan makanan kesukaan mereka terlebih es krim. Daniel sampai meminta tambah satu cup es krim karena keenakan. Selesai makan, mereka langsung berlari ke area permainan yang disediakan kafe untuk anak kecil. Dengan terpaksa Alex mengikuti kedua anak kecil itu atas permintaan bosnya.
"Terima kasih atas traktirannya hari ini. Maaf sudah merepotkanmu." ucap Prita dengan sedikit canggung.
"Besok aku sudah kembali ke Indonesia. Kamu tidak perlu khawatir aku akan menemui Daniel lagi."
Prita terdiam. Ia *******-***** jarinya merasa bersalah mendengar perkataan Bayu.
"Mungkin hidup yang kamu jalani selama ini terasa berat karena aku. Tapi, sesekali bayangkan rasanya menjadi aku. Punya anak tanpa pernah tahu jika sudah memiliki anak. Saat bertemu, dia sudah besar dan bukan memanggil 'daddy' tetapi 'uncle'. Dia menganggap orang lain sebagai ayahnya dan ayahnya dianggap seperti orang lain. Bagaimana rasanya hidup seperti itu?"
"Katakan dengan mulutmu sendiri kalau Daniel adalah anakku. Katakan kalau aku adalah ayah Daniel."
Prita menunduk sambil menggelengkan kepala.
"Kamu benar-benar keras kepala sampai akhir."
"Please, kembalilah ke Indonesia dengan tenang. Lupakan tentang kami dan jangan temui Daniel lagi. Daniel anakku, bukan anakmu. Ayash adalah ayahnya, bukan kamu."
Bayu mengepalkan tangannya. Jika bukan tempat umum dan ada anak kecil, dia pasti sudah membanting semua meja dan kursi yang ada di sana.
"Aku pergi dulu!" pamit Bayu.
Alex langsung berlari mengikuti bosnya keluar dari kafe. Prita menghampiri kedua anaknya yang ditinggal Alex begitu saja.
"Mama, Uncle Yu kenapa pergi?"
"Dia harus pulang, Sayang. Kita juga harus pulang. Sebentar lagi Papa sampai rumah."
"Ye... setelah ini main dengan Papa."
"Senang kan, main dengan papa? Kalau begitu, sekarang kita pulang dulu, ya." ajak Prita.
Daniel dan Dean menurut. Prita menggandeng kedua anaknya keluar dari kafe.
__ADS_1