
Hugo memulai aksinya. Tanpa teman-temannya sadari, taruhan rahasia pun dimulai.
"Ah, kalian saja yang main. Aku capek." Tukas Richi sambil berjalan menuju luar lapangan. Dia tidak mau ambil resiko. Jika kalah, Hugo akan menang banyak. Tangan Richi ditarik Hugo lalu mendekat ke telinga Richi, membisikkan sesuatu.
"Kalau tidak ikut main, artinya kau kalah dan aku akan menagih kekalahanmu."
"Aku tidak main, artinya taruhan juga tidak ada."
"Kalau tidak mau main, aku minta ciuman di dalam air dan di darat." Bisik Hugo kemudian tersenyum jahil.
"Dih, mana bisa begitu." tukasnya dengan mata membelalak.
"Tentu bisa.." Hugo bermain lagi bersama yang lain.
Richi mau tak mau ikut bermain, dia begitu keras berjuang supaya Hugo kalah. Dia dibantu Daren dan memang benar, Richi menang hanya beda sedikit poin dari Hugo.
Hugo yang lelah langsung tergeletak di atas lantai lapangan. Dia harus merelakan kesempatan emas yang tadinya dia pikir akan sangat mudah memenangkannya. Daren pula tidak mau diajak bekerja sama. Dia malah memilih membantu Richi.
Sementara Richi berselonjor disebelahnya. Mengatur napas yang berat karena dia sangat berusaha supaya Hugo kalah. Untung saja Daren dipihaknya, tumben sekali lelaki cuek itu mau membantu.
"Darrel!"
Richi menoleh ke belakangnya. Disana ada Bella dan Olivia yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Hugo, aku akan pergi bersama tim Fox sekarang."
"Hah, kemana?" Tanya Hugo sembari duduk dengan napas terengah.
"Mungkin nonton atau lainnya. Entahlah, hanya untuk seru-seruan aja." Jawabnya sambil berdiri dan Hugo ikut berdiri.
"Aku ikut!"
"Ha? Kami perempuan semua." Sambung Bella.
"Aku akan menjaga kalian. Aku khawatir jika ada yang berbuat macam-macam, maka aku akan dengan cepat menghajarnya."
Ucapan Hugo mendapat tatapan aneh dari ketiga perempuan itu.
"Kenapa? Aku hanya ingin menjaga.."
"Hei, Hugo. Kau lupa siapa kami?" Perkataan Olivia membuat Hugo terdiam. Benar, dia lupa sejenak hanya karena tidak ingin ditinggal Richi.
"Tembakanmu saja masih kalah dari Clair. Bisa-bisanya.." Sambung Bella dan Hugo mencebik mendengar itu.
Olivia pula berjalan ke arah Daren yang duduk sambil sesekali menenggak minumannya.
"Tuan.."
__ADS_1
Daren mendongak, melihat Olivia yang berdiri tak jauh di depannya.
"A-aku ingin minta izin sebentar. Ingin pergi bersama Darrel dan yang lain."
Daren tak menjawab, dia melihati gadis itu dari atas sampai bawah.
"Lagipula tuan tidak punya acara malam ini, kan? Jadi saya akan pergi. Besok pagi-pagi saya akan ke rumah tuan."
"Kalau aku melarangmu?"
"Alasannya apa?" Tanya Olivia agak kesal.
"Ada acara."
Olivia melengos. Jelas-jelas dia sendiri yang bilang tadi pagi tidak ada acara apapun.
"Aku minta libur setengah hari saja." Ucapnya dengan nada merendah.
"Kau baru dua hari bekerja. Satu hari mengacau, hari kedua minta izin."
Olivia menurunkan pandangan, apa yang Daren katakan benar. Tapi kan, sedih rasanya kalau dia tidak bisa ikut bersenang-senang. Apalagi jarang sekali mereka pergi bersama.
Richi memandang dari jauh, melihat Olivia yang tampak kesal. Dia sudah mengira laki-laki itu pasti memberatkannya. Aneh, pacar saja bukan, malah mengatur. Richi mendekati kedua orang itu.
"Daren, tadi kau bilang padaku tidak ada acara. Kenapa tiba-tiba ada?" Tanya Richi yang sejak awal sudah bertanya untuk memastikan.
"He'm. Ya sudah sana pergi." Jawabnya dengan malas karena Richi sudah ikut-ikutan, tidak seru lagi mengerjai Olivia.
"Thank you, Daren." Richi merangkul Olivia. "Ayo, Bells. Kita siap-siap lalu menjemput Clair." Katanya dan langsung berjalan ke luar sekolah diikuti Bella dan mereka berjalan bertiga sambil bercanda kecil.
"Daren, ayo ikut aku." Tukas Hugo tiba-tiba berdiri di depan Daren.
"Kemana? aku sedang malas." Jawabnya acuh sambil memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
"Ikuti mereka."
Daren menoleh dengan alis berkerut. "Ngapain? Mereka cewek-cewek semua."
"Aku cuma merasa harus ikut aja. Ayolah."
"No. Kurang kerjaan." Tolaknya terus terang.
"Ck. Kalau Olivia kenapa-napa, memangnya kau tidak akan menyesal nantinya??"
"Kenapa memangnya? Dia juga garang. Ketemu anjing juga anjingnya yang kabur, takut digigit."
Hugo melongo, apa maksud Daren ini?
__ADS_1
"Ayolah, aku akan menemanimu bermain Ps sampai kau puas. Janji." Hugo menaikkan kelingkingnya. Daren tampak berpikir. Kemarin-kemarin dia mengajak Hugo bermain Ps selalu ditolak lantaran Hugo lebih memilih pergi bersama Richi terus menerus. Bukannya Axel dan Isac tak mau. Hanya saja, imbangnya hanya Hugo.
"Ya sudah."
Hugo tersenyum cerah dan langsung merangkul Daren. "Ayo, cepat!"
~
Tim Fox sudah bersiap dan menjemput Clair yang meninggalkan kedainya di tangan karyawan yang sudah ia percayakan sejak lama. Dia langsung naik ke mobil Richi yang dikemudikan oleh Bella.
Tanpa mereka sadari, dari belakang Hugo dan Daren mengikuti.
"Kekanakan sekali." Gumam Daren sambil menatap ke depan mobil yang berjalan cukup kencang.
"Apa kau bilang? Kekanakan apanya! Ini demi keselamatan kekasihku, tahu." Sanggah Hugo.
"Keselamatan, alibi. Jelas-jelas Richi itu kaya monster."
"Apa kau bilang??!"
"Ck! enggak ingat bagaimana caranya menyelamatkanmu dulu? lalu, sebenarnya banyak laki-laki yang tertarik padanya. Tapi tidak ada yang berani karena diamnya saja sudah cukup mengerikan." Jelas Daren.
"Baguslah. Aku tidak perlu susah-susah bersaing." Jawabnya santai sambil menatap mobil putih di depannya.
"Besok kita main Ps. Aku tepati janjiku." Sambung Hugo lagi.
"Jangan besok, aku ada janji dengan Camilla."
"Oh, kau masih berhubungan dengannya?"
"Gara-gara Olivia, aku harus menemaninya pergi ke pameran berlian besok malam." Kata Daren lalu menyandarkan kepalanya di kursi kemudi.
"Bukannya seharusnya kau senang, bisa pergi dengan orang yang kau suka?" Tanya Hugo, dan Daren hanya menatap ke depan tanpa jawaban. Dia juga tengah bingung, walau dia menyukai Camilla, tetapi sikap dan sifat gadis itu sungguh tak bisa ditebak dan terkesan menyebalkan sekarang.
Mobil Richi memasuki area Mall. Mereka memilih parkiran di lantai paling atas.
Hugo menatap Richi yang baru keluar dari mobil. Dia tersenyum melihat Richi meregang-regangkan tubuh dan lehernya kiri dan kanan. Sepertinya tubuhnya pegal setelah bermain basket.
"Lucu sekali dia." Gumam Hugo gemas melihat Richi yang memakai celana jeans pendek sepaha dan hoodie biru dengan rambut yang diikat seadanya.
Daren melihat aneh ke arah Hugo yang masih tersenyum menatap Richi dari jauh.
Tak kalah dari itu, mata Daren menangkap Olivia yang memakai celana jeans dan kaos putih dengan topi hitam di kepalanya. Dia tertawa dan nampak sangat bahagia. Berbanding terbalik dengan sisi Olivia saat bersama dirinya.
"Jangan ditatap terus. Hampiri sana!" Hugo terkekeh melihat Daren yang tak berkedip.
"Kau saja sana. Aku mau tidur." Daren merenggangkan sandaran tempat duduknya dan mulai memejamkan mata.
__ADS_1
"Ck! Payah."
(kita lanjut di jam 00 ya)