ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Mengunjungi Mansion Samuel


__ADS_3

Kalau ada orang yang paling gila di pagi ini, mungkin orang itu adalah Prita. Sejak bangun dari tidurnya, Prita tak henti-hentinya tertawa sambil melakukan selfie berkali-kali. Baru kali ini ia mengagumi dirinya sendiri yang bisa tampil seperti seorang idol K-Pop. Sesaat ia lupa kalau sudah punya tiga anak yang sedang dititipkan kepada ayahnya.



Sudah lama rasanya dia jauh dari dunia K-Pop dan K-Drama apalagi semenjak Daniel sakit. Sekarang, saat hidupnya terasa lebih bebas, dia kembali lagi dengan dunia perhaluan bersama bias-biasnya. Baekhyun pasti akan bangga saat melihatnya.


"Hehehe.... Saranghae Oppa.... "


Bayu baru keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang masih terlilit di pinggang. Ia mengusapkan handuk kecil untuk mengeringkan rambut yang baru saja ja keramasi.


Melihat istrinya tertawa-tawa sendiri di atas kasur membuatnya heran. Istrinya seperti orang yang sedang kerasukan setan. Mungkin gara-gara ia suruh berpenampilan seperti itu, jiwanya juga ikut berubah seperti laki-laki.


"Sayang, apa kamu akan seperti itu terus? Cepatlah mandi kalau tidak, aku tinggal!"


Prita merasa kesenangannya terganggu dengan teguran yang suaminya berikan. Mulutnya mengerucut seolah protes karena suaminya tidak bisa memahami kebahagiaannya.


"Kalau tidak mau segera mandi, aku buat kamu tidur lagi saja, ya."


Bayu sudah bersiap melepaskan handuk dari pinggangnya.


"Jangan, jangan.... "


Prita bergegas lari menuju kamar mandi sebelum Bayu kembali menyentuh dirinya.


Bayu mengambil ponsel yang Prita tinggalkan. Ia hanya geleng-geleng kepala melihat galeri foto yang dipenuhi dengan selfie istrinya.


Dia senang melihat istrinya kelihatan bahagia. Di situasi yang sebenarnya menegangkan ini, kehadiran Prita membuatnya tidak merasa gugup sama sekali. Dia ingin tertawa melihat polah istrinya sendiri. Padahal, hari ini ia akan bertemu dengan ayahnya. Entah apa yang akan diminta dari lelaki tua itu darinya agar mau melepaskan Ben.


Setengah jam kemudian, Prita sudah keluar dari kamar mandi dengan dandanan yang sudah rapi. Mandinya cepat sekali, seperti menjiwai perannya sebagai seorang Eki. Darimana istrinya itu punya ide menyebut dirinya Eki. Aneh-aneh saja.



"Apa aku terlihat keren?" tanya Prita dengan bangganya. Senyumnya terkembang mengagumi dirinya sendiri.


"Iya, Sayang. Kamu sangat keren."


"Ehm! Jangan lupa namaku Eki, Tuan Muda."

__ADS_1


"Iya, iya.... Adek Eki. Ayo kita keluar, yang lain sudah menunggu."


"Eh, eh.... Dilarang pegang-pegang!" Prita memundurkan tubuhnya ketika Bayu ingin meraih tangannya.


"Oke, oke." Bayu menyerah. Ia mengangkat kedua tangannya.


Prita lebih dulu keluar dari kamar. Saat baru keluar, tentu saja Prita langsung mendapat perhatian dari anak buah Bayu, terutama Alex dan Fredi. Mereka menatapnya geli.


"Apa hidungmu baik-baik saja?" tanya Prita pada Alex.


"Ah, iya. Aku baik-baik saja."


Alex memegangi hidungnya yang sudah sembuh. Ia tidak menyangka akan dipukul oleh orang yang jauh lebih kecil darinya. Postur tubuh Eki itu pendek dan kecil. Kulitnya tampak halus seperti seorang wanita. Tapi pukulannya memang lumayan juga. Apalagi untuk Alex yang tidak bisa sama sekali bela diri.


"Apa semua sudah siap?" Kedatangan Bayu membuat perhatian mengarah padanya.


"Sudah, Tuan." Fredi menyerahkan sepucuk revolver kepada Bayu.


Bayu mengecek isinya, pelurunya sudah terisi penuh. "Apa kalian juga sudah memegang senjata?"


"Eki, kamu mau membawa ini juga?" Bayu menawarkan pistolnya kepada Prita.


Prita menggeleng. Tangannya akan gemetar kalau memegang pistol. Saat latihan saja dia sering tremor dan salah tembak, apalagi ini sungguhan. Daripada salah sasaran lebih baik dia tak ikut-ikutan membawanya.


"Oke, Kalau begitu kita berangkat sekarang saja."


Bayu menyimpan kembali pistolnya dalam saku celana. Ia berjalan paling depan, di belakangnya ada Prita, Alex, dan Fredi. Anggota yang lain ada di belakangnya lagi.


Mereka menaiki mobil yang sama dengan semalam. Ada empat mobil yang nantinya akan berjalan beriringan.


Paling depan Mobil Maserati GrandCarbio yang akan dinaiki Bayu Prita, Alex, dan Fredi. Di belakang ada 3 mobil jeep yang akan dinaiki anak buah mereka.


Kali ini Alex yang menyetir, sementara Fredi gantian duduk di sebelahnya. Bayu dan Prita duduk di bangku belakang. Keberadaan penumpang di bangku belakang sesekali mendapat lirikan dari penumpang di bangku depan. Alex dan Fredi memang penuh rasa curiga.


Perjalanan menuju kediaman ayah Bayu berjalan lancar, tak ada hambatan yang berarti. Setibanya di sana, mereka langsung disambut oleh Tiger King yang tentu saja jumlahnya lebih banyak daripada anak buah yang Bayu bawa. Tapi, Bayu tidak gentar dengan seberapapun banyaknya anak buah sang ayah.


"Maaf, Tuan Muda. Kami tidak bisa mengijinkan semuanya masuk." salah seorang anggota Tiger King menghentikan Bayu di pintu masuk.

__ADS_1


Bayu menengok ke belakang, anak buah Red Wine yang ia bawa sekitar 20 orang. Terlalu sesak memang kalau semuanya ikut masuk.


"Kalau begitu, ijinkan kami berempat yang masuk. Aku rasa ayahku tidak akan keberatan."


Orang itu memberikan jalan kepada Bayu dan ketiga anak buah pilihannya untuk masuk.


Samuel tampak sedang duduk santai di sofa ruang tamu menunggu kedatangan anaknya sembari menghisap cerutu. Di samping kanan kirinya ada bodyguard yang siap siaga menjaga.


"Selamat datang, Anakku." sambut Samuel dengan senyuman lebar. Ia senang sekali mendapat kunjungan dari anaknya.


"Dimana Ben?" Bayu tak perlu berbasa basi, ia langsung menanyakan ke intinya. Tujuannya datang memang hanya untuk Ben.


"Duduk dulu, kenapa harus terburu-buru. Ben baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir."


"Serahkan Ben sekarang juga karena aku tidak ada waktu untuk meladenimu!" geram Bayu.


"Kalau kamu tidak bisa berbicara santai denganku, pergilah! Untuk apa datang jauh-jauh kalau hanya untuk membentakku?"


"Tidak ada ruginya bagiku jika Ben mati sekalipun. Kamu yang punya kepentingan, maka bersikaplah yang sopan."


Terpaksa Bayu menuruti keinginan ayahnya. Ia duduk di sofa berhadapan dengan ayahnya. Sementara, Alex, Fredi, dan Prita tetap berdiri di belakang Bayu.


"Oh, sepertinya ada lagi yang baru. Siapa dia?" yang Samuel maksud adalah Prita dalam tampilan Eki.


Prita sudah khawatir saja saat Samuel memerhatikannya. Dia takut penyamarannya terbongkar.


"Eki, anak buahku."


"Hm, bagaimana bisa hobimu mengumpulkan anak buah seperti itu. Carilah yang secara fisik sudah meyakinkan. Ternyata ada yang lebih parah dari Alex."


Terus terang Alex sangat tersinggung namanya disebut dan dijatuhkan oleh Samuel. Dia memang tidak ahli bela diri, tapi kemampuan otaknya tidak perlu diragukan lagi.


"Semua anak buahku punya kelebihannya masing-masing. Tidak selalu fisik mereka yang aku butuhkan, kadang juga butuh otak. Tidak seperti anak buahmu, ayah."


"Hahaha.... Terserah saja. Buktinya selama puluhan tahun keberadaan mereka mampu melindungiku."


"Dimana Ben, aku tidak punya banyak waktu untuk berbasa basi."

__ADS_1


__ADS_2