
Bayu segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat Daniel dirawat. Ia hampir lupa kalau di kantor meninggalkan Jimmy untuk menggantikannya sebentar. Tapi dia abaikan saja karena Jimmy paling akan pergi dengan sendirinya.
Sesampainya di lobi rumah sakit, Bayu menanyakan kamar perawatan yang Ayash sebutkan. Kamar 404 ternyata kamar tipe president suite, kamar tipe tertinggi di rumah sakit itu. Bayu jadi terkesima karena ternyata Ayash memberikan kamar terbaik untuk anaknya. Nanti dia pasti akan mengganti biaya perawatan anaknya.
Kamar 404 terletak di lantai teratas Citra International Hospital. Sepanjang lorong koridor di sana terlihat sepi. Tidak ada bau obat sama sekali seperti rumah sakit pada umumnya. Jangan mencari para penunggu pasien yang biasa duduk di lorong-lorong kamar menggunakan alas karpet atau tikar, karena hal itu tidak ada. Daripada disebut ruang rawat rumah sakit, tempat itu lebih mirip dengan kamar hotel bintang lima.
Setelah melewati beberapa pintu kamar, akhirnya Bayu menemukan tulisan kamar 404. Dari luar saja sudah kelihatan kalau itu kamar yang besar. Bayu membuka pintu ruangan secara perlahan. Samar-samar terdengar suara dokter yang sedang berbicara. Bayu menghentikan langkahnya, ikut mendengarkan perkataan sang dokter.
"Sudah, jangan menangis. Mimisan Daniel juga sudah berhenti. Jangan khawatir begitu. Sebagai ibu kamu harus tetap semangat."
Dokter Hansen menenangkan Prita yang menangis tersedu-sedu. Dia panik saat tubuh Daniel tiba-tiba lemas dan hidungnya mimisan. Ia segera menghubungi perawat agar dokter datang ke ruangannya. Daniel kembali tertidur setelah diberi tindakan oleh dokter. Prita menjadi sedikit lega walaupun kekhawatirannya tetap ada. Bagaimana dia bisa tenang mengetahui anaknya memiliki penyakit yang spesial. Rasanya setiap detik yang ada di pikirannya hanya kekhawatiran. Ia takut Daniel pergi meninggalkannya.
"Bagaimana dengan Daniel, Dok? Apa dia benar-benar bisa disembuhkan?"
"Beberapa pasien leukemia masih bisa sembuh. Namun, pada kondisi tertentu, leukemia memang bisa sulit disembuhkan, sehingga pengobatan yang diberikan hanya untuk mengendalikan penyakit serta memperpanjang angka harapan hidup pasien. Karena Daniel termasuk bisa dideteksi sejak dini, kemungkinan untuk sembuh juga lebih besar."
Dokter Hansen merupakan dokter spesialis hematologi onkologi yang sudah lama menjadi dokter pribadi keluarga Hartadi. Ini bukan pertama kalinya ia menangani pasien kanker darah. Jadi, apa yang dikatakannya memang berdasarkan pengalamannya selama ini.
"Dokter, lakukan apa saja yang Dokter bisa agar Daniel bisa segera pulih secepatnya. Kami akan mengikuti saran dokter."
"Yang harus kita lakukan hanya berusaha dan bersabar. Untuk pasien leukemia ada beberapa metode pengobatan yang biasa dilakukan seperti: kemoterapi, imunoterapi, terapi target, radio terapi, dan transplatasi sumsum tulang belakang. Tentunya kita akan melakukan yang bisa dilakukan."
"Hal ini sangat membutuhkan dukungan dari seluruh keluarga. Seperti yang sudah saya bilang, kedepannya Daniel akan membutuhkan banyak tranfusi darah golongan O negatif. Itu termasuk golongan darah yang langka. Maka dari itu, tolong cari setiap anggota keluarga yang memiliki golongan darah yang sama dengan Daniel. Jadi sewaktu-waktu dia butuh transfusi darah, kita tahu siapa yang akan kita hubungi."
"Iya, Dok. Kami juga sudah mengabarkannya kepada keluarga besar."
"Satu lagi."
"Coba ajak seluruh keluarga untuk melakukan tes kecocokan sumsum tulang belakang. Transplatasi sumsum tulang belakang bagi penderita leukemia juga merupakan salah satu yang memiliki tingkat keberhasilan tinggi. Biasanya yang akan cocok dari keluarga atau lebih tinggi kecocokannya antara saudara kandung."
"Baik, Dok." Prita menjawab dengan lemas.
__ADS_1
"Usahakan jangan panik. Kita memang tahu ini penyakit yang serius, namun harus tetap disikapi dengan tenang. Kami semua akan membantu semaksimal mungkin."
Prita mengangguk.
"Kalau begitu, kami keluar dulu."
Dokter Hansen mengajak dua perawat yang ikut bersamanya berjalan meninggalkan ruangan. Dia sempat menyunggingkan senyum ketika berpapasan dengan Bayu yang masih berdiri di depan pintu.
Bayu tercengang. Kondisi penyakit anaknya benar-benar serius. Ia melihat Prita kini sedang merebahkan kepalanya di ranjang Daniel. Punggungnya tampak berguncang, sudah dipastikan dia sedang menangis.
Ketika sedang menangis di samping Daniel, Prota mendengar suara langkah kaki mendekat. Ia segera mengangkat kepalanya dan menyeka air matanya.
Deg!
Prita terperanjat melihat Bayu sudah ada di hadapannya. Saat ini mereka sudah berdiri berhadap-hadapan.
"Darimana kamu tahu.... "
"Ayash yang memberitahuku." Bayu sudah lebih dulu menjawab sebelum Prita menyelesaikan perkataannya.
Bayu melangkah maju, mendekati ranjang anaknya. Daniel tampak sedang tertidur dengan selang infus yang terpasang di tangannya. Padahal ia ingin mengajak Daniel memainkan mainan yang ia bawa. Tapi, Daniel saat ini bahkan tidak mengetahui kedatangannya.
"Kenapa kepalanya?" Bayu bertanya tentang plester yang menempel di kepala Daniel.
"Itu karena jatuh dari jurang."
"Apa lukanya parah?"
"Kata dokter tidak terlalu parah. Benturannya tidak sampai menyebabkan kerusakan otak."
"Tadi aku mendengar semua perkataan dokter."
__ADS_1
"Sudah berapa lama?"
"Dokter juga baru tahu. Tapi katanya bakatnya sudah ada sejak ia lahir."
"Biarkan aku yang melanjutkan merawat Daniel."
"Tidak perlu. Aku masih sanggup mengurusnya."
"Kamu punya dua anak lain yang masih kecil. Bagaimana caramu membagi waktu untuk mereka?"
"Aku sudah terbiasa mengurus mereka bertiga sendiri. Bagiku tidak ada sulitnya. Apalagi sekarang ada pengasuh yang membantuku."
Wajah sayu yang tampak pada Prita menunjukkan hal yang bertolak belakang dengan apa yang dikatakannya. Bayu tahu, Prita pasti kelelahan mengurusi anaknya yang sakit dan kedua anak lainnya yang masih kecil. Tapi memang seperti itu watak Prita. Tidak pernah mau memperlihatkan sisi lemahnya di hadapan orang lain. Ia selalu berpura-pura kuat. Sudah jelas tadi dia melihat Prita menangis tersedu-sedu di samping Daniel.
"Tolong alihkan semua tagihan rumah sakit Daniel padaku. Jika aku tak boleh membantu apapun setidaknya biarkan aku yang membiayai pengobatan Daniel."
"Kamu juga tidak perlu melakukannya. Kami masih sanggup membiayai pengobatan Daniel."
Bayu terkekeh dengan Prita yang masih kukuh pada prinsipnya.
"Sikapmu yang seperti ini apa ingin Daniel cepat mati?"
"Hanya karena kamu membenciku, kamu tolak semua bantuanku. Salahku dimana? Apa membantu anakku sendiri tidak boleh?"
Air mata Prita mulai meleleh meskipun sudah sekuat tenaga ia tahan. Ia sadar jika memang dirinya orang yang sangat keras kepala. Ia tidak mau mengakui kalau saat ini ia membutuhkan bantuan banyak orang, termasuk Bayu.
"Asal kamu tahu, aku memiliki golongan darah yang sama dengan Daniel. Jika aku mengajukan diri untuk menjadi donornya, kamu juga pasti akan menolak."
"Aku rasa aku akan pulang sekarang. Tolong berikan ini kepada Daniel dan katakan kalau daddy-nya tadi datang."
Bayu meletakkan mainan Daniel di ranjang. Ia berniat pergi saja karena tidak berguna berbicara dengan Prita saat ini.
__ADS_1
Sebelum ia beranjak pergi, tangan Prita lebih dulu menahannya. Isakannya semakin keras terdengar dan tangannya memegang erat lengan Bayu. Prita tak berbicara sepatah katapun namun tangannya semakin erat mencengkeram seakan meminta untuk dikuatkan.
Bayu menarik Prita kedalam pelukannya. Wanita itu terlihat sangat lemah saat ini. Tangisannya pecah di dada Bayu, lelaki yang seharusnya sangat ia benci.