Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Masalah Hugo


__ADS_3

Saat bermain, hubungan antara Hugo dan Richi sangat akur. Di mata teman-teman yang lain, mereka benar-benar klop.


Sakin seriusnya supaya tidak kalah, mereka membangun hubungan yang baik tanpa sadar. Bisa dilihat dari cara Richi mengoper bola pada Hugo di waktu yang tepat. Membuat poin mereka berada jauh di atas tim Daren dan kawan-kawannya.


Sesekali mereka saling Tos saat Hugo berhasil mencetak 3 poin atas operan dari Richi.


Di pihak lawan, mereka berupaya menang agar dapat menyaksikan Richi dan Hugo berkencan. Hanya satu orang yang terlihat malas saat bermain. Yaitu Emerald.


Entah mengapa badannya terasa berat. Dia bahkan berharap agar timnya kalah saja. Dan Richi, tidak perlu berkencan dengan Hugo. Toh, Richi dan Hugo juga terlihat tidak menginginkannya.


Poin tim Daren sudah mulai jauh di bawah. Sebab Hugo sering membuat triple poin. Sedangkan Richi cukup pandai melakukan gerakan tipuan. Dia jago meliuk cepat melewati dua orang guard dan melakukan short shoting.


Daren memberi kode pada Eric, salah satu anggota tim Hugo. Dia membisikkan pada Eric sesuatu yang singkat namun Eric cukup paham.


Eric memulai dengan hanya lari kesana kemari seperti sibuk sendiri. Dia selalu minta operan bola. Namun saat Richi mengoper bola padanya, dia pura-pura lengah dan selalu di rebut Daren dengan mudah.


Richi sempat memperhatikannya. "Hei, Eric. Jangan melamun".


"Ah, iyaa". Ucapnya pura-pura sadar.


Begitu terus hingga poin mereka mulai tertinggal.


"Kau bisa main, kan?" Teriak Hugo pada Eric.


"Sorry, man. Sorry". Ucapnya mundur karena takut Hugo menghantamnya.


Ya, seperti itulah hingga mereka kalah. Entah kenapa, Hugo pun tidak bisa menyalahkan Richi sebab diapun terlihat benar-benar berusaha.


"Ah. Kalian kalah". Daren terduduk di lantai lapangan. Deru napasnya masih terdengar. Namun wajahnya terlihat senang.


Hugo dan Richi hanya berdiam. Wajah mereka sama-sama kesal dan marah.


Terlebih Richi. Karena Hugolah yang deal sendiri tanpa kompromi.


"Haaahh" Richi terduduk di atas lantai lapangan. Napasnya terengah-engah. Komplain sekarang pun tidak berguna. Dari pada capek di sekujur tubuh, dia lebih memikirkan nasibnya.


"Ah.." tiba-tiba karet rambutnya putus. Rambutnya yang sedikit basah terurai. Namun ia membiarkannya saja. Suasana hatinya sedang buruk. Membiarkan rambut berkibar di terpa semilir angin adalah hal yang tepat.


"Baiklah, Hugo. Kami tunggu ya.." Suara Daren terdengar menggoda diri Hugo.


Hugo hanya diam.

__ADS_1


"Sudahlah, aku dulan". Richi sebal mendengar itu. Karena tidak pernah dalam dirinya terbayang untuk kencan dengan Hugo. Berkenalan pun, dia tak berminat. Apalagi berkencan. Hah. Rasanya dia sangat sial.


"Mau aku antar, Chi?" Emer mendekat. Dia tahu gadis ini sedang tidak enak hati.


"Tidak kak. Aku pakai ini aja." Richi meletakkan Skateboard-nya.


"Angin malam kurang bagus untuk tubuh". Mungkin dengan alasan itu, Richi mau diantar.


Dia malah tersenyum dan meletakkan kaki kanannya di atas skateboard "Memang mau merasakan angin. Duluan ya, semua".


Kaki kirinya mendorong supaya benda itu berjalan. Dia terus melakukan itu sampai di rasa skateboard miliknya melaju sendiri karena jalanan yang sedikit menurun.


Rambutnya yang panjang itu terurai kebelakang. Richi terlihat menikmati itu.


Tak sadar, Hugo memandangnya. Dia melihat Richi sebenarnya gadis yang amat cantik. Namun tingkah lakunya sangat jauh dari cerminan cantik versi dirinya. Apalagi saat rambutnya terurai. Hal yang paling Hugo sukai pun ada di diri Richi.


Sebenarnya, dalam hati Hugo dan Richi telah terkikis sedikit rasa benci sebab ternyata keduanya merasa klop saat bermain basket.


🐳🐳🐳🐳


Richi tengah lemas. Dia hanya tidur tiga jam tadi malam. Walau kemarin badannya letih, tapi entah kenapa matanya sulit di ajak kompromi. Padahal tidak ada sesuatu yang ia pikirkan. Sekarang, di jam istirahat pertama, Kelopak matanya memaksa untuk turun dan ia menurutinya. Dia tertidur untuk setengah jam saja.


Tadi malam setelah pulang dari bermain, Ayahnya marah padanya. Karena dirinya tidak pernah mengikuti apa yang ayahnya minta. Perdebatan hebat terjadi. Ayahnya sangat marah hingga hampir memukulnya. Hal itu terbayang terus di pikirannya.


Dia terlihat tidak bernapsu. Makanan di depannya hanya di aduk. Masalah itu mengganjal di pikirannya. Sesuatu yang berat.


~


Sepulang sekolah, Richi dan Emer beserta teman lainnya sedang asyik bermain basket. Sesekali Emer mengerjai Richi yang tinggi badannya masih di bawahnya.


Dia sering mengangkat bola setinggi mungkin di atas tangannya supaya Richi tidak bisa merebutnya. Terkadang, Richi perlu bermain curang agar ia bisa mendapatkan bola dari Emer.


Kelakar mereka yang bermain basket sambil tertawa lebar terdengar hingga seluruh ruang sekolah.


Axel sudah mengajak Hugo pulang. Namun nampaknya, anak itu tidak juga mau bergerak. Dia hanya bermain game di ponselnya.


"Hugo, apa kau tak apa jika kami pulang duluan?" Tanya Daren


"Hm. Pergilah. Sebentar lagi aku juga selesai".


Teman-temannya pun keluar kelas. Mereka sedikit heran dengan Hugo hari ini.

__ADS_1


"Hugo pasti bertengkar lagi dengan ayahnya" Tebak Axel yang sudah paham bagaimana temannya itu jika sedang berdebat dengan sang ayah.


"Aku juga berpikir demikian". Ucap Isac sambil melihat ke bawah, tempat Richi bermain basket. "Dengarlah, mereka terlalu berisik".


"Biarlah. Toh, sudah bukan jam belajar". Kata Daren yang hanya berjalan dan mengabaikan ucapan Isac.


Satu jam kemudian, Richi dan Emer sedang beristirahat. Beberapa dari mereka sudah pulang.


"Ayo, aku akan mengantarmu". Emer berdiri setelah menyusun barangnya.


"Duluan saja kak. Aku sudah dijemput di depan." Richi belum juga bersiap. Dia masih membiarkan semilir angin menerpa baju olahraganya yang sudah basah. Badannya masih ingin terduduk santai di lantai vinil lapangan.


"Baiklah. Aku duluan, ya."


Emer berjalan meninggalkan Richi yang sudah duduk sendirian di sana. Setelah beberapa saat, Richi mulai mengemas barang. Namun, tiba-tiba ia mendengar suara yang berisik.


BRAK!!


Richi refleks melihat ke atas, dimana suara itu berasal.


"Arrghhhh BRAK!"


Lagi, Richi mendengar seseorang berteriak lalu menghancurkan barang dengan sangat keras.


Richi tidak berniat melihat sebab ia khawatir akan terjadi apa-apa jika dia naik ke atas. Dia hanya menatap dari bawah ke sumber suara. Sepertinya ada di lantai dua, kelas paling ujung. Artinya, itu kelas Hugo.


BRAK! Suara pintu di banting cukup keras. Lalu muncul sosok Hugo dari dalam.


Anehnya, dia seperti tahu ada yang melihat dari bawah. Dia berdiri menjulang di pinggir pagar pembatas.


Mereka bertatapan. Hugo terlihat sangat marah.Terlihat dari rahangnya yang mengeras. Mungkin ia melampiaskannya ke barang-barang itu. Sebab sekilas Richi melihat temannya yang lain sudah pergi sedari tadi.


Dia buang muka. Lalu berjalan menuju tangga turun. Melihat itu, Richi kembali membereskan barangnya.


"Apa kau mendengarnya tadi?"


Suara seseorang terdengar tiba-tiba hingga membuatnya tersentak.


Richi melihat Hugo sudah berdiri tepat di depannya.


^^^To Be Continued.....^^^

__ADS_1


__ADS_2