Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Kehadiran Daren


__ADS_3

Olivia terkikik melihat kedua temannya dihukum ketua tim karena berani menggosipkan perihal keperawanannya. Hampir saja dia juga kena, kalau saja dua orang itu berbagi cerita padanya. Ada baiknya memang untuk tidak tahu menahu mengenai urusan sang ketua.


"Aah. Pegal." Clair menggerak-gerakkan bahunya.


"Sial. Aku akan menghukum Axel nanti." Sungut Bella dengan geram kemudian menenggak air putihnya di atas meja.


"Hihi, kok bisa kalian percaya ucapan Axel?" Olivia menopang dagu memandang lucu kedua temannya yang sudah berkeringat.


Clair menoleh pada Richi. Gadis itu tengah menyusun buku-bukunya ke dalam rak di sudut ruang.


"Awalnya juga aku tidak percaya. Tapi Axel terlihat meyakinkan. Dia panik saat turun dari tangga karena dia juga tidak percaya Hugo akhirnya melakukan itu pada seorang perempuan." Jelas Clair memijit-mijit lengannya.


"Lain kali, jangan cepat sekali menerima gosip. Padahal kalian sendiri tahu Darrel tidak seperti kalian." Terang Olivia menyadarkan kedua temannya.


"Aku berani bertaruh kalau dia takkan sanggup menahan itu. Tinggal tunggu waktu sa- Akh. Apa?!" Sentak Bella pada Clair yang tiba-tiba menendangnya.


Clair hanya diam karena Richi datang ke meja mereka. Dia duduk dengan tatapan dingin kepada dua temannya.


"Sorry. Kami sudah berkata yang tidak-tidak." Tutur Clair menunduk.


Richi masih menatapi kedua temannya yang sedang merenggangkan bahu mereka. Dia merasa bersalah. 50 kali rasanya kelewatan mengingat mereka sudah hampir tidak pernah latihan apapun selama ini.


"Tidak apa. Seharusnya, kalianlah orang pertama yang tidak percaya hal seperti itu."


"Kalau saja gosipnya bukan Hugo, jelas kami tidak percaya. Lagian kau memang sekamar dengan lelaki itu, kan!" Bella sedikit berteriak, membuat Clair dan Olivia menegang.


Sejenak Richi diam.


"Memang. Tapi bukan berarti telah melakukan itu. Aku ini... punya prinsip yang kuat." Richi sempat ragu mengucapkan itu, karena malam itu juga dia hampir saja melakukan hal yang tidak-tidak dengan Hugo. Padahal melakukannya juga perkara yang legal di negaranya. Tapi, entah kenapa tidak mudah bagi Richi.


"Hah. Aku yakin kau tak akan sanggup jika terus berduaan dengan Hugo. Kecuali kau tidak normal." Setelah mengatakan itu, Bella membawa gelasnya dan masuk menuju pintu dapur.


"Jangan dengarkan dia. Jika itu sudah menjadi prinsip, kau pasti bisa menjalaninya sampai akhir." Ucap Clair mencairkan ketegangan wajah Richi akibat perkataan Bella. Rupanya gadis itu juga takut kalah dan menyerah pada Hugo karena perasaannya itu.


Ponsel Olivia berdering. Dia langsung melompat kegirangan karena Daren yang melakukan panggilan video padanya.


'Hai, sayang.' Sapa Daren dengan suara riang.


"Kau lama sekali." Olivia mulai merengut. Aneh, padahal tadi sangat gembira.


'Maaf, sayang. Kelasku baru berakhir. Kau masih bekerja?'


"Iya. Disana jam berapa?"


'Jam 5 sore. Aku sedang menuju mobil dan pulang ke rumah. Nanti malam aku akan ada acara makan malam. Jadi, aku tidak bisa menemanimu makan.'


Clair dan Richi saling pandang. Menemani makan, apa maksudnya.


"Begitu, ya.." Olivia tampak lesu. "Memangnya makan malam bersama siapa?"

__ADS_1


'Sama-' Daren terhenti saat mendengar namanya diteriaki oleh seseorang dan Olivia langsung menegakkan tubuhnya karena suara perempuan dari seberang.


'Daren, espera!' Perempuan itu menghampiri Daren lalu mereka mengobrol serius dengan bahasa yang Olivia tidak mengerti.


'Oliv, nanti aku hubungi lagi. Aku harus segera pergi. Oke? Love you.'


"Hei! Akkh." Olivia tak suka Daren langsung memutuskan panggilan begitu saja.


"Apa-apaan ini. Siapa perempuan tadi, hah? Dia mau makan malam bersama perempuan itu, ya?! Sial!" Olivia menggrebek meja dan tersungut-sungut melihat seorang perempuan mendekati kekasihnya pada panggilan video tadi.


"Tenanglah. Dia cuma bilang kalau profesor yang ditunggu Daren sedang di ruangannya. Itu sebabnya Daren buru-buru ingin menemuinya." Jelas Richi pada Olivia.


"Yang benar? Aku tidak percaya. Aku lihat perempuan itu sangat cantik tadi. Aah, bagaimana kalau Daren digodanya??"


"Kalau Daren tergoda, ya biarkan saja." Tukas Clair.


"Apa?! Mana bisa begitu!" Pekik Olivia tak terima.


"Hei, itu artinya Daren tak serius denganmu. Memangnya apa yang perlu kau pertahankan jika laki-lakinya saja bermudah-mudahan dengan perempuan lain?"


Olivia diam dengan mata yang terbelalak. Pikirannya mulai kacau dan tentu saja ucapan Clair tadi membuatnya semakin berpikir yang tidak-tidak soal Daren.


"Sepertinya Daren bukan tipe laki-laki yang seperti itu. Apalagi dia keturunan bangsawan. Ada hal-hal yang dia sudah pelajari sejak kecil termasuk loyalitas." Richi menenangkan Olivia.


"Iya. Tapi mereka juga punya selir, tahu."


"Ayah Daren tidak menikah lagi sejak ibunya meninggal. Selir, apanya." Richi menepuk-nepuk punggung Olivia. "Kau tenang saja, yang namanya LDR memang cuma orang-orang kuat yang mampu menjalaninya."


Olivia mendesah pelan, lalu bangkit dan berdiri dibalik meja bartender. Melihat Olivia yang lesu, Clair melirik Richi.


"Memangnya Daren benar-benar pindah keluar negeri? Kok, Hugo dan yang lain santai saja?"


"Kau lihat saja nanti." Jawab Richi kemudian menyeruput minumannya.


~


Olivia mondar mandir sejak tadi di dalam kamarnya, menunggu telepon dari Daren. Padahal seharusnya dua jam setelah telepon berakhir siang tadi, Daren meneleponnya. Tapi sekarang sudah malam dan tak ada deringan dari lelaki itu.


Jika dihitung-hitung, sekarang ini sudah hampir pagi di tempat Daren berada. Kemana lelaki itu? Biasanya dia akan menelepon di jam-jam segini.


"Aarghh. Daren sialan! Kau pasti berkencan dengan perempuan itu, kan! Aaaakh. Aku benciiii!" Olivia melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur dan iapun menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur dan menutup kepalanya dengan bantal.


Pagi harinya, Olivia terbangun dan tangannya langsung meraba ponsel. Dia melihat jam di dinding, ternyata sudah pukul 9 pagi.


Baru ia menyentuh ponselnya, benda itu berdering. Olivia berdecak padahal dia menunggu panggilan lelaki itu.


Olivia menolak panggilan. Dia sudah terlanjur kesal. Padahal dia menunggu sejak kemarin, tetapi tak ada pesan permintaan maaf dan Daren pula baru meneleponnya sekarang.


Ponsel Olivia berdering lagi. Masih dari Daren yang menelepon video padanya.

__ADS_1


Dengan wajah kesal Olivia mengangkatnya.


'Morning, sayang. Baru bangun, ya?" Ceria suara Daren tak membuat Olivia tertular. Dia masih memasang wajah jengkel dan enggan melihat ke arah Daren.


'Olivia, ada apa?' Pertanyaan Daren sontak membuat Olivia semakin memperdalam kerutan di dahinya.


"Ada apa kau bilang?? Aku menunggumu menelepon, tapi kau tak memberi pesan apapun padaku!"


'Hehehe, maaf, sayang. Aku sibuk.'


Mendengar tawa Daren semakin membuat olivia kesal setengah mati.


'Sayang, tebak aku dimana.'


"Aku tidak peduli kau dimana- eh." Olivia membulatkan mata. Dia mencoba melihat dekat-dekat layar ponsel dimana Daren sekarang tengah tersenyum cerah. Tapi, suasana dibelakang Daren, Olivia sangat mengenalnya.


Olivia langsung berlari keluar. Dia membuka pintu dan mendapati Daren bersandar di badan mobilnya.


Sejenak Olivia mematung. Dia mencoba berpikir dulu, apakah benar Daren di depan rumahnya? Bukankah dia pindah ke luar negeri dan baru kemarin lelaki itu ada disana. Lalu, siapa orang yang berdiri dengan bersedekap itu?


Daren merentangkan tangannya. "Aku sudah datang, apa kau tidak kangen?"


Suara itu membuat Olivia tersenyum. Dia memang Daren.


Olivia lari dan berhambur ke pelukan Daren. Dia rindu pada lelaki itu.


"Kau senang aku datang?"


Olivia mengangguk-angguk di pelukan Daren. Sedetik kemudian dia melepasnya dan wajah itu berubah jengkel.


"Kau tidak menghubungiku sama sekali! Lalu, kenapa kau tiba-tiba disini? Bukankah kau pindah??" Banyak pertanyaan Olivia karena keheranan dengan kemunculan Daren.


"Aku hanya belajar selama satu minggu sebenarnya. Tapi aku mengusahakan kemampuanku untuk bisa mencapainya selama 3 hari saja. Setelah aku bertemu profesor yang membimbingku, aku meminta ujian di awal dan aku lulus. Itu sebabnya aku langsung mengurus kepulangan, bahkan aku belum pulang ke rumah." Jelas Daren panjang lebar supaya kekasihnya itu tak lagi merengut.


"Kau menipuku, ya? Kau tidak bilang hanya satu minggu. Kau juga berakting seakan-akan pergi selama-lamanya. Pantas saja Hugo dan yang lain tidak mengantarmu."


"Hahaa. Tapi itu membuatmu semakin menyayangiku, kan?" Daren menarik lagi Olivia dan menangkup kedua pipinya.


"Aku sangat rindu. Kalau kau?"


"Aku juga saaangattt rindu." Jawabnya dengan suara yang sengaja dibuat gemas.


Mendengarnya pun membuat Daren merasa lucu. Dia lalu mendekatkan bibirnya, mengecup dengan penuh pengkhayatan bibir Olivia, sampai mereka tak sadar seseorang berdiri dengan kaku menatap mereka.


BRUK!


Olivia dan Daren tersentak sampai melepaskan ciuman mereka. Elisa menjatuhkan barang-barang belanjaannya, menatap kaget dengan mata yang membulat.


"K-ka-kalian..."

__ADS_1


__ADS_2