Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Menyerahkan Diri


__ADS_3

"Hei, lihat. Bukankah dia yang di tv tadi?" Seseorang mulai menyadari kehadiran Richi.


"Bajunya mirip, sih."


"Iya, kan? Apa jangan-jangan itu dia?"


Aron menatap Richi. Lelaki itu yakin kalau Richi mendengar ucapan orang-orang itu. Tetapi dia tampak santai menghabiskan makanan di piringnya.


"Kau sudah selesai?" Tanya Richi. Eskrim yang dimakan Aron bahkan belum setengahnya habis.


"Sudah." Jawabnya. Dia tahu, dia dan Richi memang harus segera pergi.


Aron memanggil pelayan untuk meminta Bill. Tak lama, pelayan itu datang dengan kertas kecil di dalam menu.


Richi diam sebentar. Dia menyadari sesuatu.


"Aron."


"Apa?"


Richi tersenyum sampai matanya menyipit. Hal yang paling aneh di mata Aron saat ini.


"Kau kenapa?" Tanya Aron heran.


"Engg.. aku.. lupa bawa duit. Hehe.."


"A-apa? Aaargh.. kau mengerjaiku, ya??" Sentak Aron. Dia terlihat kesal tetapi tetap mengeluarkan dompetnya. "Berapa?"


"Tiga juta dua ratus." Jawab Richi.


Mata Aron melotot. Dia dengan cepat menarik kertas bill dari tangan Richi. "Kau pesan apa sampai tiga juta, hah?" Tanya lelaki itu.


"Mana aku tahu harganya segitu." Jawab Richi enteng.


Aron menggaruk-garuk kepalanya. Lalu mengeluarkan uang cash senilai harga di bill dan menyerahkannya pada pelayan.


"Aku janji akan bayar. Maaf sudah banyak merepotkanmu."


Mendengar itu, Aron tersenyum kecil. "Ganti saja pakai cara lain."


Richi menaikkan alisnya. "Apa?"


"Nanti akan aku beritahu. Sekarang, ayo pulang." Aron beranjak diikuti Richi dari belakang. Gadis itu kemudian menarik lengan baju Aron, membuat lelaki itu terhenti.


"Apa?" Tanya Aron.


"Antar aku ke kantor polisi."


"A-apa? Kau gila?"

__ADS_1


Richi menghela napas. "Bukan hal baik bila aku mangkir. Aku harus menyerahkan diri, kan?"


Richi mengambil kunci mobil dari Aron. Dia naik dan menghidupkan mesin. Aron mau tak mau naik dan duduk disebelahnya.


"Kau yakin? Padahal kau bisa menutupi kasus ini mengingat kekuatan ayahmu luar biasa." Tukas Aron. Dia berusaha merubah jalan pikir Richi.


"Aku tidak pernah membawa-bawa orang tuaku dalam berbagai masalah." Jawab Richi. Matanya lurus ke depan jalan sambil terus memegang kemudi.


"Tapi ini masalah lain, Rel. Kau tahu, kan, kau bisa dipenjara karena ada bukti kuat."


"Aku sudah menduga ini."


"Sebenarnya, apa di dalam gudang sampai kau membakarnya?" Tanya Aron. Dia penasaran sejak awal. Apalagi seorang Damian terlihat hebat membuatnya ingin tahu lelaki itu. Nyatanya, hanya pria cupu yang banyak mengkhayal.


"Bukan suatu hal yang baik untuk diceritakan."


"Lalu, kau mau beralasan apa nanti, hah?"


Richi hanya diam. Walau dia tahu masalah kali ini cukup rumit, tapi dia tidak merasa menyesal untuk itu.


Sesampainya di kantor polisi, Richi langsung masuk dan menghampiri seorang petugas yang berdiri di depan pintu.


"Permisi, pak. Saya mau menyerahkan diri. Saya yang membakar gedung Timberbox." Ungkap Richi.


"Oh, nona Richi Darrel? Silakan lewat sini. Anda sudah ditunggu."


Richi dan Aron berjalan mengikuti petugas polisi itu sampai ke ruang penyelidikan.


Disana, Richi tertegun saat mendapati Hugo, Ricky, dan teman-temannya sudah ada disana.


Sedetik kemudian Richi menoleh lagi pada Aron. Sudah pasti dia, siapa lagi yang tahu tujuannya datang ke kantor polisi selain Aron? Tidak ada.


Lelaki itu hanya tertawa kecil. "Hehe. Aku cuma bilang pada Olivia. Tidak tahu sampai seramai ini."


"Nona Richi Darrel, silakan masuk." Ucap seorang polisi, lalu membukakan pintu kecil yang ada disana.


Richi masuk. Di dalam, dia melihat Damian dengan perban di kedua tangannya, juga wajahnya yang sangat berantakan. Biru lebam dimana-mana, matanya bengkak dan bibirnya pecah. Rasanya tak ada lagi yang bisa dipandang dari Damian, dia bahkan bukan seperti Damian. Saat terakhir Richi melihatnya tak sampai seperti itu. Jelas itu perbuatan Hugo.


Richi duduk bersebelahan dengan Damian. Lelaki itu duduk di kursi roda. Nampaknya kaki kirinya juga patah.


"Richi Darrel Wiley, apa benar anda berada disana pukul 12.07 membawa dua jeriken bensin dan sengaja membakar gudang itu?" Tanya seorang pria paruh baya dengan tegas.


Richi melirik Damian sebentar. Lelaki itu menunduk saat menyadari tatapan Richi.


"Ya. Saya sengaja membakar gudang yang berisikan foto-foto saya yang diambil diam-diam oleh orang ini. Dia menyelipkan kamera di dalam sebuah boneka sebagai kado untuk saya dan memantau pergerakan saya melalui kamera itu. Dia menyimpan semua hal mesum, foto-foto tak pantas dan semua tentang saya di dalam gudang timberbox. Itulah kenapa saya dengan sengaja membakar hangus gudang itu. Sebagai bentuk tanggung jawab, saya akan mengganti rugi semua kerugian pemilik gudang." Jelas Richi dengan lancar supaya petugas tidak lagi menanyakan banyak hal padanya.


Kini petugas itu menoleh pada Damian. "Apa benar yang dikatakan nona Richi Darrel, tuan Damian?"


Damian yang masih tertunduk itupun mengangguk. "Benar, pak." Ucapnya dengan suara yang tak begitu jelas karena bibir pecahnya. "Saya melakukan semua itu karena menyukai Richi Darrel. Tapi saya menyesal sekarang."

__ADS_1


"Berapa lama anda melakukan itu?" Tanya petugas.


"Ku-kurang lebih satu tahun, pak."


Richi menganga. Setahun katanya? Bukankah hanya enam bulan? Ingin sekali Richi menambah lebamnya tapi sudah tidak ada tempat yang tersedia di wajahnya.


Richi keluar dari ruangan penyidik dan saat itu juga dia disambut pelukan dari ibunya.


Richi bisa merasakan kekhawatiran sang ibu. Ayahnya juga ada disana.


"Sayang, kau baik-baik saja?" Tanya Marry.


Richi mengangguk. "Tidak apa-apa, ibu. Jangan khawatir."


"Ibu sudah dengar semuanya. Kenapa kau tidak bilang pada ayahmu? Biar ayah yang menyelesaikannya tanpa mengotori tanganmu sendiri." Tukas Marry lagi.


"Aku bisa melakukannya sendiri, bu."


"Apa aku terlalu keras mendidikmu, ya?" Ucap Wiley tiba-tiba. "Kenapa kau terlalu mandiri, hah?"


Richi tersenyum kecil. Sang ayah tampak bangga, dia mengusap lembut kepala anaknya. "Kau tidak melakukan kesalahan. Ayah bangga padamu. Urusan seterusnya serahkan pada ayah."


Setelah beberapa urusan, Richi sudah diperbolehkan pulang. Dia tidak ditahan karena melakukan pembelaan diri. Apalagi dengan pengakuan langsung dari Damian membuat semuanya menjadi lebih mudah.


"Richi."


Richi menoleh saat Hugo memanggilnya. Lelaki itu berwajah kusut, datang mendekati Richi.


"Maafkan aku. Aku tidak tahu apa-apa soal kejadian ini. Aku menyesal sudah menuduh yang bukan-bukan. Aku.. benar-benar minta maaf, Chi.." ucap Hugo lirih. Dia tak ingin suaranya terdengar banyak orang disana.


Richi diam sejenak. Dia masih teringat dengan sesuatu yang menempel di badan Erine tadi dan sungguh membuatnya kesal.


"Ya, baiklah." Jawabnya kemudian.


"Benarkah? Kau memaafkanku? Lalu, apa kita masih break? Aku harap kau mau menerimaku lagi."


"Aku perlu waktu untuk itu. Banyak yang harus kuperbaiki setelah ini. Kuharap kau mengerti."


Hugo menunduk. Ingin merengek tapi dia harus tahu tempat ini tengah ramai dengan keluarga dan teman-teman Richi.


Lalu mata Hugo tiba-tiba menyadari jeket yang ia kenakan.


"Itu.. jeket siapa?" Tanya Hugo, menunjuk jeket yang dipakai Richi.


"Ini? Jeket orang itu." Richi menunjuk Aron dengan bibirnya. Kebetulan sekali, lelaki itu tengah melihat ke arahnya sambil bersandar di tembok.


Hugo menghela napas. "Kau dekat dengannya, Chi?"


"Dia hanya meminjamkan jeketnya, karena jeketmu kau pinjamkan pada Erine." Tukas Richi sambil berlalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2