
Richi baru menyelesaikan ujiannya. Dia sudah mengumpulkan kertas ujiannya dan duduk sembari bermain ponsel menunggu bel berbunyi.
Dia membaca komentar-komentar negatif juga pesan anonim yang ada di kotak masuknya.
'Murahan sih, namanya. Bisa-bisanya dia menggandeng tiga laki-laki sekaligus.' komentar itupun dibalas oleh yang lain. 'Kalau iri bilang saja. Kau bahkan tak mampu menggandeng salah satunya.'
'Menjijikkan. Terlihat seperti laki-laki demi menyembunyikan jati diri yang mampu merayu banyak laki-laki'
'sejak awal aku sudah tidak suka pada dia. Perempuan kok main sama laki-laki, ternyata eh ternyata.'
'banyak yang iri pada Richi Darrel ternyata.'
'Kasian ketua Osis kena PHP'. Komentar itu dibalas oleh anonim lainnya. 'Lebih kasihan Hugo sekarang, sih. Pasti diancam supaya jadi kekasihnya.'
'Bagaimana caranya mendekati para lelaki keren itu? Beritahu aku caranya😭'
'Harry lho, Harry. Lelaki yang sulit didekati. Hahaa..'
Richi menutup ponselnya. Ingin sekali dia mencabik-cabik para anonim itu. Tapi dia lebih kesal pada orang gila yang menyebarkan foto-fotonya. Kalau saja ketemu, gadis itu sudah memikirkan untuk menggulung ususnya!
Bel baru saja berbunyi tanda berakhirnya ujian. Richi segera keluar disaat yang lain tengah bersorak sorau karena setelah ujian ini mereka akan libur selama tiga hari dan masuk lagi ke sekolah untuk menerima laporan nilai. Saat itulah penentuan naik atau tidaknya. Kemudian libur semester lagi selama 3 minggu.
Richi bergegas menuju tempat ia dan yang lain akan menjebak hacker gila itu. Dia akan bermain basket karena Richi yakin dia pasti datang karena setelah diperhatikan, orang gila itu selalu punya foto-foto Richi dimana pun ia berada.
"Chi. Tunggu." Hugo menahan tangan Richi. Dia hendak membicarakan sesuatu.
"Ada apa? Aku buru-buru." Ujar Richi cepat.
"A-aku akan selesaikan latihan dengan mereka secepatnya dan setelah itu aku menolongmu."
Sebenarnya Richi merasa kesal karena Hugo lebih memprioritaskan dua orang itu. Entah apa yang mereka lakukan sampai Hugo semenurut itu.
"Pergilah, Hugo. Kau tidak perlu buru-buru karena ada banyak sekali orang yang akan menolongku." Jawab Richi dengan menahan diri supaya tak terdengar kesal. Tapi nampaknya gagal, karena nada itu terdengar menekan.
"Chi, aku tidak bisa melepaskan janji begitu saja. Kau tahu aku, kan?"
"RICHI!" Teriak Frans dari arah gerbang. Disana dia sudah bersama Emerald, Bella, dan Erick.
"Aku pergi." Richi langsung berlari kecil menuju teman-temannya, meninggalkan Hugo begitu saja tanpa ingin menjawab pertanyaan lelaki itu. Terserah saja, bagi Richi yang penting saat ini adalah orang gila yang merusak privasinya harus tertangkap apapun ceritanya. Richi tak ingin orang gila itu terus mengunggah foto-foto lainnya.
__ADS_1
...🦋...
Richi mendrible bola. Matanya menatap keranjang basket tak jauh di atasnya. Dia tengah bermain basket di lapangan taman kota bersama teman-teman yang lain. Kali ini Clair dan Bella sudah mencari tempat untuk memperhatikan Dachi Moon yang mungkin saja akan datang diam-diam memotret Richi lagi.
BRAK! Satu tembakan berhasil Richi luncurkan. Gadis itu berlari lagi, bermain seperti biasa bersama Emerald, Olivia, Frans, dan Erick.
'Rel, sebelah barat.' Suara Clair muncul dari earpiece di telinga Richi. Gadis itu langsung melihat ke arah yang dikatakan Clair. Dia mendapati seseorang dengan jeket, topi, dan masker tengah mengarahkan kamera dari balik tanaman hias.
Richi langsung bergerak, sementara orang yang memotret diam-diam itu terkejut dengan kecepatan Richi berlari ke arahnya. Dia berusaha kabur. Namun sayang, dia sudah kalah cepat. Richi berhasil menendang punggungnya hingga membuatnya dan kamera yang ia genggam terjatuh.
Clair, Bella, dan Olivia menahan tubuh orang itu, dia memberontak ingin melepaskan diri tapi sia-sia karena tenaga tiga perempuan itu sungguh luar biasa.
Emerald, Frans dan Erick ikut berlari menghampiri, mereka yang sudah tahu memang berniat membantu sejak tadi pagi.
Bella mendudukkannya dan membuka masker lelaki itu. Tak ada satupun dari mereka yang mengenalinya.
"Siapa kau?" Tanya Richi.
Orang itu menggelengkan kepala, dia nampaknya tak ingin memberitahu namanya.
Clair merebut kamera di tangannya, memeriksa apa saja yang sudah ia tangkap dari tadi.
"Dia berhasil mengambil gambarmu, Rel." Kata Clair dan dengan cepat dia menghapus foto-foto itu.
"Siapa kau sebenarnya, hah?" Emerald menatapnya tajam, membuat lelaki itu sulit bernapas karena kerah bajunya dicengkram kuat oleh Emerald.
"A-aku.."
"JAWAB!" Pekik Emerald.
"A-aku.. aku cu-cuma disuruh!"
"JANGAN BOHONG!!"
"Su-sumpah. Aku disuruh. Ka-katanya a-aku hanya perlu ambil g-gambar ga-gadis itu.." jawabnya menunjuk Richi.
"Siapa yang menyuruhmu??" Tanya Richi.
"A-aku tidak kenal. Ka-katanya aku hanya perlu memotretmu."
__ADS_1
"Yang benar saja, dia menyuruh orang-orang untuk mengambil foto Richi?" Kata Frans keheranan.
Richi mengepalkan tangannya. Kesal, dia benar-benar kewalahan menghadapi orang itu. Dia terlalu cerdas dan benar-benar melakukannya dengan rapi.
"Bagaimana Ri?" Tanya Erick. Mereka melihat Richi saja kebingungan, apalagi mereka tak punya basic menjebak orang.
"Bagaimana caramu mengirim foto itu?" Tanya Richi.
"Foto ini tidak dikirim. K-katanya a-aku mungkin akan dihajar olehmu karena di-dia bilang, kau tengah mencarinya." Jelas lelaki itu.
"A-apa.." mereka semua melongo. Bagaimana hacker itu tahu rencana mereka??
"Tolong, j-jangan siksa saya.." rintih lelaki itu.
Richi semakin dibuat pusing. Bagaimana cara dia tahu semua itu?
"Beritahu kami apa yang dia kenakan saat bertemu denganmu!" Tanya Emerald dengan keras.
"Di-dia memakai se-seragam seperti kalian."
Lagi, pernyataan lelaki itu membuat Richi dan yang lain terbelalak.
"Jadi dia murid Oberon??" Kata Frans.
"Astaga, aku penasaran!" Sahut Erick.
Richi sudah tidak tahu mau berbuat apa sebab lelaki itu sampai tahu apa yang Richi lakukan.
"Aku jadi merinding, jangan-jangan dia tahu kau sedang melakukan apa saja, Rel." Ujar Clair.
"Benar. Aku tak sangka ada orang yang mengagumi sampai seperti itu." Sahut Bella.
"Rel, kita istirahat saja dulu, sambil berpikir cara yang tepat untuk menangkap orang gila ini." Usul Olivia dan mendapat anggukan darinya.
Frans dan Erick memilih pulang. Sementara Richi dan yang lain menuju satu kafe outdoor, untuk berdiskusi.
Baru saja duduk, Hugo dengan berlari kecil dari mobilnya mendekati meja Richi.
"Chi, bagaimana? Apa sudah tertangkap?" Tanya Hugo. Dia tadi pergi karena menepati janji, lalu berencana kembali setelah selesai dengan pekerjaannya.
__ADS_1
"Kau dari mana saja tuan Hugo?" Tanya Clair.
"Tengah sibuk mengajari gadis-gadis cantik." Sahut Bella.