
"Halo anak buah.... Bos sudah datang.... "
Irgi baru kembali bekerja setelah kegiatan bulan madunya selesai. Wajahnya sangat ceria, auranya seperti dikelilingi oleh bunga-bunga. Mungkin itu juga yang dirasakan setiap pasangan yang baru menikah.
Selama dua minggu ia berkeliling Eropa bersama Raeka sebagai pasangan pengantin baru. Ia tak tahu menahu jika ada banyak hal yang telah terjadi selama ia pergi.
Sengaja orang pertama yang ingin ia temui adalah Ayash. Ia membawakan oleh-oleh untuk Dean, Livy dan Daniel. Selain itu juga dia mau pamer kalau sekarang dia sudah menikah. Tapi, orang yang akan ia pameri sepertinya sedang dalam kondisi badmood.
Ayash tidak menyambut kedatangannya dengan antusias. Ia tampak memaksakan diri untuk sibuk dengan pekerjaannya. Biasanya jika mereka bertemu akan langsung adu mulut.
"Masuklah. Kamu sudah kembali ya?" ucap Ayash datar.
"Sok serius banget kerjanya? Beneran lagi kerja ya?"
"Ya, kapan aku pernah main-main dengan pekerjaan? Aku tidak seperti kamu."
"Bagus kalau begitu. Anak buah memang harus rajin supaya bos senang."
"Apa bulan madunya menyenangkan?"
"Oh, tentu saja."
"Ah! Ini aku bawakan oleh-oleh untuk Prita dan anak-anak. Aku tidak membelikan oleh-oleh untukmu karena kamu juga bisa beli sendiri."
Irgi meletakkan satu paperbag besar di atas meja Ayash.
"Kamu berikan sendiri saja kepada Prita. Anak-anak juga sedang ikut bersamanya di rumah sakit."
"Weh, marah, ya? Gara-gara nggak kebagian oleh-oleh?"
"Irgi, ada yang ingin aku katakan." Wajah Ayash tampak serius. Kali ini ia tak ingin bercanda.
"Oke, akan aku dengarkan."
"Aku dan Prita sudah bercerai."
Senyuman di wajah Irgi seketika hilang. Dia tahu Ayash sedang tidak bercanda. Tapi ia tidak bisa percaya dengan kata-kata yang baru saja ia dengat.
"Bercandamu keterlaluan, Yash."
"Aku sedang tidak bercanda." Ayash mengeluarkan akta cerainya dari dalam laci dan memberikannya pada Irgi.
Tangan Irgi gemetar membaca selembar surat yang ada di tangannya. Perasaannya bercampur aduk antara marah, kecewa, dan sedih.
Plak!
Ia memukul kepala Ayash. Dengan sangat emosi, ia tarik paksa kerah leher Ayash. "Apa yang sudah kamu lakukan, bodoh!"
Bugh!
__ADS_1
Satu kepalan tangan Irgi mengenai sudut bibir Ayash dengan keras. Hingga terlihat darah yang krluar dari sana. Ayash hanya pasrah menerima kemarahan Irgi. Dia sudah tahu, Irgi akan menjadi orang yang paling marah saat tahu ia sudah menceraikan Prita.
"Sebesar apa masalah kalian sampai harus berpisah, hah! Dasar bajingan kamu berani meninggalkan Prita seenaknya!"
Nafas Irgi sampai tersengal-sengal karena terus menghujami Ayash dengan pukulannya. Ia junga mengeluarkan umpatan dan sumpah serapah namun Ayash tetap diam.
"Kenapa tidak menceritakan masalah kalian kepadaku? Mungkin saja aku bisa membantu. Kenapa harus perceraian jalan yang kalian pilih?"
"Ah! Bangsat! Aku baru saja bahagia setelah menikah kalian malah bercerai."
"Kalian sudah tidak menganggap aku teman lagi?"
"Kadang ada masalah yang tidak bisa diceritakan kepada orang lain. Aku hanya melakukan yang terbaik menurut pendapatku."
"Ah! Bullshit! Omong kosong! Itu bukan penyelesaian. Kalian hanya sedang putus asa saja sampai mencari jalan termudah."
"Kalian pikir masalah akan selesai dengan bercerai? Bilang saja ingin lari dari masalah."
Ayash terdiam. Ia tak bisa menceritakan semuanya pada Irgi. Belum tentu juga Irgi bisa mengerti dengan alasannya.
"Sudahlah! Aku mau pergi ke rumah sakit. Malas aku bicara denganmu."
Irgi mengambil kembali paperbag yang tadinya ia letakkan di meja Ayash. Ia bergegas keluar dari ruangan itu dan membanting pintu dengan sangat keras.
Dari kantor Ayash, Irgi beralih ke rumah sakit Citra International Hospital untuk mengunjungi Daniel. Dalam hatinya sudah berpikir yang macam-macam. Bagaimana perasaan Prita setelah diceraikan dalam kondisi sedang mengurusi anaknya yang sakit. Ayash seperti tidak punya otak. Bisa-bisanya dia mengambil keputusan bercerai. Teman yang selama ini pemikirannya ia anggap dewasa tiba-tiba menjadi orang paling bodoh di dunia.
Setibanya di kamar rawat Daniel, suasananya sangat sepi. Kata Ayash ketiga anaknya sedang berkumpul di sana, tapi tidak ada siapapun. Bahkan, ranjang Daniel juga kosong.
"Ta.... "
Sayup-sayup ia dengar isakan dari arah kamar tidur yang berada di samping ranjang Daniel. Suara itu semakin jelas terdengar ketika Irgi mendekatinya.
Srek
Ia buka sekat pintu penghubung. Benar, Prita ada di dalam. Tampaknya Prita terkejut melihat kedatangannya. Terlihat dari responnya yang langsung menghapus air mata saat menyadari ada orang yang datang.
"Ah, Irgi. Kamu sudah pulang, ya?"
Prita menghampiri Irgi dan memberikan pelukan.
"Ngapain di kamar sendirian?"
"Nggak lagi apa-apa, aku hanya tidur sebentar tadi. Ayo kita duduk di ruang tamu."
Prita beralih ke arah minibar, mengambilkan minuman dan camilan ringan untuk Irgi.
"Daniel dimana?"
"Dia sedang bersama perawat, melakukan pengecekan rutin seperti biasa."
__ADS_1
"Apa kondisinya sudah ada kemajuan?"
"Yah, setidaknya lebih stabil sekarang. ***** makannya sudah pulih dan dia tidak rewel. Itu sudah suatu anugerah untukku."
"Katanya Dean dan Livy juga ada di sini? Kok mereka nggak ada?"
"Ah, mereka sedang main di area permainan ditemani Leta dan Pak Ahmad."
"Ini aku bawakan oleh-oleh dari Eropa."
"Wah, makasih ya. Kalian bulan madu masih kepikiran beli oleh-oleh untuk anak-anak."
Prita membuka-buka paperbag yang diberikan Irgi. Ada mainan, coklat, dan parfume yang bentuknya sangat lucu.
"Ta.... "
"Hm?"
"Apa benar kalian sudah bercerai?"
Prita berhenti melihat-lihat barang yang Irgi bawa. Ia menghela nafas mempersiapkan mental. Pada akhirnya satu persatu orang akan tahu kalau mereka telah bercerai.
Prita memasang senyum, "Pasti kamu sudah mendengar dari Ayash, ya? Kami memang sudah bercerai."
"But.... Why?"
"Karena menurut kami itu yang terbaik. Maaf tidak memberi tahu lebih awal."
"Oh, ****! Kalian yang bercerai tapi aku yang hampir gila. Kalian benar-benar bodoh! Lalu bagaimana dengan anak-anak kalian?"
"Tidak ada yang berubah selain hubungan kami, Ir. Anak-anak masih memiliki kedua orangtuanya. Kami sepakat untuk membesarkan mereka bersama, tidak meributkan tentang hak asuh anak."
"Aku sudah menghajar Ayash habis-habisan. Tapi dia tetap tidak mau buka mulut alasan perceraian kalian."
Plak!
Prita memukul lengan Irgi.
"Kamu sembarangan memukul Ayash? Ini bukan salahnya."
"Dia yang menggugat cerai kamu, kan?"
"Tapi dia melakukannya untuk kebaikanku." lirih Prita.
"Jadi kamu merasa baik-baik saja setelah bercerai?"
Prita terdiam. Ia tak merasa baik-baik saja. Ada kalanya ia ingin menangis jika mengingat mereka sudah bercerai. Air matanya akan kembali menetes mengingat ia sudah tak lagi bersama dengan Ayash.
"Tuh kan, mewek. Begitu kok sok kuat sampai cerai."
__ADS_1
"Bisa nggak sih jangan dibahas lagi." Prita menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia kesal Irgi membahas lagi soal perceraiannya. Ia jadi semakin sedih. Padahal ia sedang dalam fase menghibur diri agar tak lagi sedih.
Irgi menarik Prita dalam pelukannya, "Sudah, Ta. Aku nggak akan bahas ini lagi."