ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Titik Terang yang Masih Samar


__ADS_3

"Pak Bayu itu hampir setiap hari menyuruhmu membelikan mainan. Sebenarnya untuk siapa ya? Masa Pak Bayu sudah punya anak?" gumam Winda ketika melihat Reni datang membawa kotak mainan seperti biasanya.


"Pak Bayu bilangnya begitu. Katanya, memangnya tidak boleh orang yang belum menikah tapi sudah memiliki anak? Ya positif thinking saja mungkin Pak Bayu punya anak di luar nikah."


"Ye, itu namanya negatif thinking, Bu Reni yang terhormat!" sahut Jonan.


"Sudahlah, paling anaknya Nona Shu. Kalian kok ribut terus setiap hari." ucap Hari.


"Kalau anaknya Nona Shu, kenapa kalau Nona Shu datang kesini tidak pernah membawa anaknya?"


"Iya benar apa yang dikatakan Jonan. Dari gesturnya sih Nona Shu seperti orang yang belum pernah memiliki anak deh. Nggak ada sama sekali aura keibuan."


"Kamu lulusan psikolog apa, Win? Kok bisa menilai orang dari penampilan?"


"Insting sesama wanita, Kak Hari. Lelaki nggak bakalan paham pokoknya."


"Halah! Lagipula kenapa sih kalian seneng banget bahas ini? Nggak bosen apa? Lagian itu kan privasi Pak Bayu mau hidupnya seperti apa ya urusan Beliau."


"Namanya juga fans, Hari. Wajar kan kalau kami ingin tahu kehidupan idolanya."


"Sudah, sudah.... mending lanjut kerja. Reni, cepat sana kasihkan ke Pak Bayu daripada jadi bahan rumpi di sini."


"Oke, aku ke ruangan Pak Bayu dulu ya."


Reni berjalan sendiri membawa kantong berisi mainan itu menuju ruang kerja Bayu. Saat sampai di depan pintu, ia melihat beberapa orang mengenakan hoody hitam masuk ke dalam ruangan. Dia tidak bisa mengenali wajah mereka karena tertutup masker. Suasana menurutnya jadi terasa seram dan membuatnya merinding. Biasanya orang-orang seperti itu kan semacam preman atau gangster.


Reni jadi ragu akan masuk ke ruangan Pak Bayu atau mengurungkan niatnya. Ia tidak tahu apa yang nanti akan terjadi di dalam. Kemungkinannya ada dua, mereka anak buah Pak Bayu atau mereka ingin menculik Pak Bayu seperti cerita di novel-novel.


Tapi, dengan segenap jiwa raga, ia memberanikan diri untuk tetap maju. Ia berusaha menenangkan diri dan bersikap biasa.


Tok tok tok


"Masuk."


Terdengar suara Pak Bayu yang mengijinkannya masuk setelah ia mengetuk pintu. Perlahan ia buka kenop pintu, mengintip sedikit demi sedikit ke dalam ruangan. Anehnya, ruangan itu tampak sepi. Hanya ada Pak Bayu di kursi kerjanya dan Alex yang sedang tiduran di sofa. Padahal sangat jelas tadi dia melihat sekitar lima orang masuk ke dalam sana. Apa dia melihat sesuatu yang ghaib? Apa mereka tadi itu hantu?


"Kenapa bengong? Masuk, Reni!" perintah Bayu.


"I.... iya, Pak!"

__ADS_1


Reni masuk ke dalam ruangan sambil mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Tak ada satupun orang berpakaian hoody di ruangan itu.


"Kenapa Kak Reni? Kok seperti habis melihat hantu." ucap Alex sambil meneruskan permainan gamenya.


"Pak, ini mainan yang Anda minta." kata Reni seraya meletakkan tas berisi mainan itu di meja Bayu.


"Terima kasih. Kamu boleh kembali ke ruanganmu." Bayu berbicara sambil matanya fokus pada berkas-berkas di tangannya.


Reni seperti masih belum puas meneliti ruangan itu. Dia merasa aneh. Tapi akhirnya dia tetap keluar dari ruangan itu.


Setelah Reni keluar, Alex buru-buru mengunci pintu. Orang-orang yang tadi Reni lihat adalah Red Wine. Mereka Bayu suruh bersembunyi di ruang kamarnya agar Reni tidak melihat mereka.


"Sudah aku bilang, kan, jangan menemuiku saat jam kerja. Kalian boleh datang ke kantor kalau karyawan sudah pulang." gerutu Bayu.


"Maafkan kami. Ini karena Alex sudah tidak mau lagi bergabung bersama jadi kami terpaksa menemui Tuan sendiri." Ucap Fredi, yang menjadi pimpinan Red Wine.


"Kenapa bawa-bawa namaku? Mau ngadu?" Alex melirik tajam ke arah Fredi. Dia memang sudah tidak mau lagi bekerja di lapangan. Meskipun bebas, tapi dia kelelahan harus kesana kemari. Lebih enak menemani Bos Bayu bekerja di kantornya, dia bisa banyak bersantai.


"Kalian mau menyampaikan tentang apa?"


Fredi maju menyerahkan berkas informasi yang sudah berhasil ia kumpulkan kepada Bayu.


"Sejauh ini kondusif, Tuan."


"Bagus, lanjutkan seperti itu terus. Jangan sampai dua klab yang tersisa ikut gulung tikar seperti tiga lainnya."


"Pasang pengawasan kalian 24 jam. Jangan lalai sedikitpun, jika ada keanehan segera laporkan."


"Baik, Tuan."


Bayu mulai membaca informasi yang didapatkan oleh Red Wine. Ia mengernyitkan dahinya.


"Tuan Zetian pernah menjadikan Nyonya Retno Mulyani sebagai istri kedua selama beberapa tahun. Tapi akhirnya mereka berpisah."


"Korelasinya denganku apa?"


"Setelah Mario meninggal, Nyonya Retno dikabarkan depresi berat. Kami juga belum tahu di mana keberadaannya sekarang. Menurut kami, mungkin saja Tuan Zetian dendam kepada Anda karena masalah itu."


"Hah! Tidak habis pikir. Aku tak pernah mengenal Tuan Zetian tapi tiba-tiba dia datang membawa dendam padaku?"

__ADS_1


"Apa kalian yakin ini bukan karena aku ingin menguasai hotelnya atau karena aku berpacaran dengan anaknya?"


"Sepertinya Nona Shuwan tidak benar-benar mencintai Anda."


Bayu juga merasa begitu, karena dia juga pernah memergoki Shuwan tidur dengan atlet panahan itu. Tapi yang tidak ia mengerti, Shuwan sangat suka menempel padanya, terutama meraba-raba dada bidangnya. Wanita itu juga sangat semangat saat ia mengajaknya berciuman. Entahlah, ia juga belum memiliki gambaran yang jelas sebenarnya siapa yang Shuwan sukai. Setelah tahu ia menderita impotens* dia juga tidak mau putus dengannya.


"Berarti Mario anak Tuan Zetian? Adih Shuwan Mey?"


"Bukan, Tuan. Mario anak Nyonya Retno dengan suami keduanya yang sudah lama meninggal. Dia tidak ada ikatan darah sama sekali dengan Tuan Zetian."


"Lalu, kenapa dia marah dengan kematian Mario? Bumankah dia bukan anaknya?"


"Tapi dia anak kesayangan Nyonya Retno."


Bayu kembali mengingat-ingat peristiwa yang terjadi lima tahun silam. Bayu juga tidak berniat untuk membunnya jika saja Mario tak mengganggu Prita. Selain hampir memperkosa Prita, Mario juga berhasil melukainya malam itu. Sehingga, ia menjadi sangat kesal. Akhirnya, ia menembak mati Mario agar tak mengganggu Prita lagi selama-lamanya.


"Alex.... "


Alex langsung bangkit seraya mematikan permaiannnya. Ada firasat yang mengatakan jika kali ini ia akan terkena amukan bosnya.


"Dulu kamu kan yang ikut mengurusi mayat Mario?"


Alex menggaruk-garuk tengkuknya. Ia antara lupa dan ingat terhadap kejadian itu.


"Sebenarnya saya hanya menonton, Bos. Yang lebib banyak bekerja waktu itu asisten Beni. Tiger King yang dulu mengurusi kasus Anda."


"Kenapa sampai ada yang tahu aku sudah membunuh Mari"


"Saya tidak tahu, Bos. Itu sudah sangat lama. Dulu juga saya masih kecil. Ikut Tiger King karena ikut-iku,tan saja."


"Tapi setahu saya, asisten Beni sudah membereskan semuanya dengan sangat rapi. Buktinya Anda tidak pernah mendapat panggilan polisi."


"Fredi, tolong gali informasi lebih dalam tentang hubungan Tuan Zetian dengan Ibu Retno dan Mario."


"Baik, Tuan."


"Kalian berlima keluarlah dari sini. Tapi jangan lewat pintu. Lewat jendela saja. Perhatikan gerakan, jangan sampai ada yang melihat."


Fredi dan teman-temannya saling berlandangan. Jika bisa mereka juga maun menolak. Tapi karen itu permintaan bosnya, mereka akhirnya menuruti saja.

__ADS_1


__ADS_2