
"Apa ini?"
Richi meraih brosur yang terletak diatas dashboard mobil.
Hugo melirik kertas itu sekilas. "Itu brosur pertunjukan seni yang akan diadakan beberapa minggu lagi di fakultasku."
Richi membacanya dengan seksama. "Di fakultasmu? Ini sepertinya untuk seluruh fakultas."
"Benarkah?" Hugo mengingat-ingat lagi. Sepertinya tadi ketua panitia itu bilang hanya untuk fakultasnya.
"Huemm.. sebenarnya tadi aku dihampiri ketua panitianya. Katanya rektor kampus meminta aku untuk menjadi pemeran utama pria di pertunjukan teater. Bagaimana menurutmu?"
"Menurutku?" Tanya Richi balik.
"Kalau kau tak mengizinkan, aku tak akan mau melakukannya."
"Kenapa aku tidak izinkan? Aku tidak pernah melarangmu melakukan apapun. Tapi tetap saja, kau harus memperhatikan detailnya, kan?"
Hugo mengulum senyum. "Iya. Aku tahu. Aku akan buat peraturannya. Kalau mereka menerima, aku pun akan mengambilnya."
Hugo langsung mengerti saat Richi mengatakan itu. Maksudnya agar tak ada ciuman atau sejenisnya saat melakukan drama teater, karena Richi tak akan suka melihatnya melakukan itu walaupun hanya sebuah drama.
"Apa judul dramanya?" Tanya Richi.
"Aku belum menyetujui itu. Jadi, aku belum tahu. Tapi yang jelas, aku akan meminta mereka menghapus adegan ciuman atau apapun yang berkaitan dengan itu."
Richi tertawa kecil. "Aku akan menonton dirimu nanti. Tapi kalau aku tahu ada adegan seperti itu, aku akan membolak-balikkan panggungnya."
Hugo malah tertawa lebar. Dia meraih tangan kiri Richi, lalu menciumnya dengan mata yang terus menatap ke jalan di depannya.
"Mana mungkin aku bisa menatap perempuan lain saat kekasihku ini sungguh sempurna." Katanya sambil mengeratkan genggaman, sementara sebelah tangannya memegang kemudi.
"Yang benar? Bukannya kau senang karena banyak fans perempuan."
Hugo menghela napas. "Mulai." Keluh Hugo saat Richi menyalakan api pertengkaran.
"Aku kan, cuma bertanya. Selama ini kulihat kau sangat menikmati kalau ada perempuan yang meminta foto atau memuja-mujimu."
"Kau selalu saja, saat aku mulai memuji dan menyanjungmu, kau menyulut api pertengkaran." Ujar Hugo mulai kesal.
"Apa? Kau menganggapku memulai pertengkaran? Aku kan, cuma bertanya!" Pekik Richi ikut kesal.
"Pertanyaan apa itu? Memangnya kau tidak bisa bilang terima kasih saja, atau apalah."
"Hah. Kenapa kau jadi marah-marah?"
"Aku bukan marah, sayang. Aku cuma kasih tahu."
"Itu nada bicaramu tinggi. Hei, dengar ya, Hugo. Selama ini aku saaaangatt sabar saat melihatmu menye-menye dengan perempuan yang meminta foto denganmu."
Hugo mendelik kesal. "Kapan aku seperti itu??"
"Kapan? Hahaha. Setiap hari! Kau setiap hari bla bla.." Richi mengoceh panjang lebar, membuat Hugo menarik rem tangan saat lampu merah, lalu menatap cewek itu.
__ADS_1
"Kau juga senang kan, ngaku saja. Aku bisa lihat it- Mmmmhhppp."
Hugo langsung membungkam Richi dengan bibirnya. Dia menahan tengkuk Richi yang berusaha melepaskan diri, namun Hugo terus mellumat bibir gadis itu sampai klakson mobil di belakang mereka terdengar, menyuruhnya untuk jalan karena lampu sudah berubah hijau.
"Haah. Kau gilaa!!" Pekik Richi, mengambil napas banyak-banyak.
"Memang." Jawab Hugo sambil tersenyum puas.
Setelah hampir satu jam, mereka sampai di kafe Clair. Mereka masuk ke dalam dan mendapati Olivia menangis sesegukan.
"Hei, ada apa?" Richi duduk disebelah gadis itu. Dia terisak dengan menutup wajahnya.
"Dia ketahuan oleh bundanya karena masih pacaran dengan Daren." Sahut Clair yang duduk di depannya.
Ah.. Richi tak bisa berkomentar. Soal itu memang pelik. Dan menurut Hugo pun, hubungan mereka akan sulit karena perbedaan sosial.
"Bagaimana bisa ketahuan?" Tanya Richi.
"Daren memberikannya kalung mahal. Bunda curiga karena tak mungkin Olivia mampu membeli. Jadi, bunda menebak dan dia tak bisa mengelak." Jelas Clair pada Richi.
Richi menepuk pundak Olivia. "Oliv, pulanglah. Minta maaf pada bundamu."
"Bagaimana aku meminta maaf? Bunda saja tidak mau bicara padaku." Isaknya lalu menangis lagi.
"Teruslah ajak bicara. Ajak Daren bicara baik-baik pada Bunda, juga beritahu soal rencana-rencana kalian." Saran Richi lagi.
"Aku sudah mengatakannya, Rel. Tapi Bunda tetap tidak mau. Dia takut pada keluarga Daren." Olivia mengelap air matanya. "Aku tidak tahu apakah harus mendengarkan ucapan bunda, atau bertahan pada Daren. Dia bahkan tak mau putus."
Richi dan Clair tak lagi bisa berbicara. Apalagi Hugo. Dia juga merasa kasihan pada Daren.
"Kau tahu dari siapa?" Tanya Clair.
"Dia sendiri bilang padaku."
"Tapi, Daren tidak bilang apa-apa padaku." Sahut Olivia.
"Ya mungkin karena belum waktunya. Aku rasa dia akan menyelesaikan ujian akhirnya." Hugo mengatakan itu sebab Daren masih sering bercerita padanya. Apalagi perempuan yang dijodohkan dengannya juga sudah hampir menyelesaikan tugasnya. Jika mereka sama-sama selesai, maka perjodohan dibatalkan.
"Entahlah. Aku bingung sekali saat ini. Kau tahu, bahkan Camilla masih sering menggangguku dan Daren."
"Apa? Kau tidak pernah cerita."
"Bukan aku tak mau cerita, Rel. Tapi menurutku ini hal sepele. Kupikir dia hanya iri saja."
"Lupakan saja. Itu bukan hal penting saat ini." Tukas Clair. "Bagaimana kalau kau pulang saja. Darrel benar, kau harus mendapatkan maaf bundamu dan setujui saja permintaannya. Bunda hanya tidak mau kau kena masalah."
"Bagaimana kalau bunda menyuruhku tak lagi berhubungan dengan Darren?" Olivia bahkan tak bisa membayangkan dirinya tanpa Daren.
"Lakukan saja. Sekalian menguji bagaimana perjuangan Daren, kan?" Usul Hugo dan yang lain mengangguk.
"Kalau begitu, aku pulang dulu." Olivia menghapus air mata dan merapikan rambutnya. Setelah dirasa tenang, dia keluar dari kafe.
"Hah. Kenapa dia memilih jalan yang sulit sekali, sih." Keluh Clair sebelum akhirnya kembali ke belakang kasir.
__ADS_1
Richi jadi ikut menghela napas. Padahal yang punya masalah itu Olivia. Tapi dia merasa ikut sesak. Apalagi Olivia tak tahu kalaupun seandainya Daren bisa menyelesaikan ujiannya, tak mungkin jalan mereka tetap baik. Pasalnya perbedaan sosial itu yang membuat ayah Daren takkan setuju.
"Hei, kenapa melamun? Aku pesankan makan, ya?" Hugo membuyarkan lamunan Richi, lalu gadis itu mengangguk dan Hugopun menemui Clair untuk memesan makanan.
...🍁...
"Nih."
Eline menyerahkan setumpuk kertas pada Erine yang tengah membuka sepatunya. Dia melirik sekilas judul besar yang ada di kertas itu. 'Drugs and Love'
"Apa itu." Tanya Erine.
"Naskah drama teater untuk tiga atau empat minggu lagi. Kau harus menghapalnya karena pasanganmu adalah Hugo."
"Hah?" Erine seketika menjatuhkan sepatunya. Dia langsung mengambil naskah di atas kasur dan membacanya.
"Manfaatkan itu untuk menangkap Hugo."
"T-tunggu. Apa dia tahu aku pasangannya?" Tanya gadis itu lagi.
"Tentu."
"Dia setuju?"
Eline mengangguk. "Tapi, kau tidak bisa latihan disana. Latihanmu tempatnya berbeda. Yah, pokoknya ikuti saja apa yang kulakukan untukmu."
Erine mengangguk-angguk cepat. Dia langsung membaca isi naskah. Sesaat kemudian matanya membulat.
"I-ini.. Ada ciuman..nya.." Kalimat Erine sampai terputus-putus antara terkejut, senang, dan bingung.
"Anggap saja bonus."
Erine menggigit bibirnya. Bayangan bisa berciuman dengan Hugo pun muncul di kepalanya.
"Ah, apa Eddy ada menelponmu?"
Erine menggeleng sambil fokus pada kertas di tangannya.
"Dia selalu mengajak kita ikut bersamanya. Sudah aku katakan seratus kali kalau aku tidak mau tinggal di negara itu." Oceh Eline.
"Abaikan saja."
"Tapi Erine, apa sebaiknya kita ikut saja?"
Erine langsung mengalihkan pandangannya ke Eline. "Kenapa kau tiba-tiba minta pindah?"
"Soalnya.. Virgo, aku dengar dari yang lain kalau dia mengencani anak seangkatan kita. Kupikir saat sudah lama tak seperti itu, dia sudah berubah." Eline seketika murung. Tiba-tiba hatinya terasa sakit saat mendengar berita itu tadi.
"Aku.." Erine ragu. Dia menatap kertas di tangannya. Padahal dia baru mau memulai rencana, tapi Eline justru tengah galau.
"Kenapa kau tidak ke markas saja? Temui dia disana. Kalau kau membantunya, dia akan senang." Usul Erine.
"Ah, aku tidak tega melihat anak-anak itu. Sudahlah. Aku akan mengajaknya bertemu nanti malam." Eline beranjak dan keluar dari kamar Erine.
__ADS_1
Padahal biasanya Erine akan terus menyuruhnya putus dengan Virgo. Tapi kalau Eline pindah, tentu dia juga harus ikut. Lalu, bagaimana dengan rencananya dan Hugo?