
Bayu berada di dalam lift sambil memegangi pipinya yang tampak memerah. Pukulan yang Prita berikan benar-benar keras. Tapi tetap saja, senyuman terus terukir di wajahnya meskipun ia baru saja diusir. Bisa kembali menggoda Prita membuatnya merasa kembali menjadi muda.
Perceraian Prita seperti memberinya kesempatan kedua untuk mendekati Prita lagi. Kali ini, dia ingin menjalin hubungan yang lebih baik dan dengan cara yang lazim. Ia sadar caranya yang dulu adalah sebuah kesalahan besar dilandaskan pada kecemburuan.
Tidak akan mudah membuat seorang Prita jatuh cinta padanya. Apalagi dengan kenangan masa lalu yang bisa dikatakan kelam di antara keduanya. Mungkin hanya dengan alasan Daniel mereka bisa kembali dekat.
Ting!
Lift yang membawa Bayu telah sampai di lantai dasar. Tepat ketika pintu lift terbuka, di hadapannya berdiri seorang wanita cantik yang sudah pernah Bayu temui namun ia lupa namanya. Putri Tuan Rudi Wijaya, pemilik Greendland Paradise Hotel sekaligus istri Irgi Mahesha, CEO songong yang telah berani menolak kerjasamanya.
Untuk beberapa saat mata mereka bertemu. Tapi wanita itu sepertinya tidak peduli dengan dirinya. Wanita itu langsung masuk ke dalam lift bahkan tanpa menyapa atau berbasa-basi dengan senyum terhadap Bayu. Bayu akhirnya memilih keluar dari dalam lift, membiarkan wanita itu berada di dalam menuju lain yang ia inginkan.
Menurut Bayu wanita itu sangat luar biasa. Sifatnya sama persis dengan Irgi hanya saja bedanya dia seorang wanita. Sungguh pasangan songong yang sangat serasi. Bahkan tidak ada sopan santunnya sedikitpun kepada orang yang lebih tua.
Sementara, Raeka baru keluar dari lift. Ia menyusuri lorong lantai khusus kamar VIP. Baru saja ia bertemu dengan Bayu Bagaskara. Tapi, ia juga tidak peduli dengan orang itu. Dia hanya melewatinya seperti orang yang tidak ia kenal.
Klek
"Mau apa lagi!"
Baru saja masuk ke ruangan Daniel, terdengar suara Prita marah-marah dengan kedatangannya. Ia mematung di depan pintu karena merasa kehadirannya sudah ditolak.
"Ah, Raeka. Aku kira siapa. Ayo masuk saja." Prita jadi salah tingkah mengira Bayu kembali lagi setelah ia usir tadi.
"Habis ada tamu, ya?" tanya Raeka. Sebenarnya dia tahu Bayu yang ia temui pasti baru mengunjungi Daniel.
Raeka memilih duduk di sofa yang dekat dengan ranjang Daniel. Sedangkan Prita mengambilkan jus dari dalam kulkas untuk Raeka.
"Ya, begitulah."
"Siapa? Sepertinya kamu melihatan kesal."
__ADS_1
Prita menggaruk rambutnya karena bingung mau membuat alasan apa.
"Bayu, ya?"
Prita menelan ludah. Tebakan Raeka sangat tepat.
"Aku sudah tahu kok kalau dia ayah kandung Daniel. Tadi aku bertemu dia di depan lift."
"Ya, karena kamu juga sudah tahu aku tidak prrlu bicara apa-apa lagi."
Raeka memandangi Prita dari ujung kepala hingga ujung kaki. Penampilan wanita itu selalu tampak biasa, pakaiannya sederhana, riasan wajahnya simpel tidak berlebihan. Tidak ada perhiasan yang melekat di tubuhnya selain anting. Kalau dibandingkan dengan dirinya, Prita juga masih kalah cantik. Tapi Prita tidak bisa disebut jelek juga.
Prita sudah tidak memiliki keluarga. Berbeda dengan Raeka yang keluarganya masih lengkap dan saudaranya juga banyak. Raeka juga jauh lebih kaya. Prita hanya anak yatim piatu yang hartanya habis dibawa kabur pamannya. Ia tak punya apapun.
Seharusnya Raeka tak perlu memiliki perasaan perlu bersaing dengan Prita. Keduanya ibarat putri kerajaan dan mantan putri yang terbuang. Namun, entah apa yang membuat wanita itu terus membuatnya khawatir. Terutama tentang Irgi.
Ia juga mau mempercayai jika Irgi dan Prita tidak akan pernah macam-macam. Tapi hati kecilnya masih belum bisa yakin. Untuk seorang wanita yang telah melahirkan tiga kali, bentuk tubuh Prita masih tetap terjaga. Tidak seperti kebanyakan wanita yang telah menikah dan memiliki anak, biasanya bentuk tubuh mereka berubah. Hal itu tidak berlaku pada Prita. Dia masih terlihat sama ketika ia masih SMA.
Terkadang dia over thinking, jika sampai Irgi berpaling darinya demi Prita. Padahal mereka baru saja menikah. Ia tidak ingin Irgi meninggalkannya. Sebenarnya, melihat Irgi peduli dengan Prita juga ia tidak rela. Tapi membiarkan Prita berjuang sendiri juga ia kasihan.
"Kamu tumben kesini sendiri, Ra. Nggak bareng Irgi?"
"Irgi sering datang ke sini, ya?" pertanyaan Prita malah dibalas pertanyaan oleh Raeka.
"Ya, lumayan sering. Memangnya kenapa, Ra?"
"Tolong jangan goda Irgi, ya? Bisa, kan?"
Prita sampai ternganga mendengar perkataan Raeka yang to the point dan sangat blak-blakan. Dia bisa menilai kalau Raeka sedang waspada terhadapnya. Sebenarnya ia ingin sekali tertawa mendengar pertanyaan itu.
"Kamu pasti sudah tahu ya, kalau sekarang aku janda?"
__ADS_1
"Ya. Irgi pasti akan lebih perhatian lagi padamu karena statusmu itu."
"Aku tahu kamu orang baik, Irgi juga orang baik. Aku hanya khawatir kalian bisa membuat kekhilafan tanpa kalian sadari. Terus terang aku tidak bisa tenang dengan kondisi seperti ini."
"Aku juga sadar status janda bukan sesuatu yang bisa dipandang baik di masyarakat sekalipun. Katanyabstatus janda itu suatu yang menakutkan bagi para istri dan wanita-wanita yang sudah memiliki pacar. Katanya lelaki mudah oleng dengan janda, kan? Walaupun aku hanya diam, tetap akan ada orang yang curiga. Seperti yang kamu rasakan saat ini."
"Ra.... " Prita menggenggam tangan Raeka, "Aku sudah menganggap Irgi sebagai keluargaku. Sekalipun Irgi menyukaiku, aku tidak akan pernah membalas perasaannya. Kamu bisa pegang kata-kataku."
"Aku sudah gagal sekali membina rumah tangga. Aku juga tidak mau menjadi penyebab kehancuran rumah tangga orang lain. Perpisahan itu rasanya sangat menyakitkan, Ra. Jangan sampai kamu merasakan hal yang sama denganku."
Prita mengusap setetes air mata yang berhasil keluar dari kedua matanya.
"Aku minta maaf kalau kata-kataku menyinggungmu. Aku hanya berusaha mengatakan apa yang sebenarnya aku rasakan."
"Hahaha.... Tidak apa-apa, Ra. Itu suatu hal yang wajar. Istri memang harus menjaga suaminya dari wanita lain yang bisa menjadi perusak rumah tangga."
"Ta.... "
"Hm?"
"Ayo kita berteman!" tegas Raeka.
Tentu saja Prita kaget mendengar ajakan berteman. Seumur-umur Raeka selalu mengajaknya bermusuhan. Raeka juga sepertinya tidak pernah sekalipun menyukainya.
"Aku rasa kita akan cocok menjadi teman. Kamu mau nggak jadi temanku?"
Saking bahagianya, Prita langsung memeluk tubuh Raeka. Walaupun wanita itu bersikap jahat padanya, tapi sebenarnya Prita tidak pernah membenci Raeka.
"Jangan cabut kata-katamu, ya! Aku mau menjadi temanmu seumur hidup." ucap Prita sembari mengulaskan senyum di bibirnya.
Tanpa mereka sadari, ada Irgi yang menguping dari balik pintu. Ia sangat bahagia istrinya mau berteman dengan Prita. Ia lega, setidaknya Prita memiliki satu teman lagi untuk menghadapi hari-harinya setelah perceraian.
__ADS_1