Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Malunya Hugo


__ADS_3

"Apa kau mendengarnya tadi?"


Richi tersentak mendengar suara yang tiba-tiba terdengar di kupingnya.


Richi melihat Hugo sudah berdiri tepat di depannya. Mereka bertatapan. Richi melihat wajah Hugo berubah seperti orang yang tengah bersedih.


"Aku hanya merusaknya sedikit saja" ucapnya lagi.


Richi tak merespon. Dia mengancingkan ranselnya.


Hugo duduk di bangku tempat ia meletakkan tasnya. Duduk membelakangi Richi.


"Aku sedang kacau sekarang. Mungkin kau akan mendengarkanku meracau."


Richi yang di belakanginya menyandangkan tas. Dia bahkan tidak ingin berbicara dengan orang ini. Apalagi jika tiba-tiba terdengar gosip keesokan harinya. Ia pun bersiap melangkah.


"Kau tahu, aku bahkan tidak pernah melihat ibuku".


Richi menahan langkahnya. Ucapan Hugo barusan, membuatnya merasa Hugo benar-benar sedang kalut.


Terdengar helaan napas Hugo. Dia menunduk dalam. Menutup wajah dengan kedua tangannya.


Richi mengeluarkan sebotol air dingin dari tasnya.


"Minumlah". Dia memberikan botol itu dari belakang tubuh Hugo.


Dia benar-benar meminumnya.


Richi duduk di sebelah kanan hugo. Mereka saling membelakangi badan. Lalu tiba-tiba, Hugo menyandarkan kepalanya di bahu Richi. Richi sempat terkejut. Sebab dia tidak menyukai lelaki ini.


"Sebentar saja." Ucap Hugo saat Richi bereaksi.


Richi terdiam. Dia sedikitnya merasakan kesedihan Hugo. Mungkin dia merindukan ibunya.


'Ah, ternyata di balik sikapnya yang berandal, dia agak menyedihkan' batin Richi.


"Aku tidak menyukai ayahku" Gumamnya pelan namun Richi sangat mendengarnya.


Richi tiba-tiba mengingat sosok ayah yang sangat dia sayangi. Lalu dengan perlahan dia mengakatan pada Hugo.


"Bersyukurlah Hugo, sebab karena seorang Ayahlah kau bisa berada di titik ini. Mungkin keinginannya tidak kau sukai, tapi.. dia hanya ingin yang terbaik untukmu."


"Kurasa dia tidak begitu". Gumamnya pelan. Suranya hampir tidak terdengar.


Richi menatap kedepan. Meningat cara Ayahnya memperlakukannya dengan sesuatu yang kadang ia tidak mengerti.

__ADS_1


"Ayah mencintai anaknya dengan cara berbeda. Kita hanya belum merasakannya sampai kita yang menjadi orang tua suatu saat nanti."


Richi menghela napasnya. "Kau juga akan menjadi seorang ayah untuk anak lelakimu. Bukankah begitu, Hugo?"


Ucapan Richi membuatnya diam. Dia mencoba mencerna itu dalam pikirannya.


Mereka berdiam cukup lama. Sampai terasa cahaya matahari mulai temaram.


Richi menepuk pundak Hugo. Dia mengerjap. Mengangkat kepalanya dari bahu Richi.


"Apa.. aku tertidur?"


Richi menghela napas. 'Sialan, dia tidur di bahuku!' Umpatnya dalam hati.


Mereka berjalan perlahan keluar sekolah. Mata Hugo sedikit terbuka. Dia seperti orang yang sangat kelelahan.


Disana sudah ada dua orang berdiri saling berbincang. Richi mengenal salah satunya, dia Simon, supir Richi.


"Mari Tuan." Teman bicara Simon membukakan pintu untuk Hugo. Ia masuk lalu mobil berjalan begitu saja.


Richi masih berdiri disana. Melihat mobil itu sampai menghilang dari pandangannya.


Dia merasa aneh. Sebab mengenal Hugo dengan segala kebandalannya. Namun hari ini, entah mengapa anak itu membiarkan Richi mengetahui sisi lain dari dirinya.


"Ayo, Nona"


Richi sempat mengirim pesan pada Simon untuk menunggu saja di depan gerbang. Lalu Simon bertanya, apakah bersama Tuan Hugo? Richi mengiyakannya.


🐜🐜🐜🐜


Hugo mengerjap. Ruangannya gelap. Terdengar suara ketukan di pintu kamar yang sedari tadi menganggunya.


"Tuan, Tuan besar mengajak untuk makan malam".


Mata Hugo masih tertutup. Dia menekan tombol lampu di sebelahnya. Ia membuka mata perlahan, Mengusir buram yang menghalanginya memandang. Ia melirik jam dengan malas. Tidak ingin keluar, tidak ingin ikut makan malam karena ia masih merasa marah sekali pada Ayahnya. Matanya pun masih berat.


Lalu tiba-tiba ia membelalakkan matanya.


Hugo bangkit. Dia terdiam cukup lama dengan pikiran yang berperang. Apakah sepotong ingatan yang tiba-tiba muncul di otaknya sebuah mimpi atau realita.


"Aaarrggg siaaal". Umpatnya kesal saat sadar ternyata itu bukanlah mimpi.


Dia mengusap wajahnya dengan kasar. Rasa malu menyelimuti dirinya. Bagaimana bisa dia bersandar pada gadis itu. Kenapa hatinya bisa sekalut itu sampai lupa pada siapa dia meracaukan kegalauannya.


Lalu, dia teringat ucapan gadis itu.

__ADS_1


...'Dia hanya ingin yang terbaik untukmu. Ayah mencintai anaknya dengan cara berbeda. Kita hanya belum merasakannya sampai kita yang menjadi orang tua suatu saat nanti. Kau juga akan menjadi seorang ayah untuk anak lelakimu. Bukankah begitu, Hugo?'...


Suara gadis itu terngiang di telinganya. Dilihatnya tubuhnya, masih mengenakan seragam sekolah. Dia mengambil handuk, bersiap untuk makan malam bersama Ayahnya.


🐈🐈🐈🐈


Hugo berjalan menuju kantin. Dia ditinggal oleh teman-temannya lantaran ia lambat dalam menyalin tugas.


Matanya menyapu seluruh sudut. Berharap agar tidak bertemu gadis itu.


Dia melihatnya. Sedang berbicara santai dengan Frans di lorong yang akan dia lewati. Dirinya lega sebab gadis itu membelakanginya.


"Hai, Hugo." Sapa Frans sambil mengangkat tangannya.


Hugo sedikit tersentak. lalu ia menaikkan alis tanda sapaan balik. Dia melihat gadis itu tidak menoleh ke arahnya. Dia sedikit lega, namun juga penasaran kenapa dia bahkan tidak melihat, padahal namanya disebut temannya.


Di sisi lain, Richi yang mendengar Frans menyebut nama Hugo, enggan menengok sebab ia tahu, sepertinya Hugo malu bertemu dirinya karena kejadian itu.


"Hugo, kau lama sekali". Isac bersuara saat melihat Hugo mendekat.


Hugo langsung duduk lalu menyandarkan punggungnya di kursi.


"Hugo, kapan kau dan Richi mulai pergi berkencan?" Suara Axel seperti petir. Membuat hampir seisi kantin melihat ke arah mereka. Daren pasti menceritakan kejadian tadi malam pada mereka.


"Hei, kau sengaja, ya!" Hugo melotot ke arahnya. Dia bahkan sekarang tidak bisa berpikir karena rasa malu yang melanda.


Bagaimana mungkin dia berhadapan dengan gadis itu. Baru saja beberapa kali bertemu, lalu dia sudah memperlihatkan sisi lemahnya di depan Richi.


"Ah.. Sorry. Aku kelepasan. Aku terlalu bersemangat". Axel merendahkan volume suaranya.


"Lupakan saja. Itu hanya taruhan asal yang dibuat untuk menjebakku". Kata Hugo lalu menenggak air milik Daren.


Daren yang mendengar itu terkekeh. "Mana bisa seperti itu. Janji tetaplah janji. Bukan begitu, Tuan Hugo?"


Hugo hanya diam.


"Kau tidak akan mampu memikatnya, Hugo". Daren mengembus dan meletupkan permen karet yang dikunyahnya.


"Aku juga tidak berminat"


"Ketidakminatanmu itu menjadikan orang-orang meremehkanmu". Kalimat yang keluar dari mulut Daren sengaja untuk memancingnya. Sebab Hugo sangat tidak suka diremehkan.


"Anehnya, kau tidak mampu membuatnya tersenyum kepadamu. Tidak, itu terlalu berat. Kau bahkan tidak bisa membuatnya melirikmu". Lanjut Daren lagi. Entah apa tujuan pemuda ini melakukan itu.


Hugo teringat barusan, Richi memang tidak meliriknya. Namun ia tersenyum sinis. "Aku tidak berminat padanya. Sedikitpun tidak. Lagi pula, aku sudah menentukan. Setelah ini, aku akan berpacaran Camilla."

__ADS_1


Jawaban Hugo membuat Daren diam. Dia tidak tahu menjawab apa lagi jika sudah menyinggung gadis yang sudah lama menyukai Hugo itu.


To Be Continued....


__ADS_2