
Richi berjalan di lorong kampus. Dia tengah memikirkan berbagai hal saat ini, sampai membuatnya berjalan sambil menunduk. Tapi langkahnya mendadak terhenti saat seorang laki-laki tersungkur tepat di kakinya.
Lelaki itu berambut keriting. Tubuhnya juga kurus dan ada keringat di wajah yang tampak ketakutan itu.
Dia menatap Richi, seperti meminta tolong lalu menunduk.
"Ah, maaf mengganggu jalanmu, ya." Seorang laki-laki bertubuh atletis mengangkat lelaki itu dengan satu tangannya.
"Aku Virgo. Biasa mereka memanggilku V. Aku juga mengenalmu, mahasiswi semester satu yang mencuri perhatian banyak laki-laki disini. Richi."
Tak tertarik dengan ucapannya. Richi hanya memandang lelaki yang baju belakangnya dicengkram Virgo, hingga kakinya berjinjit.
"Jangan hiraukan dia. Dia ini hanya kutu yang mengganggu. Akan aku selesaikan dia dibelakang." Virgo mengencangkan cengkraman tangannya. "Hei, cepat minta maaf pada gadis ini!" Sentaknya pada lelaki itu.
"M-maaf.. maafkan saya." Lelaki berambut keriting itu benar-benar disiksa. Richi bisa melihat lebam di tulang pipinya.
Richi pula menatap sekitar. Banyak pasang mata yang melihat ke arahnya dan Virgo saat ini. Apalagi mereka jelas melihat bagaimana Virgo memperlakukan lelaki keriting itu, tetapi tak ada yang menolong.
"Oh ya, aku ingin mengundangmu untuk menonton pertandingan basket setengah jam lagi di lapangan. Kau harus datang. Aku akan berikan tempat khusus untukmu." Virgo mengedipkan sebelah mata kemudian pergi.
"Wah, kau benar-benar ya, V!"
"Buaya ini selalu tahu target yang pas!"
"Kau tahu saja yang sedang viral di kampus." Celoteh semua teman-teman Virgo sembari mereka melangkah menjauh.
Sebelumnya, Richi sempat melihat lelaki berambut keriting itu menggeleng pelan padanya. Nampaknya dia tak ingin Richi terlibat dengan lelaki bernama Virgo itu. Yah, walau dilihat secara fisik, Virgo ini tampan namun ada kesan sangar di wajahnya. Mungkin itu yang membuat orang-orang takut padanya.
"Chi, kau tidak apa-apa?" Andreas menghampirinya. "Ah, syukurlah. Aku pikir kau ada masalah dengannya. Aku panik, tapi tidak berani menemuimu jadi aku menunggu di belakang."
"Kau takut? Memangnya dia siapa?"
"Hei, aku bukan takut. Tapi... ah, pokoknya dia memang harus dihindari. Kudengar dia dari kelompok Foldcury dan sangat mengganggu disini." Jelas Andreas.
Richi melirik Evan yang berdiri tak jauh darinya. "Foldcury?" Ulang Richi, sedikit mengeraskan suaranya supaya Evan mendengar itu.
"Iya. Kelompok mengerikan itu. Kau tahu? Ah, kau tidak tahu tentang ini. Yang jelas, jangan dekati dia kalau mau hidupmu disini aman."
__ADS_1
Richi mengangguk-angguk mendengar ucapan Andreas sementara Evan disana menggelengkan kepala, memberitahu bahwa berita itu bohong.
Hidup aman? Virgo itu raja sampah di kampus? Bagaimana kalau dibalikkan kondisinya? Richi jadi punya rencana sendiri. Membuat kelompok baru di kampus. Terdengar keren, ya. Dia sampai senyum sendiri.
"Dia mengundangku menonton basketnya. Kau mau ikut?" Ajak Richi pada Andreas.
"Hah? Jangan. Kau tidak dengar apa yang kukatakan tadi?" Pekik Andreas padanya.
"Dengar. Makanya aku mau kesana. Kau mau ikut tidak?" Tanya Richi lagi.
"Ah. Kau tidak paham, ya? Haah. Perempuan memang tidak mengerti. Melihat yang ganteng saja sudah tidak lagi bisa mendengar nasihat orang lain. Ya sudah, sana lihat saja. Tapi jangan menyesal kalau terjadi apa-apa. Aku sudah memperingatkanmu." Tukas Andreas kemudian meninggalkan Richi dengan kesal.
"Ingat perkataan Andreas!" Celetuk Johan lalu mengejar Andreas.
Richi hanya menghela napas sampai akhirnya menuju ruang untuk berganti pakaian.
"Dia benar bukan dari Foldcury, kan?" Tanya Richi saat Evan menyamakan langkah dengannya.
"Bukan. Tapi orang-orang itu mengikutinya karena mengira dia bagian dari kelompokku." Jawab lelaki itu. "Tapi dia cukup berbahaya. Akupun sudah melihat seluk beluknya sebelumnya."
"Lalu, kenapa kau diam saja saat dia menggunakan nama Foldcury dengan sembarang?"
"Justru aku tengah bosan dengan perkuliahan. Mencari ketegangan sedikit, tidak masalah, kan?" Richi tersenyum sambil mengangkat-angkat alisnya.
"Yah, itu sih, terserahmu. Asal kau berhati-hati."
Richi berhenti tepat di ruang ganti. "Kalau begitu, aku akan berganti."
"Ya, baiklah. Aku pulang. Sampai bertemu besok, Darrel." Evan melambaikan tangan kemudian Richipun masuk ke ruangan ganti.
~
Ponsel Richi terus bergetar. Sejak tadi Hugo menelepon, tetapi Richi mengabaikannya. Dia tengah fokus dengan apa yang ia lewati, yaitu para laki-laki yang tengah menatapnya. Sesekali godaan tersiul dari bibir mereka.
Richi mencoba bersikap wajar. Rok mini putih dan kardigan lilac membuatnya lebih berwarna diantara yang lain. Richi tahu dia menjadi pusat perhatian, tetapi dia tidak peduli.
"Permisi, apa anda yang bernama Richi? Virgo memintaku untuk membawamu kesana." Seorang laki-laki menunjuk ke arah timur. Disana ada Virgo yang melambaikan tangan padanya juga teman-teman satu timnya.
__ADS_1
Richi mengikuti lelaki itu. Sementara Virgo sudah berdiri menyambutnya.
"Aku senang kau datang, Richi. Itu artinya kau menerima pendekatan denganku."
Richi mengangkat alis. Menerima pendekatan? Maksudnya apa?
"Welcome to the club, Richi. Silakan duduk." Seorang laki-laki mempersilakan Richi duduk di kursi yang terlihat berbeda dari kursi penonton.
Richi tidak paham apa yang terjadi, tapi nampaknya warning dari Andreas memang bukan main-main. Pasalnya, dia melihat mata penonton yang ikut memperhatikannya sambil berbisik. Apa ada sesuatu?
Richi duduk disana. Dia menonton pertandingan basket yang tidak tahu siapa melawan siapa.
Richi menoleh kesamping kiri dan kanan. Tidak ada orang yang duduk sebaris dengannya. Tapi dibelakang, baris itu penuh diisi laki-laki dan perempuan, mungkin mereka berpasang-pasangan.
Richi sebenarnya tidak nyaman. Tapi dia juga belum bisa bergerak apalagi ini situasi baru dan dia belum mengerti petanya. Tapi apapun itu, Richi benar-benar terjebak sekarang.
"Hai, permisi. Apa benar kau Richi?" Perempuan berambut merah menyapanya.
"Iya, benar."
"Aku datang cuma mau mengucapkan selamat. Akhirnya kau bisa menjadi kekasih Virgo."
"Apa?"
Perempuan itu mendekatkan wajah, lalu berbisik di telinga Richi. "Kalau sudah duduk disitu, kau tidak bisa mundur kecuali Virgo yang membuangmu."
Richi cengo. Dia masih belum paham kenapa tiba-tiba dia menjadi pacar Virgo.
"Astaga, kau tidak paham rupanya." perempuan itu tertawa. "Semua orang disini sudah tahu. Jika Virgo mengundangmu dan kau datang lalu duduk disitu, artinya kau berkencan dengannya. Kau seharusnya beruntung, karena banyak yang menginginkan posisimu tapi tidak kesampaian." Jelasnya sambil tertawa kecil, lalu meninggalkan Richi dengan segala kebingungannya.
Mana bisa dia berkencan dengan Virgo. Kalau Hugo tahu, bisa gawat masalahnya, kan??
Ponsel Richi bergetar lagi. Dia buru-buru membukanya dan membalas pesan Hugo. Lalu sedetik kemudian matanya membelalak lebar. Bisa-bisanya Hugo mengganti foto profilnya dengan foto yang sama persis dengan poster di majalah.
"Si sialan ini!" Gumam Richi memaki. Bagaimana dia tidak kesal, Richi sampai membeli semua majalah itu supaya fotonya tidak tersebar, si Hugo gila itu malah menyebarkannya secara gratis.
Geram, Richipun memintanya untuk segera menganti foto profilnya.
__ADS_1
TBC