
Bayu terbangun dari tidurnya. Dia menoleh ke samping, Prita masih tertidur. Jam dinding menunjukkan pukul satu dini hari.
Bayu beringsut pelan dari atas ranjang, sebisa mungkin tidak menimbulkan gerakan atau suara yang bisa membangunkan istrinya.
Diraihnya ponsel dari atas nakas, lalu membawanya menuju ruang kerja yang masih terhubung dengan kamarnya. Ia mengunci pintu itu agar tak ada yang masuk, termasuk istrinya.
"Naik ke ruang kerjaku, Ben." perintah Bayu lewat sambungan telepon.
Ini bukan pertama kalinya Bayu menyuruh Ben menemuinya secara diam-diam. Semenjak Prita selalu membuntutinya, Bayu memilih menemui Ben tanpa sepengetahuan Prita. Dia tahu, istrinya mulai curiga dengan kegiatan yang dilakukannya dengan Ben.
Bayu juga terpaksa. Kalau bukan karena ayahnya sudah membantu mencarikan donor bagi Daniel, dia tidak akan pernah mau berhubungan dengan ayahnya lagi. Orang tua yang satu itu selalu punya cara untuk mengendalikannya. Dan dia sadar, saat ini belum bisa melawannya.
Bisnis haram yang dijalankan ayahnya memang hasilnya sangat menggiurkan sesuai dengan resikonya yang juga sangat besar. Tertangkap polisi itu resiko paling kecil, karena kematian adalah resiko terbesarnya. Sudah tak terhitung luka yang menghiasi tubuhnya hanya demi menjalankan ambisi ayahnya.
Bayu kembali mengangkat ponselnya, menghubungi sahabat terbaiknya, Jimmy Marshall.
"Halo, Bang*sat! Selalu ya, kalau telepon tidak tahu waktu!" Jimmy mengumpat kasar.
"Maaf, Jim. Ini emergency."
"Emergency apa, istrimu mau melahirkan?"
"Tolong besok kamu datang ke Holly Hotel. Aku sudah memutuskan akan mengangkatmu sebagai GM yang baru."
"Woy! Aku kan belum bilang setuju!"
"Aku tidak minta pendapatmu, pokoknya kamu harus setuju."
"Gila, ya! Aku juga masih mengurusi hotelku.... "
"Halah! Jabatan rendahan saja dipertahankan. Kapan bisa kaya?"
"Sialan!"
"Sudahlah, saudaramu itu banyak, cari pekerjaan lain. Kalau ayahmu mati belum tentu kamu yang akan mewarisi hotel."
"Heh! Kamu menyumpahi ayahku cepat mati?"
"Hahaha.... Bukannya itu juga yang kamu harapkan?"
"Apa kamu puas dengan jabatanmu yang begitu-begitu saja? Mungkin gajimu juga kalah dengan istrimu."
"Contoh itu dia, bisa membangun bisnisnya sendiri."
"Sudah ganggu orang telepon tengah malam masih mengejek orang. Maumu apa, hah? Apa minta tolong caranya seperti ini?"
__ADS_1
"Kalau aku tidak mengejekmu, biasanya kan tidak mempan."
"Pokoknya, besok datang ke Holly Hotel!"
"Bukannya GM di sana masih Shuwan Mey? Aku sungkan kalau harus berurusan dengannya. Apalagi kalian pernah pacaran. Jangan jadikan aku sebagai pengalihan kemarahannya karena ditinggal nikah olehmu!"
"Aku butuh orang untuk menggantikannya dan aku yakin kamu orang yang paling tepat."
"Kalian ada masalah apa?"
"Kamu akan tahu besok. Pokoknya, datang saja ke Holly Hotel. Aku jamin kesejahteraan hidupmu akan meningkat."
"Ya ya ya.... Terserah kamu saja. Akan aku pikirkan lagi besok."
"Sudah, ya! Aku mau lanjut tidur dan jangan ganggu aku lagi!"
Klik!
Jimmy memutuskan sambungan teleponnya.
Bayu memang harus mulai mencari orang-orang yang tepat untuk mengurusi bisnis-bisnisnya. Ia mulai curiga, ada banyak pihak yang memanfaatkan kelengahannya karena terlalu sibuk mengurusi banyak bisnisnya untuk kepentingan sendiri. Perusahaan-perusahaan yang susah payah ia dapatnya kondisinya semakin memburuk. Ia yakin ada yang bermain di dalamnya. Kalau sampai ia mendapatkannya, akan dia pastikan orang itu akan jatuh miskin dan hidup menderita.
Brug!
Ben melompat masuk lewat jendela.
Bayu mempersilakan Ben duduk di sofa.
"Semuanya sudah beres sesuai yang Anda atur. Jadi, Kapan Bos bisa pergi ke sana? Sudah seminggu lebih kita mengulur-ulur waktu."
"Aku bingung mencari alasan yang tepat pada istriku agar diijinkan pergi, Ben."
Bayu memijit kepalanya. Jika dia mengatakan kepada Prita akan perjalanan bisnis selama beberapa hari ke luar kota, kemungkinan dia minta ikut. Kalau tidak diijinkan ikut, dia pasti akan mengira Bayu akan pergi bersama wanita lain. Kalau dia bilang terus terang akan pergi menyelundupkan narkoba, kemungkinan Prita akan langsung menelepon polisi agar segera menangkapnya.
"Kenapa Anda jadi seperti ini?"
"Apa!?"
"Biasanya Bos tidak pernah memikirkan apapun. Anda selalu melakukan apa yang ingin dilakukan, bukan berdasarkan pendapat orang lain."
"Ben.... Dia itu istriku, bukan orang lain. Pendapatnya juga sangat penting bagiku."
"Anda akan menemui kesulitan kalau terlalu mencintai keluarga."
Bayu merasa tidak terima dengan perkataan Ben.
__ADS_1
"Aku melakukan ini semua justru karena sangat mencintai keluargaku, Ben!"
"Kamu kira aku senang kembali lagi melakukan hal-hal seperti ini?"
Mendengar bosnya berkata dengan nada tinggi, Ben menunduk. Ia merasa sudah salah bicara.
"Maafkan saya."
"Tapi, Anda harus segera memutuskannya. Tuan Samuel sudah memperingatkan kalau dalam minggu ini sudah harus mulai dibereskan."
"Aku tahu."
"Apa ayahku sudah kembali ke Kota J?"
"Sudah, Bos."
"Baguslah!"
"Ben.... Aku mau tanya sesuatu, jawab dengan jujur."
"Silakan."
"Sebenarnya, antara aku dan ayahku, siapa yang lebih kamu bela?"
Ben terdiam. Pertanyaan sederhana itu sudah seperti jenis soal ujian masuk perguruan tinggi. Sulit dan masing-masing mengandung konsekuensi.
"Baiklah, karena kamu diam, sepertinya aku sudah tahu jawabannya."
"Dulu kamu meninggalkanku dan lebih memilih ikut dengan ayahku, itu artinya kamu adalah anak buahnya. Kamu membela ayahku. Jadi, aku juga harus berhati-hati padamu."
Sebenarnya Ben tidak bisa memilih antara Tuan Samuel dan Bayu. Dia peduli kepada keduanya. Sayangnya, hubungan antara ayah dan anak itu memang tidak berjalan dengan baik.
Tuan Samuel orang yang memungutnya dari jalanan, memberikannya kehidupan yang lebih baik dan pendidikan yang tinggi. Mengangkatnya dari jurang kemiskinan menjadi orang yang lebih dihormati, terutama oleh para anak buahnya. Sementara, Bayu adalah anak Tuan Samuel yang harus ia dampingi sekian lamanya. Bayu tidak pernah memperlakuaknnya sebagai pengawal, tapi seperti saudara sendiri. Dia tahu Bayu sangat peduli dan menyayanginya. Beberapa kali dia rela dihukum oleh ayahnya karena tidak ingin Ben yang mendapat hukuman. Hal seperti itu tidak akan pernah Ben lupakan.
Walaupun akhirnya Ben memilih pergi bersama Tuan Samuel, itu juga demi Bayu. Dia bertahan menjadi orang kepercayaan Tuan Samuel agar tetap bisa tahu apa saja yang direncanakan terhadap Bayu. Intinya, Ben juga menjadi mata-mata bagi Bayu tanpa dia tahu. Ben tahu, Tuan Samuel tidak akan semudah itu melepaskan anaknya yang ia harapkan akan menjadi penerusnya.
"Saya tidak bisa menjawab pertanyaan Anda sekarang. Tapi yang jelas, Saya tetap menghormati Anda, Bos."
Ben hanya berani menyebut Bayu dengan sebutan 'Bos' di belakang Samuel. Dia tetap menganggap Bayu masih bosnya walaupun sekarang ia ikut dengan Samuel.
"Ini saya serahkan peta lokasi dan rute yang akan ditempuh sesuai permintaan Anda. Saya juga sudah tandai daerah-daerah yang rawan bahaya."
Brn meletakkan selembar kertas di meja. Itu rute yang sebelumya pernah mereka bahas. Ben sudah menyelesaikan tugas yang Bayu berikan.
"Lusa kita berangkat, Ben!" tegas Bayu.
__ADS_1
------------------------------------------------------------------------------
Kayaknya bakal banyak yang marah kalau Shuwan tidak dapat hukuman. Padahal cukup ya kalau harus memecat Shuwan dari posisi GM. Kasihan dia sedang hamil ðŸ¤