
"Pak Inu, selamat atas pencapaiannya menggagalkan peredaran narkoba di kota ini. Anda memang pantas menduduki jabatan Anda saat ini."
Seorang perwira polisi memberikan selamat kepada Bapak Kapolda Kota J berkat keberhasilannya menggrebeg tempat peredaran barkoba terbesar di Kot J. Biasanya, mereka selalu gagal menemukan barang bukti. Dengan taktik yang Bayu berikan, mereka dengan mudah menangkap basah banyak orang yang sedang bertransaksi di sebuah diskotik ternama di Kota J.
Sepertinya, tempat itu memang memiliki koneksi yang bagus dengan kalangan pejabat. Jadi, setiap kali dilakukan razia, polisi selalu gagal. Kali ini, mereka melakukan penggerebegan secara mendadak, membuat pengunjung kalang kabut. Banyak yang positif sebagai pengguna narkoba, banyak pula yang tertangkap tangan sebagai pengedar. Di tempat itu pula, mereka menemukan simpanan obat-obatan terlarang berbagai jenis. Terutama narkotika golongan pertama yang memiliki potensi tinggi menyebabkan ketergantungan.
Berkat keberhasilan mereka, Pak Inu selaku pimpinan dan para jajarannya mendapatkan piagam penghargaan dari pemerintah.
Sementara, Bara di luar pulau juga mendapatkan pencapaian yang membanggakan pula. Ia bersama rekan-rekannya serta berkolaborasi kepolisian setempat dan tentara nasional, berhasil membekuk gerombolan pemberontak yang sering meresahkan warga. Mereka juga berhasil membongkar penyumbang dana dan persenjataan yang ternyata merupakan orang-orang yang selama ini sudah mereka curigai, orang-orang berpengaruh di Kota J. Selain itu, mereka juga bisa menemukan ladang ganja yang sangat luas.
Ganja memang bahan alam yang bermanfaat untuk dunia medis. Namun, sering kali disalahgunakan oleh orang. Sehingga, ketersediaannya perlu diawasi. Ganja hanya boleh diperuntukkan untuk keperluan medis dan ilmu pengetahuan, bukan untuk dikonsumsi secara bebas.
Dalam kurun waktu satu bulan banyak tersangka yang berhasil dijebloskan ke dalam penjara. Semua berkat kerjasama banyak pihak, termasuk informan utama mereka, Bayu.
Berita di media massa akhir-akhir ini penuh dengan prestasi polisi yang berhasil menumpas kejahatan di berbagai wilayah di negara ini. Citra polisi yang awalnya dipandang sebelah mata oleh masyarakat kini mulai bangkit lagi. Kepercayaan masyarakat terhadap mereka terbangun, bahwa polisi negara ini mampu melindungi mereka.
Sebagai kapolda gang baru, Pak Inu juga sangat tegas dalam menindak anggotanya. Jika ada yang melanggar hukum dan menjatuhkan citra polisi karena kelakuan buruknya, melanggar kode etik profesi kepolisian, mereka akan langsung diberi sanksi kedisiplinan sekaligus sanksi secara hukum. Namun, jika ada anggotanya yang berprestasi, mengharumkan nama baik instansi kepolisian, Beliau juga akan memberikan penghargaan yang layak.
Orang seperti Pak Inu pasti akan memiliki banyak musuh. Namun, ia tetap yakin jika pada akhirnya kebaikan akan selalu menang. Jika memang di dunia kebaikan masih belum bisa menang, di mata Tuhan, pasti kebaikan akan menang.
Bara mendapat kenaikan pangkat berkat keberhasilannya. Dia kembali ditugaskan di Kota J, yang merupakan kota asalnya, kota kebanggaannya.
"Kalau untuk kelompok pemberontak yang di Pulau P memang paling susah ditangkap habis."
"Benar sekali. Hal itu didukung oleh faktor alam yang sulit dijangkau serta dukungan dari suku setempat yang melindungi mereka."
"Susah kalau sudah berhubungan dengan suku sana. Senjatanya panah beracun."
__ADS_1
"Aku pernah terkena panah mereka."
Ucapan Bayu mampu menarik perhatian orang-orang yang saat ini ada di ruang pertemuan itu. Di sana, ada dari pihak kepolisian, tentara, intelejen negara, dan kementrian pertahanan. Hanya Bayu rakyat sipil yang dilibatkan dalam pertemuan itu.
Sebelum mendatangi pertemuan, sepeeti biasa Bayu akan dijemput dari tahanannya, ditutupi kepalanya, lalu dibawa menggunakan kendaraan ke tempat pertemuan. Sehingga, ia tidak bisa mengetahui dimana dia berada.
Orang-orang heran ketika Bayu mengatakan pernah terkena panah itu. Karena, menurut sepengetahuan mereka, orang yang terkena panah beracun akan mati. Jika bisa selamat, setidaknya dia akan mengalami kelumpuhan seumur hidup. Tapi, Bayu tidak seperti orang yang pernah terkena panah.
Bayu melepaskan kaosnya hingga tubuh bagian atasnya yang tampak atletis itu tertampang jelas. Dia bukan hendak memamerkan tubuhnya, tapi untuk menunjukkan bekas luka yang pernah ia dapatkan di Pulau P enam tahun lalu. Semuanya baru percaya setelah melihat luka itu. Bayu kembali mengenakan pakaiannya lagi.
"Bagaimana kamu bisa selamat? Panah itu sangat beracun dan belum ada yang mampu membuat penawarnya. Anggotaku banyak yang meninggal karena panah itu saat bertugas di sana." tanya seorang perwira tentara yang ada di sana.
"Di rumahku ada banyak." jawab Bayu enteng.
"Kalau kalian mau, ambil saja di rumahku yang berada di jalan XXX. Atau kalian bisa menghubungi anak buahku yang bernama Fredi."
"Aku juga tidak tahu. Anak buahku dulu mendapatkannya dari pasar gelap. Kalian teliti saja sendiri."
Anak buah yang Bayu maksud adalah Ben. Dia selalu merasa sedih jika mengingatnya lagi. Bayu belum sepenuhnya menganggap Ben mati, karena dalam ingatannya sosok Ben masih serasa hidup.
"Baiklah, nanti anak buahku uang akan mengurusnya."
"Lalu, bagaimana dengan rencana penangkapan yang akan kita lakukan? Bagaimana menurut pendapatmu, Bayu?"
Bayu kembali berfokus pada peta besar yang ada di hadapan mereka. Peta daerah pegunungan yang menjadi basis persembunyian gerakan separatis pengancam kesatuan negeri.
"Kalau lewat sini, daerah rawa-rawa. Lebih sulit medan yang harus dilewati."
__ADS_1
"Menurutku, lebih baik melewati sungai ini saja. Sungainya tidak berarus deras dan cukup dangkal. Tapi, waspada saja saat melintasi wilayah perkampungan suku di daerah ini."
"Mereka biasanya bisa menyambut baik jika tamunya membawa hadiah, seperti babi, ayam, atau tepung sagu. Bawa juga juru bicara yang mengerti bahasa mereka itu yang paling penting agar tidak salah paham."
"Setelah berhasil melewati daerah ini, kalian hanya perlu mendaki bukit yang tidak terlalu tinggi. Di balik bukit sebelah sini biasanya mereka bersembunyi."
"Kalau tidak menemukan mereka di area ini, kemungkinan mereka sedang berada di wilayah ini. Mereka melakukan perpindahan tempat saat ada pasokan senjata dan makanan datang."
"Siapa yang mendanai mereka?"
"Kalau itu aku juga kurang tahu. Saat ke sana, aku tidak sempat bertanya siapa yang menyuruh mengirimkan senjata. Seharusnya Ben yang lebih tahu, sayang sekali dia sudah meninggal."
"Bagaimana pendapat kalian, apa kira-kira kita akan menggunaka strategi yang Bayu berikan."
"Ya, kenapa tidak? Aku rasa dia memang sangat mengenal daerah itu."
"Jujur aku tidak terlalu mengenal daerah itu. Aku hanya pernah ke sana dua kali, tapi Ben banyak menceritakan kondisi di sana. Kelebihanku bisa mengingat-ingat informasi mengenai lokasi dengan baik. Aku yakin sampai saat ini, tempat itu juga belum ada banyak perubahan."
"Baiklah, terima kasih atas kerjasamanya."
Bayu menghembuskan nafas kasar, "Selama ini kalian sudah mendapatkan informasi yang kalian inginkan dariku. Kapan aku bisa kembali ke keluargaku? Bukankah kalian berjanji untuk melepaskanku?"
"Sabar, Bayu.... Kami masih sangat membutuhkanmu." ucap Pak Inu.
"Kalau seperti ini terus, kalian tidak ada bedanya dengan memenjarakanku."
"Kalian pikir aku tidak butuh bertemu dengan istri dan anak-anakku? Jangan hanya mengucapkan sabar kalau kalian masih bisa pulang bertemu keluarga di rumah. Sementara, aku masih harus tinggal di dalam penjara."
__ADS_1
Bayu akhirnya mengungkapkan kekesalannya setelah sekian lama ia merasa hanya dimanfaatkan saja. Memang, dia diberikan tempat yang cukup nyaman di dalam penjara, satu kamar hanya ditempati oleh dirinya sendiri. Namun, senyaman apapun, penjara tetaplah penjara. Tidak ada yang bisa betah berada di sana apalagi tipe orang seperti Bayu.