
Richi menatapnya kesal. Lalu saat hendak beranjak pergi, Hugo menarik tangannya sampai tubuh Richi jatuh kepelukannya.
Dengan cepat Hugo mendekap Richi supaya tidak lari. Tapi gadis itu memberontak.
"Lepas Hugo."
"Aku cuma bercanda. Lagi pula kau takkan gendut selama bersamaku."
Mendengar itu, Richi tak lagi berusaha lepas.
"Makanya, kalau aku ajak olahraga pagi, kau harus mau."
Ucap Hugo lagi, tetapi Richi hanya diam mendengarkan detakan jantung Hugo yang berada tepat di telinganya. Dada Hugo ternyata begitu nyaman untuk sekedar mengistirahatkan kepalanya.
"Kau tidur?"
Richi menggeleng. Tapi dia tak juga bergerak dari sana apalagi tangan Hugo kini mengelus lembut kepalanya.
"Aku ingin kita seperti ayah dan ibumu." Kata Hugo. Dia teringat saat berada di rumah keluarga Draw waktu itu, terlebih melihat bagaimana Wiley memperjuangkan keselamatan Marry.
"Aku ingin seperti ayahmu, melindungi dan menjaga kalian semua. Terlihat hangat dan berwibawa, tetapi sangat kejam saat keluarganya diusik."
"That's what the family is for. Soal lindung-melindungi, ayah bilang bukan cuma tugas laki-laki. Tapi tugas semua yang terlibat dalam keluarga. Harus saling melindungi. Itu sebabnya kami sebagai anak dididik kuat untuk menjaga diri dan juga ibu. Ricky harus melatih kekuatannya demi menjagaku dan ibu. Ayah harus tangguh untuk menjaga kami. Ibu, walau tidak bisa bertarung, tapi dialah sumber kekuatan kami semua. Dan aku, ingin seperti ibu."
Mata mereka mengarah ke layar besar di depan, tetapi pikiran keduanya tidak tertuju kesana.
"Kau juga mirip dengan ibumu."
"Begitukah?"
"H'm. Ibu bilang, dulu kau sangat mirip dengannya soal perasaan. Tapi sekarang kau sudah bisa mengendalikannya."
"Ibu bilang begitu?" Tanya Richi. Dia membuat ukiran abstrak di dada Hugo dengan jarinya.
"Iya. Apa dulu kau sering disakiti, Richi?"
"Ya, saat di sekolah dasar. Aku cengeng dan sering menangis. Untung ada Clair, dia sangat lantang membelaku walau dia sendiri juga sering nangis kalau terjatuh." Richi terkekeh mengingat masa kecilnya.
"Sampai sekarang, Clair selalu di pihakku. Aku jadi merasa harus ikut andil dalam kebahagiaannya nanti." Lanjut Richi lagi.
"Tapi, bagaimana dia bisa bersama Simon?" Tanya Hugo yang kini pembahasan mereka sudah merambat entah kemana.
"Entahlah. Aku tidak ingin bertanya lebih jauh. Yang jelas, aku sudah memperingati Simon, jika dia berani membuat Clair menangis, maka aku yang akan menghajarnya."
Hugo terkekeh. "Mana berani Simon melawan majikannya."
"Aku juga penasaran, padahal Simon juga teman kecil Ricky. Dia sering bertemu Clair sejak dulu. Tapi kenapa jatuh cintanya sekarang?"
"Itulah perasaan. Tidak ada yang tahu. Memangnya kau pernah berpikir untuk menjadi pacarku?"
"Sama sekali tidak. Aku bahkan akan melewati jalan lain kalau ada kau disitu."
"Kau sampai seperti itu?"
__ADS_1
Richi mengangguk lagi. "Iya. Tidak tahu kenapa, rasanya sangat tidak suka."
"Kalau sekarang?" Tanya Hugo.
"Jangan ditanya. Kau paling tahu jawabannya."
Mendengar itu, Hugo membalikkan tubuh dan kini Richi ada dibawahnya.
"Katakan dengan jelas." Bisik Hugo dengan suara beratnya.
"Hm... ya, aku sangat-sangat menyukaimu." Richi mengalungkan kedua tangannya di leher Hugo.
Lelaki itu tersenyum tapi belum merasa puas. "Hanya suka?"
"Baiklah. Aku cinta padamu, Hugo Erhard." Jawab Richi dengan menekan kata-katanya supaya Hugo senang.
Benar saja, lelaki itu tersenyum puas dengan memperhatikan wajah Richi lekat-lekat. Richi memang sangat memikat hatinya, mulai dari rambutnya yang bagus, mata, hidung, dan tentu saja, bibir.
Perlahan Hugo mendekat, dia mulai menempelkan bibirnya pada Richi, mellumat bibir bawah gadis itu dengan lembut.
Richi tidak membalas. Dia hanya memejamkan mata, menikmati sentuhan bibir Hugo yang seperti memberinya kehangatan dan energi.
Perlahan namun pasti, Ciuman itu terasa semakin liar. Napas Hugo mulai memburu. Dia memperdalam ciumannya sampai membuat aliran gairahnya menyambar ke tubuh Richi. Gadis itu pula tak tinggal diam. Dia membalas ciuman Hugo sampai terdengar decapan dari keduanya.
Merasa tubuhnya semakin memanas, Hugo membuka kancing baju Richi dengan satu tangannya. Gadis itu pula menjalarkan tangannya ke dalam baju Hugo, merasakan kulit tubuh Hugo yang ikut memanas.
Bentuk tubuh Hugo membuat dirinya terasa meremang. Apalagi kini Hugo berhasil melepas kancing baju Richi dan tentu saja, dia tidak sabar dengan aksi selanjutnya.
Tapi richi tiba-tiba berhenti. Begitu juga Hugo yang diam saat Richi tak lagi menciuminya dengan penuh gairah seperti tadi. Hanya engah napas memburu yang terdengar dari kedua bibir mereka.
Seperti tahu, Hugo mengecup kening Richi cukup lama. "Maaf.." bisiknya di telinga Richi. Dia juga merasa bersalah karena hampir tidak bisa mengontrol diri.
Hugo merebahkan kepalanya di sandaran sofabed dan menarik Richi dalam pelukannya. Walau tak bisa dipungkiri, gairahnya sudah berada di puncak, tetapi Hugo tidak mau melakukannya jika Richi tidak siap.
Hugo mencium puncak kepala gadis itu. Dia mendekapnya erat sampai tanpa sadar keduanya sudah tertidur disana.
~
Richi membuka matanya saat mendengar suara burung bercicit di dekat jendela. Cahaya matahari pagi belum terasa hangat, karena Richi bisa merasakan kesejukan di kakinya yang tersingkap selimut.
Sedetik kemudian Richi teringat, tadi malam dia tidur dipelukan Hugo. Tapi laki-laki itu tidak ada di tempat.
Dengan mengumpulkan tenaga, Richi duduk dan menyipit melihat pintu balkon sudah terbuka lebar dengan cahaya yang sedikit menyilaukannya. Tirai putih pun bergoyang karena angin yang menerpa dengan lembut.
Richi memegang dadanya. Sudah terkancing, padahal dia ingat tadi malam kancingnya terbuka dan belum sempat ia kancingkan kembali. Tapi dia tahu, itu pasti Hugo.
Richi melangkah menuju balkon. Dia mulai mendengar suara napas berat dari sana.
Richi tersenyum saat melihat Hugo berdiri. Dia tengah workout dengan barbel di tangannya. Punggungnya mengkilap karena keringat.
Richi bersandar di pintu, memperhatikan tubuh belakang Hugo. Punggung yang lebar, pinggang sedikit ramping, dan celana panjangnya menutup semua bagian yang memang belum pernah Richi lihat.
Dia tersenyum sendiri saat mengingat tadi malam. Apalagi dia bisa merasakan sesuatu yang mengeras dari tubuh Hugo itu. Membuatnya takut tapi juga penasaran.
__ADS_1
Richi menggelengkan kepala. Masih pagi, pikirannya sudah menjalar kemana-mana.
"Ehem.."
Hugo langsung menoleh kebelakang. Richi berdiri dengan wajah bantal dan rambut yang agak messy.
Hugo membungkuk, memperhatikan Richi yang matanya menyipit karena sinar matahari.
"Morning, honey." Sapa Hugo. Dia tersenyum karena bisa menatap wajah Richi yang masih terlihat cantik walau beberapa garis bekas sofa terlihat di wajahnya.
"Fwuuittt fwuitt.." Richi bersiul. Matanya menatap perut Hugo yang sudah seperti kotak-kotak tahu.
Hugo ikut memperhatikan perutnya. "Kenapa? Kau selera? Tadi malam kau terus memegangnya, kan?"
Richi menggeleng. "Tidak, punya Ricky lebih bagus."
Hugo meletakkan barbel di atas lantai. "Lalu, apa maksud siulanmu itu? Kau memancingku?" Ucapnya sambil berdiri tegak dengan kedua tangan di pinggang.
"Tidak." Richi berdiri tegak di depan Hugo. "Aku mau mandi."
Richi mengecup bibir Hugo sekilas dan langsung pergi. Tentu perlakuannya itu tak membuat Hugo diam.
Lelaki itu menarik tangan Richi dan menyandarkannya ke tembok.
"Kau memancingku." Bisik Hugo dengan tatapan laparnya.
Richi malah tergelak kecil dengan suara yang tanpa sadar terdengar menggoda. "Tidak, Hugo. Serius, aku mau mandi."
Hugo menggenggam kedua tangan Richi dan mengapitnya ke dinding. "Bagaimana kalau kita mandi bersama?"
Richi terbelalak tapi bibirnya tak bisa menahan senyum. "No.."
"Yess.."
"Noo.." gelak Richi.
"HUGOOO, SARAP....AN."
Axel terdiam dengan tangan yang masih memegang handel pintu. Seketika dia merasa serba salah.
"A-aku.."
Axel sampai lupa mau bicara apa saat melihat Hugo yang tellanjang dada, mengapit Richi dengan kedua tangan yang ia kunci di tembok.
"M-maaf, pintunya sedikit terbuka jadi kupikir.. oh, sarapan sudah siap. Aku cuma mau bilang itu." Axel buru-buru menutup pintu.
Sementara Hugo dan Richi masih menoleh ke arah pintu.
DUK!
"Arghh.."
Hugo membungkuk memegang benda diantara dua paha yang di tendang Richi dengan lututnya.
__ADS_1
Richi berjalan santai membuka pintu. "Aku tunggu dibawah, sayang." Ucap gadis itu dengan senyum manis dan berlalu begitu saja.
Hugo mendadak tertawa kecil saat kekasihnya itu memanggilnya 'sayang' dengan senyum manis. Gemas, benar-benar ingin memangsanya. Tapi Hugo berjalan ke kamar mandi untuk misi yang lain, yaitu membersihkan diri.