ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Bayu Menghilang


__ADS_3

"Terima kasih, Tuan Samuel. Berkat bantuan Anda barang saya bisa tiba dengan selamat."


"Anda tidak perlu berterima kasih. Ini memang sudah bagian dari kerjasama kita."


Tuan Saddam sedang berkunjung ke kediaman Samuel setelah menerima kabar bahwa barangnya telah sampai di gudang miliknya. Ia sangat senang, ganja dua ton senilai 20 miliyar itu bisa ia miliki secara utuh tanpa harus berurusan dengan polisi. Langkah selanjutnya tinggal mengedarkan ke seluruh Pulau J ataupun daerah lain yang membutuhkan.


"Dimana anak Anda? Saya juga ingin berterima kasih kepadanya."


"Dia mendapatkan kendala untuk melancarkan pengiriman ganja ini. Jadi, dia akan sampai lebih lambat."


"Saya baru tahu kalau Anda memiliki seorang anak lelaki yang tampan dan juga hebat untuk mengurusi hal seperti ini."


"Ya, dia memang anak yang cukup pemalu, jarang mau kalau diajak pergi bersama ayahnya."


"Hahaha.... Begitulah sifat seorang anak lelaki, lebih memilih pergi dengan teman-temannya daripada mendampingi ayahnya sendiri."


"Bagaimana kalau kapan-kapan kita makan malam bersama?"


"Boleh."


"Saya ingin mengenalkan anak perempuanku kepada Bayu. Umurnya baru 25 tahun, saya rasa putriku akan cocok dengan putramu."


"Apa Anda setuju jika kita menjodohkan mereka?"


Samuel menunjukkan senyum masam, "Siapa yang bisa menolak tawaran Anda. Bayu akan sangat senang menjadi menantu Anda."


Samuel tidak bisa mengatakan kalau anaknya sudah menikah maupun menolak permintaan dari rekan bisnisnya itu. Biarlah nanti Bayu sendiri yang akan menyelesaikannya.


Lagipula tidak ada salahnya seorang lelaki memiliki istri lebih dari satu. Tempat tinggal mereka juga terpisah jauh, antara Kota J dan Kota S. Prita juga tidak akan tahu jika di kota lain nanti Bayu memiliki istri atau wanita lain.


Bermusuhan dengan Tuan Saddam adalah hal yang berat dan harus dihindari. Akan lebih baik jika menjadi temannya apalagi kalau bisa menjadi bagian dari keluarganya. Kedudukan Bayu akan menjadi lebih kuat.


"Kalau begitu, saya pamit dulu karena siang ini ada rapat di perusahaan."


"Iya, terima kasih atas kunjungannya."


"Mulai sekarang, kita menjadi teman dekat. Lain kali gantian Anda yang barus berkunjung ke tempat saya."


"Pasti."

__ADS_1


Samuel mengantarkan Tuan Saddam pulang bersama tiga orang anak buahnya sampai di depan pintu. Setelah mereka pergi, Samuel memanggil Ben untuk menemuinya di ruang kerja.


Samuel menghisap cerutunya, memandangi Ben yang berdiri sambil menunduk di hadapannya.


"Aku rasa ada yang kamu sembunyikan dariku, Ben."


Ben belum mengatakan apapun tentang Bayu kepada Samuel. Ia hanya mengatakan Bayu menyuruhnya untuk berangkat lebih dulu dan dia akan tinggal beberapa waktu di sana karena ada urusan. Ben sedang menunggu kabar dari anak buahnya yang kembali mencari Bayu di area sekitar tempat ia terjatuh. Sudah dua hari dan belum ada kabar apapun. Mereka tidak menemukan Bayu, bahkan bekas-bekasnya saja tidak ditemukan. Kemungkinan Bayu diculik oleh para pengkhianat negara itu.


"Dimana Bayu?"


Pertanyaan itu kembali muncul dari mulut Samuel. Ben bingung menjawabnya.


"Tuan.... Sebenarnya malam itu Tuan Muda menahan sekelompok pemberontak agar kami tetap bisa melanjutkan perjalanan."


"Sampai sekarang belum ada kabar dari Tuan Muda."


Samuel berhenti menghisap cerutu. Sudah ia duga ada yang tidak beres. Putranya bertemu dengan kelompok pemberontak yang bahkan dulu ia sendiri yang memberi mereka pasokan senjata.


"Menurut salah satu anak buah saya yang berhasil lolos, ada seseorang yang menusuk Tuan Muda dan mendorongnya ka jurang."


Brak!


"Berani-beraninya kamu melaporkan hal seperti itu kepadaku!" Samuel mencengkeram kerah Ben dan menatapnya nyalang penuh kemarahan.


"Aku menyuruh kalian ikut dengannya untuk memastikan keselamatan anakku, bukan untuk memberiku kabar seperti itu!"


"Dimana kamu saat itu, Ben! Aku menyuruhmu menjaga Bayu!"


"Bahkan jika kamu harus mati, Bayu tetap harus selamat!"


"Maafkan saya, Tuan Muda yang menyuruh saya untuk pergi lebih dulu."


"Kamu hanya boleh patuh padaku, Ben!"


Samuel melayangkan pukulan kepada Ben. Tidak puas dengan satu pukulan, ia mengulanginya beberapa kali hingga Ben tersungkur ke lantai. Ben sama sekali tak membalas. Saat Samuel menendang dan menginjak tubuhnya, ia hanya diam.


"Kalau sampai anakku mati, kamu juga harus mati, Ben. Anak buahmu juga."


"Cari Bayu sampai ketemu dan pastikan dia dalam kondisi baik-baik saja!"

__ADS_1


Samuel keluar dari ruang kerjanya meninggalkan Ben yang terluka di sana. Pukulan yang Samuel berikan tidakbterasa menyakitkan untuknya, lebih menyakitkan kata-kata yang Samuel ucapkan. Katanya jikapun ia mati iti tidak apa-apa. Terdengar seperti nyawanya tidak berharga sama sekali di hadapan Samuel.


*****


"Alex, katamu Bayu hanya pergi beberapa hari. Ini sudah seminggu dan dia belum kembali. Katakan yang sebenarnya padaku, dimana Bayu?" desak Prita.


Setiap hari Prita menanyakan tentang Bayu kepada Alex. Alex selalu menjawab tidak tahu, tapi kenyataannya Alex memang tidak tahu apa-apa.


Alex sudah menghubungi Ben. Katanya, bosnya ada kendala dengan kepulangannya sehingga sepertinya butuh waktu beberapa hari lagi agar Bayu bisa kembali pulang. Entah kendala apa Alex juga tidak tahu. Ia cukup pusing harus mendengar omelan Prita setiap hari. Prita mengira dia menyembunyikan keberadaan Bayu.


"Saya benar-benar tidak tahu dimana Bos berada."


"Bohong kamu, Alex!"


"Saya berani bersumpah! Bos hanya mengatakan agar saya menjaga Nona Prita dan anak-anak. Dia tidak mengatakan kemana akan pergi dan untuk apa."


"Tidak mungkin dia seperti itu. Kalian pasti menyembunyikan sesuatu."


"Aku hanya ingin tahu apa kabarnya baik, setidaknya suruh dia untuk menghubungiku. Aku sudah tidak peduli lagi dengan apa yang ia lakukan."


"Asalkan dia mau meneleponku dan mengatakan kalau dia baik-baik saja, aku akan berhenti bertanya."


Prita tampak frustasi. Dia sama sekali tak memiliki gambaran dimana suaminya berada. Semuanya tampak tidak jelas, membuatnya begitu khawatir dan ingin menangis.


"Jadi katakan, Alex.... Dimana Bayu. Berikan nomor yang bisa aku hubungi."


"Nona Prita, maaf. Saya benar-benar tidak tahu."


Prita menghela nafas pasrah. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu Bayu pulang. Kalau sampai dia pulang, ia akan memarahinya. Teganya dia membuat seorang istri begitu khawatir berhari-hari, tanpa memberi kabar apapun padanya.


"Satu-satunya orang yang tahu keberadaan Bos Bayu adalah Pak Ben. Dia yang bersama dengan Bos selama di luar kota."


"Tapi dia juga sulit dihubungi."


"Saya pernah meneleponnya, menanyakan tentang Bos Bayu, katanya Bos masih ada kendala yang harus diselesaikan. Jadi, harus bersabar menunggunya beberapa hari lagi untuk pulang."


"Berikan nomor telepon Ben padaku."


Alex mengambil ponselnya, mengirimkan kontak nomor telepon Ben kepada Prita.

__ADS_1


__ADS_2