Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
S2 - Taruhan Menikah


__ADS_3

...Bacanya sambil dengerin: Love Me Like You Do - Ellie Goulding...


Bisik-bisik mulai terdengar. Mereka menanyakan soal hubungan keduanya.


"Kalau aku menang, kau harus menikah denganku."


"Haa?" Semua yang ada di lapangan melongo mendengar itu.


"Kalau aku yang menang?" Tanya Richi dengan senyuman yang ia tahan.


"Kalau kau yang menang, aku pasrah, aku akan menikah denganmu."


"Yaaahahaha. Itu sih, licik." Tawa mereka semua, membuat Richi menggelengkan kepala.


Richi ingat momen dimana ia dan Hugo untuk pertama kali bertanding basket dan kalau Hugo menang, dia meminta Richi menjadi kekasihnya. Tapi kali ini, Hugo memintanya menjadi istri. Lucu sekali.


"Baiklah, baik. Begini saja. Kalau kau kalah, kau harus menikah denganku."


"Waaaaaahhh.." Seru selapangan.


"Kalau aku kalah..".Hugo mendekatkan tubuhnya, membuat Richi mendongak melihatnya. "Aku akan kabulkan semua, semuanya. Apapun yang kau inginkan."


"Uuuuuuuh.. keren sekali." Orang-orang di lapangan mulai berisik.


"Sebentar, sebentar.." Potong Andreas. "Kalian... pacaran?"


"Iya. Lebih tepatnya, dia akan menjadi istriku dan aku harus memenangkan pertandingan ini."


Andreas membuka mulut lebar. Richi berpacaran dengan Hugo Erhard?? Apa lelaki itu tahu siapa Richi?? Batinnya.


"Eee.. sebentar. Apa aku tidak salah dengar? Kau berpacaran dengan Richi, sejak kapan?" Tanya Andreas lagi. Rasa penasaran menggelitiki tubuhnya.


"Kenapa? Kau suka pada pacarku?" Tanya Hugo memasang wajah sangar.


"Aah. Tidak. Aku.. hanya penasaran, apa.. kau tahu siapa Richi ini?? Apa kau yakin, berpacaran dengannya??"


Richi melipat bibirnya, menahan supaya tidak tertawa melihat Andreas.


"Haah, kau ini. Mereka pacaran sejak SMA. Dia lebih kenal Richi dari pada kau!" Evan menarik leher Andreas untuk mundur.


"Apa kau bilang? Sejak SMA?" Suara Andreas tenggelam, kini Hugo kembali berhadapan dengan Richi.


"Bagaimana, kau setuju?" Hugo memastikan lagi.


"Deal, asal tidak ada kecurangan."


Hugo mengerutkan dahinya. "Tidak ada kecurangan dalam bermain basket di kamusku."


"Oh, ya? Bukannya dulu seharusnya aku menang, kalau saja Axel tidak menambahkan waktunya dengan curang?"


Hugo malah terkekeh mengingat kejadian itu. Kalau dipikir-pikir, semua ini terjadi juga berkat Axel.

__ADS_1


"Kali ini tidak akan ada kecurangan, sayang."


Richi mengangguk-angguk. "Kalau begitu, let's start..." Richi mundur beberapa langkah. Dibelakangnya sudah ada Evan, Andreas, dan beberapa teman lainnya.


Sementara dibelakang Hugo juga sudah bersiap.


"Apa yang mereka bicarakan?" Tanya salah satu gadis yang berdiri memperhatikan.


"Entahlah, kurasa mereka akan bertanding."


"Apapun itu akan mendukung Hugo. Ayo Hugooooo.." Teriak gadis itu.


Bola dilempar keatas, Richi dan Hugo berebut bola dan terjadilah pertandingan yang dianggap santai oleh Richi, dan serius bagi Hugo.


Richi berhasil merebut bola, memantulkannya beberapa kali lalu menembakkan ke ring.


"Yeaah!" Andreas memberi satu tos pada Richi. "Tembakan pertama yang hebat, Rich!" Pekiknya.


Richi berdiri di depan Hugo. "Mau menyerah? Aku akan belikan apapun yang kau inginkan." Ucap Richi meremehkan Hugo.


"Menyerah? Enak saja!" Hugo membuka jeket dan melemparkannya dengan asal, membuat para gadis berteriak heboh. Lalu ia berlari lagi dan berusaha merebut bola.


Richi dan Evan saling oper, namun sial, bola dari tangan Evan berhasil dirampas oleh Hugo. Lelaki itu berlari memantulkan bola dan BLAR! 3 point dari garis luar.


Hugo mendekati kekasihnya. "Menyerah saja dan menikah denganku, bagaimana?"


"In your dream." Balas Richi lalu menjulurkan lidah. Membuat Hugo gemas ingin menciumnya kalau saja ini bukan lapangan basket.


Richi bersiap mengambil posisi, tanpa ia sadari Hugo berdiri dibelakangnya. Saat gadis itu menerima operan bola, dia berbalik badan namun sial Hugo membuatnya terkejut dan bola berhasil direbut Hugo.


"Ambil kalau bisa."


Richi berdiri tepat di depan Hugo, dia bisa melihat baju tipis yang sudah basah itu benar-benar transparan dan membentuk tubuh Hugo yang sangat ia sukai itu.


"Hugo, ini serius!"


"Kau pikir aku sedang bercanda?"


Richi berjinjit lalu menarik baju tipis Hugo, dia mengecup dagu lelaki itu sembari sebelah tangannya meraih bola yang ada di tangan Hugo.


Hugo mematung sambil memegangi dagunya. Sementara Richi bersiap menembak dan..


"Yeaaaahhh.." Richi dan tim bersorak gembira.


"Kau kalah Hugo." Kata Richi, berdiri di hadapan kekasihnya.


Bukannya sedih, Hugo justru menarik gadis itu dan mengecup bibir Richi dengan gemas. Sejak tadi dia menahannya, tapi karena sudah kalah, tidak ada salahnya mengambil satu keuntungan dihadapan para lelaki yang ada di lapangan, berharap mereka sadar siapa yang menjadi kekasih seorang Richi Wiley.


Bukannya protes, Richi justru membalas ciuman Hugo. Dia juga ingin menunjukkan pada gadis-gadis yang sejak tadi berisik, bahwa yang mereka soraki adalah kekasihnya. Mereka harus menggaris bawahi itu.


Teman Richi yang lain memilih bubar barisan dan membiarkan dua orang itu mengisi lapangan. Mereka kini sudah tahu kalau dua orang itu rupanya sepasang kekasih sejak lama dan di mata mereka, kedua orang itu sangat serasi satu sama lain.

__ADS_1


Gadis-gadis yang sejak tadi bersorak spontan terdiam melihat keanehan selama pertandingan berlangsung. Jadi, perempuan itu kekasih Hugo Erhard?


"Aah.. aku kesal melihatnya." Kata yang lain dan memilih duduk kembali. Mereka membicarakan hal lain karena topik utama sejak tadi sudah tidak enak untuk dibicarakan.


Mata Sarah terus menatap kearah dua orang yang masih berciuman. Ia menghela napas. Tak bisa ia pungkiri, baju basah yang dipakai Hugo membuat lelaki itu sungguh seksi.


"Beruntung sekali. Bagaimana caranya supaya dapat yang seperti Hugo Erhard?" Gumamnya.


"Ya harus seperti Richi." Jawab Joy santai sambil mengunyah cemilannya.


...🦋...


Kekalahan Hugo mengantarkannya ke restoran tangga seribu. Richi bilang, dia akan mengatakan apa yang ia inginkan disana. Hugo jadi penasaran, apa yang diminta gadis itu sampai harus menuju ke tempat dimana ia dan Richi pernah datangi.


Ini bukan sebuah kencan. Karena gadis itu memakai kets dan celana ripped jeans favoritnya. Tak lupa kemeja yang tak dikancing dan topi putihnya. Lengkap sudah, Richi versi feminin entah kemana malam ini.


Setelah sampai diatas melalui elevator, Richi dan Hugo duduk di dekat tembok pembatas. Hidangan pun sudah datang, membuat Richi yang sudah lapar itu langsung melahap makanan yang pernah diprotes Hugo karena terlalu mahal.


"Kau mau apa, sayang? Kalau cuma makan disini, sangat kecil bagiku."


Richi tersenyum mendengarnya. Padahal dulu menggerutu karena mahal. Untunglah lelaki itu sekarang lebih royal dan memang lelaki hebat yang tidak pernah perhitungan.


"Keinginanku ini.. apa kau akan kabulkan?" Tanya Richi memastikan. Lalu Hugo mengangguk serius.


"Aku pasti kabulkan. Kau tidak percaya padaku?"


Richi meletakkan sendoknya, lalu menatap serius kearah Hugo, membuat lelaki itu berdetak. Tak seperti biasanya, Richi kali ini nampaknya sangat serius.


"Keinginanku ini bisa saja memberatkan bagimu. Karena aku.. ingin menikah denganmu."


Hugo spontan berdiri. Dia menatap tak percaya kearah Richi.


"A-apa kau bilang..."


"Aku-ingin-menikah-denganmu." Ulang Richi dengan menekan kata perkata.


"Hugo, duduk dulu. Aku belum selesai." Richi menyuruhnya duduk, dengan kaku laki-laki itu duduk.


"Chi, aku pikir kau mau meminta apa. Itu artinya kalah menang aku tetap menikahimu!"


"Begini, Hugo. Dengarlah dulu." Richi menarik napas. "Aku belum berniat menikah sekarang, tapi aku mengatakan ini karena setelah ini, artinya kau dan aku menjalani keseriusan. Drama panjang, komunikasi, dan apapun yang selama ini menghambat harus kita atasi dengan benar."


"Aku serius padamu sejak awal, kau bercanda?"


Richi menggaruk dahinya. Memang benar, itu Hugo. Beda dengan dirinya yang baru benar-benar percaya seratus persen pada Hugo dalam waktu dekat ini.


"Kalau gitu, ayo menikah setelah wisuda."


Hugo tertawa sambil mendongak menatap langit. Dia seperti tak percaya dengan apa yang Richi baru saja katakan. Hugo menggenggam tangan Richi dengan erat.


"Astaga, sayang. Aku sangat serius padamu, dan tentu aku mau. Baiklah, kita menikah tiga tahun lagi, hm?"

__ADS_1


Richi mengangguk setuju. Syukurlah kalau Hugo seserius itu padanya. Sejujurnya perasaannya pada Hugo semakin hari semakin dalam dan itu yang membuatnya mulai takut jika suatu hari Hugo meninggalkannya, mungkin dia tidak akan sanggup menjalani hari-harinya.


TBC


__ADS_2