
"Jadi Prita belum pulang juga?" tanya Irgi.
"Belum."
Hari ini dia datang ke kantor Ayash untuk mengikuti rapat tahunan di perusahaan. Meskipun tidak secara aktif ikut dalam pengelolaan perusahaan, tapi jabatannya di sana adalah seorang Presiden Direktur.
Ia mendapat kabar jika tiga hari ini Prita belum kembali dan Prita menitipkan ketiga anaknya kepada Ayash.
Selama itu pula, Irgi berusaha menghubungi Prita, namun nomornya tidak pernah aktif. Ayash juga sama, sejak malam itu, Prita sudah tidak memberi kabar apa-apa lagi.
"Bagaimana dengan orang-orang di rumahnya? Apa mereka tahu kemana majikan mereka pergi?"
"Tidak ada yang tahu, bahkan Leta juga tidak tahu menahu tentang keberadaan Bayu dan Prita."
"Saat aku menjemput Livy, dia juga bertanya apa aku sudah mendapat ijin dari Prita atau belum. Katanya Prita tidak memberitahu kalau Livy akan ia jemput."
"Jadi, kamu mengurusi tiga anakmu sendiri? Hebat benar duda muda satu ini."
Ayash menggaruk-garuk kepalanya, "Hanya semalam Livy tinggal di apartemen bersamaku."
"Terus, sekarang Livy ada dimana?"
"Livy dan kedua kakaknya kembali tinggal di rumah Prita bersama para pengasuhnya. Aku juga ikut tinggal di sana."
Irgi tercengang, Ayash tinggal di rumah mantan istrinya.
"Wah, gila, ya.... Kalau Bayu sampai tahu dia pasti akan mengamuk."
"Aku kan di sana menemani anak-anakku. Siapa suruh mereka tidak pulang-pulang."
"Hem, bagus, lanjutkan!" Irgi mengacungkan jempolnya.
"Tapi, apa kamu tidak merasa aneh? Bisa tidak ya, kalau ternyata Prita dan Bayu sengaja meninggalkan anak-anaknya karena hanya ingin hidup berdua?"
Ayash ikut memikirkan hal itu, "Sepertinya tidak mungkin."
"Siapa bilang tidak mungkin? Sejak menikah dengan Bayu kan Prita memang jadi ikut aneh. Segalanya jadi mungkin-mungkin saja sih menurutku."
Ayash mulai menggigit jarinya. Apakah seorang Prita tega meninggalkan anak-anaknya demi seorang lelaki? Itu sangat tidak masuk akal. Prita sangat menyayangi anak-anaknya. Begitu juga dengan Bayu. Walaupun ia berat untuk mengakuinya, Bayu memang memperlakukan anak-anaknya dengan baik.
"Kabur itu mereka.... Fix, no debat! Seratus persen pasti kabur. Yang sabar kamu, Yash."
"Nih, rokok, biar tidak terlalu stres menghadapi kenyataan."
Irgi menyodorkan sebungkus rokok dengan pemantik ke hadapan Irgi. Tanpa ragu, Ayash segera mengambil sebatang rokok dari dalam wadahnya lalu mulai menghisapnya. Irgi memang pandai mempengaruhi orang.
__ADS_1
"Kamu beneran tidak ada niat untuk menikah lagi?"
"Tidak tahu. Saat ini masih belum ada niat."
"Gila, ya. Sampai segitu susahnya move on dari seorang Prita. Punya pelet apa sih dia, hmm.... "
"Kenapa bawa-bawa Prita segala?"
"Jika sendiri bisa membuat kita bahagia.... why not? Karena yang menikah pun belum tentu bahagia, yang mempunyai keturunan pun belum tentu bahagia."
"Hm, kata-kata bijak dari orang yang gagal mempertahankan keluarganya."
"Mau tahu apa yang sering aku pikirkan tentang diriku, Prita dan Bayu?"
Ayash dan Irgi saling bertatapan. Irgi memandang dengan tatapan heran, entah apa yang akan dia ucapkan.
"Apa?" tanyanya.
"Terkadang aku merasa kalau sebenarnya Prita sejak awal memang ditakdirkan untuk Bayu."
"Hahaha.... Kamu sedang memuji rivalmu?"
"Aku juga tidak mau mengakuinya, tapi seperti itulah yang aku rasakan."
"Lalu posisimu sebagai apa? Dalam takdirnya Prita, kamu tetap suami pertamanya."
"Mau ada aku atau tidak, Prita dan Bayu tetap akan bersatu."
"Aku juga tak tahu kesalahanku di mana, sekeras apapun usahaku untuk bersama Prita, pada akhirnya Prita tetap pergi dariku."
"Haish! Kenapa kamu terus mengajakku membahas hal seperti ini, sih?"
Ayash menyudahi sesi curhatnya. Irgi selalu saja membawa-bawa topik tentang kehidupan percintaannya tanpa rasa bosan. Dia sendiri juga sudah merasa bosan membahas hal itu terus. Ada banyak hal yang bisa ia pikirkan selain masa lalu. Mengenai dirinya yang belum mau membuka hati untuk wanita lain, memang dia merasa lebih nyaman untuk hidup sendiri saat ini. Keberadaan anak-anaknya sudah cukup menghilangkan rasa kesepiannya.
*****
"Bagaimana dengan Coach, kapan dia mau menikahimu?"
Syut!
Shuwan melesatkan satu anak panah tepat mengenai sasaran.
"Aku tidak tahu. Aku sudah tidak memikirkannya lagi."
Raeka melirik ke arah perut Shuwan yang sudah mulai terlihat membesar. Ia salut dengan ketegaran Shuwan, hamil tanpa pengakuan dari orang yang menghamilinya. Moreno sepertinya masih belum mau menikahi Shuwan. Alasannya, waktunya belum tepat. Entah sampai kapan waktu yang tepat itu akan datang.
__ADS_1
Saat ini saja Moreno sudah jarang terlihat di lapangan. Ia sebisa mungkin menghindari wartawan. Sementara, Shuwan sudah tidak mau bersembunyi lagi. Video yang sempat beredar memang dirinya dan saat ini dia juga sedang hamil. Awalnya dia sempat berniat menggugurkannya, namun ia urungkan. Ada atau tidak ada suami, ia sudah tidak peduli lagi, ia akan tetap membesarkan anaknya.
Terkadang muncul rasa iri di hati Raeka. Dia yang sudah hampir setahun menikah saja belum bisa hamil, sementara ia merasa orang-orang sangat cepat bisa hamil, bahkan tanpa menikah. Lalu ia segera menepis pikiran buruknya. Kebahagiaan hidup tidak dinilai dari punya atau tidak punya anak. Itu hanya standar yang masyarakat berikan saja. Dan dia tidak perlu mengikuti standar kebahagiaan orang lain.
"Oh, iya. Kenapa Prita sudah tidak pernah kesini lagi? Kamu juga tidak pernah terlihat bersamanya."
"Ah, katanya Prita ada urusan di Kota J."
"Urusan apa?"
"Aku tidak tahu. Sepertinya urusan suaminya. Dia sampai menitipkan anak-anaknya kepada mantan suaminya."
"Oh.... Salut juga dengan Prita, dia masih bisa akur dengan mantan suaminya."
"Sebelum menikah mereka juga sudah berteman lama, jadi biasa saja kalau setelah cerai hubungan mereka tetap baik."
"Biasanya yang awalnya sudah sangat dekat lalu berpisah, hubungannya bisa menjadi lebih buruk."
"Dua orang itu sama-sama orang baik, makanya mereka menjadi pengecualian."
"Hahaha.... "
Tiba-tiba saja Shuwan tertawa, membuat Raeka menatap aneh padanya.
"Kenapa tertawa?"
"Tidak apa-apa, aku hanya merasa lucu dengan hubungan kita yang dulu. Kenapa aku bisa bermusuhan denganmu?"
"Kenapa menanyakan itu padaku? Bukannya kamu sendiri yang memusuhiku? Kalau aku tidak pernah berusaha mencari musuh. (masa lalunya dengan Prita pengecualian).
"Ya.... Sikapmu yang seperti ini memang memancing orang untuk memusuhimu."
Raeka memutar bola matanya malas. Ia kembali mengambil satu anak panah dari quiver, lalu berkonsentrasi mengarahkannya pada target.
Syut!
Tepat sasaran.
"Kamu sudah sangat mahir memanah, kenapa kamu masih terus berlatih. Kenapa tidak mencoba hal baru, misalnya menjadi pelatih?"
"Aku rasa tidak semua yang pandai memanah bisa menjadi pelatih, termasuk aku."
"Setelah ini, apa kamu ada urusan?"
"Tidak, kenapa?"
__ADS_1
"Mau menemaniku cek kandungan?"
"Boleh." jawab Raeka datar. Sebenarnya, dalam lubuk hatinya ia juga ingin melihat proses USG pada wanita hamil secara langsung.