Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Hugo Menjemput Richi


__ADS_3

Richi dijemput Emer. Mereka pergi sekolah bersama dengan mobil yang di kendarai Emer.


Baru saja Richi turun dari mobil, mata-mata para murid sudah  tertuju padanya. Sesekali mereka berbisik.


Richi mengerutkan alis. Dia merasa pernah merasakan ini sebelumnya.


Emer berjalan mendekatinya. Dia juga merasakan hal yang sama.


"Ada apa mereka?" Richi memakai hoodie-nya.


"Entahlah. Biarkan saja mereka." Jawab Emerald santai.


"Hei lihat itu Richi, kan?"


"Iya. Dia sudah putus dengan Hugo?"


"Sepertinya dia selingkuh"


"Statusnya apa sebenarnya dengan Hugo"


"Hugo berpacaran dengan Camilla"


Mendengar sayup-sayup itu, sepertinya Richi mulai mengerti. Ternyata berkaitan dengan Hugo. Baiklah, dia tidak peduli sama sekali. Dia berjalan dengan santai, senang jika Hugo mengakui dirinya pacaran dengan orang lain. Artinya perjanjian diantara mereka telah usai.


"Hei. Kenapa kau bahagia sekali". Suara Emer memecahkan lamuannya.


"Tidak apa kak. Ayo." Richi berjalan dengan Emer. Dia tahu sedang menjadi pusat perhatian, tetapi dia sama sekali tidak peduli. Seperti kemarin-kemarin, kejadian ini hanya berlangsung sebentar. Selebihnya, orang-orang akan bosan.


Hugo berdiri di depan kelasnya. Tepatnya di depan pagar pembatas. Dia berdiri bersama teman-temannya sambil bercerita, sesekali melihat-lihat ke bawah.


"Sepertinya Richi memang dekat dengan Emerald". Suara Isac membuat mereka semua melihat ke bawah.


Disana, Richi berjalan sambil tertawa. Tanpa beban.


"Berita Hugo dengan Camilla lebih masuk akal. Dia terlihat lebih bahagia, karena bebannya berkurang." Ucap Axel sambil melirik Hugo.


Yang dilirik sedang tersenyum miring melihat ponselnya. Dia lalu memasukkannya ke dalam kantong celana.


"Memangnya dia bisa pacaran juga?" Ejek Hugo.


"Aku rasa mereka terlibat perasaan. Lihatlah, Richi bahkan bisa terus tersenyum dari awal hingga akhir jalan" Ucap Daren yang memperhatikan sejak tadi. Matanya tidak lepas dengan dua orang di bawah.


"Kalian hobi sekali merumpi" Hugo tidak suka pembahasan ini.


"Lalu kau bagaimana? Kenapa bisa memacari Camilla dengan serius? Bukankah kau tidak ingin pacaran?" Pertanyaan beruntun Axel di jawab singkat oleh Hugo.


"Sekarang ingin". Lalu dia masuk ke dalam kelasnya.


"Daren, apa rencanamu?" Tanya Isac sedikit berbisik.


Daren bahkan tidak mampu berpikir lagi sekarang.


💌💌💌💌


"Hei, Richi. Kau putus dengan Hugo?" Neli bersuara saat melihat Richi muncul dari pintu. Dia bahkan belum sampai di bangkunya.

__ADS_1


"Richi, kau sudah tidak bersama Hugo?" Greta datang mengikuti dari belakang.


"Memangnya kapan aku bersama Hugo?" Jawabnya cuek. Lalu membuka tas, mengambil beberapa cemilan di dalamnya.


"Bukannya selama ini kalian pacaran? Hugo sendiri yang bilang padaku". Greta ikut mengunyah cemilan di tangan Richi.


"Sekarang dia berpacaran dengan Camilla. Ah, aku tidak bisa menyangkal. Mereka memang sangat serasi. Aku tidak bisa protes." Ucapnya dengan nada yang melemas.


Puk puk puk.


Richi menepuk-nepuk punggung Greta. "Carilah yang menyukaimu. Pasti sangat banyak. Jangan mengemis seperti itu. Perempuan harus jaga gengsi, dong".


"Ppffttt" Greta menutup mulut dengan tangannya. Dia tak tahan ingin tertawa mendengar ucapan Richi.


"Kau sudah seperti orang yang berpengalaman. Padahal kau sendiri tidak pernah pacaran. Hahaha". Ejeknya pada Richi sambil berjalan pergi.


"Memangnya harus pacaran dulu baru bisa mengerti?" Gumamnya pelan sambil mengunyah.


~


Jam pulang sekolah telah berbunyi dari tadi. Belum semua anak-anak pulang. Ada yang masih sibuk dengan aktivitasnya.


Richi baru saja akan melangkah keluar, Hugo yang berdiri di depan kelas Richi. Nyalinya dikuatkan sebab dia masih merasa sedikit malu pada gadis itu.


"Hei Rich!"


Richi menoleh ke sumber suara. 'Memanggilku Rich (kaya)?' Batinnya.


"Nanti malam jam 7 ku tunggu di lapangan basket tengah kota untuk memenuhi janji kekalahan yang lalu. Aku bukan tipe orang yang melanggar janji. Kau harus tepat waktu". Ucapnya dengan tenang namun tubuhnya menyembunyikan kegugupan mengingat dia pernah memperlihatkan sisi sedihnya pada gadis itu.


Sejenak Hugo terdiam.


"Tidak perlu. Aku akan datang ke lapangan basket." Ucap Richi yang risih jika Hugo menjemput.


"Tidak bisa. Kalian harus seperti orang berkencan!" Daren tiba-tiba muncul dari belakang Hugo.


Hugo melirik Daren sekilas. Wajahnya kini terlihat malas. "Aku tidak mau repot berdebat. Aku jemput jam 7 nanti malam. Berdandanlah layaknya perempuan. Karena aku tidak mau dilihat orang berkencan dengan laki-laki."


Richi berdecak. Dia tidak berminat dengan Hugo dan kencannya segala macam. Kenapa harus memberi perintah!


"Bukan kewajibanku mengikutimu. Aku hanya perlu datang untuk memenuhi janji."


Richi berlalu begitu saja. Ucapan Hugo membuatnya seolah-olah harus mengikutinya. Sedangkan dia tidak menyukai laki-laki itu. Ditambah sifatnya yang semena-mena membuat Richi enek dan heran kenapa dia bisa jadi pusat di sekolah ini.


Bukankah Emerald lebih pantas?


Sekilas kalimat itu terlintas di benaknya. Emer memang lebih baik, jauh lebih baik. Batinnya sambil berlalu pergi.


"Richi. Hey!" Sapa Emer dengan suara yang agak mengeras.


"Ada apa kak? Kenapa teriak?"


"Aku memanggilmu dari tadi. Kau melamunkan apa, Richi?" Emer memandangnya dengan menahan tawa. Dia merasa wajah Richi sangat lucu saat kebingungan.


"Ayo, ikut aku." Ucap Emer lagi.

__ADS_1


"Aku dijemput, kak."


"Sudah aku suruh pulang supirmu" Katanya sambil terkikik. Emer menarik tangan Richi, lalu membukakan pintu untuknya.


Dari jauh beberapa orang yang memandang mereka mulai berkomentar.


"Aku sangat iri. Emerald bisa menaklukkan hati Richi dengan sangat mudah". Ucap Axel yang berdiri diam disana. Dia terus memandangi mobil Emer yang berlalu pergi.


"Memang mudah, iya kan, Hugo?" Tanya Daren sekaligus meledek Hugo yang hanya dapat rengutan dari Richi.


Hugo tidak peduli. Dia berjalan lagi dengan kedua tangan yang berada di saku celananya.


"Apa mau aku share lokasi rumahnya? Kau mau menjemputnya, kan?" Suara Daren bertanya lagi sambil mengikuti Hugo. Dia benar-benar semangat dengan acara kencan Hugo dan Richi.


"Hmm" Jawabnya singkat.


💢💢💢💢


Hugo sudah di depan pagar rumah Richi. Dia menoleh ke sebelah kirinya. Pagar itu berwarna hitam tinggi menjulang. Tidak terlihat sedikitpun rumah di dalamnya.


Dia memeriksa ponselnya lagi. Khawatir kalau dia dikerjai Axel.


Alamatnya benar seperti yang dikirim. Tapi, kenapa rumah ini besar sekali? Apa dia sekaya itu? Batin Hugo.


Dia lalu memencet bel. Tak lama, seorang penjaga datang.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya lewat celah kecil di pagar pada laki-laki tampan yang berdiri di depan pagar.


Hugo berdiam cukup lama. Lidahnya kelu. Apa benar yang dilakukannya ini? Rasanya dia ingin sekali kembali pulang.


Dia lalu menoleh sebab mendengar suara orang berjalan mendekatinya dari belakang.


"Kau?" Hugo melihat penampilan orang di belakangnya dari atas sampai bawah.


"Mau apa kemari?" Tanya Richi yang baru saja mau masuk ke rumah dengan memakai sendal jepit, celana pendek selutut yang koyak-koyak di tengahnya. Lalu memakai kaos putih tipis yang sudah melebar di daerah bahunya hingga memperlihatkan tulang selangka gadis itu.


Hugo melihatnya lagi. Rambutnya dibiarkan terurai. Terlihat sedikit basah. Dia membawa satu keranjang belanjaan. 'Sepertinya dia baru belanja' pikirnya.


'Fix, dia hanya pembantu di rumah ini' batin Hugo lagi.


"Kau datang terlalu cepat. Ini baru pukul 6. Matahari belum turun sepenuhnya". Ucapnya lagi.


"Tidak. Aku ada janji dengan Camilla jam 8 nanti malam. Aku mau cepat menyelesaikan tugasku. Sana bersiap. Aku menunggumu disini." Ucap Hugo padanya lalu menuju mobil mewah miliknya yang terparkir di depan Richi.


"Jangan disitu. Masuklah. Kau menghalangi orang lewat". Richi mengetuk tiga kali gerbang besar itu dan secara otomatis gerbang terbuka sendiri. Ia lalu menyuruh Hugo masuk.


Hugo memasukkan mobil ke halaman rumah mewah itu. Dia cukup terkejut karena rumah ini benar-benar besar. Walau semua orang tahu Hugo memiliki kekayaan yang luar biasa, tetapi rumahnya tidak sebesar ini. Dia juga tak sangka bahwa ada rumah yang mewah begini di kota ini. 'Bak istana'. Batinnya.


"Kau masuklah. Bilang saja pada Ibu kau menungguku". Dia lalu melihat Richi masuk dari samping rumah.


"Ibu?"


"Yaa" Teriak Richi dari jauh.


Hugo hanya menggeleng. Sempat di pikirannya Richi adalah orang kaya raya. Namun melihat anak itu hari ini, dia salah besar.

__ADS_1


To Be Continued....


__ADS_2