
Bugh!
"Aduh, sorry, Ta!"
Andin membantu Prita berdiri karena terjatuh setelah terkena tendangannya.
"Kamu kenapa sih, Ta? Dari tadi kurang fokus latihan. Aku jadi merasa bersalah sudah beberapa kali memukulmu."
Andin menggigit bibirnya, raut wajahnya terlihat khawatir melihat beberapa titik wajah Prita yang membiru karena pukulannya.
Hari ini memang Andin dan Prita masuk kelas latihan kick boxing. Mereka sedang berlatih untuk bertarung. Karena Prita kurang fokus dan kebanyakan melamun, ia hanya jadi samsak hidup untuk Andin.
Kalau pakaiannya dibuka nanti, mungkin ada bagian-bagian tubuhnya yang membiru selain wajahnya. Berkali-kali ia tidak bisa menghindari serangan dari Andin. Padahal, Andin sudah mengurangi tempo dan kekuatan pukulan serta tendangannya.
"Tidak apa-apa, Ndin. Namanya juga tinju, wajarlah kalau sesekali kena pukul."
"Dari tadi kamu kena pukul terus, loh. Nggak sadar?"
"Kamu juga mena kan tadi?"
"Kena sarung tinjumu doang.... Ah, sudahlah! Istirahat dulu yuk!"
Andin mengajak Prita keluar dari ring. Ia meraih air minumnya lalu meneguk beberapa tegukan. Prita melakukan hal yang sama. Sudah satu jam mereka lewati dari pemanasan, latihan dengan alat, sampai tanding dengan Andin selama tiga puluh menit. Rasanya cukup melelahkan namun juga menyenangkan.
"Kamu pasti sedang memikirkan suamimu, ya?"
"Tentu saja, Ndin. Mana ada istri yang tidak memikirkan suaminya yang sudah dua minggu tidak ada kabar." Prita berbicara sambil kembali terbengong.
Rasanya hidupnya jadi hampa tanpa suami. Baru dua minggu menikah, seakan ia kembali menjadi janda lagi yang setiap malam harus tidur sendiri. Namun, kesendiriannya kali ini terasa begitu berat jika dibandingkan saat ia masih berstatus janda.
Baru saja ia menikmati kehangatan malam sebagai pengantin baru, tidur dalam pelukan suami yang menenangkan, tiba-tiba harus sendiri lagi. Siapa yang tidak akan melamun kalau setiap malam begitu terus. Menunggu suami tapi tidak pulang-pulang.
"Kamu kayaknya sudah benar-benar mencintai Bayu ya, Ta?"
"Ih.... Pertanyaannya aneh! Tentu saja aku mencintai suamiku, Andin.... Kalau tidak cinta untuk apa aku menikah?"
"Kamu hobi banget menanyakan itu terus."
"Sorry, Ta. Penasaran saja, kan ada juga orang menikah tapi tidak saling mencintai."
"Berarti itu bukan aku." kilah Prita. "Ndin.... "
"Hmm?"
"Daniel dan dean kalau di rumah akur atau suka bertengkar?"
Andin menggeruk-garuk rambutnya yang gatal, "Ah, hm.... Itu.... "
__ADS_1
"Kamu sibuk banget pasti ya, jadi tidak tahu bagaimana dua anak itu kalau di rumah."
Andin menghela nafas, "Ta, aku mau katakan jujur saja, ya.... "
"Jangan kaget."
Prita jadi semakin penasaran dengan apa yang akan Andin sampaikan.
"Sebenarnya aku sudah pisah rumah dengan Ayash."
Prita menutupi mulutnya dengan kedua tangan kareba kaget, "Kalian bertengkar, ya.... "
"Tidak, kami sama sekali tidak bertengkar."
"Kami akan bercerai, Ta."
Prita semakin kaget mendengarnya, "Andin, kok sampai begitu.... Kalian ada masalah apa? Kenapa harus pisah?" Perbincangan mereka seperti menjadi pembahasan yang serius.
Andin tersenyum, "Kami tidak ada masalah apa-apa, Ta. Hubungan kami baik-baik saja. Bukan hubungan selayaknya suami istri, tapi hubungan antara dua sahabat yang saling mendukung."
"Kamu tidak coba membahas dulu dengan Ayash?"
"Pasti ini gara-gara Ayash sudah tidak bisa punya anak lagi, kan?"
"Oh, Ya Tuhan.... Maafkan aku ya, Andin."
"Kok malah jadi kamu yang nangis? Yang mau cerai kan aku.... "
"Ayash tidak bisa punya anak lagi karena aku, Ndin. Maafkan aku."
"Tapi bukan itu alasan kami berpisah, Ta. Kamu tidak bersalalah."
"Sejak awal kami menikah memang tidak ada cinta sama sekali, sekarangpun masih sama."
"Kami hanya saling menyayangi sebatas teman."
"Seperti yang sudah aku katakan, Ayash menikahiku hanya untuk membantuku."
Setiap kali mengingat Ayash sudah tidak bisa memiliki anak, rasa bersalahnya selalu muncul. Ayash pasti akan kesulitan mencari pasangan hidupnya karena masalah itu. Setiap pasangan yang menikah pasti mendambakan anak, apalagi Ayash yang usianya masih muda. Oleh karena itu, sekalipun Ayash meminta ketiga anaknya untuk tinggal bersamanya, ia akan mengijinkannya. Karena hanya itu yang bisa menebus rasa bersalahnya.
"Mungkin seminggu lagi keputusan cerai akan turun."
"Dan sepertinya aku juga akan kembali ke Kota J, Ta."
"Ah.... Kenapa harus pindah, Ndin? Aku sudah sangat senang bisa berteman denganmu.... "
"Aku juga sama, Ta. Tapi, usahaku kan ada di Kota J. Sayang kalau ditinggalkan."
__ADS_1
Prita memeluk posesif tubuh Andin, seakan tak menginjinkannya pergi dari Kota S. "Di sini kan kamu juga punya butik, Ndin. Please, tetap di sini."
"Nona Prita.... "
Sedang asyik-asyinya berbicara dengan Andin, terdengar suara seseorang memanggilnya. Prita sampai kaget melihat Ben ada di tempat latihannya.
"Ben.... "
Prita berdiri, menghampiri Ben dan menatapnya dengan serius, "Kamu sudah kembali, Ben.... Lalu, dimana suamiku? Jangan bilang dia melakukan pekerjaan di tempat lain dan kamu hanya ingin mengatakannya.... "
Ben sedikit menunduk, "Saya ingin menyampaikan sesuatu yang penting."
"Tuan Muda Bayu hilang."
Prita menjadi mamang untuk bicara. Firasatnya sangat buruk.
"Tuan Muda ditusuk seseorang dan terjatuh ke dalam jurang."
Andin yang ikut mendengarnya turut bangkit, mensejajari Prita lalu memegangi pundaknya untuk menguatkan.
"Kamu jangan bicara seenaknya, Ben. Kamu yang mengajaknya pergi, seharusnya dia juga kembali dalam keadaan selamat." Mata Prita sudah berkaca-kaca.
Dua minggu ia menantikan kepulangan Bayu dengan penuh kesabaran, tapi hanya berita buruk yang ia dapatkan? Sungguh ia tidak terima.
"Kamu harus mencari dia, Ben! Cari suamiku sampai ketemu!" Prita berkata dengan penuh emosional.
"Maafkan saya, selama dua minggu ini kami juga sudah berusaha mencari, namun masih belum menemukan keberadaannya."
Prita memeluk Andin sambil menangis tersedu-sedu. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Prita sangat khawatir, bagaimana kalau Bayu pulang hanya tinggal nama, ia tak bisa membayangkan seperti apa kehidupannya. Baru saja dia mulai merasakan bahagia dan rasa kebahagiaan itu sirna dengan begitu mudahnya.
Andin mengajak Prita untuk menenangkan diri. Setelah tangisannya resmda dan emosinya stabil, Ben kembali mendekatinya.
"Katakan padaku, Ben. Sebenarnya kemana kalian pergi dan dimana suamiku hilang?"
Ben berpikir sejenak, tidak semua informasi harus ia sampaikan. Ia akan memilahnya dengan benar.
"Kami pergi ke daerah Kota A di Pulau S."
"Untuk apa kalian kesana?"
Prita tahu persis kalau daerah itu merupakan salah satu daerah yang rentan terjadinya konflik dan pemberontakan.
"Saya tidak bisa menceritakan detilnya. Yang jelas, kami sedang membahas tentang bisnis dan ada seseorang yang menusuknya lalu mendorongnya ke jurang."
"Kamu harus bertanggung jawab, Ben. Kamu yang sudah mengajaknya, maka kamu juga yang harus membawanya pulang."
"Itu sudah pasti, saya tidak akan berhenti mencari sebelum Tuan Muda ditemukan."
__ADS_1
Prita mengusap kasar wajahnya. Ia sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Perasaannya sangat kacau, pikirannya kalut tidak bisa digunakan untuk berpikir secara normal.