Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Hugo Satu Tim dengan Richi


__ADS_3

Hugo membereskan barangnya. Dia hendak keluar dari kelas setelah bel pelajaran terakhir berbunyi. Dia tidak sempat mengatakannya tadi lantaran gadis itu tidak mau mendengarkannya. Dia juga masih di ejek teman lainnya tentang Richi yang ternyata memilih ketua osis ketimbang dirinya. Menurutnya, gadis itu harus menjaga martabatnya sebagai lelaki yang tak pernah ditolak, lelaki yang selalu mampu menaklukkan hati para gadis walau tak bermaksud.


Dia berjalan keluar setelah hampir semua siswa meninggalkan kelas. Ia melihat ke lapangan basket dari pagar pembatas lantai 2. Sosok Richi belum kelihatan disana.


"Cari siapa, Hugo?" Suara Daren membuatnya menoleh.


Hugo hanya diam. Daren bisa menebak kalau Hugo takut di ejek jika ia salah menyebut nama lagi.


"Richi?" Tanyanya lagi.


Hugo tak menggubris. Dia melihat lagi ke arah lapangan basket.


"Kelasnya disitu". Daren menunjuk kelas Richi. Dia menggelengkan kepala melihat tingkah Hugo yang tak biasa.


Hugo langsung menuju arah yang ditunjuk Daren. Hanya berbeda tiga ruang dari kelasnya.


Dia melihat Richi sedang mengepel lantai. Hanya dia sendirian, tanpa alas kaki. Baju seragamnya di buka. Dia hanya memakai kaos hitam lengan pendek. Tak lupa headset di telinganya menggantung.


Dia sudah di ujung. Pekerjaannya sudah hampir selesai.


Hugo melipat tangannya di dada. Melihat gadis itu yang ternyata bisa juga bekerja.


Richi bahkan tak merasa diperhatikan. Dia membereskan barangnya dan akan keluar ruangan. Lalu dia terhenti saat melihat Hugo sudah tegak berdiri disana.


Richi menghela napas. Melepaskan headset-nya dari telinga.


Hugo masih diam disana. Memandang Richi dengan dagu yang sedikit naik.


"Minggir". Suara Richi sedikit bergema di kelas yang kosong.


"Aku mau bicara".


"Aku tidak punya urusan denganmu"


"Kau sudah kalah basket".


Pernyataan barusan membuat Richi ingat taruhan mereka.


"Mau apa? Cepat. Aku ada urusan lain."


"Jangan lupa, aku pacarmu. Kau bukan tipe orang yang mengkhianati janji, kan". Halah bahasanya. Seolah-olah mereka benar-benar pacaran.


"Katakan cepat. Jangan bertele-tele".


Hugo menghela napas. Gadis ini memang terlihat tidak punya ketertarikan padanya.


"Berpura-puralah jika ada orang lain. Minimal senyum. Senyum!" Hugo menarik bibirnya. Memberi tahu Richi cara tersenyum di depannya.

__ADS_1


Richi membuang muka. Benar-benar membosankan, pikirnya.


"Baiklah. Sekarang minggir".


"Aku serius. Kau gak mau kan, kalau aku mengarang cerita tentangmu seperti kemarin? Orang-orang pasti percaya padaku." Ancamnya. Dia tidak melihat Richi serius. Richi sepertinya hanya iya iya saja supaya Hugo menyingkir.


Gadis itu mengerutkan alisnya. Dia paling tidak suka di ancam.


"Baik, aku mengerti. Minggirlah"


Hugo melihat perubahan di wajah Richi. Dia menepi, membiarkan Richi berjalan dengan cepat tanpa melirik ke arahnya.


🐓🐓🐓🐓


Malam ini Richi dan teman-teman lainnya sudah memesan lapangan outdoor di tengah taman kota untuk bermain basket. Dia bersiap. Lalu kakaknya masuk. "Chi..".


"Apa?" Tanyanya tanpa menoleh. Melirik dirinya di kaca yang sudah lengkap dengan baju basketnya.


"Mau olahraga aja, berdandan".


"Siapa yang dandan?" Elaknya.


"Terus, itu apa di bibirmu"


"Ini kan, biasa. Namanya lipbalm. Biar bibir gak kering". Ucapnya lagi.


"Apa kau naksir dengan Emerald?"


"Hah! Pertanyaan macam apa itu. Minggir sana!"


Richi langsung mengenakan jeketnya dan tak menjawab kakaknya dengan benar. Dia bergegas menuju taman kota dengan skateboard miliknya.


~


Teman-temannya sudah berkumpul. Ada Emer disana. Ternyata Richi adalah orang yang paling terakhir datang.


"Kau ini, Ri. Bukankah rumahmu yang paling dekat?" Omel Erik.


"Hahaha maaf yaaa"..


Mereka bermain dengan sangat bersemangat. Sesekali mereka bercanda dan tertawa.


Hugo dan Daren datang. Sebenarnya, Daren di ajak Emer, lalu Daren datang dengan membawa Hugo.


Hugo sendiri tidak tahu kalau Richi ikut bermain disitu. Richi terlihat senang sesekali Emer menjahilinya.


"Ayo, gabung" Teriak Frans dari lapangan.

__ADS_1


Richi yang asik bermain tidak memperhatikan.


"Hugo, kau dengan kelompok pacarmu saja, ya". Ucap Daren lalu bergabung ke lapangan.


"Apa! Hei.."


"Ah, Richi. Kita kedatangan pemain lagi. Hugo gabung dengan timmu. Daren gabung dengan tim kak Emer, ya.." Ucap Erik sambil berlari masuk lapangan.


Richi menatap kesal. Tidak mungkin dia keluar lapangan sekarang. Anak-anak lain pasti menanyakannya dengan serius setelahnya. Sebab sekarang mereka sudah di gosipkan pacaran.


"Baiklah, ayo serius bermain. Kita taruhan. Bagaimana?" Usul Daren. Dia sengaja supaya Richi dan Hugo bermain bersama. Karena ia melihat wajah Richi yang tampak malas saat melihat Hugo.


"Boleh juga. Apa taruhannya?" Tanya Erik dan Frans antusias.


"Hmm.. Bagaimana kalau jika tim kalian yang kalah, Hugo dan Richi harus kencan diluar."


"Apa! Taruhan macam apa itu?" Richi tidak setuju. Yang main satu tim kenapa yang dihukum hanya dia?


"Ah, aku setuju" seru Frans "kalau kita yang kalah, kita berdua kencan, bagaimana Daren?" Katanya pada Daren.


Hugo tertawa menyepelekan. "Kalian mana mungkin menang".


Dia tahu dengan kemampuannya. Apalagi di tambah Erik dan Richi di timnya, dia rasa cukup mengalahkan Daren. Sebab dia tahu kemampuan yang lain masih jauh di bawah.


"Hah gabisa. Mana mungkin menang melawan Daren dan kak Emer!" Richi malah kebalikan. Dia tidak berani lantaran Daren juga pemain handal. Apalagi jika mereka kalah, dia tidak bisa membayangkan akan pergi berkencan dengan Hugo sialan itu.


"Hei, kau meremehkanku? Aku ini sering menang melawan Daren, tahu!" Hugo malah marah pada Richi yang terlihat menyepelekannya.


"Iya, aku gak percaya padamu". Tegasnya pada Hugo.


"Makanya, ayo kita buktikan, siapa yang akan menang." Daren menjulurkan tangannya. Dia pandai memancing Hugo.


"Oke, kita lihat saja. Kalau kalian yang kalah, kalian harus berkencan dengan memakai pakaian cewek. Deal ?" Hugo menerima uluran tangan Daren dan memberi tambahan hukuman kepada tim sebelah agar seimbang sebab tidak ada perempuan di tim mereka.


"Hei, kau ini. Main deal-deal sendiri!" Berang Richi yang melihat Hugo tak mau berkompromi. "Kalian ini, kenapa diam aja." Richi memarahi teman setimnya yang lain. Mereka hanya cekikikan sebab mau kalah atau menang, mereka takkan kena hukuman.


Semua sepakat. Mereka mengambil posisi.


"Hei, Hugo. Kau seenakmu saja!" Omelnya pada Hugo. "Aku tak mau kencan denganmu".


"Aku juga enggak! Makanya, serius bermain, biar menang". Balasnya dengan melet kepada Richi. Karena bukan hanya Richi, dia juga ogah kencan dengan gadis separuh lelaki ini. Tapi karena disepelekan, dia berani mengambil tindakan.


Richi benar-benar kesal. Dia enggan bermain. Namun nampaknya akan sangat aneh jika Richi menolak bermain hanya karena hal yang dianggap sepele oleh mereka.


Begitu juga Emer. dia sebenarnya sudah mendengar dari teman-temannya tentang gosip yang menimpa Richi beberapa minggu yang lalu. Namun dari pada menyukai, Richi bahkan terlihat sangat tidak menyukai Hugo.


To Be Continued....

__ADS_1


__ADS_2