
"Kau yakin mau terus mengikutinya, Rel?" Clair yang berada dibalik kemudi sudah mewanti-wanti. Pasalnya, Benny yang mereka ikuti saat ini nampaknya sudah menyadari kalau mobilnya berekor panjang. Itu sebabnya jalan mereka yang di depan sangat lambat dan tidak jelas arahnya. Sudah satu jam mobil itu melaju, berputar-putar di kota itu saja.
"Kita sudah sangat dicurigai. Bahkan plat mobil juga pasti sedang dicari." Tukas Bella.
"Biarkan saja. Toh, itu palsu." Jawab Richi cuek.
Suara dering ponsel membuat semua menoleh kebelakang. Olivia langsung mengangkatnya.
"Daren, ada apa? Kan, sudah kubilang kalau aku sedang- Apaa!"
Teriakan Olivia lagi-lagi membuat semua menoleh ke arahnya.
"Ah, iya-iya. Aku akan pulang." Olivia dengan cepat menutup ponselnya.
"Clair, ayo putar kemudi, antar aku pulang. Ayah Daren menuju ke rumahku sementara Daren dikurung di kamarnya. Ayo, Clair, aku takut terjadi sesuatu pada bunda." Desak gadis itu. Panik, tentu saja ia rasakan saat mendengar berita bahwa pria wibawa keturunan raja itu menuju ke rumahnya.
"Bagaimana, Rel?" Clair perlu persetujuan.
"Gas."
Clair langsung menancap gas melewati mobil Benny. Olivia yang panik di dalam mobil membuat Clair ikut tegang dan menyebeng semua kendaraan yang ada di depannya.
"Clair, kau gila?! Hati-hati, dong." Sentak Bella yang sudah memegangi jok di depannya. Sementara Richi tenang menatap gedung-gedung besar dari jendela kaca. Tak panik, dia sudah mempercayakan mobil dan nyawanya pada Clair.
Kurang dari satu jam, Clair berhasil menghentikan mobil tepat di halaman rumah Olivia.
Gadis itu secepat kilat berlari keluar saat mendapati sebuah mobil mewah hitam dengan bendera negara sudah terparkir di depan rumahnya.
Olivia terhenti di depan pintu. Disana, dia melihat Elisa sudah berdiri menunduk. Di depannya, seorang pria dengan jas abu-abu, juga dua orang berjas hitam dibelakangnya.
Kehadiran Olivia menarik perhatian semua yang ada di dalam rumah. Elisa mengangkat wajah dan menggelengkan kepala pada Olivia yang mendadak datang. Bundanya itu khawatir, takut jika Olivia disakiti.
Olivia menunduk tatkala Orlando Wycliff berjalan menghampirinya.
"Olivia, gadis yang diam-diam berani berpacaran dengan putraku semata wayangku."
Olivia menelan ludahnya. Tangannya bergetar mendengar suara bariton pria itu.
"Hebat, Elisa. Kau membesarkan anakku dan juga anakmu bersamaan, lalu mendekatkan mereka berdua. Caramu ini perlu diapresiasi."
"Ini bukan salah bunda. Ini salahku."
"Olivia!" Sentak Elisa, dia membulatkan mata memerintahkan Olivia untuk tidak menjawab sepatah katapun.
Orlando tertawa kecil. "Begitu, ya?"
Tak ada yang bersuara. Keduanya tertunduk saat Orlando menatap secara bergantian.
"Hari ini aku sedang berbaik hati. Jangan lagi kudengar kau dan Daren terlibat perasaan apapun." Orlando beralih pada Elisa.
__ADS_1
"Kau yang paling tahu hukum di rumahku. Kau mengajar anakku dengan baik, apa kau tak mengajari anakmu? Ketahuilah, Elisa, aku berbaik hati karena pengabdianmu padaku bertahun-tahun lamanya. Tapi bukan berarti kau bisa mencoba masuk kedalam istanaku dengan menarik Daren untuk anakmu. Orang kelas rendah seperti kalian, seharusnya bisa bercermin dengan baik."
Setelah mengatakan itu, Orlando keluar dari rumah Olivia. Dia mendapati Richi dan yang lain berdiri di depan mobil merah yang ia tahu pasti milik anak jenderal Wiley.
"Sampaikan pada ayahmu untuk secepatnya membalas pesanku." Ujar Orlando pada Richi dengan senyuman, kemudian ia masuk kedalam mobilnya.
Semua bernapas lega saat mobil dengan bendera negara itu meninggalkan halaman. Semua langsung masuk ke dalam rumah untuk melihat keadaan Olivia.
Elisa duduk diatas sofa. Dia menangis, juga Olivia yang duduk di bawah kaki ibunya.
"Maafin Oliv, Bunda." Gadis itu menyeka air mata. Dia tak sangka seorang Orlando yang berwibawa di televisi bisa merendahkan ibundanya.
Tak ada jawaban selain isakan tangis Elisa. Melihat itu, Richi dan yang lain perlahan mundur, memberikan ruang buat ibu dan anak itu.
"Daren sudah infokan padaku bahwa nanti malam ayahnya ada pertemuan di Ventown. Entah kenapa aku yakin itu ada hubungannya dengan Benny mengingat mereka adalah teman lama." Richi menatap jam di layar ponselnya.
"Kalian sudah tahu apa yang akan kita lakukan malam nanti, kan? Siapkan itu, karena aku mau kembali ke Ventown."
"Siap!" Serentak Clair dan Bella.
Richi masuk ke dalam mobilnya dan melaju kencang untuk menonton permainan Hugo yang akan berlangsung sebentar lagi dan mungkin, dia akan ketinggalan sepuluh menit awal pertunjukan.
...🦋...
"Apa aku sudah boleh masuk?"
Erine mengangguk paham kemudian ia menuju ke tempat dimana ruang ganti itu berada.
Sekilas ia bisa melihat betapa terkejutnya Hugo. Dia hanya masuk ke dalam untuk berganti pakaian dengan senyum yang tersungging di wajahnya.
"Aku tidak mau melanjutkan ini." Hugo melempar naskahnya, kemudian berjalan keluar. Tapi di depan pintu, Mira berdiri dengan tenang.
"Hugo, ada apa denganmu?"
"Mana Laura? Bukankah pasanganku adalah Laura?"
"Dia sedang sakit dan tidak bisa melanjutkan ini. Kau tenang saja, gadis itu sudah hapal naskahnya."
"Aku tidak bisa kalau bersama dia. Aku berhenti."
"Hugo, kau tidak bisa melakukan ini. Lihat pemain lain, mereka sudah lelah dan kau memutuskan secara sepihak? Lalu lihatlah." Mira membuka sedikit tirai merah di dekatnya.
"Sudah ada rektor dan dekan dari berbagai fakultas yang menonton acara ini. Dekan kita pasti akan merasa dipermainkan dan depermalukan jika kau melakukan ini. Apalagi rektor, dialah yang memintamu dan kau menyetujuinya." Jelas Mira meyakinkan.
"Hugo, kak Mira benar. Kita sudah lelah latihan setiap hari dan semua akan terasa sia-sia kalau kau membatalkannya. Kita selesaikan ini, hanya 20 menit saja, kan?"
Seorang figuran drama berkomentar dan dibenarkan oleh yang lain.
"Aku sudah memotong adegan mesranya, jadi kau hanya menjalankan yang seperti biasa, kan?" Hugo tidak bisa mengelak. Dia keluar ruangan menuju pintu masuk para tamu, mencari sosok Richi untuk memberitahukan soal ini. Dia tak ingin gadis itu salah paham. Nomor Richi juga tidak aktif.
__ADS_1
Hugo membaca pesan terakhir Richi. Gadis itu mengatakan kemungkinan dia akan datang di part akhir cerita lantaran dirinya yang terjebak macet.
"Arrkh!" Hugo berteriak hampir membanting ponselnya. "Sial!" Makinya.
~
Richi masuk ke dalam ruang teater saat semua sudah gelap kecuali panggung. Dia berdiri menatap kekasihnya. Lelaki itu tak berekspresi, membuat Richi tergelak. Lucu sekali, pikirnya.
Gadis itu mengedarkan pandangan kearah dimana seharusnya bangkunya berada. Dia melihat nomor bangku pada tiket. Ya, sepertinya nomor itu adalah bangku paling depan tapi deretannya sudah terisi penuh.
"Pemisi, apa anda tahu dimana nomor kursi ini?" Tanya Richi pada penjaga yang berdiri di dekat pintu.
"Oh, ini paling depan. Tapi.." penjaga itu menengok ke depan.
"Bangkunya sudah terisi penuh. Saya akan ke depan sebentar."
"Tidak perlu. Eumm.. tunjukkan saja bangku kosongnya." Ucap Richi pada penjaga, dia tak mau merusak konsentrasi pemain dimana bangku paling depan adalah yang terdekat dengan panggung.
"Disini." Petugas itu menunjuk kursi yang tak jauh di dekatnya. Kursi paling atas.
Richi segera duduk. Yah, dia menghela napas setelah berlari sepanjang lorong fakultas bisnis supaya tidak ketinggalan di bagian akhir pertunjukan.
Tidak begitu kelihatan. Richi juga tidak bisa melihat siapa lawan main Hugo karena gadis itu membelakangi penonton. Tapi suaranya cukup bisa didengar.
Richi mengeluarkan ponselnya. Dia membaca pesan terakhir Hugo yang menyuruhnya tak usah datang ke acara itu. "Kenapa kau melarangku datang?"
Ia mengabaikan pesan Hugo kemudian memulai merekam lelaki itu. Dia memperbesar ukuran video sampai wajah Hugo dengan jelas terpampang di layar ponselnya.
"Mungkin kau tidak tahu aku hadir, Hugo. Itu sebabnya aku merekam ini. Maaf, aku datang terlambat." Ucapnya dengan sedikit keras supaya terdengar di dalam video dan akan ia kirimkan nanti.
Richi menatap layar ponselnya dengan senyum lebar. Merasa bangga sekaligus takjub saat lelaki itu kini berada di panggung dengan penonton yang sangat banyak.
Namun senyuman itu tak berlangsung lama saat ia mendapati wajah Erine juga terpampang di layar ponselnya.
Richi terdiam menatap cukup lama pada adegan dansa. Matanya memberanikan melihat secara langsung. Dan benar, itu Erine.
Richi ingin melipat ponsel namun tertahan saat di layar, dengan cukup jelas ia melihat adegan ciuman yang nyata.
Richi menahan napas. Perlahan matanya melihat keatas panggung, dimana suara haru dari penonton terdengar menggema.
Tidak dengan Richi. Dia merasakan sesuatu yang pahit di dalam mulutnya. Tangan gadis itu sampai bergetar hingga ia pun menjatuhkan ponselnya.
Perasaannya, detik itu juga, hancur berkeping-keping. Richi menunduk saat air matanya tumpah. Berbeda dengan para penonton di ruangan itu. Mereka berdiri memberikan bertepuk tangan dengan meriah, mengapresiasi pertunjukan indah nan menyentuh yang baru tersajikan.
Richi berdiri, dengan cepat ia keluar dari ruangan itu saat telinganya mulai panas mendengar komentar orang-orang yang mengatakan bahwa betapa serasinya kedua pemain itu.
TBC
**Udalah pen, jangan marah-marah. Di like aja dulu baru ku up lanjutan Richi memborbardir Erine ya wowkwowk**
__ADS_1