
"Apa hari ini kalian senang di sekolah baru?" tanya Prita sembari memeluk kedua anak lelakinya.
Siang ini sekolah baru saja selesai. Prita menjemput kedua anaknya bersama sopir. Livy ia tinggal di mansion bersama Maya.
"Ya, aku senang. Tapi aku juga rindu teman-temanku di Singapura. Ada Nathan, Kei, Harvey, dan Rooney." celoteh Daniel.
"Rooney suka menggangguku, aku tidak suka dia." ucap Dean.
"Itu karena kamu yang suka mengganggunya duluan."
"Aku selalu kalah kalau bertengkar dengan Rooney."
"Hah, anak Mama kok suka bertengkar?"
"Bertengkar itu menyenangkan, Mama... Aku bisa menjadi super hero yang kuat seperti ini." Dean mempraktikkan gerakan seperti yang biasa dilakukan super hero di tv saat bertarung.
"Dean, kalau kamu seperti itu dengan teman, nanti ada teman yang terluka atau menangis. Lebih baik kalian bermain bersama daripada bertengkar seperti itu."
"Halo anak-anak.... "
"Papa.... " Daniel langsung berlari meminta digendong Ayash. Sementara, Dean tidak terlalu antusias dengan kehadiran ayahnya. Dia masih sibuk memainkan robot ironman di tangannya.
"Kamu dari kantor, Sayang?"
Prita mencium tangan Ayash. Ayash membalas mengecup dahi Prita.
"Kebetulan tadi bertemu teman di sekitar sini. Jadi sekalian mampir siapa tahu anak-anak belum pulang. Livy mana?"
"Aku tinggal di rumah bersama Mama. Kamu mau sekalian pulang?"
"Aku masih ada urusan di kantor. Kalian pulang duluan saja."
"Baiklah, ayo Daniel, ikut Mama. Kita pulang sekarang."
"No. Aku mau ikut Papa ke kantor." Daniel menolak turun dari gendongan ayahnya.
"Papa sibuk, nanti kamu mengganggu. Kita tunggu Papa pulang di rumah, ya."
Daniel menggeleng, "Aku mau ikut Papa."
"Ah, anak ini keras kepala." keluh Prita.
"Ya sudah tidak apa-apa biar Daniel ikut aku ke kantor. Dean mau ikut juga?"
__ADS_1
Daniel menggeleng, "Aku mau pulang. Katanya Oma punya hadiah untukku."
"Nanti kamu tidak fokus kerja, Sayang. Biar Daniel pulang saja bersamaku."
"Mama jangan nakal! Aku mau ikut Papa!"
"Sudah, biarkan saja. Di kantor juga ada banyak orang yang bisa membantu menjaganya. Kamu pulang saja dulu bersama Dean."
"Baiklah. Kami pulang dulu." Prita kembali mencium tangan suaminya.
"Hati-hati di jalan."
Ayash mencium pipi Prita dan Dean. Ia tetap berdiri di sana sampai mobil yang membawa Prita dan Dean pergi. Setelah itu, dia membawa Daniel masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkannya kembali ke kantor.
"Papa.... "
"Hm?"
"Apa kantor Papa yang baru lebih besar?"
"Em, Papa rasa lebih kecil. Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu Papa nyaman atau tidak di kantor yang baru."
"Kalau Papa kurang nyaman, kita bisa bangun kantor baru jadi lebih besar seperti yang di Singapura."
"Hahaha... iya. Sepertinya Papa juga akan membangun ruang bermain untukmu seperti yang ada di kantor papa dulu."
Setelah perjalanan sekitar sepuluh menit, mereka sampai di kantor. Ayash menggandeng Daniel memasuki lobi perusahaan. Pandangan setiap orang langsung tertuju pada kedatangan mereka. Ayash, walaupun dulu sudah pernah menduduki jabatan di perusahaan, tapi keberadaannya sekarang seperti orang baru yang mencuri perhatian karyawan.
Ayash yang sekarang tampak lebih gagah seperti hot daddy. Apalagi tampil kompak bersama anaknya yang tampan, damage-nya seperti suami idaman kaum hawa. Siapa yang akan menolak pesona suami tipe-tipe penyayang seperti Ayash?
Ayash dan Daniel pasangan ayah anak yang sefrekuensi. Keduanya memiliki sikap yang sama-sama serius, keras kepala, dan hobi mereka juga sama, suka membaca. Mereka sama-sama bisa berpikir dewasa dan bijak. Jadi, saat mengobrol antara ayah dan anak itu bisa nyambung.
"Selamat datang kembali, bawahanku.... "
Langkah Ayash terhenti. Ternyata Irgi sudah ada di perusahaan. Ayash ingin muntah setiap kali melihat kehadiran Irgi di sana. Irgi suka mengejek Ayash sejak Ayash kembali ke perusahaan. Maklum, posisi Ayash ada di bawahnya.
"Papa Irgi.... " Daniel berlari memeluk Irgi.
"Halo, Sayang. Kamu baru pulang sekolah?" Irgi menciumi pipi Daniel dengan gemas.
__ADS_1
"Ngapain kesini?"
"Ya main, lah! Apa salahnya presiden direktur datang ke kantornya sendiri? Apalagi ada CEO baru, harus sering-sering diawasi siapa tahu kerjanya kurang bagus. Hahaha.... "
Ayash sudah terbiasa dengan sikap songong temannya itu.
"Kebetulan kalau begitu. Sebentar lagi aku ada rapat, tolong jaga Daniel sebentar, ya."
"Ah, tapi aku tidak bisa lama-lama. Soalnya aku juga harus balik ke hotel."
"Ya sudahlah, nanti Daniel aku titipkan ke satpam saja."
"Ah, bagaimana kalau Daniel ikut ke perusahaanku saja? Aku tidak ada meeting hari ini, hanya perlu memeriksa beberapa dokumen saja. Aku bisa berkerja sambil mengawasi Daniel bermain. Nanti aku antar lagi ke sini setelah meetingmu selesai atau aku antar langsung ke mansion."
"Daniel, kamu mau kan ikut Papa Irgi?"
Daniel mengangguk.
"Baiklah. Daniel, jangan merepotkan Papa Irgi, ya."
"Oke Papa." Daniel mengacungkan jempolnya.
"Jaga baik-baik anakku. Awas kalau sampai ada lecet-lecet!"
"Hey, baru kali ini ya ada bawahan yang galak dengan bosnya. Memangnya kamu kira aku akan seceroboh apa menjaga Daniel? Kita berdua kan teman yang kompak. Kamu tenang saja. Oke kita pergi dulu. Kerja yang benar, Mr. CEO. Kalau kerjamu tidak benar, aku bisa memecatmu. Hahaha.... " Irgi mengerlingkan sebelah matanya.
Irgi pergi keluar perusahaan menggendong Daniel dengan perasaan puas. Dia senang sekali kalau bisa meledek Ayash setiap hari. Untung saja Ayash tidak memecatnya dari posisi presiden direktur meskipun kelakuannya songong sampai langit.
"Papa Irgi jangan jahat dengan Papa."
"Jahat? Memangnya Papa Irgi melakukan apa?"
"Tadi Papa Irgi bilang Papa mau dipecat? Papa kan rajin bekerja. Kenapa dipecat?"
"Ah, itu ya. Papa Irgi hanya bercanda.... Mana mungkin Papa Irgi memecat papamu."
"Benar, ya, janji? Kalau sampai Papa sedih, nanti aku bisa marah dengan Papa Irgi."
"Iya, iya... janji! Kamu sayang banget ya, dengan papamu?"
"Tentu. Papa kan favoritku. Aku sangat menyayangi Papa."
Irgi tersenyum. Ternyata memang selama ini Ayash telah menjadi ayah yang baik untuk Daniel. Anak itu sampai mengatakan rasa sayangnya yang besar terhadap ayahnya. Daniel masih kecil, dia belum terlalu paham tentang banyak hal. Entah nanti saat dewasa ia tahu yang sebenarnya jika Ayash bukan ayah kandungnya, apakah Daniel masih akan tulus menyayangi Ayash.
__ADS_1
Apalagi di kota yang sama ada Bayu, ayah biologis Daniel. Irgi lebih suka Daniel tetap seperti ini, bersama Ayash dan Prita serta adik-adiknya. Jangan sampai Bayu merebut Daniel. Daniel harus tinggal bersama orang-orang yang baik, bukan dengan mafia yang kehidupannya dikelilingi dengan bahaya dan kejahatan.