
Bayu meneguk segelas minuman yang ada di tangannya. Ia lepas jas dan melonggarkan dasi dengan kasar. Perasaannya kurang baik setelah pulang dari acara makan siang bersama Shuwan dan Zetian.
Darahnya berdesir, seakan hasrat membunuh dan menganiaya yang sekian lama berusaha ia pendam tiba-tiba kembali muncul. Ingin rasanya ia menghabisi tua bangka macam Zetian. Lelaki itu yang telah menyuruh orang untuk meracuninya dan menghancurkan klab malam miliknya.
Prang!
Bayu membanting gelas kosong yang baru ia habiskan isinya.
"Ada apa, Bos?" Alex yang tadinya sedang tertidur di sofa ruang kerja Bayu langsung terbangun mendengar suara benda dibanting.
Wajah bosnya sangat menyeramkan ketika marah. Seakan ia ingin membunuh siapa saja yang kini ada di dekatnya.
"Alex, percepat rencana pengambilalihan Holly Hotel!"
"Kenapa Bos jadi terburu-buru begini? Katanya kita harus bertindak pelan dan senyap." Alex terkadang bingung dengan sikap plin plan bosnya.
"Alex, baru saja aku makan siang dengan Zetian Yan. Kamu tahu apa yang aku lihat?"
"Apa, Bos?"
"Punggung tangannya ada bekas luka! Itu artinya dia yang pernah mau membunuhku. Tua bangka bajingan itu!"
"Benarkah?"
"Ya. Aku tidak mungkin salah lihat. Jika digabungkan dengan informasi yang kamu dan Red Wine berikan, memang sepertinya dia benar-benar ingin membunuhku. Sebelum dia berhasil melakukannya, aku yang akan melakukannya lebih dulu."
"Jangan-jangan dia juga yang meminta Shuwan untuk mendekatiku dan memata-mataiku. Ayah dan anak sama-sama bangsat!"
"Em.... tapi kan yang mendekati Nona Shu Anda sendiri, Bos."
"Oh, iya juga ya." Bayu hampir lupa kalau dia memang berniat mendekati Shuwan untuk mendapatkan Holly Hotel. Sebenarnya dia dan ayah Shuwan sama-sama brengsek.
Tok tok tok
"Masuk!"
Fredi muncul dari balik pintu. Kali ini ia memakai setelan jas rapi, tidak mengenakan hoody. Bayu yang menyuruhnya datang dan berpenampilan rapi agar tidak menarik perhatian orang.
"Alex, Fredi, hubungi para pemegang saham Holly Hotel yang sudah menjadi sekutu kita. Pastikan mereka benar-benar ada di pihak kita saat diadakan rapat istimewa nanti."
"Tapi ini masih terlalu cepat, Tuan."
"Aku ingin secepatnya mengambil alih hotel itu, Fred! Apapun yang terjadi, hotel itu harus menjadi milikku. Agar Zetian tahu, kalau dia tidak bisa macam-macam denganku."
__ADS_1
"Rapat istimewa hanya akan dilakukan jika ada masalah besar, Tuan. Sementara hotel dalam kondisi yang stabil."
"Kalau begitu, buat masalah apapun yang bisa mendesak mereka mengambil keputusan! Berikan kesan pemimpin yang sekarang tidak becus mengurus hotel."
"Bagaimana jika orang-orang yang awalnya mau mendukung tiba-tiba berpaling, Bos?"
"Beritahu mereka kalau aku punya kalian, Red Wine. Kalian masih bisa menakut-nakuti orang kan? Jangan karena aku sudah jarang memberi kalian tugas berat taring kalian hilang. Buat mereka menuruti kalian!"
"Baik, Tuan." ucap Fredi.
"Aku mau pergi ke rumah sakit sekarang. Kalian bereskan ruangan ini dan lanjutkan pekerjaanku."
Bayu dengan entengnya menyuruh kedua anak buahnya melakukan apa yang diperintahkan. Sementara, ia pergi meninggalkan kantornya untuk menjenguk Daniel.
"Tuan Bayu kenapa?" Fredi yang baru masuk memang tak tahu menahu apa yang terjadi dengan bosnya. Dia hanya datang karena ditelepon tanpa diberi kejelasan untuk apa dan kenapa.
"Bos tadi makan siang bersama Tuan Zetian. Katanya dia melihat punggung tangannya memang ada bekas luka seperti yang orang-orang itu katakan. Makanya Bos sangat murka hari ini. Untunglah dia tidak sampai memukuliku."
"Lalu kita mau bagaimana? Ada satu pemegang saham yang menurutku bermuka dua. Mungkin di depan dia bilang iya, tapi di belakang sebenarnya tidak."
"Pak Lukas kan maksudmu?"
"Iya, benar. Aku tidak tahu cara mrnakhlukkannya bagaimana."
"Baiklah, apa benar-benar perlu cara kekerasan kali ini? Atau kamu si jenius bisa menakuti orang tanpa melibatkan fisik?"
"Oh, tentu saja. Serahkan hal itu pada Si Jenius Alex. Aku memegang aib-aib mereka yang kalau sampai tersebar akan membuat nama mereka jatuh. Itu cara paling ampuh untuk menakhlukkan mereka. Kalau itu sudah tak mempan, baru aku butuh bantuan kalian."
*****
"Tidak Mau! Aku mau makan dengan Papa!"
Daniel merengek ingin bertemu Ayash. Ia tak mau makan sebelum papanya itu datang. Tapi, akhir-akhir ini memang Ayash tidak pernah mengunjungi Daniel. Padahal dulu hampir setiap hari ia ada untuk Daniel, menemani Daniel, dan menggendong Daniel saat anak itu sedang butuh pelukan. Prita hanya bisa menghela nafas ketika Daniel menolak ia suapi.
Ia sendiri bingung harus melakukan apa. Ponsel Ayash sudah tidak bisa dihubungi sejak hari itu. Ingin bertanya pada Irgi, Prita takut mengganggu waktunya karena sepertinya dia masih dalam suasana bulan madu bersama Raeka.
"Sayang, Papa sedang ada urusan di luar kota. Kalau sudah selesai, dia akan kembali lagi menemani Daniel. Sekarang, makan dulu, please supaya Daniel cepat sembuh."
Daniel menggeleng, "Daniel mau Papa ada di sini."
"Daniel.... "
"Aku mau Papa! Aku mau Papa!" teriakan Daniel semakin kencang.
__ADS_1
"Ada apa ini?"
Bayu yang mendengar suara teriakan Daniel langsung buru-buru masuk. Dia kira Daniel kenapa-napa.
"Kenapa Daniel?"
"Dia sedang tidak mau makan." jawab Prita lemas.
Sementara, Daniel membuang muka sembari melipat tangannya di dada.
"Daniel kenapa tidak mau makan? Mamamu bisa khawatir."
"Aku tidak mau makan kalau tidak dengan Papa!"
"Memangnya Ayash dimana?"
"Dia ada pekerjaan di luar kota."
"Hm, bagimana kalau makan dengan daddy?" bujuk Bayu.
"Aku tidak mau! Aku maunya Papa!"
Ada sedikit rasa sakit di hati Bayu ketika anaknya sendiri menolaknya. Tapi ia tahu harus menahan diri.
"Bagaimana kalau kita makan di luar? Daddy yang akan menyuapimu."
"Tidak boleh! Tadi pagi dia juga sudah keluar, dia tidak boleh terlalu lama di luar." cegah Prita.
"Aku mau makan di taman!" seru Daniel. Dia memang lebih suka berada di luar daripada terus di dalam kamar.
"Tidak boleh, Daniel. Kamu tadi dengar sendiri kan apa kata perawat."
"Kalau begitu Daniel tidak mau makan!"
"Oke, baiklah, daddy akan membawamu ke taman."
Bayu memindahkan Daniel dari atas ranjang ke kursi roda. Ia memakaikan topi untuk menutupi kepala plontos anak itu. Ketika ia hendak mendorong keluar kursi roda Daniel, Prita menahan tangannya.
"Kamu sebenarnya mendengarkan apa yang aku katakan tadi atau tidak? Daniel tidak boleh keluar." tegas Prita.
"Kamu tenang saja. Ini hanya sebentar. Nanti kami akan kembali lagi." Bayu menepuk puncak kepala Prita dua kali sebelum pergi membawa Daniel.
Prita kembali menghela nafas. Orang-orang sepertinya tidak ada yang mau mendengarkannya. Ia merebahkan dirinya di sofa, memikirkan ke.bali tentang Ayash. Beberapa hari lagi mereka bertemu di pengadilan. Namun Ayash sama sekali tak memberinya kabar lagi setelah kencan terakhir mereka.
__ADS_1