
Prita nggeliatkan tubuhnya di atas kasur. Tangannya meraba-raba mencari sesuatu, namun tidak ada yang bisa ia raih. Matanya mulai terbuka, menengok ke samping kanan dan kirinya. Sepi. Bayu sudah tak ada di sisinya.
Biasanya, dia yang lebih dulu bangun dan Bayu masih terlelap tidur di sebelahnya. Ia melirik ke arah jam di dinding, baru pukul enam pagi. Tidak mungkin Bayu sudah berangkat ke kantor.
Ia menyibakkan selimut, tubuhnya masih polos. Prita sampai lupa kalau semalam mereka sudah melakukannya. Dia terlalu mengantuk untuk mengingat-ingat detilnya. Saat itu dia masih setengah sadar.
Ia meraih bathrobe yang tergantung di sisi lemari untuk menutupi tubuhnya.
"Mas.... Mas.... " panggilnya ketika memasuki ruangan walk in closet yang terhubung dengan kamar mandi. Ia kira Bayu sedang berada di kamar mandi, tapi ternyata kosong.
Prita memutuskan untuk mandi terlebih dahulu kemudian baru mencari suaminya di bawah. Mungkin dia sedang berolahraga di ruangan gym di bawah.
Selesai mandi dan berhias diri, dia turun ke bawah ingin menyiapkan sarapan sekalian menghampiri Bayu di ruang gym.
"Loh, Alex, kamu sudah datang?" tanya Prita saat melihat Alex ada di ruang tengah ketika menuruni anak tangga.
"Semalam saya menginap di sini, Nona Prita."
"Ooh.... "
"Bayu dimana? Apa di ruang gym?"
"Bos Bayu pergi ke luar kota."
Prita mengernyitkan dahinya, "Kapan?"
"Tadi, pagi-pagi sekali."
Prita merasa heran kenapa Bayu pergi tanpa memberitahunya atau membangunkannya terlebih dahulu. Prita mengangkat ponsel yang ia bawa, lalu menggunakannya untuk menelepon Bayu. Tapi tidak tersambung.
"Sementara ponsel Bos tidak bisa dihubungi. Katanya, tempat proyeknya jauh dari jangkauan sinyal."
Prita semakin curiga, suaminya bisnis apa? Kalau mungkin dia bisnis pemborong proyek, bisnis sawit atau kayu, itu wajar jika tidak bisa dihubungi Setahu Prita, bisnis yang dijalankan Bayu hanya seputar klab, hotel, dan makanan. Apa mungkin Bayu mau membangun hotel dan klab di daerah pedalaman? Itu sangat konyol.
"Alex.... Jangan bilang Bayu pergi dengan Ben."
"Benar, Bos pergi dengan Pak Ben."
Prita langsung punya firasat buruk kalau Bayu pergi dengan Ben. Sudah pasti bisnis yang mereka lakukan sesuatu yang tidak wajar. Seharusnya semalam ia tidak tidur agar bisa menghentikan Bayu.
"Kemana, Alex?"
"Saya tidak diberi tahu."
__ADS_1
Prita semakin khawatir, "Berapa lama?"
"Katanya hanya beberapa hari, kalau sudah selesai Bos akan langsung pulang."
"Alex.... Kamu tega ya, membiarkan bosmu pergi dengan tujuan yang tidak jelas." Prita mendengus kasar.
"Saya ditugasi untuk menjaga Nona Prita selama Bos pergi. Katanya, Anda bisa meneruskan pekerjaan di Minata Food tanpa Bos."
"Tumben dia tidak cemburu. Aku nanti juga akan bertemu Ayash dan Irgi."
"Kan ada saya yang mengawasi. Katanya kalau mereka berdua macam-macam, Bos Bayu akan menghajar mereka saat pulang."
"Hah! Ya ya ya.... begitu terus andalannya kalau mengancam orang."
"Aku mau menyiapkan sarapan dulu, Alex. Nanti kamu ikut makan juga."
Prita beralih ke arah dapur dengan mencoba untuk berpikiran positif. Mudah-mudahan suaminya tidak melakukan hal-hal aneh tanpa sepengetahuannya. Tidak ada hal buruk yang bisa mendatangkan kebaikan.
*****
Setelah selesai sarapan dan mengurusi Livy, Prita pergi ke kantor Minata Food ditemani Alex. Dia membawa serta Livy dan Leta.
Seperti kesepakatan sebelumnya, Irgi dan Ayash kembali datang ke perusahaan membantu menyelesaikan permasalahan dinperusahaan itu. Irgi terus mengomel sembari melakukan pengecekan.
"Ke luar kota."
"Gila itu orang, sudah dibantu malah pergi. Heran dia ngapain selama di perusahaan ini, masa laporan janggal seperti ini bisa ditanda tangani. Gobl*ok.... gobl*ok.... "
"Irgi sumpah ya, mulutnya nggak bisa dijaga. Nyesel aku pernah bantu kamu glow up. Mending culun kayak dulu daripada jadi lambe lemes."
"Ini udah paling bener perusahaan ini dijual mumpung masih laku. Ngapain susah payah benerin, mending bangun perusahaan baru."
"Gi, fokus!" ucap Ayash dengan nada yang sedijit ditekankan.
"Kamu juga ngapain di sini bantu orang yang sudah merebut mantan istrimu?"
Ayash dan Prita sama-sama melotot kepada Irgi. Mulutnya memang perlu dijahit supaya tidak membuat perkara.
Alex dan Leta ada di ruangan yang sama namun di sudut yang agak jauh, menemani Daniel, Dean, dan Livy bermain.
"Kamu lupa ya, ini kan dulu perusahaan ayahnya Prita."
"Nggaklah, mana mungkin aku lupa. Ayahku juga pernah kerja di sini. Aku juga sering menemani Prita menemui ayahnya kemari."
__ADS_1
"Terus, kenapa ngotot kasih saran dijual terus? Kalau kamu tidak kebanyakan omong, semuanya juga bisa cepat beres."
"Ya.... Yash, kamu tahu sendirilah, ini butuh beberapa tahun untuk mengembalikan ke kondisi semula kan? Memangnya semudah itu merombak sistem yang sudah ada? Kita sama-sama sudah punya pengalaman menangani bisnis, kamu pasti juga tahu kalau ada saatnya harus berhenti dan menyerah."
"Kalau tidak bisa mengharapkan keuntungan dari perusahaan ini, setidaknya bisa menyelamatkan kenangan Prita. Iya kan, Ta?"
Prita mengangguk dan tersenyum mendengar perkataan Ayash. Dia juga tahu kalau sebenarnya Bayu memepertahankan perusahaan itu hanya untuk Prita, bukan untuk mencari keuntungan.
"Kalian kompak banget walaupun sudah pisah."
"Maunya kami bagaimana, Gi?"
"Tonjok-tonjokan kayaknya seru. Hahaha.... "
"Irgila.... Irgila.... " gumam Prita.
"Ta, kalau nanti ada laporan keuangan yang diberikan oleh managernya, jangan buru-buru disetujui. Kamu bisa periksa sendiri atau hubungi aku juga boleh."
"Oh, oke."
"Aku rasa dia yang paling bermasalah."
"Iya, aku juga setuju. Ini setumpukan berkas bukti penyelewengannya selama bekerja di sini. Kalau dibawa ke pengadilan, dia pasti akan langsung masuk penjara."
"Jangan buru-buru mengambil tindakan, Ta. Biarkan mereka tetap bekerja seperti biasa. Kalau merek curiga kita sudah mengetahui kelicikannya, aku yakin mereka pasti akan kabur."
"Iya, aku mengerti."
"Memangnya Bayu kemana? Bukannya masalah ini juga harus cepat diselesaikan, kenapa dia malah pergi?"
"Em, ada urusan yang tidak bisa ia tinggalkan. Jadi, dia menyuruhku menggantikannya sementara di sini."
Tidak mungkin Prita mengatakan kalau dia sendiri tidak tahu kemana suaminya pergi. Sebenarnya dia juga masih mencemaskan Bayu. Biasanya kalau Bayu pergi bersama Ben, akan ada luka baru di tubuhnya. Ia yang setiap hati melihat bekas-bekas luka yang memenuhi tubuh suaminya, rasanya ngilu sendiri membayangkan betapa sakitnya saat mendapatkan luka itu.
"Baiklah, seminggu ini kebetulan pekerjaanku tidak terlalu banyak. Jadi, aku bisa tetap membantu di sini."
"Terima kasih, ya."
"Hm." Ayash berdehem mendapat ucapan terima kasih dari Prita. "Kalau kamu sendiri bagaimana, Ir?"
"Tidak masalah, aku juga tidak sibuk."
"Kamu sudah ada kandidat untuk mengisi kekosongan posisi nanti? Akan lebih baik kalau mereka di-training sebelum menggantikan orang yang akan kita singkirkan."
__ADS_1
"Ada sih, anak buah Bayu yang sudah berpengalaman juga mengurusi klab, namanya Tio dan Ejaz. Besok aku ajak mereka kemari.