
"Hei, Hugo. Apa bahumu sudah baikan sampai ikut begini?" Bisik Richi yang di belakang Hugo.
"Kau tenang saja!" Bisiknya dengan tekanan.
Pertandingan dimulai, mereka bertanding secara adil sebab mengundang satu wasit yang dikenal oleh tim Hugo.
Pertandingan melawan sekolah Meteroid. Sekolah yang terkenal keangkuhannya. Bahkan mereka sudah dimasukkan dalam daftar hitam dan tidak bisa ikut berbagai perlombaan karena kerusuhan yang amat sering mereka lakukan, dan sekarang entah bagaimana mereka bisa bertanding basket dengan tim Oberon yang sering menang melawan semua sekolah yang ada di kota ini.
Permainan di dominankan oleh tim Hugo. Apalagi mereka ternyata mulai mengakui kelincahan dan jagonya Richi bermain basket hingga beberapa kali menembak dan selalu masuk.
Richi lagi-lagi berhasil memasukkan bola ke ring. Lalu tiba-tiba tangannya di genggam erat oleh salah satu tim lawan.
"Hei, Nona. Selain cantik, kau juga lihai sekali. Aku jadi jatuh cinta padamu". Ucapnya memandang dengan penuh ketertarikan.
"Lepaskan dia, Dion!" Bentak Daren.
"Bagaimana kalau kita ubah saja taruhannya. Aku mau gadis ini berkencan denganku satu malam jika menang. Aku pasti berusaha menang karena Aku sangat menyukai wajah dan tubuhnya."
BRUK!
Lelaki bernama Dion itu tersungkur saat tendangan keras di perutnya dilayangkan oleh Hugo.
"Hugo,..." Daren menarik Hugo. Padahal dia berusaha supaya tidak terjadi perkelahian, dan entah bagaimana Hugo tersulut emosi hanya dengan ucapan Dion itu.
"Sialan! Beraninya kau!" Teriak salah satu diantara mereka dan lalu menyerbu Hugo. Dengan sigap Hugo melawan begitu juga yang lain ikut menyerang. Mereka saling berlawanan satu lawan satu.
Sementara Richi dihampiri Dion.
"Hei, lebih baik kau ikut denganku. Kau tahu, tidak benar melawan Meteroid dengan kekerasan. Karena kalian akan kalah!"
Richi mengerutkan alis. Meteroid? Sudah lama dia tidak berurusan dengan anak-anak sekolah itu.
"Argh!" Terdengar suara Hugo yang memegang bahunya. Sepertinya tendangan lawan mengenai luka tembak Hugo yang belum begitu sembuh.
Melihat peluang, lawan Hugo akan menumbuk perutnya, namun Richi menghalangi dengan menendang pinggang lawan.
"Hei, kau!" Suara Dion menggelegar saat melihat Richi tidak mengindahkan perkataannya dan malah menendang teman Dion.
Richi berdiri tegak di depan Hugo, melindunginya saat ia tengah merintih sambil memegang dada kanannya.
"Wah, apa selain basket kau juga jago berkelahi?" Dion tertawa. "Cepat, bawa perempuan itu kemari".
Dengan titah itu, temannya dengan cepat menyerang ke arah Richi dan gadis itu pula berhasil menangkis tinju dan tendangan lawan.
__ADS_1
Lawan Richi berjalan mendekat. "Ayolah, jangan buat aku susah. Kau hanya perempuan, tidak baik berkelahi, aku akan bingung jika kau kesakitan dan menangis.."
BUK!
Tendangan Richi mengenai ulu hati lawan. Tanpa ampun, Richi menendang dan menghajarnya sampai tergeletak di atas lantai.
Dion tercengang. Gadis cantik yang ia goda ternyata bukan sembarangan.
Mata Richi tajam menatap ke arah Dion seakan mengisyaratkannya untuk maju karena itu gilirannya.
Dion dengan mata melotot langsung menyerang Richi, dengan sigap gadis itu menangkis dan beberapa kali berhasil mengenai titik vital lawan, tetapi entah bagaimana Dion seperti tidak merasa kesakitan.
"Wah, kau hebat juga". Pujian keluar dari mulut Dion saat gadis itu berhasil menendang tepat di bibirnya yang kini mulai mengeluarkan darah.
Dion tersenyum saat melihat darah yang mengalir dari bibirnya.
"Aku jadi semakin mengagumimu. Aku bahkan tidak bisa menyentuhmu sedikitpun. Kalau saja kau menjadi pacarku, pasti kita menjadi pasangan yang serasi, bukan begitu?" Dion tertawa.
Daren berhasil mengalahkan tiga lawan yang sempat membuat Isac dan Axel tumbang.
Melihat itu, Dion mengakhirinya. "Baiklah, aku akui saja kami kalah. Karena gadis cantik sepertimu memang selalu memenangkan hati. Hahaha" gelaknya menggelegar hingga memenuhi ruangan.
"Ingat, aku akan mencarimu kemanapun kau pergi. Jadi, kau jangan terlalu sering menolakku, ya". Ucap Dion lalu melangkah keluat di ikuti teman-temannya yang lain.
"Kau tidak apa-apa, Hugo?" Tanya Daren yang melihat Hugo berusaha tegak.
"Baiklah, ayo kita pulang." Daren membantu Isac dan Axel yang terlihat masih memegang perut mereka.
"Kau ini! Jelas-jelas masih sakit, dan kau menghajar mereka begitu saja?" Omel Richi pada Hugo yang berjalan perlahan. "Ada apa denganmu?"
"Apa? Memangnya kau tidak masalah dilecehkan seperti itu?!" Bentakan Hugo membuat Richi bungkam karena dia sendiri tidak merasa dilecehkan. Baginya, ucapan Lelaki yang hanya dilidah yang bahkan ia bisa patahkan tidak melecehkan kecuali dengan tindakan.
"Begitu, ya".
Hugo berjalan dengan cepat karena kesal dengan Richi yang seperti tidak mengerti bahwa Hugo menolongnya.
"Biar aku saja yang bawa." Ucapnya saat Hugo akan naik motornya.
"Sudah, minggir sana. Memangnya kau bisa bawa dengan sakit seperti itu?" Ucapnya saat Hugo terlihat akan memberontak.
Richi naik lalu memakai helm Hugo supaya tidak terlihat seperti perempuan dan Hugo pun naik di belakangnya.
"Maaf ya, aku sedikit bau keringat. Tahan saja." Ucap Richi sambil terkekeh, mereka bahkan belum mengganti pakaian.
__ADS_1
Richi mengendarai dengan perlahan hingga baju mereka mulai mengering. Padahal, angin malam kian menusuk dinginnya.
"Kau mau ke rumah sakit dulu?" Richi sedikit berteriak.
"Tidak perlu. Sudah sedikit lebih baik".
Richi menghentikan motor di sebuah kafe.
"Aku mau beli minum. Apa kau mau?"
Hugo mengangguk, lalu mereka memesan minuman dan duduk disebuah meja di sudut ruang.
"Hugo?" Sapa seseorang dari belakang Hugo.
"Oh, Sonia".
Seorang perempuan cantik bertubuh langsing mendekat dan menyapa Hugo dan Richi mengetahui mantan ketua cheers mereka.
"Kau bersama Richi?" Ledeknya saat melihat Richi menyeruput kopinya tanpa peduli siapa yang datang.
"Ya, kenapa?"
"Tidak, biasanya kau kan, selalu bersama gadis-gadis cantik". Ledek Sonia. "Apa kau berubah haluan?" Tawanya lagi.
Hugo melirik Richi yang tampak tak peduli.
"Kami baru bermain basket"
"Aha, benar. Dia memang pebasket. Aku pikir kau.. ah sudahlah. Oh ya Hugo, mumpung kau disini, aku akan mengundangmu". Sonia mengeluarkan selembar kertas undangan.
"Datanglah ke acara ulang tahunku bersama gadis cantik. Kau harus membuatku terpesona melihat perempuan disampingmu, kau mengerti?" Ucapnya sambil tertawa dan berlalu pergi.
Hugo meletakkan kartu undangan di atas meja.
"Kau mau datang?"
Richi menggeleng dengan cepat. Ya, pertanyaan yang Hugo sudah tahu jawabannya.
TRING!
Sebuah pesan masuk, Hugo terbelalak melihat postingan baru yang langsung ramai di laman web sekolah. Yaitu dirinya dan Richi yang duduk di sudut saat ini.
"Eh?" Richi pun ikut tercengang. Pasalnya gambar itu diambil dari sudut yang mejanya kosong.
__ADS_1
"Siapa yang menyebar ini? Kenapa cepat sekali." Gumam Hugo.
"Hugo, sepertinya kau punya ekor"..