Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
STRIPE (1)


__ADS_3

Richi berhenti di sebuah lapangan basket tak jauh dari kafe Clair. Lapangannya sudah dipenuhi dengan daun kering dan terlihat usang. Lapangan itu tampak jarang digunakan oleh orang-orang sekitar, karena bangunan-bangunan megah disekelilingnya sudah menyediakan lapangan basket yang lebih bagus.


Dia keluar dan mengambil satu bola di bawah bangku tepi lapangan. Angin malam membuat dedaunan tua di pohon-pohon berguguran dan melayang ke lapangan.


Richi menoleh saat mendengar suara motor berhenti tepat disebelah mobilnya.


Hugo turun dari motornya. Dia memperhatikan tempat yang menjadi tujuan Richi.


"Kau mengikutiku?" Suara Richi tidak digubrisnya. Matanya sibuk menyapu setiap sudut tempat. Terlihat tembok-tembok sudut lapangan yang sudah penuh pylox bertuliskan nama-nama kelompok radikal.


"Kau tahu tempat ini juga rupanya". Hugo berjalan mendekat. "Tempat ini berbahaya. Banyak kelompok jahat yang suka berulah disini".


Richi mengernyitkan alisnya dan hanya diam saat Hugo merebut bola dari tangannya. Dia melempar bola ke ring hingga masuk.


"Kau, sebenarnya siapa?" Richi menatap Hugo yang asyik sendiri men-dribble dan menembakkannya ke ring. Bola yang masuk terpantul menjauhi Hugo.


Hugo menoleh ke arah Richi yang masih berdiri di tempatnya.


"Aku?" Hugo dengan cepat mengambil bola yang mengguling menuju kaki Richi. Dia kini berdiri tegak dihadapan gadis itu.


"Aku Hugo Erhard." Ucapnya lalu tersenyum. Melempar bola kebelakang tanpa melihat. Dan bola itu masuk tepat ke dalam ring.


Melihat Richi yang melongos karena jawabannya, Hugo tertawa dan berlari kecil mengambil bola yang memantul-mantul di bawah tiang ring.


Hugo lalu melemparkan bola ke arah Richi. Gadis itu berhasil menangkapnya lalu men-dribble hingga menuju ring dan memasukkannya ke dalam.


Brak! Bola itu jatuh dari ring dan terpantul lagi.


"Aku serius." Ucap Richi dengan nada yang lebih tinggi. Dia berbalik melihat Hugo yang berada di belakangnya.


Hugo men-dribble bolanya lagi. Mendekat dan melompat sambil memasukkan bola ke ring, ia menggantungkan tangannya pada keranjang basket itu.


"Happ!" Hugo berhasil mendarat setelah tubuhnya mengayun di atas ring.


Dia berdiri menghadap Richi. Jarak mereka sangat dekat hingga dia harus menunduk melihat wajah gadis itu. "Justru sepertinya kaulah yang tidak terkejut saat aku mengatakan kelompok kriminal ada disekitar sini". Ucapnya dengan nada rendah. Membuat mata Richi berkedip beberapa kali.


BRAK!


Hugo dan Richi reflek melihat bola yang tiba-tiba terbang ke dalam ring.


"Ha ha ha. lihat, siapa yang ada disini." Suara tawa seorang laki-laki membuat mereka berdua melihat ke arah sumber suara.


Richi yang berdiri di depan Hugo, bisa mendengar erangannya saat melihat siapa orang-orang disana. Tangan Hugo mulai mengepal keras.


"Hei, sudah lama sekali, kawan. Ada tujuan apa kemari?" Lelaki itu berjalan ke arah mereka. Richi memperhatikan sekitar. Mereka ada 6 orang, memakai jeket yang warnanya sama.


"Bagaimana kalau kita duduk dan bercerita sebentar, hm?"


Lelaki itu terus melangkah. Richi bisa lebih jelas melihat wajahnya. Sepertinya, dialah ketua diantara mereka. Wajahnya yang paling seram. Ada gores seperti bekas jahitan dari ekor mata hingga dekat telinganya.


Hugo menarik tangan Richi dan membuatnya berdiri dibelakang tubuhnya. Sekilas Richi melihat wajah Hugo yang sudah penuh amarah.

__ADS_1


"Oh, apa aku tidak peka? Kau membawa gadis. Bagaimana mungkin kita bisa mengobrol bebas?" Seringai diwajahnya muncul diiringi tawa kecil dari teman-temannya. Richi sangat tahu apa maksud 'mengobrol' oleh orang-orang itu.


"Hei, tuan Hard. Apa kau sudah keras seperti namamu?" Salah satu dari mereka menyeletuk, lalu diiringi tawa yang lain.


"Bagaimana mungkin dia lemah, Jack. Dia kan, masih bagian dari kita". Jawab yang lain menanggapi pertanyaan orang yang bernama Jack.


"Menjauhlah kebelakang. Jangan berhadapan dengan mereka". Ucap Hugo pelan pada Richi dibelakangnya.


"Ayolah, aku hanya ingin berkenalan." Lelaki itu berjalan lagi mendekat hingga jarak mereka hanya dua langkah.


Lelaki itu memiringkan kepalanya untuk melihat Richi yang berdiri di belakang Hugo. Richi yang sejak tadi mendengar Hugo adalah bagian dari mereka, mulai penasaran.


"Selera tuan Hard memang sangat bagus. Lihatlah kaki jenjangnya itu. Kalian bisa lihat?" Ucapnya kepada teman-teman dibelakangnya. "Sangat seksi."


Hugo melayangkan tendangan keras di ulu hatinya hingga lelaki itu terjungkal kebelakang. Mulutnya mengeluarkan darah. Dia memegang perutnya yang sangat nyeri.


"Sialan! Kau selalu sesuka hatimu!" Salah satu temannya menggertakkan giginya geram melihat Hugo.


Mereka merubah posisi hingga mengepung Hugo dan Richi.


Salah satu dari mereka yang membawa kayu sebagai senjata berada di belakang Richi.


Richi nampaknya tidak bisa diam. Walau Hugo melarangnya, dia mana mungkin melewatkan hal yang seperti ini. Menjadi perempuan yang pura-pura lemah dan berlindung dibalik tubuh laki-laki.


Richi membalikkan badan dan membelakangi tubuh Hugo. Dia memandang laki-laki yang memegang kayu di tangannya. Lelaki itu menyeringai melihat Richi dari atas hingga bawah.


"Cepat, Hajar dia dan seret gadis itu kemari!" Titah lelaki yang mulutnya penuh darah. Dia menginginkan Richi sebagai sandraan supaya Hugo menyerah.


"Nona, kau cantik sekali. Izinkan aku menyentuh pahamu yang mulus itu sekali saja". Ucap lelaki di hadapan Richi dengan senyum kotornya.


"Kau urus saja yang didepanmu.."


BRAKKK!


"Richii!"


Teriak Hugo saat mendengar pecahan Kayu yang melayang ke arah Richi.


"Aargh" Untungnya, lengan kanan Richi menangkis dengan cepat. Richi mengerang karena denyut di tangannya sangat terasa.


Tiga orang lelaki di depan Hugo pula, ikut menyerang. Dengan kuat, Hugo menghadapi ketiga orang di depannya itu.


Richi lengah. Dia tidak mengira Lelaki itu menghajar saja tanpa peduli yang dihadapinya perempuan atau laki-laki.


"Assshh". Amarah Richi berkecamuk. Lelaki di depannya main pukul tanpa melihat situasi Richi yang belum bersiap. Berani-beraninya dia berbuat begitu pada perempuan. Batinnya.


Richi lalu menendang perut lelaki itu hingga tersungkur beberapa langkah.


Lelaki itu menyerang lagi dan mendapat hantaman keras di hidungnya dari tangan kiri Richi.


'Sialan. Tangan kananku sakit sekali' umpat Richi karena merasa kesal, tenaga yang terkuat ada disebelah kanan. Itu pula yang sekarang tidak bisa digunakan.

__ADS_1


Richi berhadapan dengan dua orang. Dia melirik sedikit ke arah Hugo yang tengah bertarung melawan tiga orang.


Hugo juga sedang sibuk. Lawannya cukup keras. Pantas saja Hugo melarangnya berhadapan dengan orang-orang ini.


"Sialan! Kau kuat juga!" Ucap lelaki itu sambil menutup hidungnya yang mulai mengeluarkan darah. Dia tidak sangka perempuan yang bersama Hard bisa bela diri.


Richi memasang kuda-kuda. Matanya tajam menatap kedua orang di depannya. Kedua tangannya mengepal dengan keras. Dia bersikap seolah-olah kedua tangannya baik-baik saja.


"Hiaaaat" laki-laki itu menyerang. Dengan emosi yang besar, Richi menendang ke arah samping lawan sekuat tenaga. Dia mangangkat kaki kirinya lalu menendang ganda ke arah ulu hati dan leher lelaki itu.


Dia tersungkur memegang perutnya. Richi dengan sekuat tenaga membuatnya merasakan hantaman yang amat kuat.


Richi melirik yang satunya. Lelaki itu terlihat kaget melihat cepatnya gerakan Richi.


"Sialan. Kemari kau!" Lelaki itu murka melihat temannya yang kalah karena perempuan.


Saat Richi ingin maju, dengan cepat Hugo melompat dan menghujani tendangan di perut dan wajah lelaki itu hingga lelaki itu pun ikut tersungkur dan merintih kesakitan.


"Sialan kau Erhard! Kau lihat saja nanti, aku tidak akan tinggal diam!" Ucap lelaki yang sebagai ketua itu. Dia lalu memerintahkan anak buahnya untuk pergi. Matanya penuh kemarahan menatap Hugo dan Richi bersamaan.


"Kau lihat saja!" Berangnya dan berlalu pergi dari tempat itu.


Hugo baralih kepada Richi.


"Richi, tanganmu bagaimana?" Hugo memegang tangan kanan gadis itu.


"Auw". Rintihnya mengaduh kesakitan. Dia menyingkap sedikit lengan jeketnya. Terlihat memar kemerahan yang cukup lebar di sana.


Hugo menghembuskan napasnya dengan kasar saat melihat luka lebam di lengan Richi. Hantamannya sangat keras hingga kayu itu patah. "Apa ada obat di mobilmu?"


Richi mengangguk. Hugo berlari ke arah mobil dan mencari kotak obat. Sementara Richi, berjalan perlahan dan duduk di bangku panjang.


Setelah menemukannya, Hugo berlari lagi ke arah Richi. Ada rasa bersalah dalam dirinya karena tidak bisa melindungi satu orang saja di belakangnya.


Hugo membuka jeketnya dan membentangkannya di pangkuan Richi. Hugo berlutut di bawah bangku. Dia lalu membantu Richi menyingkap lengan jeket yang dipakainya hingga ke atas. Lalu mulai memberikan obat pada luka lebam yang sudah membiru.


Sesekali Richi merintih saat Hugo mengobatinya secara perlahan.


"Hugo, Itu.." Richi menunjuk ke arah luka di sudut bibir bawah Hugo.


Hugo tidak memperdulikannya. Dia tengah fokus pada tangan Richi yang lebam karena ulahnya juga. Dia benar-benar merasa bersalah.


"Jadi kau, anggota mereka?" Richi bertanya karena ingin meredakan rasa penasarannya pada Hugo.


Hugo tidak menjawab. Dia fokus memberi obat pada lebam Richi yang cukup lebar. Dia sendiri bingung memberi jawaban apa pada gadis itu karena takut akan dijauhi olehnya.


Richi menyipitkan matanya. "Mereka itu Stripe, kan?"


Pertanyaan Richi berhasil membuat Hugo menghentikan aktivitasnya. Dia terdiam sebentar, seperti berpikir. Dia tetap tidak menjawab. Lalu menutup luka Richi dengan perban.


Melihat reaksi Hugo, Richi yakin Hugo memang anggota mereka.

__ADS_1


Richi ingat kejadian pada kafe milik Clair yang dihancurkan oleh kelompok terjahat, Stripe. Jika Hugo anggota mereka, kenapa dia menyerang Hugo?


To be Continued...


__ADS_2