
Malam ini Arga dan Andin akan mengikrarkan janji suci pernikahan di sebuah hotel ternama yaitu Zero Tower Hotel. Zero Tower Hotel telah lama menjadi salah satu hotel elit dikawasan hijau pusat Kota J bagian timur. Letaknya yang strategis dan hanya berjarak 5 km dari area Pusat Bisnis Kota J, lengkap dengan fasilitas dan kenyamanan bintang lima. Sehingga wedding venue The Zero Tower Hotel sering dipilih sebagai wedding venue yang prestisius.
Arsitekturnya unik, merpaduan gaya tradisional yang eksotis dan nuansa yang modern membuatnya memiliki nilai tambah sebagai tempat mengabadikan momen pernikahan.
Ballroom hotel yang akan dijadikan tempat acara mampu menampung sekitar 300 tamu untuk sitting dinner. Pada langit-langit terdapat chandelier besar yang menggantung mewah diatas langit-langit bergaya Roma klasik. Dekorasi ruangan dibuat berwarna putih dengan sentuhan pink pastel yang menimbulkan kesan hangat dan romantis.
Pihak pengantin beserta keluarga telah berada di hotel sehari sebelumnya, termasuk Ayash. Ia tampak sedang melamun di sudut ruangan dekat kaca memandangi malam tanpa bintang.
Tamu sudah mulai berdatangan. Kebanyakan adalah rekan bisnis Arga dan Ayash tentu saja tak mengenal mereka. Ayash sedang menanti kedatangan Vino dan Irgi. Malam ini katanya mereka akan datang meskipun sejak sepuluh menit lalu batang hidung mereka belum juga tampak.
Ayash melamunkan kembali kejadian lima tahun lalu. Saat Arga menghubunginya jika Prita berada di salah satu kamar hotel itu. Ia kira Arga hanya ingin mempermainkannya. Ternyata benar, Prita ada di sana. Dan mulai saat itu ia melihat Prita menjadi lain. Prita yang sering mimpi buruk dan ketakutan setiap bertemu orang. Butuh waktu dan usaha untuk menghilangkan traumanya.
Sekarang, mungkin trauma itu sudah hilang. Ia lihat Prita bisa dekat lagi dengan Bayu. Hal yang sebenarnya tidak ia sukai. Tapi, sekarang mereka sudah bercerai. Ia sudah tidak berhak mengatur dengan siapa Prita berhubungan. Lagipula, Bayu juga sepertinya menyayangi Daniel.
"Hai, Duda.... Kasihan banget sendirian sampai melamun begitu. Hati-hati kena sawan."
Seperti biasa, Irgi menyapa dengan sindirannya. Irgi datang bersama Raeka yang tampil sangat menawan dengan gaun warna pink terang dan lengan offshoulder.
"Oh, kamu mengajak Nenek Lampir."
"Bidadari dong.... Masa secantik ini disebut Nenek Lampir." Irgi menggandeng mesra pinggang Raeka.
"Heh, Songong! Kamu nggak kasihan Prita mengurus tiga anaknya sendiri? Daniel kan masih sakit, dia pasti repot."
"Ada tiga pengasuh yang menjaga anak-anakku, Nenek Lampir.... memangnya aku tidak punya otak untuk memikirkannya."
"Oh, baguslah. Ternyata kamu masih pengertian."
"Yo, Bro.... "
Vino datang dengan penampilan sangat keren. Setelan tuxedo dan kacamata hitam membuatnya terlihat seperti pengusaha idaman para wanita.
"Datang juga kamu, Vin. Aku kira kamu nggak akan datang. Katanya sibuk."
"Sesibuk apapun aku usahakan tetap datang. Masa acara nikahan teman sendiri nggak datang. Bulan lalu aku sudah datang ke nikahanmu, nanti Andin protes kalau aku tidak datang."
__ADS_1
"Lagipula aku senang sih, cewek kayak Andin akhirnya mau menikah."
"Kamu sendiri kapan mau nikah, Vin?" celetuk Raeka. "Biar aku ada alasan datang ke US untuk pernikahanmu."
"Hahaha.... Aku masih belum mau berkomitmen, Ra. Mungkin aku akan menikah setelah umur 35 tahun."
"Keburu tua, Vin."
"Nggak ada kata tua untuk lelaki Ir, makin tua makin perkasa. Aku masih senang bebas tanpa ikatan."
"Hem, bebas celap-celup, ya? Insyaf Vin, insyaf.... "
"Kalau suka sama suka apa salahnya sih, Ir. Pengin?"
"Kayaknya kamu perlu diruqyah." Irgi geleng-geleng dengan pengakuan Vino.
"Sampai jam berapa tadi, Vin?" Ayash mencoba mengubah arah pembahasan. Kalau diteruskan, kedua orang itu tidak akan selesai.
"Tadi siang. Daniel gimana, sudah ada kemajuan?"
"Coba kamu bawa dia ke US, siapa tahu di sana dia bisa sembuh. Nanti aku bantu carikan rumah sakit dan dokter yang bagus."
"Iya, Vin. Akan aku diskusikan dengan Prita."
"Ngomong-ngomong, kalian sudah ketemu Andin?"
"Belum, lah. Kita juga belum lama sampai."
"Kalau begitu, ayolah kesana. Aku penasaran kalau cewek macho didandani itu jadinya seperti apa."
Vino berjalan paling depan di antara teman-temannya. Ia sudah tidak sabar untuk menggoda Andin. Sejak dulu, mereka Andin dan Vino suka saling ejek. Vino yang playboy dan Andin yang tomboy akur dan bisa berteman karena ada Ayash.
Setibanya di tempat pengantin wanita, ruangan itu tampak kosong. Tidak ada seorangpun di sana. Segala perlengkapan pengantin masih tertata pada tempat tempatnya. Vino mengecek pada ruang ganti hingga toilet, namun tetap saja tidak ada siapapun yang ia temui.
"Kenapa, Vin?" tanya Irgi yang melihat Vino kebingungan.
__ADS_1
"Andin nggak ada. Aku sudah cek, ruangan ini kosong."
Mereka semua saling pandang, berpikir kalau mungkin Andin kabur di hari pernikahannya.
"Masa Andin kabur?" gumam Raeka.
"Jangan begitu, yang merancang pernikahan ini juga Andin sendiri, kok. Kata Mama, vendor pernikahan juga Andin sendiri yang memilih."
"Kalau begitu kita datangi saja kamar Kak Arga, siapa tahu dia ada di sana."
Keempat teman Andin bergegas menuju kamar pengantin pria. Sesampainya di sana, mereka kembali terkejut. Andin ada di sana, sedang menangis didampingi oleh Pak Suryo, ayahnya. Ada pula Reonal dan Maya yang wajahnya tampak cemas dan bingung.
"Kenapa, Ma?" tanya Ayash.
"Kakakmu kabur.... " Maya menjawabnya dengan nada lemah. Ia menyerahkan selembar kertas tulisan Arga yang ditinggalkan untuk Andin.
Andin,
Aku memang seorang pengecut. Pergi di hari pernikahan tanpa berani memberikan penjelasan apapun. Aku pergi bukan karena tidak mencintaimu, bukan karena kamu memiliki kekurangan sehingga aku meninggalkanmu. Aku mencintaimu, tapi aku tidak bisa menikah denganmu. Aku harap kamu masih mau memaafkanku, meskipun kesalahanku ini tidak layak dimaafkan.
Sekali lagi maaf.
Arga
Wajah Ayash ikut pucat setelah membaca isi surat itu. Ia tidak menyangka kakaknya, Arga, yang sejak kecil ia idolakan tega melakukan hal itu kepada sahabatnya, Andin. Padahal ia tahu, sewaktu Andin sering main ke rumahnya, ia bisa membaca ketertarikan seorang Arga pada Andin. Entah mengapa saat pernikahan akan dilaksanakan, Arga justru pergi meninggalkan wanita yang dulu pernah disukainya. Ada apa dengan kakaknya itu? Mengapa dia jadi seorang pengecut dan lari di hari pernikahannya sendiri?
"Kakakmu kenapa jadi lelaki bangsat sih? Sudah gila dia!" ucap Irgi yang ikut membaca surat itu.
"Arga Bajingan!" Vino lebih kesal dan *******-***** kertas itu kemudian melemparnya.
Raeka dan Irgi saling berpandangan. Mereka juga tak menyangka pesta pernikahan yang malam ini mereka hadiri akan terjadi kekacauan seperti itu. Raeka sebagai sesama wanita, bisa ikut merasakan betapa hancurnya hati seorang wanita ketika ditinggalkan lelaki yang dicintainya apalagi tepat di hari pernikahan.
Suasana seketika membeku, hanya terdengar suara isakan Andin yang belum juga berhenti. Wanita yang sejak dulu tidak pernah menangis, hari ini menjadi wanita yang sangat rapuh. Dia seperti bukan Andin yang teman-temannya kenal. Andin yang tak akan menangis sekalipun jatuh dari pohon. Andin yang justru akan melawan ketika ada anak laki-laki yang mengganggunya.
------------------------------------------------------------------------------
__ADS_1
Kasihan Andin. 🥲