
"Kenapa Papa ingin sekali Bayu mati?" tanya Shuwan sembari menikmati makanannya yang baru diantarkan.
"Kamu tidak perlu tahu. Kamu hanya perlu menuruti apa yang Papa perintahkan."
Lagi-lagi seperti itu jawaban Zetian ketika Shuwan bertanya. Menurut Shuwan, Bayu pengusaha muda yang tidak aneh-aneh. Sikapnya baik dan ramah terutama kepadanya. Bayu seorang yang royal dan tak perhitungan kepada pacarnya. Shuwan jadi merasa bersalah sendiri memanfaatkan Bayu demi kepentingannya.
"Apa setelah keinginan Papa terwujud aku boleh menikah dengan Moreno?"
"Akan Papa pikirkan."
"Kalau Papa bilang begitu, artinya Papa tetap tisak setuju aku berhubungan dengan Moreno. Aku tidak mau menuruti Papa lagi. Lebih baik aku katakan semua rencana Papa pada Bayu supaya semuanya selesai."
"Shu, apa yang baru saja kamu katakan?" Zetian menatap tajam ke arah Shuwan. "Berani mengatakan seperti itu kepadanya, sama artinya kamu ingin membunuh papa dan dirimu sendiri."
"Restui hubunganku dan Moreno. Aku akan membantu Papa hingga akhir."
"Kamu tidak akan menyesal menikah dengannya?"
"Tidak."
"Kamu biasa hidup sebagai seorang putri. Bisakah hidup dengan orang yang hanya berprofesi sebagai atlet panahan?"
"Dia seorang pelatih, Papa. Dia juga punya klab memanah sendiri. Selain itu, dia juga punya perusahaan meskipun belum terlalu besar. Aku juga bisa mencari uang sendiri. Kondisi finansial Moreno bagiku sudah cukup. Aku tidak membutuhkan lelaki yang sangat kaya dan sukses. Aku hanya butuh lelaki yang membuatku nyaman saat bersamanya. Dan lelaki itu hanya Moreno."
"Wanita tidak pernah menggunakan logika saat jatuh cinta." gumam Zetian.
"Papa yang tidak pernah menggunakan perasaan saat melakukan sesuatu."
"Ya, seperti itulah aku. Aku memang tidak memiliki perasaan."
"Pokoknya aku mau Papa merestui hubungan kami."
"Terserah padamu saja. Papa lelah menasihatimu. Yang jelas, jangan sampai Bayu tahu hubungan kalian. Jangan sampai kalian putus. Jaga jarakmu dengan duda itu di publik, kamu pikir tidak ada yang memperhatikan kalian?"
"Bukankah yang memperhatikan kami hanya mata-mata yang Papa bayar untuk menguntitku?"
"Kamu suka sekali membantah papamu sendiri. Selesaikan makanmu dan pergilah!"
*****
__ADS_1
Prita menatap nanar Daniel yang tertidur di hadapannya. Sudah dua hari ia tak bisa melihat tawa ceria di wajahnya. Air matanya perlahan mengalir. Sebagai seorang ibu, ingin rasanya ia menggantikan posisi Daniel saat ini. Lebih baik dia yang sakit daripada melihat anaknya sakit seperti ini.
Klek!
Terdengar pintu kamar dibuka. Buru-buru Prita menyeka air matanya. Ternyata yang datang Irgi dan Raeka yang membawakan baju-baju yang ia minta.
"Kondisi Daniel bagaimana, Ta?" tanya Irgi.
Mendengar pertanyaan Irgi, Prita hanya bisa menggeleng. Mengisyaratkan bahwa kondisi Daniel belum ada kemajuan, masih tak sadarkan diri. Prita kembali terisak, tangisannya tak tertahan lagi. Melihat itu, Irgi langsung memeluk Prita, mencoba menenangkannya. Raeka juga ikut mengelus punggung Prita agar ia kuat.
Pandangan Irgi dan Raeka tertuju pada Daniel. Siapa saja yang melihat kondisi anak itu pasti akan merasa iba. Ada banyak alat medis yang terpasang dan Daniel belum sadarkan diri.
"Irgi, Raeka, duduk dulu." Prita mengusap air matanya. Ia mengeluarkan minuman dari dalam kulkas kecil untuk mereka.
"Ayash dimana?"
"Tadi ke kamar mandi."
"Kalau anak-anakmu yang lain?"
"Ada di kamar sebelah. Dean juga mengalami luka ringan, jadi sekalian kami rawat di sini. Mereka ditemani oleh kakek neneknya, ada Leta dan Pak Agus juga."
Klek
"Sudah aku bawakan semua yang kamu minta."
"Thanks. Sekalian aku minta tolong jagain Daniel, ya?"
"Memangnya kamu mau kemana lagi?"
"Menemui Dokter Hansen. Katanya ada yang ingin dibicarakan dengan aku dan Prita."
"Oh, ya sudah. Kalian pergi saja. Biar aku dan Raeka tetap di sini."
"Ayo, Ta."
"Aku pergi dulu, Ir, Ra. Maaf, merepotkan kalian."
Prita meraih tangan Ayash. Keduanya berjalan bersama melewati koridor rumah sakit menuju ruangan Dokter Hansen.
__ADS_1
"Apa ada hal buruk yang terjadi pada Daniel, Om?" tanya Ayash penasaran. Sebelumnya ia dan Dokter Hansen bertemu di toilet. Hansen meminta Ayash mengajak Prita mendatangi ruangannya karena ada hal serius yang ingin dibicarakan tentang Daniel.
"Kemungkinan Daniel menderita leukemia limfoblastik akut."
Deg!
Prita dan Ayash saling berpandangan. Perkataan Dokter Hansen sama sekali tidak bisa mereka percaya. apenyakit yang disebutkan itu kedengarannya sangat menakutkan. Bagaimana bisa anak seceria Daniel menderita penyakit kanker darah? Selama ini Daniel tak pernah menunjukkan gejala-gejala yang menunjukkan penyakit itu.
"Om, jangan bercanda. Masa gara-gara jatuh ke jurang Daniel jadi terkena kanker darah?"
"Bukan seperti itu, Ayash. Ini berbeda dengan luka yang Daniel alami. Daniel sudah memiliki bakat penyakit leukemia sejak lahir."
"Daniel hampir tidak pernah sakit, Dok. Dia anak yang sehat." kilah Prita.
"Iya, Prita. Berdasarkan hasil tes darah, dalam darah Daniel ditemukan jumlah sel darah putih yang tinggi. Namun selama ini Daniel tidak menunjukkan gejala-gejala fisik yang mengarah pada leukemia seperti yang kalian katakan. Ini disebut sebagai leukemia stadium nol atau stadium awal."
"Karena Daniel menderita leukemia akut, maka perkembangan penyakitnya akan sangat cepat jika tidak segera ditangani."
"Kedepannya dia akan mulai menunjukkan gejala-gejala yang biasa dialami penderita leukemia satu per satu."
Raut wajah Prita berubah sendu. Padahal Daniel saat ini saja masih terbaring koma dan ia harus mendengarkan bahwa Daniel mengidap leukemia, salah satu penyakit yang terkenal mematikan di dunia ini.
Ayash memeluk pundak Prita. Ia tahu, istrinya saat ini sedang terguncang sama seperti dirinya. Tapi, sebagai laki-laki dia terus menampakkan sikap kuatnya menghadapi segala cobaan.
"Kalian harus tetap semangat. Aku sebagai dokter juga akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu kesembuhan Daniel."
"Apa koma yang Daniel alami juga dipengaruhi oleh penyakit itu?"
"Salah satunya iya. Tapi ada banyak hal lain yang menyebabkan Daniel belum mau bangun dari komanya."
"Jangan pernah putus untuk berdoa agar Daniel segera bangun dari koma."
"Ah, iya. Ada hal lain yang harus aku sampaikan. Selama ini Daniel masih menerima transfusi darah untuk menggantikan sel-sel darahnya. Masalahnya, golongan darah Daniel itu O- (O Rhesus negatif). Kalian tahu sendiri kan, kalau golongan darah itu hanya bisa menerima donor dari pemilik golongan darah O- juga. Sementara stok golongan darah itu di rumah sakit sedikit. Aku harap kalian cari anggota keluarga kalian yang memiliki golongan darah yang sama dengan Daniel. Kalau kalian berdua salah satunya memiliki golongan darah yang sama, kalian juga bisa mendonorkan darah kalian untuk Daniel."
Prita dan Ayash kembali bertatapan. Keduanya memiliki golongan darah yang berbeda dengan Daniel. Golongan darah Prita B+ sedangkan Ayash AB+.
"Iya, Om. Terima kasih atas informasinya."
"Sama-sama. Jangan bosan kalau kedepannya kita akan lebih sering bertemu."
__ADS_1
"Kami permisi dulu."