ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Rasa Kesepian


__ADS_3

Bayu duduk di sebuah gubug di tengah ladang ganja yang belum dipanen. Malam di sana sangat indah, langitnya cerah oleh cahaya rembulan dan bintang-bintang di sekelilingnya bersinar terang. Pemandangan seperti itu sudah lama tidak ia lihat ketika hidup di daerah perkotaan.


Sudah tiga hari ia tidak pulang dan tidak bisa bertemu dengan istrinya. Seharusnya jika mereka menikmati pemandangan itu berdua pasti akan menjadi momen yang sangat romantis.


Sepertinya ia akan lebih lama tertahan di sana. Kesepakatan menyelundupkan satu ton ganja berubah menjadi dua ton, dimana kekurangannya belum sepenuhnya selesai dipanen.


"Anda Mau rokok?"


Ben datang menawarkan sebungkus rokok dan pemantik kepada Bayu.


"Terima kasih." Bayu menerima rokok pemberian Ben dan menyalakannya lalu menyesapnya.


Suasana di sana sangat sepi, cukup jauh dari pemukiman penduduk. Sinyal masih bisa dijangkau, namun Bayu enggan mengaktifkan ponselnya. Ia tahu istrinya antara akan memarahinya atau mengkhawatirkannya jika ia menghidupkan ponselnya. Ia tidak mau mendengar rengekannya karena akan melemahkan pendiriannya untuk tetap menyelesaikan tugas dari ayahnya.


"Mau minum?" Ben kembali menawarkan sebotol wisky kelada Bayu.


"Tidak, aku sedang tidak ingin minum."


"Anda kelihatan kesepian dan kurang bersemangat. Bagaimana kalau saya carikan teman untuk Anda malam ini?"


Bayu memandang Ben sambil mengerutkan dahinya, "Maksudmu apa, Ben?"


"Saya bisa mencarikan beberapa wanita untuk Anda."


Bayu terkekeh mendengar ucapan Ben, "Aku cuma mau istriku, Ben. Kalau bisa mengajaknya sudah aku ajak sejak awal."


"Jangan memancing-mancing, aku sudah berhenti menjadi lelaki seperti itu."


"Saya akan merahasiakannya dari Nona Prita."


Bayu memperdalam hisapan rokoknya lalu menghembuskan asapnya dengan kasar.


"Bagaimana kalau denganmu saja, Ben.... " goda Bayu.


Ben seketika langsung merinding.


"Memangnya yang ada di otakku saat ini hal seperti itu?"


"Kalau kamu ingin tahu, saat ini aku lebih ingin cepat pulang bertemu istriku. Sialan di saat seperti ini kamu menawarkan hal seperti itu!"


"Apa ada telepon dari Alex?"


"Belum ada."


"Berarti tidak ada masalah serius di sana."

__ADS_1


"Aku lebih takut istriku dekat lagi dengan mantan suaminya selama aku pergi."


"Meskipun istriku bilang mencintaiku, aku belum sepenuhnya bisa mempercayainya. Mungkin saja hatinya bisa goyah, tapi aku harap hal itu tidak terjadi."


"Kalau dia tahu apa yang aku kerjakan sebenarnya di sini, mungkin juga akan membuatnya mempunyai alasan untuk meninggalkanku."


"Kalau Nona Prita benar-benar mencintai Anda, dia akan menerima bagaimanapun kondisi Anda dan apapun pekerjaan Anda."


"Hahaha.... Mana ada wanita sebaik Prita mau dengan lelaki yang kerjaannya menyelundupkan ganja?"


"Dia mengira aku sudah berubah dan meninggalkan semua ini."


"Anda harus mencoba dulu mengatakannya, siapa tahu Nona Prita bisa memahami."


"Tidak, tidak.... Yang ada dia akan langsung meninggalkanku tanpa pikir panjang."


"Kamu tahu, kenapa aku harus pergi diam-diam tanpa sepengetahuannya?"


"Dia sudah curiga, Ben."


"Pokoknya kalau dia melihatku bersamamu, dia akan berpikir macam-macam. Makanya sejak saat itu dia selalu membuntutiku kemanapun."


"Bahkan dia juga jadi suka mengikutiku latihan menembak dan kick boxing."


"Nona Prita mau melakukan olahraga seperti itu?" tanya Ben penasaran.


"Rasanya sulit dipercaya kalau Nona Prita mau melakukan kick boxing."


"Memangnya kenapa?"


"Nona Prita terlalu lembut untuk melakukan olahraga seperti itu."


"Jangan meremehkannya, Ben. Semangatnya itu sangat tinggi untuk berlatih."


"Saya jadi ingat perkataan Anda enam tahun yang lalu saat hendak berangkat melakukan pekerjaan ke Pulau P. Apa Anda masih ingat?"


"Memangnya aku pernah mengatakan apa, Ben?" Bayu sendiri sudah lupa apa yang diucapkannya enam tahun lalu.


"Anda bilang ingin mengajari Nona Prita cara memegang senjata dan mengajaknya setiap kali Anda melakukan misi."


Mendengar perkataan Ben, Bayu jadi teringat kembali pada saat itu, peetemuan terakhir sebelum Prita menikah dengan Ayash. Seharusnya hari itu ia bawa Prita bersamanya apa lagi ternyata saat itu Prita sedang mengandung anaknya.


"Bagaimana dengan Nona Prita? Apa bos sudah bertemu dengannya?"


Bayu menyunggingkan senyum, "Tentu saja, Ben. Kamu pasti kesal sekali padaku hari ini. Kita hampir telat karena tiba-tiba aku menghilang. Bagaimana kamu tahu kalau aku menemui Prita?"

__ADS_1


"Anda meminta rute perjalanan kita dari Kota J singgah sebentar ke Kota S, tentu saja saya tahu kalau Bos ingin menemui Nona Prita."


"Dia cantik sekali saat kutemui. Badannya sedikit lebih berisi dari terakhir kali bersamaku. Mungkin makannya lebih lahap karena jauh dariku. Hahaha.... "


"Aku selalu membayangkan ingin membawanya setiap melakukan tugas dari ayahku. Apa nanti akan menyenangkan jika bekerja membawa serta wanita yang aku cintai."


"Saya rasa Nona Prita akan mati berdiri jika Bos melakukannya."


"Hahaha... aku tidak sepaham denganmu, Ben. Dia akan semakin bergantung padaku jika dihadapkan pada situasi yang sulit. Aku sangat menantikan saat-saat ia memelukku karena takut mendengar suara tembakan. Pasti aku akan lebih semangat menjalankan pekerjaan semacam ini."


Ben menepuk kepalanya. Sepertinya pikiran bosnya sedikit terganggu.


"Anda pikir pekerjaan kita sejenis film action romantis, Bos? Tidak ada adegan percintaan di area adu tembakan."


"Hahaha... aku hanya bercanda, Ben. Tapi aku juga memimpikannya. Mungkin aku akan mengajari Prita memegang senjata dan melatih beladiri dasar padanya agar bisa aku bawa pergi melakukan misi." (BAB 103: Hari Keberangkatan, Antara CEO dan Mafia Season 1)


Bayu tersenyum mengingat hal itu. Ia kembali menyesap rokoknya lalu membuang asapnya.


"Apa kayu tambahannya sudah sampai?"


"Sudah. Besok malam sepertinya akan siap dibawa berangkat."


"Jadi malam ini panen terakhir."


"Iya, Bos. Sesuai permintaan mereka, 2 ton ganja yang akan kita kirim."


"Menyelundupkan ganja di dalam batang kayu menurutku cara paling aman. Tidak akan ada yang curiga kalau tidak ada yang melaporkan. Karena pengiriman kayu-kayu besar dari luar pulau ke Kota Pulau J itu sudah biasa."


"Kenapa ayahku tidak mau menggunakan cara ini?"


"Beliau tidak ada waktu mengurusinya sendiri. Sementara anak buah yang ia percayai terkadang tidak cakap melakukan tugas yang diberikan."


"Karena itu ada pengiriman ganja yang sempat bocor, ya?"


"Benar, Bos."


"Beliau senang sekali jika Anda yang melakukannya. Pekerjaan Anda selalu rapi."


*****


Prita memandangi langit malam dari balik balkon kamarnya. Udara malam itu terasa dingin, membuatnya melipat kedua tangan di dada. Saat-saat seperti ini, pikirannya dipenuhi oleh suaminya yang tidak bisa dihubungi beberapa hari. Meskipun Alex bilang tidak perlu khawatir, tapi ia tak bisa membohongi dirinya sendiri kalau sepanjang hari ia terus mengkhawatirkan suaminya.


Kenapa Bayu sampai memutuskan untuk pergi tanpa berpamitan? Apa ada hal yang tidak bisa ia ceritakan padahal sekarang mereka telah menikah?


Prita menutup kembali jendela balkonnya agar angin malam tidak masuk. Ia kembali merebahkan diri di atas ranjang serta menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Rasanya sepi tidur sendiri. Ranjang yang biasanya hangat oleh keberadaan suaminya, kini terasa dingin dan hambar.

__ADS_1


Tidur nyenyak yang selama ini ia dapatkan kembali hilang. Ia jadi sulit tidur. Dan penyebabnya karena kepergian suaminya tanpa ijin dan sama sekali tidak memberi kabar padanya.


Ia penasaran apa yang sedang suaminya lakukan di tempat lain? Apakah dia juga mengalami hal yang sama dengannya, resah setiap malam? Apa dia tidak merindukannya sampai tidak sempat untuk menelepon atau mengirimkan pesan?


__ADS_2