Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Impian Richi


__ADS_3

Harry masuk ke dalam ruangan Shera. Dia sedikit kesal hari ini karena tuan besar sialan itu selalu memaksakan kehendaknya. Apalagi kini dia berani menyentuh perusahaan ayahnya yang jelas-jelas sesuai perjanjian mereka di awal, tuan besar itu takkan mengganggu keluarganya.


Dia membuka pintu dan mendapati kamar itu kosong. Harry mengecek kamar mandi juga kosong. Dia sedikit berpikir, apakah Shera sedang jalan-jalan keluar?


Seorang perawat masuk, dia hendak membereskan tempat tidur yang sudah ditinggalkan pemiliknya.


"Hei, mana Shera?" Tanyanya.


Perawat itu malah mengerutkan alis. "Bukankah Nona sudah pulang bersama tuan tadi pagi?"


"Apa kau bilang? Shera pulang??"


Mendengar bentakan Harry membuat perawat itu gemetar. "I-iya tuan, Nona Shera sudah pulang. Ka-katanya rindu tuan Harry."


Tanpa bicara lagi, Harry langsung berlari keluar ruangan menuju apartemen Shera. Dia langsung masuk setelah memencet sandi yang diatur Shera memakai tanggal ulang tahun Harry.


Di dalam, barang-barang Shera sudah tidak ada. Tempat itu rapi dan bersih. Harry membuka lemari pakaian Shera dan benar saja, lemari itu kosong.


Harry mulai frustrasi, kenapa Shera pergi? Kemana dia? Kenapa Shera malah meninggalkannya? Bukankah Shera cinta mati padanya?


Harry mengeluarkan ponsel dan menelepon bawahannya.


"Cepat selidiki dimana Shera. Blokir semua perjalanannya jika dia pergi!"


Harry mengerang, rasanya ia tidak terima Shera meninggalkannya begitu saja.


"Shera, beraninya kau!"


Ponsel Harry berdering.


"Bos, Shera akan terbang ke negara P satu jam lagi."


Mata Harry memerah, rahangnya mengeras mengetahui Shera pergi ke negara yang sangat jauh darinya.


"Blokir!" Titahnya.


"Shera, kau benar-benar sudah melampau!" Gumamnya geram.


...🦢...


Shera duduk di sebuah Kafe tak jauh dari Oberon. Dia memakai leather jecket dan syal putih, membuat Shera tidak terlihat seperti orang sakit.


Hugo berlari kecil dan langsung duduk di hadapan Shera.


"Hei, kudengar kau tertembak." Tukas Hugo seraya mengatur napasnya.


Shera tersenyum tipis. "Bukan hal besar."


"Dimana Harry? Aku ingin sekali menghajarnya!"


"Aku kesini bukan untuk itu."


"Lalu? Kau kenapa keluar rumah sakit? Apa sudah sembuh?" Tanya Hugo penasaran. Shera menghubunginya di jam sekolah. Dia bilang ada hal penting yang ingin dia sampaikan pada Hugo.


"Hugo, sampaikan maafku pada Richi. Aku menyesal, karena hampir mencelakainya waktu itu." Ucapnya tertunduk, dia sempat marah dan ingin memukul Richi dengan botol yang ia bawa.


"Dia sudah memaafkanmu." Jawab Hugo menenangkan. "Kau seperti ingin pergi jauh saja."


Shera tersenyum lagi. "Iya, aku akan pindah sekolah. Aku sudah mengurusnya. Satu jam lagi akan berangkat. Aku menyempatkan untuk menemuimu, ingin mengucapkan banyak terima kasih."


Hugo mengerutkan alisnya. "Untuk apa?"


"Untuk nasehatmu. Setelah kupikir-pikir, kau benar. Aku terlalu mencintai Harry sampai melupakan kebahagiaanku sendiri. Waktu itu kupikir, asal Harry senang maka akupun senang. Asal dia tersenyum, aku ikut bahagia." Shera menghela napasnya.


"Tapi lama kelamaan, aku merasa jenuh." Terlihat senyum getir di bibirnya. "Aku merasa, hanya diriku yang memperjuangkannya sementara dia tidak memikirkanku bahkan setelah aku mengorbankan diri untuknya." Shera tertunduk. Air mata sudah tidak keluar dari matanya, dia sudah letih menangis.


"Jadi, aku memutuskan untuk pulang saja. Aku ingin memperbaiki hubunganku dengan Ibuku dan memulai semua disana."


Hugo tersenyum, "bagus, akhirnya kau menyadari itu. Kuharap kau bahagia, Shera. Kau berhak untuk itu."


Shera tersenyum lalu bangkit dari tempatnya. "Aku harus pergi. Terima kasih, Hugo. Maaf merepotkanmu selama ini."


Shera melangkah pergi. Ada gurat lega di wajah Shera. Hugo memperhatikan gadis itu sampai sosoknya hilang. Dia berharap dalam hatinya, supaya kakak tirinya berubah setelah kepergian perempuan itu dalam hidupnya.

__ADS_1


...🖤...


Shera berjalan sembari menarik koper untuk check-in keberangkatannya. Dia menyerahkan kartu identitas dan bukti pembelian tiket online yang dia pesan tadi malam.


"Mohon maaf, Nona. Nama dan nomor kartu identitas tidak terdaftar."


Shera mengerutkan dahinya. "Saya baru daftar tadi malam. Ini bukti pembeliannya. Coba periksa sekali lagi."


Petugas itu mengulang pemeriksaannya lagi.


"Sudah saya cek, Nona. Nomor kursi pada tiket ini bahkan sudah diisi dengan nama lain. Mohon maaf."


Mata Shera membulat, sudah pasti ini ulah Harry. Shera serasa ingin menangis. Hal yang sudah ia nanti-nantikan, tinggal sedikit lagi saja dia bisa lepas dari Harry. Jika sudah begini, apa yang harus dia lakukan?


Shera duduk di bangku. Dia menangkup wajahnya dengan kedua tangan, menunduk sebab bingung bagaimana ia harus menjalani hidupnya sekarang.


"Ayo, pulang."


Shera mengangkat kepalanya. Dia melihat tangan yang mengulur padanya dan dia tahu betul pemilik jari-jari itu.


Shera membuang wajah. Ia sudah tidak kuat menahan air mata yang langsung mengalir di pipi.


"Aku akan mengantarmu pulang. Kita akan tinggal di penthouse-ku. Kau ingin tidur di ranjangku, kan? Aku juga sudah memaafkan Erwin yang berani membantumu."


Shera tak juga menjawab dan enggan melihat Harry, dia terisak dan benar-benar ingin pulang bertemu Ibunya.


Harry duduk disampingnya. Dia benar-benar tidak peduli pada perasaan Shera.


"Shera, kau belum cukup sembuh untuk berangkat ke luar negeri." Ucapnya sembari mengelus lembut rambut Shera.


"Kata perawat, kau pulang karena merindukanku. Makanya aku datang. Seharusnya kau memelukku."


Shera bangkit lalu berjalan cepat menyeret kopernya. Sementara Harry tersenyum melihat marahnya Shera. Marah yang tidak akan berlangsung lama. Dengan beberapa perlakuan manis, Shera akan kembali luluh.


Dia berjalan santai walau Shera sudah jauh meninggalkannya.


...🦩...


Richi tengah membujuk Marry untuk membawanya pulang sebab dia sudah tidak betah di rumah sakit.


"Chi, bukan Ibu yang menentukan itu. Kalau dokter bilang belum boleh, ya artinya memang belum." Jelas Marry yang sudah bertanya pada dokter. Lalu dokter masih belum mengizinkan Richi pulang.


Richi melemas, dia langsung merebahkan punggungnya lagi.


"Sabar, kau mau sakitmu bertambah parah??" Sahut Ricky. "Makanya, kalau tidak mau di rumah sakit, jangan bodoh!" Tukasnya lagi namun Richi tidak menyahutinya, menganggap ucapan kakaknya hanya angin lalu.


"Kerjamu marah-marah, nurun siapa, sih?!" Omel Marry pada Ricky.


"Dari Ibu, lah. Memangnya siapa lagi." Jawabnya asal dan berhasil membuat Marry mencubiti bahunya.


"Hahaa iya. Ampun, Bu..." Ucapnya mengampun.


"Untunglah sikap Ayah yang santai ini nurun ke tuan putri Ayah." Tutur Wiley sambil melirik Richi.


"Ayah itu, terlalu santai. Apa-apa dibiarkan. Lihat ini buktinya." Tandas Marry sambil menunjuk Ricky.


"Memangnya aku kenapa? Baik budi dan tampan seperti biasa." Celoteh Ricky santai menghadapi Ibunya. "Lalu Richi, bodohnya nurun siapa?" Tanyanya lagi dan mendapat delikan tajam dari adiknya.


"Siapa yang kau bilang bodoh? Bukannya kau yang bodoh makanya lebih memilih cuti kuliah?" Cetus Wiley membela anak perempuannya.


"Lagi pula, Ayahmu dulu juga begitu pada Ibu. Rela pasang badan asal Ibu bahagia. Itu bukan bodoh, tapi pengorbanan. Yang tidak punya kekasih sepertimu, tidak akan paham." Jelas Marry sekaligus mengejek anak lajangnya.


"Iya, iya. Aku memang selalu kalah kalau sama Ibu. Nyonya besar selalu menang!" Tukasnya mengakhiri perdebatan sengit dengan Ibunya.


"Sudah, sana pulang. Bawakan baju Richi yang sudah disusun Sunny di rumah." Titahnya pada Ricky.


"Iya. Iya.."


Saat Ricky hendak keluar, Hugo membuka pintu. Sesaat pandangan mereka bertemu. Ricky menatapnya dengan tajam sementara Hugo tersenyum tipis.


Hugo masuk saja tanpa menghiraukan Ricky. Dia memberi salam pada Marry dan Wiley. Tampaknya dia sudah mulai berani karena ia tahu, Ricky takkan berani jika di rumah sakit ini.


"Wah, Hugo bawa bunga. Manis sekali.." Puji Marry yang malah terkesan melihat tingkah manis Hugo pada putrinya.

__ADS_1


"Hugo, bawa Richi keluar, supaya dia tidak bosan." Sambung Wiley yang langsung dapat lirikan tajam dari Ricky. Kenapa malah Ayahnya ikut-ikutan?


"Ayah, apa aku tidak salah dengar?" Bisik Ricky.


"Kasihan adikmu, dia sangat bosan." Jawabnya santai.


Ricky menggerutu sambil berlalu. Dia merasa dikhianati ayahnya sendiri.


~


Hugo membawa Richi ke taman rumah sakit. Gadis itu hanya diam sejak tadi dan Hugo menyadari bahwa kekasihnya itu tengah merajuk padanya.


Hugo duduk di ujung kursi, dia menggeser kursi roda Richi dekat dengannya. Kini mereka berhadapan.


"Shera kirim salam. Dia meminta maaf atas sikapnya padamu."


Richi tak menyahut.


"Dia.. akan melanjutkan sekolah ke luar negeri."


"Apa bersama Harry?" Tanya Richi tiba-tiba penasaran.


Hugo menggelengkan kepalanya. "Dia meninggalkan Harry."


Richi membulatkan matanya. "Kok bisa?" Setahu Richi, gadis itu sangat mencintai Harry. Bagaimana mungkin dia bisa meninggalkan Harry. Apa Harry tidak juga menyadari perasaannya?


"Dia sempat bilang, Harry gelisah saat kau belum juga sadar. Sementara Harry tak ada disana saat Shera siuman."


"Harry hanya kagum padaku karena aku yang mirip dengan Ibunya. Tapi bukan cinta seperti pada Shera." Tukas Richi.


"Iya, kau benar. Tapi, keputusan Shera menurutku yang terbaik. Dia pasti merasa lelah selama ini." Jelas Hugo dan Richi hanya mengangguk-angguk.


"Kemarikan tanganmu." Pinta Hugo.


"Untuk apa?"


Tanpa menjawab, Hugo meraih tangan Richi dan meletakkan cincin di telapak tangannya yang terbuka.


"Aku membelikanmu ini. Setelah mendengar cerita Shera, aku malah semakin menyayangimu dan tidak ingin kehilanganmu. Aku bisa merasakan apa yang dia rasakan, jika waktu itu kau tidak membalas perasaanku, bisa saja aku sama sepertinya."


"Aku mengerti. Tapi aku tidak biasa dengan yang seperti ini."


"Kau harus biasa karena aku akan melamarmu."


Richi melongo mendengar perkataan Hugo. Dia sama sekali belum memikirkan tentang pernikahan. Lalu Hugo, saat masih duduk di kelas menengah, dia malah melamar seorang gadis.


Saat hendak menyematkan cincin itu di jari manis Richi, gadis itu langsung berkata, "Tapi Hugo, aku belum menerima lamaranmu."


"Apa? Yang benar saja? Cincin ini bahkan belum tersemat dengan benar!" Pekiknya kesal.


"Ya makanya itu, sebelum tersemat aku katakan padamu dengan jujur!"


"Kenapa? Bukannya kau kemarin bilang cinta padaku?"


Perdebatan berlangsung, dua orang itu seakan lupa bahwa mereka tidak hanya berdua disana.


"Bukan berarti aku mau menikah. Aku belum memikirkan sampai sana. Karena impianku masih panjang!" Cetusnya pada Hugo.


"Impian apa memangnya?"


"Aku akan melanjutkan sekolah militer, mengikuti jejak Ayahku."


"Hah? Jadi kau mau meninggalkanku selama dua tahun??" Tanya Hugo tak percaya.


"Bukan dua tahun, Hugo. Empat tahun."


"APAAAA!!!?"


TBC


○●○○


Weh, lama ya sekolahnya. Kasian atuh, si Hugo😭

__ADS_1


__ADS_2