ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Ayash Menjenguk Prita


__ADS_3

"Pa.... kenapa Mama belum bangun juga, ya?" tanya Daniel dengan polosnya.


Ayash mengusap-usap kepala Daniel yang ada di pangkuannya, "Makanya kita doakan supaya mamamu cepat bangun."


Sebelumnya Prita dirawat di sebuah rumah sakit di Kota J. Ayash sangat khawatir ketika Andin mengabari mereka bahwa Prita dalam keadaan koma, sementara suaminya kini tengah mendekam di penjara. Ini yang paling ia takutkan ketika Prita memilih hidup dengan lelaki bernama Bayu itu.


Bayu bukan orang sembarangan, kehidupannya penuh tantangan. Ketika Prita memutuskan untuk masuk ke dalam kehidupannya, sudah menjadi resiko baginya untuk mengalami hal seperti ini. Prita koma setelah mengalami luka tembak.


Sudah satu minggu berlalu, namun Prita tak kunjung menunjukkan tanda-tanda akan terbangun. Dia tetap tertidur tenang di atas ranjangnya. Diam dan diam.


Dua hari yang lalu, dia bersama Irgi dan Daniel pergi ke Kota J menemui Prita. Irgi sudah pulang kemarin karena ada urusan di perusahaannya. Sementara, Ayash dan Daniel masih di sana menemani Prita, bergantian dengan Andin. Alex juga terkadang mampir ke sana, tapi dia sendiri juga masih harus mendapatkan perawatan yang intensif akibat luka di kakinya.


"Bagaimana Yash, kondisi Prita?"


Dari arah pintu, ada Arga, kakaknya yang baru saja masuk. Dia membawa parsel buah-buahan lalu meletakkannya di meja pantry.


"Masih belum sadar."


"Halo, Daniel. Kamu ikut juga?" Arga mengusap kepala Daniel.


"Halo, Uncle Arga."


"Andin memberitahuku kalau Prita sedang koma dan kamu juga ada di kota ini. Jadi, aku buru-buru datang ke sini."


"Sudah berapa lama dia koma?"


"Aku juga tidak tahu, Kak. Aku baru tiga hari di sini. Kata Andin, Prita sudah tidak sadar sekitar satu minggu."


"Hah.... Aku tidak menyangka masalahnya akan sangat rumit begini." Arga menghela nafas, seakan ikut merasakan kerumitan hidup yang Prita jalani.


Ayash melirik ke arah Daniel. Anak itu sedang memperhatikan keduanya berbicara. Akan gawat kalau anak kecil itu mendengarkan apa yang hendak merek bicarakan.


"Daniel, kamu duduk manis di sini dulu ya, temani mamamu. Ajak dia bicara juga boleh. Siapa tahu nanti mama bisa bangun."


"Papa mau berbicara dulu dengan Uncle Arga di ruang tamu, oke?"


Daniel hanya mengangguk. Ayash menarik tangan kakaknya agar mengikutinya ke ruang tamu.


"Berbicaralah dengan pelan dan jelaskan semuanya. Aku yakin Kakak tahu semua yang terjadi kepada Bayu." desak Ayash.


"Aku juga tidak mengetahui kejadiannya secara detil, tapi aku hanya mendengar penrbincangan orang saja."


"Ayahnya Bayu ditembak polisi saat berusaha menyembunyikan bukti kejahatannya selama ini. Beberapa anak buahnya juga tak luput menjadi korban penembakan polisi karena berusaha melawan." Arga berbicara dengan nada lirih.

__ADS_1


"Katanya, Bayu sendiri yang melaporkan ayahnya ke polisi. Prita menjadi korban tembakan Samuel saat berusaha melarikan diri bersama suaminya. Samuel ingin membunuh anak dan menantunya karena melaporkannya ke polisi."


Ayash terhenyak kaget mendengarkan kenyataan seperti itu. Ada ayah yang tega hendak membunuh ayah dan menantunya sendiri?


"Apa tidak salah, Bayu melaporkan ayahnya sendiri?" Ayash bertanya karena penasaran. Sebenarnya bagaimana hubungan antara ayah dan anak itu? Kenapa terdengar sangat mengherankan.


"Berita yang beredar seperti itu. Beberapa anak buah Bayu juga terluka oleh Tiger King, sepertinya ada bentrok di antara mereka."


Ayash kembali memutar memorinya. Berarti cidera yang Fredi alami berkaitan dengan masalah ini. Fredi sempat berkunjung ke rumah Prita, mengecek para karyawan dan anak-anak. Dia tidak berkomentar apapun saat melihatnya ada di rumah tersebut bersama anaknya. Lalu, kaki pincang Alex, sepertinya juga berkaitan dengan kasus itu. Jadi, Bayu datang ke Kota J untuk menentang ayahnya sendiri? Lalu kenapa dia harus turut membawa serta Prita bersamanya?


"Hal yang lebih menyeramkan itu, kedok usaha Bagaskara Corp terbongkar. Nama-nama korban pembunuhan yang dilakukan oleh Tiger King sudah mulai terbuka ke publik. Banyak yang geram dengan berita itu."


"Kakak sendiri dulu pernah menyewa jasa mereka, kan?" dindir Ayah.


Arga jadi kembali merasa bersalah. Masalah itu sudah lewat sekian lama dan membuatnya menyesal. "Itu kesalahan yang tidak bisa aku elakkan. Aku dulu memang melakukan hal itu. Maafkan aku."


"Arsya mana?"


"Dia masih sekolah."


"Kakak belum ada niat untuk menikah? Aku kurang yakin Kak Arga bisa membesarkan Arsya sendiri."


"Ini aku masih usaha mendapatkan mama baru untuk Arsya. Kamu bantu juga kakakmu lah, supaya Andin mau segera menerima lamaranku."


"Katanya ingin aku cepat menikah.... "


"Ya kalau bisa jangan dengan Andin, lah! Dia terlalu baik untukmu."


"Memangnya menikah itu harus antara orang baik dengan orang baik? Bukannya orang juga bisa berubah? Kamu masih memandangku dengan kacamatamu yang dulu?"


Ayash terdiam sejenak, "Kalaupun harus dengan Andin, jangan kecewakan dia untuk kedua kalinya."


"Sepertinya dia juga masih trauma dengan pernikahan karena waktu itu."


"Dan kakak harus ingat, selain pentingnya pendapat Andin, pendapat ayahnya juga penting."


"Aku tidak yakin kalau ayahnya Andin sudah memaafkanmu."


"Ya, kamu benar, sih. Aku sudah kena tamparan saat meminta maaf kepada beliau."


"Itu balasan kecil, seharusnya ayah Andin sudah menembak kepala Kakak."


"Anakku sangat menyukai Andin, aku juga begitu. Kami sama-sama menyukai Andin. Jadi, kamu sebagai omnya anakku, bantu Arsya mewujudkan keinginannya."

__ADS_1


"Hah! Aku yakin itu hanya kemauanmu saja." Ucap Ayash ragu.


"Tanyakan sendiri pada Arsya, aku tidak bohong."


"Sedang membahas apa kalian?"


Tiba-tiba Andin datang, membuat mereka langsung menghentikan pembicaraan.


"Tidak ada, kami tidak sedang membahas apa-apa."


Andin meletakkan beberapa kotak makanan di atas meja. "Aku bawakan kalian makanan, siapa tahu kalian sudah lapar."


"Terima kasih, Andin." ucap Arga penuh kegembiraan.


"Ndin, aku makan makananmu nanti saja, ya. Aku mau menemui Bayu dulu bersama Daniel."


"Hah, untuk apa kamu menemuinya?" tanya Andin heran.


"Aku mau meminta ijin untuk memindahkan Prita ke rumah sakit di Kota S."


Andin membulatkan matanya, "Sudah gila kamu? Prita sudah bukan istrimu lagi loh, Ayash..... "


"Aku tahu, tapi persahabatan kami tetap sama kan? Prita juga bilang yang berubah dalam hubungan kami hanya status pernikahan saja."


"Iya, iya.... Aku paham niat baikmu. Kamu bisa merawat Prita tanpa mengharapkan apapun. Tapi, memangnya kamu yakin kalau Pak Bayu mau menyerahkan istrinya untuk kamu urus?"


"Dia sudah menitipkannya padaku sebelum masuk penjara. Aku tidak enak hati kalau tiba-tiba kamu yang ingin merawatnya bahkan memindahkannya ke Kota S."


"Aku melakukannya bukan untukku, tapi untuk anak-anak."


"Livy dan Dean juga pasti ingin bertemu dengan mamanya."


Andin menoleh ke arah Arga, "Kak, bagaimana menurutmu?"


Arga mengangkat kedua bahunya, mewakili jawaban bahwa dia tidak tahu dan tidak mau ikut campur.


"Ya sudahlah, terserah kamu saja. Yang penting jangan berkelahi di sana."


"Aku juga tidak berniat menyusulnya masuk penjara, Ndin." gumam Ayash. "Daniel, ayo ikut papa pergi!" seru Ayash.


Daniel yang sejak tadi duduk di samping ranjang ibunya perlahan turun dari kursinya lalu berlari menghampiri ayahnya.


"Kami pergi dulu, ya. Tolong jaga Prita."

__ADS_1


Ayash keluar ruangan sambil menggandeng tangan kecil Daniel.


__ADS_2