ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Hukuman


__ADS_3

Disarankan baca waktu malam 🤭


####################################


Rafa keluar dari toilet setelah menyelesaikan buang air kecil. Ia ingin segera kembali menemui Prita di tempat yang tadi. Tapi, sebelum itu, tiba-tiba muncul ide di otaknya. Prita memakai high heels sejak tadi. Bisa jadi kakinya lecet karena sempat dibawa berlari. Ia akan membelikannya sandal selop supaya lebih nyaman.


Rafa menunda menemui Prita. Ia menuju ke area pedagang sandal yang tak jauh dari tempatnya. Ada banyak macam sandal dengan berbagai macam ukuran. Dia sendiri bingung, mengira-ngira ukuran sandal yang sekiranya pas untuk Prita.


Kalau dilihat-lihat, postur Prita hampir sama dengan adiknya, Raeka. Tapi, Prita lebih pendek dari adiknya. Mungkin ukuran kaki mereka hampir sama. Rafa mengambil sepasang selop berwarna pink nude bernomor 38 yang sepertinya akan pas untuk Prita.


Setelah membeli selop, ia kembali berpikir. Prita memakai baju seminim itu di tempat terbuka malam-malam. Sebaiknya ia belikan jaket atau sweater agar ia lebih hangat.


Ia beralih menuju pedagang pakaian di sebelah pedagang sandal tadi. Memang, barang yang dijual kelihatan murahan, namanya juga barang-barang di pasar rakyat. Tapi, setidaknya bisa dipakai sementara untuk menghangatkan diri. Prita juga tampaknya bukan tipe wanita matre yang akan melihat barang berdasarkan merk dan harganya. Rafa mengambil satu sweater warna cream yang tampak longgar dan panjangnya sampai lutut.


Rafa tersenyum. Saat ini ia sedang bersama dengan pacar orang lain, tapi serasa dirinya yang menjadi pacarnya. Ini pertama kalinya ia perhatian dengan seorang wanita, selain adik dan ibunya tentu saja.


Namun, saat ia sampai di tempat dirinya meninggalkan Prita, wanita itu sudah tidak ada. Jas miliknya tergeletak begitu saja di sana.


Perasaan khawatir muncul. Ia bergegas mencarinya di sekitar sana.


"Prita.... Prita.... " Rafa terus memanggil namanya.


Tempat itu cukup sepi, hanya beberapa orang yang melintas. Ia khawatir Prita dibawa preman atau orang jahat lainnya.


Rafa menemukan sepasang high heels milik Prita tergeletak di semak-semak. Ini kedua kalinya hal itu terjadi. Wanita itu kembali hilang.


Sementara, wanita yang Rafa cari saat ini sedang berada dalam sebuah mobil bersama suaminya. Sepertinya, dia akan mendapat hukumannya karena telah berbuat nakal.


"Mas.... Tunggu sampai rumah dulu, masa kita mau melakukannya di mobil?"


"Tidak ada waktu, Sayang. Aku maunya sekarang."


Bayu melepaskan kaos dalamnya, memperlihatkan tubuh atletisnya yang menawan. Tak hanya sampai di situ, dia juga melepaskan celana dan ********** dalam sekali gerakan. Membuat Prita malu serta kelabakan. Milik suaminya sudah tegak dan siap untuk menghujam. Sejak kapan suaminya jadi seperti itu? Kenapa setiap membuka baju bawaannya selalu tegak. Rasanya jarang benda itu tertidur.


Bayu mendekatkan dirinya pada Prita, "Lihat dirimu, ada berapa banyak lelaki yang sudah melihat keindahan tubuhmu seperti ini, hm


" Bayu mengelus permukaan paha Prita yang terekspose.

__ADS_1


"Aku jadi sangat marah hanya dengan memikirkannya."


Bayu menciumi dengan lembut setiap sisi wajah Prita. Mulai dari bibir, berpindah ke area pipi, mata, lalu dahi. Ciumannya semakin ke tepi menyisir area telinga yang tampak sensitif.


"Kamu istriku, tidak boleh ada yang melihat tubuhmu selain aku." bisiknya.


"I.... Iya, Mas. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Prita mengge*linjang kegelian ketika Bayu menji*lat dan menggigit kecil telinganya.


"Pakaianmu sangat mudah untuk dilepaskan. Bagaimana kalau ada lelaki lain yang menarik pakaianmu seperti ini?"


Bayu menurunkan kasar baju Prita bermodel sabrina itu hingga turun ke perut dan terpampanglah buah dada berisi yang hanya tertutup oleh strapless bra warna beige. Tanpa basa basi, ia lepaskan pengaitnya dan membuangnya asal.


"Kenapa malah menutupi itu?" Bayu protes karena Prita menutupi dadanya dengan kedua tangannya.


"Coba berbalik. Naikkan lututmu ke atas kursi."


Prita menuruti permintaan Bayu. Kalau sudah seperti ini, suaminya tak akan mau dibantah. Paling aman jika ia menurut. Prita naik ke atas kursi dengan lutut sebagai tumpuan. Kedua tangannya diletakkan pada sandaran kursi yang telah direndahkan hingga maksimal.


Dari arah belakang, Bayu meloloskan pakaiannya melewati paha dan kakinya. Lelaki itu memeluknya dari belakang dengan begitu mesra. Sentuhan kulit di antara mereka berdua memberikan sensasi geli sekaligus nikmat.


Ikatan rambut kucir kuda membuat Bayu leluasa menciumi leher jenjang Prita. Kedua tangannya ikut aktif meraih dua benda yang tergantung bebas di depan sana. Sesekali ia beri pijatan dengan lembut sembari terus memberikan kecupan dari arah leher turun ke area punggung. Perlakuan itu membuat istrinya sesekali mend*esah.


Apalagi ketika kedua dadanya kembali dipermainkan, puncaknya dipilin lembut, rasanya sudah tidak tak tahan. Ia ingin semuanya segera berakhir, tidak kuat dengan sensasi yang timbul dari setiap sentuhannya. Dimanapun Bayu menyentuhnya, tubuhnya mer*emang dan bergetar.


"Mas.... Jangan kelamaan, aku tidak kuat." rengek Prita.


"Sstt.... aku sedang menghukummu, Sayang. Kamu harus menurut. Jadi istri yang baik, oke."


Bayu masih melakukan hal yang disukainya, mengeksplore setiap inchi tubuh istrinya sendiri. Rasa marahnya seakan terbayarkan ketika saat ini ia bisa menjamahnya. Tubuh itu, hanya miliknya. Hanya dia yang boleh melakukan apapun dengan tubuh itu.


"Ah... hngg.... " lengk*uhan Prita kembali terdengar saat Bayu memakai jarinya untuk menggoda miliknya. Rasanya nikmat, namun ia membutuhkan sesuatu yang lebih untuk memuaskannya.


"Mas.... Prease.... " rengeknya.


Tapi sepertinya Bayu masih ingin menggodanya. Ia tak mau berhenti menjahili istrinya. Setiap lengkuhan yang kelaur dari mulut istrinya membuat Bayu semakin bersemangat dan ingin lebih lama membuatnya terus bersuara seperti itu. Suaranya terdengar seksi sekaligus mengg*airahkan. Istrinya semakin merancau, sepertinya ia akan menangis karena terus dipermainkan.


Bayu mengambil jarinya. Dia bersiap memberikan istrinya apa yang ia inginkan. Diarahkannya miliknya ke pada kepemilikan sang istri.

__ADS_1


"Achhh....! "


Satu teriakan keras keluar dari mulut Prita saat Bayu memasukkan seluruh miliknya ke dalam dalam satu sentakan. Air matanya sampai keluar. Rasanya memang tidak terlalu menyakitkan, namun karena sejak tadi ia merengek tidak didengarkan, ia sudah hampir kelelahan dan akhirnya Bayu memasukkan miliknya.


"Huhuhu.... hiks!"


"Sttt.... Makanya jangan nakal lagi, ya."


Bayu meraih kepala Prita agar menghadap kepadanya. Wajah yang dialiri air mata itu tidak membuatnya kasihan, tapi justru membuatnya semakin terang*sang. Ekspresinya imut dan lucu, merengek seperti anak kecil yang berharap diberi permen.


"Mau jadi istri yang baik?"


Prita mengangguk.


"Good girl." Bayu memberi kecupan di dahi Prita.


Bayu mulai menggerakkan pinggulnya sembari memeluk istrinya dari belakang. Ia lakukan dengan tempo yang pelan untuk menyenangkan istrinya. Terdengar dari suara nafas serta desa*han teratur yang keluar dari mulutnya. Wanita itu sangat menikmati.


Saat miliknya merasa dicengkeram kuat di dalam sana, Bayu mempercepat gerakannya. Ia tahu sebentar lagi istrinya akan mencapai pelepasan pertama.


"Ahh... Ahh.... Hngg.... Hngg.... "


Suara erangan itu disusul oleh tubuh Prita yang ambruk ke atas kursi. Tubuhnya terasa lemas, nafasnya tersengal-sengal.


Bayu menciumi sisi kiri wajah istrinya. Miliknya masih ada di dalam sana, menunggu Prita kembali bisa bermain lagi dengannya.


"Mas.... Lanjut di rumah.... " Dalam kondisi yang masih lemah Prita merajuk. Miliknya masih terasa sesak karena Bayu belum mengeluarkannya.


"Sampai rumah kita akan tidur. Jadi, selesaikan di sini saja. Beristirahatlah sebentar, aku akan memberimu waktu."


Setelah dirasa Prita telah pulih, Bayu membaringkan tubuhnya di atas kursi. Sang istri di suruh duduk di atasnya.


Prita harus menahan malu demi menyenangkan hati suaminya. Ia goyangkan tubuhnya sendiri di atas sana, sesekali menaik turunkan. Bayu memandanginya dengan puas di bawah. Bukannya berhasil membuat Bayu selesai, justru dirinya kembali merasakan akan pelepasan yang kedua. Ia peluk tubuh suaminya sambil menyatukan bibir mereka. Tubuh bawahnya digerakkan sendiri agar menyentuh titik kenikmatan yang beberapa detik kemudian membuatnya kembali melemas karena pelepasan.


Bayu tersenyum melihat istrinya terkulai di atas tubuhnya. Awalnya dia bilang tidak akan nyaman melakukannya di atas mobil. Tapi, dia sendiri sudah dua kali pelepasan. Bayu kembali memberi jeda waktu kepada istrinya.


Setelah tenaga wanita itu pulih, Bayu kembali menggempur istrinya. Beberapa kali ia mengajaknya berganti posisi, hingga akhirnya ia menyemburkan cairan hangat ke dalam milik istrinya. Keduanya terkulai lemas. Prita yang beberapa kali pelepasan, pasti sangat lelah hingga ia tertidur.

__ADS_1


Bayu heran sendiri, istrinya selalu tertidur setiap kali ia ajak bercinta. Padahal seharusnya ia kuat terjaga semalaman untuk mengulang kegiatan mereka.


Bayu mengambil selembar selimut untuk menutupi tubuh Prita. Sementara, ia memakai kembali pakaiannya. Baju Prita yang tercecer ia kumpulkan dan dimasukkan kedalam kantong. Ia melihat jam tangannya, sudah pukul sebelas malam. Ia memanggil Fredi saat semuanya telah beres untuk mengantarkan mereka pulang.


__ADS_2