Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Menjauh~


__ADS_3

Richi melangkah menuju pintu gedung Tinju, belum apa-apa dia sedikit kelelahan karena pertarungannya cukup menguras tenaga.


Baru saja akan masuk, tangan Richi ditarik paksa menuju sebuah ruang yang terlihat seperti gudang.


"Ada apa, Jess?" Tanya Richi yang mulai memutar pergelangan tangannya yang dicengkram keras oleh Jessica tadi.


Jessica mengeraskan rahangnya lalu menampar Richi.


Wajah Richi memerah, terasa amat perih lantaran Jess mengerahkan tenaganya untuk itu.


"Perempuan sialan, masih bisa bertanya ada apa, setelah kau berjalan dengan Hugo dan dia membayar makananmu seharga 16 juta? Kau perempuan matre!" Bentaknya dengan wajah emosi.


Richi mengepalkan tangannya, dia sudah menduga ini saat bertemu Jils di restoran waktu itu.


"Kau salah, Jess. Aku tidak menyukai Hugo. Kami berteman karena satu sekolah. Dia juga punya kekasih."


"Haha, kau pikir aku tidak tahu? Kau sengaja latihan karena Hugo, kan? Kau memata-matainya? Ha? Saat dia tidak datang, kaupun tidak latihan. Sekarang dia hadir dan dugaanku benar, kau juga hadir." Berangnya pada Richi yang mencoba menahan amarahnya.


"Saranku, kau tidak perlu mengorbankan dirimu seperti itu demi laki-laki yang bahkan tidak melirikmu, sayangi dirimu sendiri."


Mendengar ucapan santai Richi, Jessica semakin berang. Dia mengepalkan kedua tangannya.


"Kau perempuan sialan, beraninya kau bicara begitu pada seniormu! Kau mau mati, Hah?"


"Jika sudah selesai, aku akan pergi."


Richi beranjak, lalu baju belakangnya di tarik oleh Jessica. Richi langsung menggenggam tangan Jess dan membantingnya ke depan.


Jessica meringis, dia lalu bangkit lagi dan menyerang Richi. Dengan cepat gadis itu menghajar Jessica dengan sekuat tenaga. Dia melimpahkan kekesalannya pada Jessica.


Jessica meringis, hingga jeritannya di dengar oleh beberapa orang dan masuk ke dalam.


Hugo membuka pintu, dan mendapati Richi disana dengan Jessica yang meringkuk di lantai. Hidungnya mengalirkan darah dan pelipisnya lebam.


"Hugo.." jeritnya sambil menangis, lalu bangkit dan memeluk Hugo. "Lihatlah, dia menghajarku karena tidak suka aku dekat padamu". Ucapnya sambil terisak.


Hugo menatap Richi yang tampak tenang walau pipi gadis itu memerah.


Orang-orang yang melihat mulai berbisik, sebab mereka mengetahui Jessica adalah senior sementara Richi murid yang baru 3-4 kali latihan.


"Bukankah itu memalukan? Kalah dari junior?" Bisik salah satu murid.


"Dia menghajar Jess sampai begitu?"


"Dia terlihat mengerikan."


"Jess, dia bukan tipe perempuan yang mencari masalah. Katakan, apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Hugo sambil melepaskan pelukan Jessica.


"Aku berkata jujur, kau lihat ini". Jess menunjuk hidungnya. "Dia melakukan ini padaku".


Velly berjalan ke arah Richi, dia lalu menepuk pelan bahu gadis itu. "Richi, sebaiknya kau pulang dulu."


Richi mengangguk, lalu melihat ke arah Jils yang terbelalak menyaksikan wajah Jessica.

__ADS_1


Menyadari Richi yang menatapnya tajam, Jils gemetar lalu mundur beberapa langkah.


"Tolong kasih jalan, biarkan Richi lewat". Ucap Velly, lalu Richi mengikut dibelakangnya.


Richi berjalan gontai, menunduk, menghela napas panjang. Hari ini ternyata sial baginya. Pertama, Carina. Lalu sekarang Jessica. Baru berteman saja, Hugo sudah membuatnya susah dengan gadis-gadis yang menyukainya. Hal yang paling ia benci, karena akan sangat merepotkannya.


"Richi!"


Hugo berlari, mendekat dan melihat pipi Richi yang memerah.


"Richi, pipimu."


Tangan Hugo yang hendak memegang pipinya ia tahan.


"Aku tidak apa-apa." Ucapnya sembari melepas tangan Hugo.


"Ada apa? Katakan padaku kenapa dia mengganggumu?"


Richi tak langsung menjawab, karena dia merasa kesal pada Hugo. Menyukainya saja, sudah menjadi beban berat baginya.


"Sebaiknya kau jaga jarak. Aku tidak suka repot karena penggemarmu". Ucapnya lalu melangkah pergi, meninggalkan Hugo yang mulai paham.


Jadi, begitukah? Richi menjauh padanya bukan karena dia tahu Hugo menyukainya, tetapi karena orang-orang yang menyukai Hugo akan terus mengganggunya.


Hugo terus menatap punggung gadis itu, dia merasa Richi benar. Richi telah banyak kerepotan karena dirinya. Lalu kenapa Richi? Bukankah orang tahu Camilla juga kekasihnya?


Tentu saja, orang-orang takut karena Camilla adalah orang kaya dan punya banyak pengawal. Sementara Richi, terlihat seperti gadis biasa yang bisa disiksa.


~


'Richi, kau dimana? Aku ingin bicara padamu'.


'Richi, maaf atas kejadian tadi. Kuharap kau tidak marah padaku. Aku akan mengurusnya.'


'Richi, tolong balas pesanku'


Richi menatap saja saat ponselnya bergetar, Hugo meneleponnya beberapa kali. Dia enggan membalasnya. Menyimpan ponsel dalam roknya. Sejak tadi dia belum pulang, masih dengan seragam sekolah yang sudah tidak lagi rapi.


Richi melihat langit malam, sepertinya akan hujan karena angin yang berhembus lebih dingin.


Dia bangkit dari bangkunya, memberhentikan taksi, dia ingin ke suatu tempat


Richi menatap jalan dari jendela taksi. Dia merenungi nasibnya kini yang menyedihkan.


Menyukai lelaki yang dulu sangat ia hindari karena menurutnya, lelaki seperti Hugo akan sangat merepotkan.


Ternyata benar, menyukainya saja sudah merepotkan. Dimana dia harus terus berkelahi dengan hatinya yang ingin bersama Hugo, tetapi tidak ingin repot dengan permasalahan yang ada.


Richi memilih untuk pergi saja dari pada harus bersama Hugo.


Taksi berhenti di kedai Clair. Dengan lesu ia masuk, dan berjongkok saat Mouza mendatanginya. "Kenapa? Kau tahu aku sedang sedih, hm?" Richi mengelus lembut bulu Mouza.


"Rel? Are you okay?"

__ADS_1


Richi tak menyahut pertanyaan Clair, dia langsung duduk bersandar di bangku.


Clair datang dan duduk di depannya.


"Kau sedang sedih? Tidak sepertimu yang biasa. Bukankah sedihmu tidak pernah kau tunjukkan?"


Richi menatap Clair, gadis itu benar. Lalu sekarang, dia sendiri tidak bisa mengubah ekspresinya. Hatinya terus terasa tidak gundah entah kenapa.


"Clair, bagaimana cara mengatasi perasaan yang timbul?"


Clair menaikkan alisnya tanda tak paham.


"Sudahlah, lupakan saja. Buatkan aku yang biasa".


"Rel, are you fallin' in love?"


Richi melihat Clair dengan tatapan bingung, sebab dia sendiri tidak bisa mengartikan perasaannya dengan benar.


"Sudahlah, buatkan saja pesananku". Ucapnya sambil memberi kode supaya Clair pergi.


Tak lama, lonceng pintu berbunyi, Richi tak menoleh sebab dia mulai merasa ngantuk, menidurkan kepala dan memejamkan mata di atas meja. Sementara seseorang duduk di sebelahnya dengan perlahan.


Richi menyadari seseorang hadir, dan langsung membuka mata.


Matanya membulat, saat ternyata Hugo ada disebelahnya.


"Richi, kau baik-baik saja?" Tanyanya dengan wajah yang penuh kekhawatiran.


"Chi, maafkan aku. Aku sudah mengurus Jessica, jadi.."


"Hugo. Permasalahannya bukan itu." Richi mengangkat kepalanya yang terbaring di meja, dia memaksa matanya terbuka walau mengantuk.


"Penggemarmu sangat merepotkanku. Tolong katakan pada satu sekolah bahwa sebenarnya kau tidak berpacaran denganku. Juga, jangan terlalu sering menemuiku di sekolah. Aku tidak suka dikenal banyak orang, namun sekarang hampir satu sekolah memperhatikanku saat berjalan."


Kalimat Richi membuat Hugo terdiam. Dia tahu itu, tetapi jika disuruh untuk menjauh dan mengatakan pada semua orang, hatinya amat berat.


"Kau tahu, sosial mediaku penuh dengan caci makian dari penggemarmu. Aku diteror dan mereka bahkan sering mengirim orang untuk memberiku pelajaran".


Hugo terkejut mendengar itu, dia tidak pernah tahu.


"Yang menculikku saat disekolah, itu bukan Stripe, juga saat hari Oberon, mobilku dihadang segerombol orang sewaan yang kuyakin dari penggemar gilamu itu".


"Baiklah, Richi. Aku mengerti."


Richi membuang napas kasar, lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Jadi, apa kau benar-benar ingin menjauhiku?"


Richi mengangguk tanpa membuka wajahnya, dia benar-benar letih. Bukan cuma fisik, namun hatinya juga lelah karena terus memikirkan laki-laki itu.


"Maafkan aku, Chi. Aku akan berusaha supaya tidak melibatkanmu lagi. Terima kasih untuk semuanya." Ucapnya lalu beranjak dari tempatnya.


Sementara Richi belum juga membuka wajahnya, dia tampaknya tengah menangis.

__ADS_1


Hal berat baru saja ia katakan. Dia sudah menimbangnya, memikirkan semuanya. Bagaimana pun dia tahu Hugo tidak menyukai dirinya. Dari pada jatuh terlalu dalam, Richi memilih untuk menjauhinya saja supaya tidak menyesal dikemudian hari.


TBC


__ADS_2