
Hugo turun dari mobil. Hari ini dia tak bersama Richi. Gadis itu tidak ada mata kuliah, sementara Hugo harus menyelesaikan satu mata kuliah saja.
Baru akan menaiki tangga, Hugo menoleh kebelakang saat mendengar seseorang memanggilnya.
Perempuan yang kemarin datang lagi. Dia berlari kecil mendekat pada Hugo.
"Hugo, bagaimana?"
Ketua panitia itu menatapnya penuh harap. Dia ingin Hugo menerima tawarannya supaya donatur acara tidak kecewa.
Belum Hugo menjawab, gadis itu memberi sebuah amplop berwarna putih.
"Surat dari rektor. Dia berharap kau mau memainkan peran di salah satu cerita."
"Baiklah, aku terima perannya." Jawabnya sembari menerima amplop putih itu.
Perempuan itu terbelalak sekaligus senang, "Benarkah? Aah, syukurlah. Terima kasih, Hugo. Bisa ikut aku sebentar? Ada yang mau aku bicarakan mengenai konsepnya."
Hugo melirik jam di tangannya. Masih ada beberapa menit sebelum kelas dimulai. Dan dia juga punya permintaan sebelum memainkan dramanya, kan?
Hugo mengangguk, lalu mereka menuju lobi dan duduk di sofa yang ada disana.
"Perkenalkan, aku Mira, ketua panitia acara. Aku juga akan menjadi penanggung jawab drama teater yang kau mainkan nanti." Mira mengeluarkan setumpuk kertas dengan penjepit diujungnya.
"Ini naskahnya."
Hugo mengambil naskah itu, dia membaca judulnya, lalu manggut-manggut.
"Sebelumnya, aku ingin bilang kalau aku juga punya permintaan sebelum memerankan ini." Kata Hugo sembari menangkat naskahnya.
"Aku tidak ingin ada adegan pelukan, ciuman, atau sejenis yang seperti itu."
"A-apa?" Mira menggaruk tengkuknya. Tidak ada adegan seperti itu? Kenapa? Ah, mana seru. Pasti ceritanya akan sangat membosankan. Apalagi drama ini romantis. Penonton pasti menunggu adegan itu, kan? Pikirnya.
"Aku tidak ingin melakukannya karena aku sangat menyayangi kekasihku."
Seketika Mira merapatkan bibirnya. Pertanyaan dalam hatinya langsung dijawab Hugo dengan telak. Mira melirik Hugo, lelaki itu memang kemarin diterpa gosip bahwa dia membawa pacarnya ke kampus, ternyata itu benar. Karena Mira tidak melihatnya langsung.
"Kalau tidak bisa, maka akupun tidak bisa."
"Oh, tentu bisa. Kami akan membuat beberapa perubahan. Silakan baca dulu naskahnya dan nanti siang kita mulai latihan pertama."
"Siang ini?"
"Ya, karena acaranya sebentar lagi. Kau bisa, kan?"
Hugo tampak berpikir sejenak. "Bisa. Tapi tidak lama-lama karena aku ada jadwal pemotretan."
"Aku mengerti. Kalau begitu, terima kasih ya, Hugo."
Lelaki itu mengangguk kemudian pergi membawa serta naskah di tangannya.
__ADS_1
Mira menghela napas. Bagaimana cara dirinya mengatakan ini pada donatur? Padahal dari kemarin ia sudah lelah memilih tema dan naskah yang cocok untuk banyak adegan mesranya sesuai permintaan sang donatur. Tapi jika pemainnya saja tidak mau, maka dia harus bagaimana?
Lagi pula, Hugo bahkan tak bertanya siapa lawan mainnya. Bisa-bisanya dia cuek saja dan tak penasaran sedikitpun.
Mira menggelengkan kepala. Merasa salut dengan laki-laki itu. Dia benar-benar mencintai pasangannya sampai seperti itu, ya. Batin Mira.
Dia langsung mengeluarkan ponselnya untuk menelepon seseorang. Setelah beberapa detik menunggu, telepon dijawab.
'Ya, ada apa?'
"Emm.. Ada berita penting, nona."
'Cepatlah. Aku sedang diluar.'
"Begini, Hugo tidak mau ada adegan mesra dalam dramanya. Dia ingin bagian pelukan dan ciumannya dihapus."
Hening. Tidak ada suara.
"Ha-halo."
'Aku sudah menduganya. Masalah itu, biar aku yang akan mengurusnya nanti.'
Panggilan langsung terputus saat dari seberang terdengar panggilan sayang. Mira segera menyimpan ponsel dan beranjak dari tempatnya.
...🍁...
Richi mengamati jalan dari dalam mobilnya. Tangannya mengetuk-ngetuk di kemudi bundar tanpa mau beralih sedetik pun dari gang kecil yang kemarin ia datangi.
Suara sumbang dari dalam tak Richi hiraukan. Dia masih saja menatap jalan itu. Sudah 2 jam tapi tidak ada tanda anak-anak itu keluar dari sana.
"Aaarrrkkh. Aku lapar. Sudah dua jam kita disini tapi tidak ada apa-apa. Minimal sarapanlah!"
Pekik Bella kesal. Padahal mereka berangkat pagi-pagi buta hanya demi menyelidiki kasus si Richi ini. Tapi gadis itu bahkan tak menyediakan makanan dalam mobil.
Richi akhirnya menghela napas. Nampaknya kali ini dia harus kecewa karena tak mendapatkan apapun. Ditambah, dia juga mulai ikut lapar.
"Nah." Richi menyerahkan sebuah kartu pada Bella tanpa beralih pandang dari jalan kecil itu. "Sana beli makanan. Jangan lama-lama."
Bella langsung tersenyum lebar dan menerima kartu hitam milik Richi. Dia keluar setelah menerima orderan dari Clair dan Olivia.
"Apa kita tidak bisa langsung masuk saja?" Tanya Olivia.
Richi menggeleng. Walau dia juga ingin melakukan itu, namun ia tak bisa sesuka hati lantaran tempat itu banyak anak-anak dan tentu saja dilingkungan yang ramai.
Mata Richi membulat saat dua orang keluar dari gang. Itu pria tua yang menyuruhnya pulang tempo hari. Tapi kali ini, lelaki tua itu memakai pakaian rapi. Setelan jas dan dasi, juga pengawal dibelakangnya.
"Apa dia ketuanya?"
Pertanyaan Clair tak bisa Richi jawab karena dia juga tidak tahu. Tapi jika dilihat dari tampilan dan bodyguard-nya, dia pasti bukan orang sembarang.
Lelaki tua itu masuk saat pintu mobil dibukakan dan langsung pergi dari sana.
__ADS_1
"Kau tak berniat mengejarnya?" Tanya Clair.
"Tidak."
Beberapa menit menunggu, Bella masuk kedalam mobil dengan terburu-buru dan wajah tak biasa.
"Hah, gawat." Ucapnya sembari meletakkan berbagai makanan diatas dashboard mobil.
"Kau kenapa?" Tanya Olivia.
"Itu, dibelakang."
Semua menoleh kebelakang dan Eline tengah bersandar di mobil sambil menelepon seseorang. Dia menghadap kearah deretan toko di depannya.
"Cuma Eline, kenapa kau berlebihan sekali?" Clair menarik paksa makanan yang ada ditangan Bella.
"Aku cuma tidak ingin dilihatnya. Untung dia membelakangiku."
"Mau apa dia pagi-pagi disini?" Clair mengernyitkan dahi, pandangannya terpecah kebelakang mobil sedangkan Richi tak peduli. Dia terus menatap kedepan gang dan dia terpaku saat seseorang keluar dan berlari kecil dari sana.
"Hei, lihat, ada yang keluar."
Ucapan Bella membuat yang lain menoleh kedepan.
"Virgo." Gumam Richi. Matanya tak lepas pada lelaki itu.
"Kau mengenalnya?"
Pertanyaan Bella tak dijawab. Mata Richi menajam terlebih saat melihat Virgo menghampiri Eline dan mereka berciuman singkat.
"A-apa yang.. sebenarnya terjadi?" Clair bahkan tak jadi mengunyah makanannya.
"Apa lelaki itu kekasih Eline?"
Richi benar-benar tak tahu apa yang teman-temannya bicarakan, pasalnya dia tengah terus menatap kedua orang yang sudah masuk ke dalam mobil dan melaju.
Richi mengepalkan tangan. Dia tak tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi.
Virgo memang sempat mengaku menjadi Darrel. Sedangkan bocah bernama Willy itu juga pernah mengatakan bahwa bos mereka bernama Darrel.
Virgo, apakah dia Darrel yang dimaksud Willy? Tapi, jika dia yang menjadi bos, bukankah Virgo lelaki lemah? Itu sebabnya Richi tak menduga kalau Virgo bagian dari anggota Blackhole yang menyamar menjadi Darrel.
Lalu jika dia berpacaran dengan Eline, apakah gadis itu juga termasuk? Tapi, dia hanya menunggu diluar. Apa Eline tidak tahu?
"Bagaimana ini, Rel? Apa kita mengikuti mereka saja?" Tanya Clair.
Richi memejamkan matanya. Saat ini dia tak bisa berpikir hal lain karena yang ada di otaknya hanya Eline dan Virgo. Tapi karena ini secara tak langsung berkaitan dengan Valiant, nampaknya dia harus berunding dengan kakaknya.
"Kita kembali saja. Aku perlu waktu untuk bertindak."
Richi menyalakan mobil dan melaju pulang. Dia akan datang lagi sore ini untuk menggrebek markas itu setelah mendapat persetujuan kakaknya.
__ADS_1