
** sepertinya PENulis agak sulit menggambarkan cerita yang ada di otak ini. Agak rumit, semoga kalian mengerti ya, Pen.
~
Richi mengaktifkan earphone-nya lagi. Ada hal yang harus ia pastikan sebelum menghancurkan istana Henry Draw dengan basoka yang ia bawa.
Menurut cerita Evan, Henry membangun rumah itu dengan lapisan anti peluru. Tentu pistol-pistol kecil tidak akan mampu menembus isi rumah. Untungnya Richi sempat menelepon rumah dan meminta pengawal membawakan senjata roket itu. Bukan tanggung, Richi akan membuat rumah itu rata dengan tanah.
"Komander, kau dengar aku?"
Suara Richi langsung disambut oleh kakaknya.
'Kau dimana, hah?' Nyaring sekali, membuat telinga Richi terasa berdengung.
"Aku akan beraksi dari depan. Apa Evan sudah sampaikan semuanya? Ayah harus menungguku masuk sebelum menyerang."
'Kau harus memberitahuku apa rencanamu!' Pekik Ricky dari seberang.
"Bawa ibu keluar dalam 10 menit, kak. Ingat kata kunci yang diberikan Evan dan baik-baiklah disana. Jangan buat celah sampai aku yang memulainya dari depan."
Ricky mendesah kasar mendengar titah sang adik. Bisa-bisanya dia diatur oleh anggota sendiri. Walau dia mengakui, soal strategi, adiknya itu memang jagonya. Tapi, mengatakan hal itu di earpiece yang didengar semua anggota, bukankah agak memalukan baginya?
Sementara Richi, dia menyandarkan tubuh dan mengatur napas sedalam-dalamnya. Tenaganya belum cukup pulih dan rasa sakit masih terasa di tubuhnya. Tapi jika dia melewatkan hal seperti ini, justru merugikan dirinya. Apalagi ada yang harus ia pastikan, yaitu keselamatan ibunya.
Richi sudah menyusun rencana. Dia tidak akan banyak bergerak, hanya mengandalkan basoka di tangan. Dia meminta Hugo, Isac, Daren, dan Axel mengcover dirinya selagi dia membuat kekacuan nanti.
Justru Wiley dan seluruh pasukannya sudah beradaptasi dengan tempat. Mereka bahkan bertiarap dan bersembunyi di semak dan pepohonan.
Bukan hal berat menerobos rumah Henry walau beberapa anggota militer terlihat menjaga disana dengan senapan laras panjang. Hanya saja, mereka tak ingin membuat kekacauan hingga mengancam keselamatan sandera.
Thomas Wiley sejak tadi mendesah kesal. Lama betul Richi datang. Dia tidak tenang melihat bangunan megah itu, yang berisikan istrinya. Tapi, dia sendiri tidak bisa melakukan banyak hal selain menunggu sang anak perempuan.
Dibagian belakang, sekitar dua belas orang sudah meregang nyawa tanpa peluru. Valiant berhasil melumpuhkan satu-satu dengan apik dan rapi tanpa membuat suara bising.
Ricky dan yang lain mengambil alih tugas orang-orang yang berhasil mereka lumpuhkan. Kini gilirannya yang harus bergerak keatas demi menyelamatkan sang ibu.
"Aku tidak jamin kalau ini akan berlangsung baik." Ucap Ricky melalui earpiece-nya.
'Maksudnya?' Tanya Richi dari seberang.
"Bisa saja aku menerobos masuk dan membunuhi semua yang ada di depan mataku."
'Lakukan saja sesuai feeling.' Jawab Richi santai.
__ADS_1
Ricky berjalan perlahan. Dia bersama Jonathan dan Simon dibelakangnya. Mereka memakai atribut Stripe tapi bukannya berjalan santai seperti pengawal rumah, mereka justru mengendap-endap bagai penyusup walau memang penyusup.
Ricky menemukan satu pintu yang membuatnya curiga dengan bentuk daun pintu yang berbeda dari yang lain. Ricky pun berusaha membuka, namun ternyata dikunci.
"Hei, apa yang kau lakukan?"
Suara seseorang mengagetkan ketiganya dan langsung menodongkan senjata, jelas membuat anggota Stripe itu mengerutkan dahi.
"Apa-apaan, kau!" Pekiknya pada Ricky dan yang lain.
"Aah.. Maaf.." Ucap Jonathan menurunkan senjatanya.
Lelaki asing itu tampak curiga. "Visione?" Ucapnya memastikan.
Bola mata Ricky memandang ke atas, dia tengah mengingat apa kata kuncinya. "Non... En.." dia menyenggol lengan Jonathan.
"Se Ezinole he?." Jawab Jonathan asal.
"Yang bener!" Sentak Ricky setengah berbisik.
"Aku tak ingaat!!" Bisik Jonathan balik.
"Non entere de non è ezinole." jawab Simon dengan tenang karena merasa apa yang dia hapal tidak sia-sia.
"Salah!" pekiknya dan spontan membuat Jo dan Ricky menatap kesal pada Simon.
"Kok salah?" Tanya Jonathan.
"Mana aku tahu!" Jawab Simon cepat.
"Hah, sial. Kalian penyusup!" Lelaki itu mengangkat senjata, tetapi tendangan keras Simon membuatnya tersungkur. Tanpa menunggu, Jonathan mengunci lehernya hingga tak bergerak lagi.
~
Toktok..
Richi menoleh kebelakang, Hugo mengetuk kontainer.
"Richi. Kita sudah sampai!" Teriak Hugo dari luar dan Richi menyiapkan dirinya.
Guncangan mobil terasa mengecil. Nampaknya Hugo sudah sampai di depan gerbang.
Ada 7 orang penjaga dengan senjata lengkap di tangan mereka. Salah satu diantaranya mengintip ke dalam mobil dan mendapati dua orang di dalam dengan atribut Stripe dan masker hitamnya.
__ADS_1
"Visione." Ucap lelaki itu.
Hugo melirik Daren sekilas, lalu menatap penjaga itu cukup lama. "Non entrare se non è eccezionale."
Penjaga itu mundur beberapa langkah, mempersilakan Hugo masuk. Daren spontan tertawa.
"Sial, aku yang menciptakan kalimat itu. Bagaimana bisa mereka menggunakannya." Umpat Hugo sambil menggelengkan kepala.
"Itu sebabnya kau harus merebut Stripe kembali." Sahut Daren ikut terkekeh.
Disaat bersamaan, dari luar pasukan sang ayah menyerbu dan meluncurkan serangan, menembaki semua pengawal dan orang-orang yang langsung keluar saat mendengar beribu senjata ditembakkan.
Terjadi perang, Hugo dan Daren bahkan tidak keluar dari mobil dan berusaha menembaki orang-orang bersenjata diatas atap gedung.
Daren memutar mobil, mengarahkan box kontainer ke arah pintu rumah supaya membuat Richi leluasa.
Pintu rumah itu terbuka tepat setelah Richi menendang kuat pintu mobil box-nya.
Henry, dia terbelalak saat melihat Richi berjalan menyeret basoka yang berat itu.
Dia mulai mengangkat senjata dan mengarahkannya ke pintu yang terbuka. Spontan Henry menutup pintu saat ia melihat Richi mulai membidik ke arahnya.
"Welcome your guest, Sir!" Teriak Richi dan... (sambut tamumu, tuan!)
DUAR!
'Anj- Kerjaan siapa ini ?!!' Pekik Ricky dari earpiece. Dia dan anggota yang berada di lantai dua ikut tiarap.
Peluru basoka sukses membuat guncangan dalam rumah. Tanpa ambil jeda, Wiley dengan pistol dan pisau di masing-masing tangan, masuk ke dalam pintu yang masih mengepulkan asap.
"Kak, kau lama sekali." Ucap Richi dari earpiece. Dia duduk santai di mobil box dengan kawalan Hugo dan Daren, serta Isac dan Axel yang baru saja muncul.
Pasukan Wiley ikut mengepung rumah juga sebagian menjadi cover bagi sang ayah.
'Lama kau bilang?! Aku bahkan tidak ingat apa yang anak itu bicarakan tadi!' Pekik Ricky dengan masih dalam posisi tiarap.
Mendengar itu, Richi mendesah kesal. "Apa kita masuk saja?"
"Tidak. Kau disini. Aku yang akan masuk." Jawab Hugo. Dia ingin melindungi gadis itu dari bahaya lain.
"Oh. Kau tahu aku tidak bisa menurut soal itu kan, Hugo." Sahut Richi dengan senyuman lebarnya.
Richi mengaktifkan lagi earpiece-nya. "Bisa kuminta timku? Aku ada di depan."
__ADS_1
'SIAP!' Serentak Bella, Clair, dan Olivia berbarengan.