
"Chi.."
Emerald duduk di depan Richi. Gadis itu sejak tadi tersenyum bahagia sambil melakukan peregangan.
"Hei, Richi!"
Emerald memanggil dengan nada yang sedikit naik.
"Eh? Iya kak?"
Richi tersentak dan melihat teman-temannya yang melirik ke arahnya.
Richi tidak fokus, dia melakukan gerakan peregangan yang berbeda dari yang lain.
Melihat itu, Richi buru-buru merubah kakinya dari yang bertekuk kedepan, menjadi kebelakang.
Setelah selesai pemanasan, sebagian orang berlatih dan sebagaian lagi duel seperti biasa.
Emerald menghampirinya. "Ada apa sampai tersenyum begitu?"
Richi malah cengengesan. "Aku dapat tiket konser Avril Lavigne, hehe".
"Siapa itu?" Tanya Emerald dengan polos membuat Richi melongo.
"Si-siapa itu, kakak bilang?"
Emerald terlihat bingung. "Artis?"
"Dia itu penyanyi terkenal, kak! Lagunya keren-keren. Astaga! Apa masih ada manusia dibelahan bumi ini yang tidak kenal perempuan terkeren itu?" Richi meledak, dia terheran juga kesal dengan Emerald.
"Ehehe, maaf ya, Chi. Tapi aku memang tidak tahu". Jawabnya sedikit lesu.
"Emerald dan Richi, kalian berduel!"
Ucapan Sanim Ronald membuat keduanya ternganga. "Apa?"
Yang lain langsung membuat lingkaran sambil girang karena melihat Richi dan juga senior Emerald yang akan berduel hari ini.
"Sanim, apa tidak salah?" Tanya Emerald pada instrukturnya itu.
"Tidak. Cepat!" Teriaknya. "Awas kalau kau pura-pura." Ancamnya pada Emerald karena menyadari lelaki itu menyukai Richi.
Richi dan Emerald berhadapan dan bersiap dengan kuda-kuda.
"Chi, maaf ya." Bisik Emerald, namun Richi menatapnya dengan tajam.
Mereka beradu, mengeluarkan jurus-jurus untuk menyerang dan bertahan. Emerald terlihat lebih hati-hati dan perlahan karena yang ia hadapi adalah Richi. Sedangkan gadis itu sepertinya serius dengan serangannya, itu terlihat dari mata Richi yang sejak tadi kesal karena Emerald tidak mengenal idolanya.
"Argh!" Rintih Emerlad saat Richi berhasil menendang perutnya dengan jurus dollyo chagi.
Pertandingan selesai, Richi membungkukkan badannya. Richi mendapat banyak tepuk tangan karena menang melawan pelatih. Mereka merasa Richi sangat hebat.
Pertandingan pun di lanjutkan oleh teman-teman yang lain.
"Kak, apa baik-baik saja?" Richi membantu Emerald duduk menyudut dengan merintih karena tendangan yang bukan main itu.
"Chi, kau serius?" Tanya Emerald dengan suara yang di tekan karena menahan sakit.
Richi merapatkan gigi, rasanya dia terbawa emosi.
"Ah, maaf kak. Aku kelewatan, ya". Ucapnya merasa bersalah.
__ADS_1
"Kau kesal ya karena aku tidak kenal dengan.. siapa itu tadi, ya."
Richi tertawa. "Bukan, kok. Aku cuma tidak mau kalau kita dihukum karena tidak bertanding sungguh-sungguh. Maafkan aku ya, kak". Jelasnya sambil terkikik.
Emerald tersenyum melihat tawa Richi yang begitu lepas, walau perutnya sakit karena tendangan gadis luar biasa itu.
🦒
Hugo tiba-tiba masuk lapangan dan ikut bermain basket bersama Richi dan yang teman-teman yang lain, tanpa gadis itu sadari dia mendapat operan bagus dari Hugo namun Richi tidak bisa memasukkan bola ke dalam keranjang dengan tepat.
"Hah! begitu saja tidak bisa".
Mendengar itu, Richi langsung menoleh dan melihat Hugo dengan sinis. Napasnya terengah, keringat sudah membanjiri ke seluruh baju seragamnya.
"Capek". Ucapnya pada yang lain lalu keluar lapangan di ikuti Hugo dari belakang.
"Hei, kau harus tepati janjimu".
Richi duduk dan langsung menenggak air dalam botol sampai habis. Hugo seperti terbiasa melihat hal itu. Dia duduk di lantai basket berhadapan dengan Richi yang duduk di atas bangku.
"Apa?" Tanya gadis itu.
Hugo menyerahkan ponselnya. "Tulis nomormu".
"Untuk apa?"
"Jangan banyak tanya. Kau harus ikuti kemauanku sampai hari H konser".
Dengan malas Richi menerima dan mengetik nomornya.
"Langsung simpan dan tulis namamu disitu". Titahnya.
"Sudah"
"Hahaha.." Dia terbahak membaca nama yang tertulis disana. 'Avril'
"Ya sudah, nanti malam kujeput." Ucapnya lalu bangkit.
"Mau kemana?"
"Lihat saja nanti. Kau tidak boleh menolak. Kujeput jam 7." Katanya lalu beranjak pergi.
"Cieee". Frans dan Eric meledek saat Hugo sudah menghilang.
"Ri, makin dekat saja kalian." Ucap Eric.
"Iya. Apa kalian jadi benar-benar pacaran?" Sambung Frans
"Tidak. Jangan sebar gosip".
"Aku dengar semua juga membicarakan kalian akhir-akhir ini sweet sekali". Kata Frans lagi.
"Aku juga dengar, katanya kalian sudah berani umbar kemesraan. Tapi katanya, kau mau saja dijadikan yang kedua karena yang pertama adalah Camilla. Dengan tegas, aku katakan kaulah satu-satunya. Aduh!"
Eric merintih karena botol kosong ditangan Richi melayang ke kepalanya.
"Ya sudahlah. Aku mau pulang". Ucapnya sambil menyandang tas dan berlalu meninggalkan kedua temannya.
🐁
Richi keluar dari pagar dan mendapati Hugo sudah menunggu diatas motornya.
__ADS_1
"Lama amat!". Hugo melirik Richi yang memakai celana robek bagian lutut sama sepertinya.
"Kenapa berpakaian begitu??"
Richi melihat dirinya dari bawah. "Kenapa? Kau berharap aku pakai dress?"
Richi langsung naik ke atas motor Hugo tanpa diminta.
"Hei, kau!"
"Cepat jalan. Aku tidak punya banyak waktu". Ucapnya sambil menepuk-nepuk pundak Hugo. Dengan malas Hugo menghidupkan mesin motornya dan melaju kencang.
"Mau kemana?" Teriak Richi dari belakang.
"Pegangan saja!"
Hugo melajukan motornya sampai Richi memegang pinggangnya.
Setelah beberapa menit, Hugo menghentikan motornya di sebuah lapangan basket indoor.
"Kenapa kemari?" Tanya Richi setelah turun dari motor.
Belum Hugo menjawab, mereka dihampiri oleh Axel, Daren, dan Isac.
"Sudah datang? Ayo, langsung masuk. Mereka sudah di dalam". Ucap Axel lalu bergerak masuk ke dalam.
"Ini pertandingan apa?" tanya Richi serius.
"Taruhan. Antara hidup dan mati. Jadi kau, harus bantu kami." Jawab Axel dengan serius pula.
"Apa taruhannya?"
"Nyawa". jawab Daren singkat.
Lawan mereka datang, lima orang laki-laki bertato dan terlihat sangar.
"Hei, kalian bawa cewek untuk bertanding? Yang benar saja haha". Mereka tertawa meledek.
"Kalian membawa perempuan supaya kami merasa kasihan?" Ejek yang lain. Gelak tawa mengisi ruang yang bergema.
"Sudahlah, cepat kita mulai saja". Ucap Isac lalu beranjak ke ruang ganti dan diikuti yang lain termasuk Richi.
"Hei, kau mau mengintip?" Hugo menghentikan langkah Richi yang hampir masuk ke ruang ganti.
"Tunggu disini. Setelah kami, kau yang berganti". Ucapnya lalu masuk.
Tak lama Hugo dan yang lain keluar dengan seragam.
"Nah, ini bajumu." Hugo menyerahkan sebuah tas kecil.
Richi tak kunjung masuk, melihat ruangan ganti yang tidak tinggi dan sedikit terbuka bagian atasnya membuatnya Ragu.
Seperti mengerti, Hugo membelakangi. "Cepat masuk. Aku yang akan menjagamu."
Richi masuk, walau dia sendiri masih sedikit ragu. Cepat-cepat dia mengganti bajunya.
Richi langsung keluar begitu selesai dan langsung menuju lapangan.
"Hai, gadis cantik. Apa kau tidak mau berubah pikiran?" Ledek salah satu dari lawan mereka.
"Kau ke tim kami saja. Kami akan membayar berkali-kali lipat dari mereka". Ucapnya sambil tertawa-tawa.
__ADS_1
"Cepat. Jangan banyak bicara!" Sentak Hugo mulai mengambil posisi begitu juga yang lain.