Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Hati Panas


__ADS_3

Richi perlahan membuka mata. Dia sudah mendengar suara cicit burung di atas jendela kamarnya. Matanya pula menyipit saat melihat cuaca pagi yang panas dari jendela yang terbuka.


Richi langsung duduk. Dia menggeliat sebentar sebelum akhirnya tersenyum lebar melihat kotak-kotak hadiah dari Hugo yang belum sempat ia buka.


"Wah. Apa ya, isinya." Saat hendak membuka kotak, Richi teralihkan dengan dering ponselnya.


Hugo melakukan panggilan video.


'Morning, babe..'


Richi mengalihkan kameranya ke arah tumpukan kado, karena merasa malu dengan wajah bantalnya.


'Baru bangun, ya?'


"He'em.."


'Mandi, gih. Biar aku jemput.'


"Mau kemana?"


'Jalan-jalanlah. Gimana, sih. Katanya kemarin terserah aku.'


"Iya udah, aku siap-siap dulu."


'Mentang-mentang mobil baru. Disiram mulu.'


Richi mengerutkan alis. Itu sura Simon, kan? Kenapa ada di dekat Hugo.


"Hugo, itu.. Simon, ya?"


'Bangun! Dasar kebo!'


"Eh, kak Ricky?"


Hugo langsung mengarahkan kamera ke arah Ricky yang tengah mencuci mobilnya di depan rumah. Melihat itu, Richi langsung lompat dari kasurnya dan berlari ke arah depan rumah.


"Morning, sayang." Sapa sang Ibu.


"Morning, Bu." Ucap Richi yang terus berlari kecil, menuju pintu depan.


Dia mendapati Hugo tengah berbincang bersama Simon dan juga Ricky yang menggosok mobilnya dengan lap basah. Mereka berbicara santai mengenai mobil yang baru Ricky beli.


"Sesekali pinjam, dong." Celetuk Hugo.


"Enak aja. Beli makanya! Buat apa nabung duit banyak-banyak tapi tidak dinikmati." Protes Ricky sambil terus menyirami mobilnya dengan air keran.


"Untuk nikahi Richi, lah." Jawab Hugo santai. Sementara Richi yang mendengar mengulas senyum.

__ADS_1


"Percaya diri sekali anda." Sahut Ricky mencebik. "Kau perlu menjalankan beberapa prosedur dariku sebelum melamar adikku."


"Prosedur itu tidak berlaku karena aku sudah lulus di mata ibu mertua." Jawab Hugo dengan sombongnya.


"Hei, siapa yang kau sebut ibu mertua, hah? Dia ibuku! Tidak ada kata mertua disini, karena kau masih anggota Valiant dan aku Komandermu!" Seru Ricky lagi.


"Lihat saja, sebentar lagi aku akan menjadi menantu kesayangan. Satu-satunya menantu yang ada di rumah ini." Balas Hugo tak mau kalah.


"Bajingan! Kau mendoakanku tidak nikah-nikah, hah?"


Terjadilah pertengkaran kecil antara Hugo dan Ricky seperti biasa. Sementara Simon hanya menggeleng kepala melihat dua orang itu.


Richi menghampiri Hugo. Dia bahkan lupa kalau dirinya masih dengan muka bantal bercelana sangat pendek dan kaos oblong.


"Hugo, katanya mau jemput. Kok, udah disini?"


Hugo nyengir. Dia menatap wajah Richi yang baru bangun itu. "Morning, sayang. Cantik sekali pagi-pagi belum mandi udah berani menyapaku secara langsung."


Richi langsung menutup wajahnya. "Itu sindiran untuk nyuruh aku mandi, ya!"


Hugo malah tergelak. "Hahaha. Tidak kok, sini cium dulu."


"Hoii!" Ricky langsung menyiramkan air ketengah dua orang itu supaya tidak bermesraan di depannya.


"Apasih, kak. Dingin, tahu!" Kata Richi sambil mengelap kakinya yang terkena cipratan air.


"Ihh kak, hentikaan!"


"Ky, pinjem mobil, ya. Mau jalan-jalan, nih." Ucap Hugo pada Ricky.


"Mulutmu itu pernah keluar kecoa, ya? Berani meminjam mobil baru orang lain." Cebik Ricky.


"Orang lain apanya. Kita kan saudara ipar."


"HAH!! Kotor sekali kata-katamu ituuu, sialan!" Ricky langsung menyiram air ke arah Hugo yang spontan berlari kebelakang Richi.


"Hugoooo!!" Richi ikut basah. Apalagi masih pagi dan air keran sungguh dingin. "Apa-apaan, sih, kalian! Kaya anak kecil!" Pekik Richi kesal.


"Sekalian sayang, kau kan belum mandi." bisik Hugo dibelakang Richi.


"Apa kau bilang??"


Hugo tertawa terbahak-bahak dan berlari menjauh sebelum kena smackdown oleh Richi.


"Biar aku mandiin sekalian." Kata Ricky lagi, sambil tertawa dia menyiram air ke arah Richi.


"Kaaaakk. Astaga apa, sih." Teriak gadis itu.

__ADS_1


"Belum mandi, kan? Makanya aku mandiin." Ricky tertawa lebar sambil menyirami adiknya. Richi pula tak mau kalah, dia menarik selang dan merebutnya dari Ricky. Alhasil, kini Richilah yang menyirami kakaknya sambil tertawa-tawa karena berhasil membuat kakaknya basah.


Kedua orang itu akhirnya bergelut sambil bermain, membuat Hugo menggelengkan kepala sekaligus haru dalam hatinya melihat sang kekasih memiliki keluarga yang begitu harmonis, berbeda dengan dirinya yang hanya tinggal bersama ayah yang super sibuk.


...🦋...


Menjelang malam, Hugo datang lagi untuk menjemput Richi dan menemaninya ke acara Aron. Lelaki itu menunggu di dalam mobil, lalu mendadak keluar saat melihat apa yang Richi pakai.


"Chiii!" Pekiknya.


"Ya? Kenapa?" Richi menoleh ke belakang dan kiri kanan, tapi tidak mendapati apapun yang membuat Hugo berteriak padanya.


"Lihat pakaianmu!"



Richi melihat yang ia pakai, lalu mengerutkan dahi saat merasa tak ada masalah. "Kenapa memangnya??" Tanyanya polos.


"Astaga. Bajumu ini sangat terbuka!"


"Masa? Tapi, bukannya kau bilang tadi harus dandan yang cantik?"


Hugo menghela napas. Padahal itu hanya ucapan belaka, apalagi biasanya juga Richi tidak mendengarkannya soal itu.


"Sudahlah. Kita harus cepat." Kata Richi sambil berjalan menuju mobil Hugo. Dia membuka pintu dan lagi-lagi tertegun. Di atas kursi sudah ada bunga bucket berwarna merah jambu. cantik sekali.


"Hugoo.. kau memberiku ini lagi?" Richi mencium bunga itu dan terasa sangat harum.


"Aku akan sering memberimu kejutan, jadi bersiaplah." Kata Hugo sambil menjalankan mobilnya, sementara Richi lagi-lagi membuyarkan konsentrasi Hugo dengan memberinya ciuman di pipi.


Sesampainya di depan gedung pesta, Richi mencari Aron. Lelaki itu sudah sibuk menghubunginya sejak sore tadi, berharap agar Richi mau datang ke acara yang sengaja dibuat atas diterimanya Aron di dalam majalah internasional.


Richi menggandeng tangan Hugo masuk ke dalam gedung dengan beberapa pasang mata yang menatap. Richi pula ikut berhenti saat Hugo menahan langkahnya.


Mata lelaki itu menatap sekeliling, dimana foto Richi dan Aron terpampang besar dan banyak sekali, membuat Richi ikut terbelalak.


Dia menatap Hugo, berharap lelaki itu tidak marah. Tapi nampaknya hal itu mustahil mengingat foto-foto mereka terlihat sangat mengkhawatirkan jantung Hugo.


"Hu-hugo.." Richi memanggil pelan nama lelaki yang masih mematung di tempatnya.


"A-aku.. cuma membantu Aron saja. Sumpah. Aku benar-benar tidak tahu karena ternyata dia menang dan foto itu tersebar. Maafkan aku.." Ucap Richi cepat-cepat supaya Hugo tidak marah. Apalagi mereka baru baikan dengan alasan Hugo terlalu bermudah-mudahan dengan perempuan lain. Tidak tahunya, dia malah sama saja.


Lelaki itu mengencangkan genggaman tangannya dan melanjutkan langkah.


"Aku sudah tahu." Jawab Hugo mencoba mengatur detakan jantungnya yang tidak stabil. Apalagi, foto itu benar-benar membuat matanya sangat sakit. Kalau bukan karena di acara orang lain, Hugo pasti sudah membakar hangus foto-foto beserta gedung itu sekaligus.


__ADS_1


**Anggap aja foto Richi dan Aron, yaa.. Ngga nemu laki-laki pake kemeja terbuka yang keliatan badan gitu pasti badass banget🥵


__ADS_2