Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Pertandingan Basket


__ADS_3

Richi hanya diam mendengar perkataan Jess. Selama ini dia selalu belajar mengendalikan emosi walau dia selalu ingin menghantam orang-orang sombong disekelilingnya. Makanya, di tempat-tempat seperti ini Richi sering mengelurkannya.


"Berapa usiamu?" Tanya Jess yang melipat tangannya di dada.


"17 tahun, kak".


"Hanya beda setahun, tidak perlu memanggilku begitu. Panggil aja, Jess. Siapa tahu kita bertemu diluar setelah kau menyerah disini". Ucapnya dengan senyum tipisnya dan berlalu begitu saja.


Velly memegang pundak Richi. "Dia memang begitu. Ku harap kau seterusnya akan disini, Richi". Kata Velly dengan senyumnya yang menghangatkan.


Richi hanya mengangguk dengan senyuman. Walau rasanya ia sangat ingin menghantam wajah Jessica.


"By the way, Richi. Apa sebelumnya kita pernah bertemu? Wajahmu sepertinya tidak asing" Ujar Jils tiba-tiba.


"Benarkah? Sepertinya tidak, aku tidak mengenalmu sebelumnya". Ucap Richi. "Model wajahku ini memang agak pasaran. Hehee".


"Sama sekali tidak. Kau cantik sekali." Kata Jils dengan jujur.


Richi hanya diam. Menurutnya, kebanyakan pujian sesama perempuan itu tipuan.


"Ayo, kumpul semua". Suara seseorang menggema dalam ruangan.


Semua orang berdiri, mengelilingi seseorang itu.


BRAK!


Pintu terbuka lebar. Hugo berdiri disana sudah dengan kaos hitam yang membentuk tubuhnya.


"Masuklah. Kita akan mulai." Katanya pada Hugo. "Kau bilang tidak akan datang, ha?".


Hugo berjalan saja. Matanya menyapu wajah orang-orang disana. Dia tidak menemukan wajah yang ia cari.


"Baiklah. Disini ada beberapa orang baru. Dua laki-laki dan satu perempuan. Kepada seniornya, mohon kerjasamanya supaya membantu yang baru masuk."


"Siaaap" Seru beberapa orang disana.


"Ayo, silakan mulai. Hugo, kau bantu orang baru, ya". Ucapnya pada Hugo. Lalu pria itu beranjak untuk melatih sekelompok orang yang sudah memisahkan diri.


Saat orang-orang bubar, Hugo melihat Richi berdiri disana.


"Hugo." Jess mendekat. "Kau bantu aku, ya. Hari ini aku ingin latihan di atas ring" Ucapnya dengan pandangan tersipu pada Hugo.


Hugo melirik Richi yang mulai menjauh.


"Aku diminta untuk melatih anak baru. Mintalah Rexi untuk mengajarimu" Ucapnya lalu meninggalkan Jess berjalan menuju Richi.


"Kau mau belajar tinju?" Tanyanya dari belakang.

__ADS_1


Richi berbalik badan. Dia hanya diam. Kalau dia sekarang berada disini, ya artinya mau belajarlah, batinnya.


"Memangnya untuk apa belajar tinju?" Pertanyaan paling aneh yang sering Richi terima saat mereka tahu dia menggeluti bela diri.


"Untuk menghajarmu".


Mendengar itu Hugo mengerutkan alisnya.


"Baiklah. Aku akan mengajarimu supaya kau bisa menghajarku nanti".


Richi melirik sekilas wajah Jess yang berang memandang ke arahnya.


Hugo mengikat telapak tangannya dengan kain panjang.


"Hah, kau ini benar-benar perempuan yang jantan". Ucapnya agak pelan supaya Richi tetap bisa mendengar ucapannya.


"Kepalkan tanganmu seperti ini". Hugo mempraktekkan cara mengepalkan tangan dengan benar. "Posisikan tubuh seperti ini".


Richi ingin sekali minta untuk belajar langsung ke ring. Namun dia urungkan, sebab dia memang harus belajar dari awal walau yang seperti ini pasti dia sudah bisa.


Dia tetap mengikuti apa yang Hugo ajarkan padanya.


"Kau cepat sekali mengerti. Apa sudah pernah sebelumnya?" Tanya Hugo yang melihat Richi bisa melakukannya hanya satu kali pengajaran.


"Aku ini memang pintar" Pujinya sendiri.


🏀🏀🏀🏀


Ada 15 sekolah yang ikut pertandingan. Dan tiga gor di sekolah berbeda di adakan pertandingan serentak. Sampai menemukan 6 besar, pertandingan akan dilakukan di gor sekolah Uranus, sekolah Camilla. Sebagai sebuah kehormatan, pesta penutup juga akan di adakan di sekolah Oberon.


Gor sekolah saat ini di pakai oleh tim Hugo melawan sekolah Apollo.


"Ah, Apollo School. Aku hampir saja masuk ke sana". Ucap Frans yang sudah duduk di kursi menonton pertandingan basket yang sebentar lagi akan dimulai.


"Kenapa tidak jadi?" Tanya Eric melirik ke sebelah kanan Richi. Karena posisi Richi ada di tengah Frans dan Eric.


"Entahlah. Mungkin memang takdirku bertemu denganmu dan Richi". Ucapnya santai sambil ikut memakan cemilan Richi.


"So sweet" Eric memeluk Frans dan Richi.


"Kebiasaan!" Richi mendorong jidat Eric dengan telunjuknya yang sudah hampir memeluknya.


"Aku kan, cuma merasa terharu saja". Ucapnya kecewa karena pelukannya ditolak.


Richi yang mendengarnya santai saja. Matanya fokus pada orang-orang yang akan bertanding.


"Kau juga, kenapa tumben datang ke acara sekolah. Biasanya juga bolos. KRAUK!" Frans bertanya sambil ikut makan cemilan Richi.

__ADS_1


"Bentar lagi mau bolos" Ucapnya santai.


Lalu tiba-tiba, suara sorak meriah di gor. Banyak gadis-gadis yang memanggil nama Hugo saat melihat dia dan timnya masuk ke lapangan.


"Benar-benar mega bintang". Ucap Eric sambil menggelengkan kepalanya. Merasa takjub dengan kehidupan Hugo.


Suara peluit menandakan permainan dimulai. Suara gemuruh di dalam gor membuat suasana sangat meriah. Apalagi saat tim Hugo berhasil memasukkan bola ke dalam ring. Suara itu semakin menjadi.


Nampak kekecewaan di wajah anak-anak Apollo saat melihat poin mereka jauh di bawah Oberon. Lalu, seseorang dari tim Apollo nampaknya tidak terima dengan kekalahannya.


"Wah.. lihat itu. Kalau kalah ya kalah saja, hooi" Teriak Eric pada tim yang kalah. Namun karena suara gemuruh, suara Eric yang tidak jantan itu dihiraukan.


Salah satu tim Apollo terlihat ingin menghajar Axel. Keributan sempat terjadi. Namun untungnya tim keamanan segera datang dan melerai seluruh anggota.


"Berambisi sekali". Ucap Richi tiba-tiba.


"Baru babak pertama sudah tumbang, wajar sih, marah. Pasalnya tahun lalu mereka masuk 4 besar. Nahasnya, mereka langsung bertemu Oberon hingga kalah di babak awal." Ujar Frans yang membuat Richi angguk-angguk.


~


Pertandingan pertama selesai. Richi keluar dari gor. Dia mendapat pesan dari Emerald yang mengajaknya kabur dari sekolah. Walau dia merasa aneh kenapa Ketua Osis malah kabur.


Richi menuju belakang gor supaya tidak terlihat oleh guru.


Lalu tidak sengaja, dia melihat Axel sendiri berhadapan dengan anak-anak Apollo.


"Kalau kalah, terima saja!" Ucap Axel santai menghadap 5 orang dengan seragam yang berbeda dengannya.


Karena merasa tidak senang, kelima orang tersebut menyerang Axel. Awalnya dia sempat bertahan. Lalu terkalahkan lantaran melawan 5 orang sekaligus.


Richi yang awalnya tidak ingin terlibat, mendekati mereka.


BRUK!


Tubuh Axel terhempas tepat di bawah kaki Richi. Wajahnya sudah bengkak dan hidungnya mengeluarkan darah.


Axel mengaduh kesakitan. Lalu dia melihat ke atasnya. "Hei, pergilah. Lari". Ucapnya dengan suara parau.


"Wah. Siapa ini. Cantik sekali". Ucap satu diantara mereka.


"Gadis Oberon memang cantik-cantik." Ucap yang lain.


"Pergilah sebelum kau menangis, Nona." Katanya lalu diiringi tawa oleh temannya yang lain.


"Pergi, Richi." Ucap Axel yang suaranya mulai tak terdengar.


Richi melirik ke atas. Dia melihat ada beberapa CCTV disana.

__ADS_1


"Hei, Axel. Kalau terjadi sesuatu pada mereka, kau yang harus bicara pada orang tuaku, ya." Ucapnya sambil melepas ranselnya.


To Be Continued....


__ADS_2