Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Kesempatan Terakhir


__ADS_3

Richi melipat tangannya di dada, menatap lurus pada Hugo yang hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Sejak tadi, Richi hanya menatapnya tanpa bicara sepatah katapun dan itu semakin membuat Hugo bingung.


Richi berdecak, lalu membalikkan badan ingin melangkah pergi. Namun Hugo menahan tangannya. Richi hanya melihatnya dengan tajam tetapi tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Padahal seharusnya Richi marah karena Hugo tanpa kompromi ikut bergabung dalam tim Elang.


"Chi, kau marah?"


Richi tak menyahut, dia masih menatapi wajah cemas Hugo.


"Aku hanya berpikir, jika aku bergabung, aku akan lebih mudah dekat denganmu dan Ricky, juga menjadi orang yang paling depan membela dan menolongmu."


Sejenak Richi diam, apa yang dikatakan Hugo ada benarnya. Apalagi melihat Ricky yang tak komplain seperti tadi membuat Richi sedikit tahu bahwa kakaknya sudah mulai menerima Hugo.


"Permasalahan ini juga belum berakhir. Kau dan Ricky diburu, mereka memberi hadiah pada siapa saja yang menemukan kalian hidup atau mati. Aku sangat mengkhawatirkanmu."


Richi hanya tidak mau Hugo kenapa-napa. Sebab Valiant bukan sekedar kelompok biasa. Mereka bekerja sama dengan intelejen negara dalam menyelesaikan masalah yang masyarakat tidak boleh ketahui.


"Kau yakin? Kau akan dilatih nanti."


Hugo mengangguk cepat. "Aku yakin. Terima kasih sudah mendukungku." Ucapnya lalu memeluk Richi. "Aku ingin melindungimu, Chi. Aku tidak mau dianggap lemah oleh kakak dan ayahmu."


Richi membalas pelukan Hugo. Dia tahu Hugo melakukan itu karena dirinya.


"Hoi, cepat rapat!" Ricky berteriak dari jauh sambil bersedekap. Dia tidak suka adiknya dipeluk-peluk.


"Tim Elang akan berdiskusi sebentar. Kau tunggu aku, ya? Aku akan mengantarmu setelah ini." Ucap Hugo lalu masuk ke dalam markas. Sementara Ricky mendekat ke arah adiknya berdiri.


"Kau merencanakan sesuatu, ya?" Richi memandang kakaknya dengan tatapan menyelidik.


"Apa, sih! Dia sendiri yang mau masuk."


"Tapi kau sengaja, kan? Bukannya menolak!"


"Biarkan saja. Dia pikir Valiant seperti gengnya itu. Hahaa, habislah dia. Besok aku akan melatih dan menghajarnya. Hahaa aaakkh!" Tawa Ricky terhenti saat Richi meninju perut kakaknya.


"Aku ikut. Besok aku juga akan melatihnya."


"Kau yakin? kau akan merusak harga dirinya. Yang benar saja, Hahaha."


Richi tak peduli, dia berjalan duluan dengan perasaan kesal. Namun langkahnya terhenti.


"Mobilmu kenapa?" Tanyanya yang melihat mobil Ricky hancur di beberapa bagian.


"Diserbu geng kacang. Kau berhati-hatilah, karena kini kau diburu dengan hadiah yang besar. Aku akan menuntaskan ini dalam beberapa hari."


Richi mengangguk lambat, dia sudah mendengar itu dari Hugo tadi. Ternyata belum berakhir, padahal Harry sudah hampir mati namun nampaknya dia tidak berhenti begitu saja. Pasti ada sesuatu yang membuat lelaki itu sampai memburu Richi dan Ricky. Walau entah apa, suatu hari pasti akan terbongkar.


...πŸ₯...


BLAR!!


Untuk kesekian kali Richi memasukkan bola ke dalam ring, lalu menjulurkan lidahnya, mengejek pada Hugo yang hanya berkacak pinggang.


Beberapa pasang mata menonton mereka, merasa iri pada sepasang kekasih itu.


Ya, malam setelah penculikan itu, Hugo langsung mengumumkan hubungannya dengan Richi. Dia mengubah foto Richi sebagai profilnya, lalu menambahkan foto dirinya bersama gadis itu saat makan bersama, Hugo mengambil foto berdua saat Richi tengah bermain dengan ponselnya.


Langsung saja postingan Hugo diserbu banyak orang. Tidak tanggung, banyak yang menganggap Hugo berlebihan sebab biasanya lelaki itu tidak pernah memosting apapun tentang kekasihnya termasuk saat bersama Camilla.


Malam itu saat Hugo mengantar Richi pulang, lelaki itu terus tersenyum sambil membaca komentar di ponselnya.


"Kenapa senyum-senyum?" Tanya Richi sambil membuka seatbelt-nya.


"Aku mengunggah fotomu dan banyak yang terkejut karena ternyata aku benar-benar berpacaran denganmu."


Richi mengangguk saja tanpa peduli.


"Aku turun, ya."


Hugo menarik tangannya. "Begitu saja? Aku sudah menolongmu."


"Oh, kau tidak ikhlas dan mengharapkan imbalan?"


Tanpa ragu Hugo mengangguk lalu menunjuk pipinya.

__ADS_1


"Astaga, yang benar saja." Richi langsung menarik tengkuk Hugo, mencium kening, kedua pipi, lalu mengecup sekilas bibir Hugo.


"Terima kasih, Hugo. Kau sangat keren tadi." Pujinya pada Hugo. Lelaki itu tersenyum lalu menarik gadis itu, mencium bibirnya lagi. Kecupan sekilas tidak berarti apa-apa baginya.


TIN!!


Kedua orang itu terperanjat dan langsung menoleh ke belakang. Mobil Ricky sudah berada disana, dia sengaja mengacaukan dua orang yang tidak keluar-keluar dari mobil, apalagi kalau bukan sedang bermesraan.


Kini seminggu telah berlalu. Walau mereka menjalani hari dengan pertarungan pada orang-orang yang mengincari Darrel demi uang yang dijanjikan.


BUK!! Richi tertawa terbahak-bahak saat bola mendarat tepat di kepala Hugo.


"Kenapa melamun? Hahaha."


Hugo langsung menarik Richi lalu memeluknya di tengah lapangan. Membuat beberapa orang disana menganga.


"H-hugo, lepas. Kau membuatku malu!" Richi melepaskan pelukan Hugo.


Hugo tersenyum lebar lalu merangkul Richi sambil berjalan. "Aku akan membawamu ke suatu tempat."


"Kemana?"


"Ikut saja."


...🦒...


Harry duduk menghadap jendela kaca. Hujan diluar sangat deras. Dia menatap air di kaca yang mengalir tanpa henti.


Pikiran Harry melayang pada kejadian seminggu belakangan. Dia ditembak oleh Shera, lalu gadis itu tidak pernah nampak lagi sampai Harry sudah siuman beberapa hari. Anehnya, dia seperti terkurung di kamar itu.


Hari-hari dia dikunjungi dokter dan perawat yang menjaganya 24 jam dari luar kamar. Tetapi dia tidak mendapat jengukan dari orang lain. Bahkan pintu kamar terkunci dari luar. Harry sempat memberontak, tetapi tenaganya seperti terkuras habis dan dia memilih diam sampai orang yang menyembunyikannya muncul.


Pikirannya pula tidak pernah lepas dari Shera, entah bagaimana pagi tadi ia terbangun dan menghirup aroma sabun yang biasa Shera pakai. Mungkin dia terlalu rindu tetapi tidak bisa melakukan apa-apa. Shera pasti sangat sakit hati hingga gadis itu ingin membunuhnya.


Harry tersenyum getir mengingat Shera yang mengatakan hidupnya tidak pernah baik-baik saja. Apakah gadis itu merasa tersiksa? Harry menghela napas. Dalam hati dia sangat merindukan Shera, namun dia paham bahwa perbuatannya selama dua tahun sudah sangat menyakitkan. Jika saja Shera memberikan kesempatan padanya, dia pasti mempergunakannya dengan baik.


Harry berdiri, dia menyentuh kaca yang terus mengalirkan air diluarnya. Rasanya dingin, dia ingat saat Shera kehujanan namun Harry justru tidak peduli padanya.


Harry menitikkan air mata, mengingat itu hatinya semakin sakit. Ingin sekali ia memeluk gadis yang sudah tidak mau menunjukkan wajahnya lagi.


"Tuan, ini makan siang anda. Tolong obatnya diminum, tuan. Supaya anda cepat pulih."


Pintu tertutup, namun sampai detik itu Harry tidak beralih dari air hujan. Dia memang sudah beberapa kali melewatkan obat yang diberi dokter. Padahal tembakan Shera cukup membuat organ dalamnya luka.


Harry berbalik, dia ingin merebahkan dirinya saja. Menutup mata dan berharap hari-hari berlalu saja supaya dia bisa melewatkan hari-hari berat. Dia sudah mulai jenuh dengan hidupnya.


Harry terkesiap saat melihat sosok perempuan berdiri di belakangnya. Gadis itu memegang jeket kulit di tangannya. Rambutnya dibiarkan begitu saja. Sangat cantik, sampai membuat hati Harry bergetar.


"Shera.."


Wajah yang sudah lama sekali ia ingin lihat kini muncul dihadapannya. Harry melangkah perlahan sambil memegang lukanya. Dia memeluk Shera, mendekap tubuh gadis itu dengan erat. Tanpa sadar dia meneteskan air matanya lagi. Rasa haru menyeruak karena keinginannya terpenuhi, Shera berada di hadapannya.


Gadis itu hanya diam, dia bahkan tidak membalas pelukan Harry.


Harry tak berkata apa-apa sampai beberapa menit, dia hanya memeluk Shera, mengelus lembut kepala gadis itu, menyalurkan rasa rindu yang sudah ia pendam.


"Aku merindukanmu, Shera."


Shera tak menjawab, dia membiarkan saja Harry memeluknya dan mengoceh tentang apapun.


Harry melepaskan pelukan, mengelus lembut pipi Shera dengan ibu jarinya. "Kau menjengukku? Kau tahu dari mana aku disini?"


Dengan perlahan Shera menurunkan tangan Harry dari pipinya lalu meletakkan jeketnya di sandaran kursi.


"Kenapa kau tidak minum obatmu?" Tanya Shera datar, lalu mengambil nampan yang berisi makanan dan obat.


"Duduklah."


Harry menurut, dengan senyuman terus tersungging di bibirnya, dia menatap Shera yang dengan perlahan menyuapinya makan.


"Apa kau yang membawaku kemari?"


Shera tidak menyahut, dia menyuapi lagi makanan ke mulut Harry.


"Aku pikir kau akan meninggalkan aku, Shera. Aku senang kau melihatku."

__ADS_1


"Kau terlihat menyedihkan. Apa kau tidak bisa melakukan sesuatu dengan benar?" Shera meletakkan piring dan memberikan obat pada Harry.


Harry meneguknya. Dia menggenggam tangan Shera, menahannya saat Shera ingin menariknya lagi.


"Tidak ada yang lebih menyedihkan dari kehilanganmu. Aku menyadari sesuatu, Shera. Aku.."


"Sudahlah. Aku mendengar ini puluhan kali dari mulutmu. Bisa tidak, kau sembuh dan melanjutkan hidupmu saja dan aku juga melanjutkan hidupku tanpa memikirkanmu lagi? Kau tahu betapa merepotkannya dirimu?"


Harry tertawa pelan. Rasanya menyenangkan dimarahi oleh Shera. Dulu saja, dia tidak akan mendengarkan omelan Shera. Namun kali ini, dia menyukainya.


"Kau menertawakanku?"


"Shera, menikahlah denganku."


Shera mematung. Walau dia sudah mendengar ini, walau dia tahu Harry hanya mengerjainya, tetap saja hatinya bergetar.


Shera menarik tangannya dan berdiri, dia tidak ingin goyah. Harry benar-benar mempermainkan perasannya.


"Shera, aku serius." Harry berdiri, menggenggam tangan Shera.


"Aku mencintaimu, Shera."


Shera tak bergeming, jantungnya bergetar hebat. Satu-satunya kalimat yang selalu ia tunggu keluar dari mulut Harry. Tapi dia langsung menyadarkan dirinya.


"Aku tidak punya waktu untuk itu."


"Tidak, Shera, aku serius. Aku sangat paham bagaimana rasanya kehilanganmu, aku kini mengerti rasanya rindu. Aku sangat sedih saat tidak bisa melihat wajahmu. Aku..." Harry meneteskan air mata tanpa ia sadari.


Shera menahan napasnya, melihat Harry menangis saat mengutarakan perasaannya, bukankah Harry tengah bersungguh-sungguh?


"Tidak ada yang bisa kulakukan jika dirimu tidak ada, Shera. Terimalah aku lagi. Satu kali lagi. Biarkan aku merepotkanmu lagi, biarkan aku terus didekatmu. Menikahlah denganku."


Rasanya seperti tidak ada oksigen yang masuk ke dalam otaknya. Shera hampir tidak bisa mengendalikan dirinya yang sejak tadi bergetar. Dia tengah berusaha berpikir apakah dia akan tertipu lagi atau tidak, ia tidak bisa membedakannya.


"Berilah aku kesempatan, Shera. Jangan tinggalkan aku. Aku mohon padamu, aku mengerti apa yang kau rasakan saat ini. Aku tersiksa jika kau tidak ada, Shera. Aku sangat mengerti perasaanmu selama ini padaku."


Shera menatap kedua mata yang sudah basah itu. Hatinya luluh, baru kali ini dia melihat Harry menangis terlebih karena dirinya. Apakah benar Harry mencintainya?


"Aku mencintaimu, Shera. Aku sangat mencintaimu." Harry mendekat lalu mengecup kening Shera. Dia memeluk tubuh gadis yang masih membeku itu.


"Aku akan menjadi kekasihmu yang paling baik, aku akan menjadi apa yang kau inginkan, aku serahkan semua hidupku padamu. Aku percayakan diriku padamu, Shera. Kau yang paling mengerti aku dan aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi dariku. Kau paham itu?"


Shera membalas pelukannya, dia memendamkan wajah di dada Harry.


"Aku tahu kau masih mencintaiku. Terima kasih, Shera. Terima kasih sudah mempertahankan aku. Aku sangat mencintaimu."


Shera hanya mengangguk, dia tengah menangis karena akhirnya Harry membalas perasannya. Lelaki itu justru terlihat sangat tulus, hal yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


"Mau menikah denganku, kan, Shera?"


Shera mengangguk lagi, lalu Harry mengeratkan pelukannya. Untunglah masih ada kesempatan untuknya, sebab hampir terpikir oleh Harry untuk mengakhiri saja hidupnya setelah ia membongkar rahasia tuan besarnya.


Tbc


...○●○●○○●○●○●○●○○●○○●●○○●●○●○●○●○...


"Tanda tangani kontrak itu. Jika kau setuju, aku akan membantu seluruh biaya rumah sakit nenekmu."


Aku meremas ujung rokku dengan geram. Ibuku memang seorang wanita malam, tapi bukan berarti aku akan melakukan hal yang sama! Pekikku dalam hati namun sialnya aku malah menandatangi surat itu.


Persetan! Aku tidak peduli yang penting nenekku, keluargaku satu-satunya yang tersisa, bisa hidup dan melanjutkan hidup bersamaku.


Dia Arga Alexander, lelaki blasteran yang kaya raya dan populer di kampus tengah 'menolongku' dan aku harus menjadi teman tidurnya selama 2 tahun.


Walau begitu, dia tidak melarangku berhubungan dengan Aditya Wicaksana, kekasihku yang sudah 7 tahun berpacaran denganku.


Lalu Bagaimana Syahdu dan Arga menjalani kehidupan mereka selama dua tahun? Bagaimana pula hubungan Syahdu dengan Wicak, lelaki yang amat dia cintai itu?


(Visual Tokoh dalam Cerita)



JANGAN LEWATKAN KARYA BARU AUTHOR, YA


Terima kasih banyakπŸ¦‹

__ADS_1



__ADS_2