
Di foto itu, wajah Richi tampak jelas dengan make up tipis dan rambut panjangnya. Tentu, foto-foto itu mendapatkan banyak reaksi dari para siswa Oberon yang bahkan ikut membagikan postingan itu.
Apalagi wajah dan penampilan Richi sangat mempesona. Siapapun yang melihat akan merasa kagum. Terlebih gadis itu terasa berbeda dengan realita yang mereka lihat secara langsung. Tomboi dan tak peduli penampilan.
'Serius ini Richi Darrel? Sumpah, cantik banget!'
'Astaga, aku tidak sangka ini Richi. Luar biasa pesonanya👏'
'Cantik sekali. Tidak sia-sia aku mengidolakannya😭'
'Coba sekali saja seperti itu ke sekolah. Aku yakin dialah the real Queen of Oberon's Beauty'
'Tidak salah aku mengidolakan kak Richi dari awal masuk Oberon.'
'Hei, Anonim! Apa kau mengupload ini sudah izin?'
'Aku yakin Richi Darrel tidak akan senang fotonya tersebar.'
Komentar-komentar itu didominasi para siswa yang merasa takjub. Tapi tentu saja, hal itu semakin membuat Richi kesal.
"Siapa orang ini? Bagaimana bisa??" Bella bertanya dengan mata yang membulat menatap layar ponselnya.
"Ada apa?" Tanya Clair yang baru datang dari dapur membawa senampan minuman untuk Richi dan Bella.
"Lihat, ada orang gila yang mengunggah foto Darrel."
"Ya ampun. Bukankah itu foto tahun lalu? Siapa yang menyebarkannya?" Tanya Clair.
"Tidak bisa! Aku harus menemukan orang ini apapun ceritanya!" Ucap Richi dengan geram. Ini sudah menyalahi dan melanggar privasinya.
"Ah, mohon maaf ibu-ibu, aku sangat ingin bergabung tapi majikan sialan ini terus menelponku." Ujar Olivia yang menggenggam erat ponselnya yang bergetar sejak tadi.
"Yaa, pergilah." Clair mengibaskan tangannya menyuruh Olivia cepat pergi. Gadis itu langsung berlari kecil keluar kafe.
Sementara Richi, wajahnya masih terlihat suntuk.
"Ini nama host yang dipakai hacker untuk meretas cctv kemarin. Aku dan Olivia akan mencari pemiliknya. Kau tenang saja." Kata Clair pada Richi.
"Nama host? Siapa?" Tanya Richi.
"Dachi Moon."
"Hah?" Richi seperti pernah membaca nama itu. Tapi dimana, ya.
"Kenapa? Kau tahu sesuatu?" Tanya Bella.
__ADS_1
"Entahlah. Agak familiar bagiku."
"Ck. Bagaimana, sih. Dachi itu posisi kuda-kuda dalam olahraga karate." Tukas Clair.
"Ooh, jadi bisa saja si gila itu pemain karate, begitu maksudnya?" Tanya Bella mencoba cocokologi.
"Ya, aku tidak tahu. Yang jelas, IP ini juga ada di Oberon."
"Apa tidak bisa kau temukan siapa pemiliknya, Clair? Kau tinggal meletakkan Ip-nya di web sekolah saja supaya nama siswa itu langsung keluar, kan?" Tanya Bella.
"Kau pikir semudah itu? Ini tuh, terkunci. Menemukan nama host-nya saja sudah jago tuh, si Olive. Sabar, ini akan terkuak sebentar lagi. Aku terus mengawasinya."
Tapi sungguh, Richi tidak sabar dan ingin segera menghajar siapapun yang berani mengusik privasinya. Jika tidak cepat, dia tidak tahu apa yang akan diunggah orang gila itu lagi nantinya.
...💢...
"Lama, ya!"
Padahal Olivia bahkan belum berhenti dari sepedanya. Tapi lelaki itu sudah mulai mengomel.
"Maaf." Sahutnya demi menyudahi peperangan.
Olivia melipat sepedanya, menaruhnya dalam bagasi sementara Daren sudah duduk di depan sambil memainkan ponselnya.
"Mau kemana?" Tanya Olivia. Dia mulai menjalankan mobilnya.
"Salon."
Olivia mengangguk-angguk walau dalam hatinya tertawa, lucu baginya jika laki-laki pergi ke salon.
Sesampainya di salon yang Daren tunjuk, Olivia diajak ikut masuk oleh Daren. Mereka disambut si pemilik salon yang tersenyum hangat pada Daren, juga dua karyawan lain di belakangnya.
"Salam, tuan muda Daren."
"Malam ini aku ada pesta." Ucap Daren langsung dengan mata yang menatap Olivia. Perempuan itu pula tengah asyik menatap dekorasi salon yang mewah.
"Mari, nona. Ikut saya."
"Hm?" Mata Olivia melirik Daren dan si pemilik salon secara bergantian.
Dua orang staff salon itu menuntun Olivia.
"Ah, maaf. Bukan saya, tapi dia." Tolak Olivia pada kedua perempuan yang sudah memegangi lengannya.
Daren, dengan dagunya menyuruh orang-orang itu membawa Olivia.
__ADS_1
"Hei, hei. Kenapa aku??"
Teriak gadis yang diseret masuk. Daren melirik jam di tangannya, masih ada waktu untuknya menunggu sebentar sampai Olivia selesai.
Olivia pula, mau tak mau menurut saat dua tangan perempuan itu menekan tubuhnya untuk duduk.
Dia menatap dirinya di depan cermin besar sementara dua orang itu langsung memulai aksinya. Yang satu, membereskan bagian rambut dan yang satunya mulai memoles wajahnya dengan make up.
Olivia agak kesal karena Daren melakukan itu sesukanya. Padahal Olivia tidak berniat ikut dalam pesta sebab dia hanya ingin mengantar Daren sebagai supirnya.
Olivia mulai berpikir, apa Daren mengajaknya pergi ke pesta itu? Apa dia tidak jadi pergi dengan Camilla? Senyum tipis mulai muncul di wajah Olivia. Benarkah, Daren memintanya menemani ke pesta? Apa dia tengah malu untuk meminta secara langsung? Entahlah, yang jelas saat ini Olivia mulai menikmatinya.
Setelah satu jam berlalu, Olivia berdiri tegak di depan cermin. Kini dirinya sudah berbeda dari sebelumnya. Olivia pun tampak kagum dengan perubahan dirinya.
Gaun putih dan make up tipis membuatnya tampak berbeda. Benarkah itu dirinya? Olivia sampai menyentuh wajahnya di cermin. Terlihat jauh lebih cantik dan dia merasa lebih percaya diri apalagi jika harus berdampingan dengan Daren nantinya.
Pemilik salon dengan bangga berjalan, membawa Olivia ke tempat dimana Daren tengah duduk membaca majalah.
"Tuan muda Daren, sudah selesai."
Daren menatap Olivia beberapa saat. Dia diam melihat wajah Olivia yang semakin cantik. Lalu ia berdiri dan memutari Olivia seolah ingin menilai penampilan gadis itu dari depan dan belakang.
Daren mengangguk-angguk lambat. "Baiklah. Ayo."
Tanpa menunggu, Daren pergi begitu saja, membuat orang-orang disana agak bingung kenapa Daren tidak menggandeng kekasihnya.
Olivia berjalan mengikuti Daren. Lelaki itu sudah masuk ke dalam mobil yang kini malah duduk dibelakang.
Olivia menghela napas. Dia mengira, Daren yang akan membawa mobilnya. Ternyata malah sudah berubah kembali ke setelan pabrik, duduk dibelakang persis bos.
"Apa kita langsung ke tempat pesta?" Tanya Olivia. Dia mengencangkan sabuk pengamannya.
"Aku harus menjemput Camilla dulu."
Olivia langsung menoleh ke belakang. "Menjemput siapa?"
Apa dia tidak salah dengar? Bukankah dia di dandani seperti itu karena Daren akan membawanya pergi ke pesta itu? Tapi kenapa malah menjemput Camilla segala.
"Kau tuli? Aku bilang, jemput Camilla."
Napas Olivia terasa tercekat. Sial sekali, jadi untuk apa dia diajak kesalon segala? Batin Olivia.
Olivia menjalankan mobil dengan perasaan kesal. 'Apa tujuan Daren sebenarnya? Apa dia tengah mempermainkan perasaanku?' Batinnya.
Sementara Daren, dia terus menatap gadis yang tengah mencengkram erat kemudi. Dia tersenyum melihat perempuan yang begitu cantik itu. Jika Olivia seperti itu, dia akan sangat senang membawa Olivia ke salon terus menerus untuk membuat gadis itu semakin cantik dan mempesona.
__ADS_1