ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Bertemu Bara


__ADS_3

"Apa Anda akan menuruti permintaan ayah Anda untuk pergi ke acara makan malam itu?"


"Ya, tentu saja. Apa aku punya pilihan lain?"


Ben menatap ke arah Prita yang masih berpenampilan sebagai Eki. Dia kasihan dengan Prita. Sepertinya dia belum tahu rencana sebenarnya Samuel dengan makan malam itu.


"Bagaimana dengan Nona Prita?" tanya Ben.


Prita merasa heran ketika namanya ikut disebut. Apalagi saat melihat Bayu memandang ke arahnya. Apa hubungannya dia dengan makan malam itu?


"Aku akan mengajak Prita bersamaku, Ben."


"Tuan Samuel pasti tidak akan suka kalau acaranya berantakan. Anda tidak takut resikonya jika membawa Nona?"


"Dia akan datang bersamaku sebagai Eki."


Ben mendekat ke arah Bayu. Dia tidak ingin kata-kata yang akan diucapkannya didengar oleh Prita.


"Bos.... Kasihan Nona kalau nanti tahu jika Anda akan dijodohkan dengan putri Tuan Saddam." Ben berbicara dengan nada lirih.


Bagaimanapun juga, Ben tetap peduli terhadap Prita. Dia memberitahukan rencana Samuel juga demi menjaga keutuhan rumah tangga Bayu. Ben tidak menyangka kalau rencananya menyembunyikan keberadaan Bayu akan cepat terbongkar.


"Dia memang harus tahu, Ben. Aku tak ingin menyembunyikannya. Selanjutnya, terserah Prita apa dia akan mengijinkanku menikah lagi atau tidak."


"Anda sedang bercanda, kan?" Ben sungguh tak percaya dengan jawaban dari Bayu. Dia yang sangat bucin terhadap istrinya bisa mengatakan niat tentang menikah lagi?


Bayu tersenyum melihat keraguan di wajah Ben, "Aku serius, Ben. Ini satu-satunya caraku melindungi keluargaku."


"Ada banyak keluarga yang harus aku lindungi. Selain Prita, anak-anak, masih ada kamu dan Red Wine. Semuanya adalah keluargaku dan aku tidak mau ada yang mengganggu keluargaku."


"Jika pengorbanan kecil itu memang yang harus aku jalani, maka aku akan melakukannya."


"Anda tidak memikirkan perasaan Nona?"


"Tentu aku sangat memikirkannya. Nanti, dia juga harus melakukan perannya. Entah dia mau menerima atau tidak, itu adalah haknya."


"Kenapa kalian berbicara seperti itu? Apa ada yang kalian sembunyikan dariku?" tanya Prita penasaran.


"Tidak ada, Sayang. Aku hanya mengatakan kepada Ben kalau hari ini aku akan bertemu dengan temanku yang bernama Bara."

__ADS_1


"Apa aku boleh ikut?"


"Tidak boleh, Sayang. Kamu di rumah saja."


"Kenapa?"


"Temanku seorang polisi, dia mau bertemu dengan orang yang memang berkepentingan dengannya saja seperti aku dan Ben. Jadi, kamu tunggu di rumah. Sebagai gantinya, besok malam aku akan mengajakmu makan malam dengan ayahku."


"Sepertinya ayahmu tidak mengatakan kamu boleh membawa orang lain."


"Tenang saja, Sayang. Itu bisa diatur." Bayu mengerlingkan sebelah matanya.


"Baiklah, kalau begitu aku akan tetap di kamar menunggumu pulang."


"Bagus, Sayang. Kamu boleh menonton boy group Korea kesukaanmu. Itu lebih baik daripada main di luar kamar. Soalnya di luar banyak buaya."


Prita memutar malas matanya. Lelaki lebih memilih wanitanya halu di dalam kamar daripada dekat dengan lelaki lain. Apa yang tidak bisa dijangkau itu tidak lebih berbahaya daripada yang selalu ada di depan mata.


"Aku dan Ben pergi dulu, Sayang. Jaga dirimu." Bayu memeluk tubuh Prita seraya mengecup keningnya.


"Ben masih sakit, kenapa kamu paksakan dia ikut? Bukankah lebih baik dia beristirahat?"


"Ben itu orang yang sangat kuat, Sayang. Jangan kwahatir." Bayu mencubit kecil pipi istrinya.


Prita hanya bisa cemberut ditinggal sendirian. Tujuannya ikut ke Kota J memang untuk membuntuti kemanapun suaminya pergi. Ternyata, tetap ada urusannya yang tidak bisa Prita campuri.


Prita segera menutup kembali pintu kamar setelah mereka pergi. Untuk mengisi waktu, mungkin ia akan menonton drama sendirian di kamar. Kalau dia keluar kamar, dia yakin Alex akan mengganggunya selagi Bayu pergi.


*****


Bayu dan Ben pergi ke sebuah restoran yang menyediakan ruangan private bagi para tamunya. Bara yang mengundang mereka datang ke sana. Setelah bertanya pada pelayan, mereka diarahkan menuju ruangan yang sudah dipesan Bara.


Saat bertemu Bara, mereka saling berpelukan. Meskipun perkenalan mereka sangat singkat, namun sangat membekas di hati sampai hubungan mereka terlihat seperti saudara.


"Kak Ben mukanya kenapa?"


Waktu itu Bayu mengenalkan Ben sebagai kakaknya, sehingga Bara ikut memanggilnya kakak. Padahal, seharusnya Bara juga memanggil Bayu kakak, karena Bayu juga jauh lebih tua darinya.


"Biasa, Bara. Urusan di antara lelaki. Tidak adu fisik tidak keren."

__ADS_1


"Aha, begitu, ya." Bara percaya saja dengan ucapan Bayu.


"Kapan sampai?"


"Tadi siang, sih."


"Maaf kalau begitu, pasti kamu masih kelelahan baru pulang dari perjalanan jauh."


"Tidak, jaman sekarang mana ada yang melelahkan? Aku sudah sempat tidur di pesawat."


"Bagaimana dengan info yang aku berikan kemarin?"


Bayu membahas tentang rencana pemeriksaan gudang kayu milik Tuan Saddam. Mumpung barang itu belum diedarkan, seharusnya mereka bisa segera menggerebeg dan menyitanya sehingga tidak sampai ke tangan masyarakat luas.


"Aku sudah membicarakannya dengan ayahku. Sebenarnya dia juga takut. Selain akan berimbas padaku, otomatis juga berpengaruh kepada ayahku juga."


"Lalu, apa ayahmu setuju."


"Ya, beliau akan memfasilitasi. Katanya, kalau aku yakin, maka aku harus melakukannya tanpa keraguan."


"Terima kasih sudah mempercayaiku."


"Ini pertama kalinya aku mempercayai orang yang belum lama aku kenal. Tapi, aku yakin kalau kamu tidak akan berbohong."


"Jangan sampai info ini bocor kepada Tuan Hanung."


"Iya, aku juga sudah mengatakannya kepada ayahku. Dan ayahku juga punya sedikit rasa curiga padanya, melihat kedekatannya dengan para pengusaha besar. Tapi, beliau belum bisa menemukan bukti apapun."


Bayu menyodorkan map coklat kepada Bara. Isinya cukup tebal. Bara menerima amplop itu, lalu muai membukannya. Ada cukup banyak informasi yang berkaitan dengan Tuan Hanung serta keterlibatannya dengan Tuan Saddam.


Bara memperlebar matanya ketika mendapati dokumen tentang penyelundupan senjata api untuk membantu para pemberontak. Itulah yang selama ini ia cari-cari. Setelah sekia lama mencari, ternyata ia bisa menemukan dokumen itu di kotanya sendiri.


"Bayu.... Bagaimana bisa kamu mendapatkan semua ini?"


Bara masih tercengang. Dokumen semacam itu hanya bisa didapatkan oleh mata-mata atau orang dalam yang sangat dipercaya. Dan orang yang paling dipercaya, biasanya tidak akan mengkhianati. Dia sendiri sudah setahun lebih bergabung dengan kelompok pemberontak untuk menyelidiki kasus itu namun tidak ada hasilnya.


"Tolong kamu selidiki semua itu. Aku harap kalian bisa menangkap orang-orang yang terlibat dan bersalah. Meskipun aku masih tetap tidak mempercayai dengan polisi."


"Uuhh.... Kenapa skeptis begitu terhadap profesi polisi? Masih banyak yang jujur dan tulus dalam bekerja, kamu jangan khawatir."

__ADS_1


"Aku harap juga begitu. Jika hukuman yang diberikan setimpal dengan perbuatan yang mereka lakukan aku akan bernafas lega."


"Sama. Aku juga mengharapkan hal seperti itu, ada penegakkan hukum yang adil di negeri ini. Aku sendiri yang akan mengawal proses hukum kasus ini. Sudah menjurus ke hal-hal yang bisa memecah belah bangsa, sungguh tidak bisa dibiarkan tindakan mereka."


__ADS_2