
Raeka mengarahkan anak panahnya pada sasaran yang ada di depannya.
Jleb!
Anak panah yang dileaatkan tepat mengenai target dengan sempurna.
Prok prok prok
Terdengar suara tepuk tangan. Ternyata itu Shuwan. Dia berjalan mendekat ke arah Raeka.
"Kamu memang berbakat, Raeka."
"Thanks."
Raeka tak terlalu memperdulikan keberadaan Shuwan di sebelahnya. Ia kembali mengambil anak panah dari quiver dan kembali melesatkannya pada target. Lagi-lagi anak panahnya tepat mengenai sasaran dengan sempurna.
"Kenapa kamu masih di sini?"
"Aku ingin bermain bersamamu."
Shuwan ikut melesakkan anak panahnya ke target. Namun, anak panahnya sedikit meleset dari sasaran.
"Biasanya kamu tidak bisa jauh-jauh dari pelatih."
"Murid Kak Moreno bukan hanya aku saja, aku tidak boleh egois."
"Hah!" Raeka rasanya ingin terkekeh. Padahal kemarin-kemarin Shuwan memusuhinya karena Moreno dekat dengannya. Sekarang, ucapan wanita itu kembali berbeda.
"Jangan-jangan kamu bersikap seperti ini karena waktu itu aku memergokimu dengan lelaki yang bernama Bayu, kan?"
"Memergoki? Bukankah aku yang menyapamu lebih dulu?"
"Ya ya ya.... jadi apa maumu sekarang? Kita tidak punya alasan untuk menjadi teman, kan?"
"Oke. Aku hanya mau bilang, jangan katakan apapun yang kamu tahu. Terutama pada Kak Moreno."
"Maksudmu jangan mengatakan kalau kamu sudah punya pacar?"
"Ya."
"Hahaha... Masih kurang ya seorang Bayu Bagaskara sebagai pacarmu? Bukankah dia lebih kaya dari pelatih kita?"
"Kamu benar."
"Lagipula, yang aku tahu pelatih sudah menikah."
"Dia dalam tahap perceraian."
"Apa!?"
__ADS_1
"Ah, hm, ya... walaupun begitu tidak seharusnya kamu terus seperti ini. Kamu sudah punya pacar tapi masih mendekati lelaki lain."
"Itu urusanku. Aku harap kamu tidak ikut campur dengan apa yang kamu tahu."
"Kamu tenang saja, aku tipe orang yang tidak terlalu peduli dengan urusan orang lain."
"Syukurlah kalau begitu. Aku mau pindah ke tempat lain. Kamu lanjutkan saja latihannya."
*****
"Prita.... "
Raya berlari menyambut kedatangan Prita di Kafe Saranghae. Dia peluk erat-erat sahabat kesayangannya itu. Sudah lama tidak bertemu, mereka saling melepas rindu.
"Kangen banget.... Akhirnya kamu kembali." Raya berbicara dengan nada yang manja.
"Aku juga kangen banget sama kamu, Ray."
"Coba lihat... perutmu sudah mulai besar. Sudah berapa bulan usia kandungannya, Ray?"
"Sudah memasuki minggu ke 20 atau jalan lima bulan."
"Ayo kita duduk, Ta."
"Makasih."
Tubuh Raya terlihat lebih gemuk dan perutnya sudah mulai sedikit menonjol karena sedang hamil.
"Iya, tidak apa-apa. Aku tahu kok, waktu itu kamu juga belum lama melahirkan anak ketiga, kan. Hah! Anakmu sudah tiga ya, aku bahkan sama sekali belum pernah melihat mereka. Seharusnya tadi kamu ajak mereka kesini."
"Mereka sedang asyik main bersama neneknya, jadi aku pergi sendiri. Lagipula kalau aku mengajak mereka, pasti akan mengacak-acak tempat ini."
"Hahaha... tidak apa-apa juga, ini kan masih kafemu."
"Ngomong-ngomong, Egi mana?"
Egi adalah mantan asisten Ayash yang sekarang sudah menjadi suami Raya.
"Sepertinya Mas Egi masih di ruangannya."
"Cie... panggilnya 'Mas'.... "
"Apaan sih, Ta.... Namanya suami terus aku harus panggil apa?" wajah Raya sedikit memerah.
"Hahaha.... Rasanya lucu aja sih, bayangin Egi jadi suami kamu. Aku nggak nyangka aja kalian bakal nikah. Apalagi dengar kamu manggil dia 'Mas', aduh, aku nggak bisa nahan ketawa."
"Sssttt! Namanya juga cinta, Ta. Makasih ya, dulu udah bantu nyomblangin. Kamu suruh kami berdua ngurusin kafe juga membuat hubungan kami jadi tambah dekat dan akhirnya memutuskan untuk menikah. Makasih banget, Ta."
"Iya, sama-sama. Aku senang kalau bisa membantu temanku."
__ADS_1
"Setelah jadi suami, apa Egi masih kaku seperti dulu?"
"Ya... begitulah. Dia nggak ada romantis-romantisnya sih, tapi aku tahu kok dia sayang dan peduli sama istrinya."
"Kayaknya kamu yang harus sering agresif ya Ray, soalnya Egi kan orang yang tidak peka."
"Yang deketin dia duluan juga aku, Ta. Yang nembak dia duluan juga aku. Kalau nggak gitu, nggak bakal nikah kayaknya. Mas Egi kakunya minta ampun."
"Hahaha... kalian lucu."
"Punya anak kecil repot nggak, Ta? Sebentar lagi kan aku juga mau punya anak. Mau dengerin orang yang sudah berpengalaman."
"Kalau dibilang repot ya repot, Ray... Punya anak kecil terutama bayi ya siap-siap jam tidur berantakan. Soalnya suka bangun sewaktu-waktu, nggak kenal siang atau malam. Awal-awal punya bayi pokoknya harus banyak-banyak bersabar. Jangan lupa curi waktu buat istirahat, kalau bayi tidur usahakan ikut tidur. Jangan sampai stres, harus jaga kewarasan."
"Jarak anakmu dekat-dekat pasti ribet banget ya ngurusin tiga anak."
"Ribet tapi menyenangkan. Lihat polah anak yang lucu itu bisa ngilangin semua rasa lelah seharian."
"Lagian kamu nggak pakai kontrasepsi, ya? Kok sampai jarak kelahiran anak-anak dekat."
"Aku pernah pakai KB suntik, tapi nggak cocok. Jadi ya, nggak pakai apa-apa. Pakai metode KB alami, pakai kalender masa subur... dan dikeluarin di luar. Tapi ya begitu... kebobolan."
"Hahaha.... " Raya tertawa ngakak mendengar perkataan Prita. "Kalau begitu suruh Ayash yang pakai pengaman."
"Lelaki mana mau, Ray.... "
"Iya, cowok maunya enaknya aja, ya. Kalau disuruh pakai ya bilangnya enakan langsung. Parah parah.... "
"Kabar TK kita dulu bagaimana ya, Ray? Kamu kan juga sudah lama berhenti jadi guru di sana."
"Katanya sih ketua yayasannya sudah ganti, Ta."
"Hah? Bukan Bu Retno lagi?"
"Iya, sudah ganti orang, masih keluarga Bu Retno juga. Soalnya setelah anaknya meninggal Bu Retno jadi depresi gitu."
"Anaknya Bu Retno? Maksudnya Mario?"
"Iya, kamu belum tahu ya, kalau Mario meninggal?"
Denyut jantung Prita langsung berdebar kencang. Berita itu sangat mengejutkannya. Ia tidak tahu kalau Mario sudah meninggal.
"Mario meninggal di hari yang sama dengan hari pernikahanmu lima tahun lalu. Kata polisi dia kemungkinan dibunuh dan dirampok, karena villa miliknya yang ada di tepi pantai terlihat acak-acakan dan banyak barang berharga yang hilang. Tapi sampai saat ini polisi juga belum tahu siapa pelaku perampokannya. Bu Retno sangat depresi, dia sudah mengerahkan banyak detektif untuk menyelidiki kasus kematian anaknya tapi sampai sekarang belum ada titik terang."
Prita terdiam. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Malam itu, di villa itu, Mario hendak memperkosanya tapi digagalkan oleh Bayu. Ia jadi bertanya-tanya, mungkinkah Bayu yang telah membunuh Mario? Karena malam itu Bayu telah menghajar Mario habis-habisan sampai tak bergerak.
"Ta... kamu nggak apa-apa kan? Ta.... " Raya mulai khawatir melihat Prita diam.
"Ah! Iya Ray, aku tidak apa-apa. Aku hanya terkejut saja."
__ADS_1
"Sudahlah, kamu tidak perlu memikirkan hal itu. Toh Mario juga bukan orang baik, dia juga pernah menyakitimu."
Meskipun tak ingin memikirkannya, tapi Prita tetap saja kepikiran. Mungkin kematian Mario juga berkaitan dengan dirinya.