
Harry tersenyum sambil membukakan pintu mobil untuk Richi. Wajahnya terlihat agak kusut padahal biasanya dia selalu cerah walau sore hari sekalipun.
"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Richi saat mobil sudah berjalan.
Harry tersenyum tipis pada Richi. "Terima kasih sudah peduli dan bertanya. Tidak ada apa-apa."
Jawaban Harry malah membuat Richi mengerutkan dahi. "Kau yakin? Kau tidak sakit?" Richi meletakkan tangannya di dahi lelaki itu.
Harry tak menyahut, dia diam menatap Richi yang merapatkan wajahnya, memeriksa suhu tubuh di dahinya.
"Ya, aku baik-baik saja." Jawab Harry dengan masih menatap Richi, lalu beralih menatap ke depannya.
"Maaf, aku pergi begitu saja dari penthouse-mu."
Harry tersenyum tipis. "Tidak apa-apa. Aku mengerti."
Mendengar itu, Richi memilih diam sebab Harry tidak seperti biasa.
Sesampainya disana, Richi memilih untuk pergi ke toilet terlebih dahulu.
Di dalam bilik toilet, Richi mengangkat roknya. Dia memakai celana pendek yang menyelipkan pisau di dalamnya. Richi mengecek perlengkapannya terlebih dahulu sebab dia merasa sedikit ganjil dengan perusahaan Harry.
Richi menghela napas. Dia sedikit gemetar karena akan memeriksa setiap ruangan tanpa dicurigai oleh Harry.
Saat keluar dari toilet, Richi mendapati Harry tengah berbicara dengan seorang yang memakai hoodi dan masker. Melihat kedatangan Richi, orang itu langsung pergi.
"Ayo, aku akan membawamu ke atas." Harry menggandeng tangan Richi.
Tidak banyak pegawai di perusahaan Harry, hanya saja lebih banyak penjaga dengan jas hitam yang tampak rapi. Rasanya benar ini adalah markasnya, sebab terlalu banyak penjaga untuk ukuran perusahaan biasa.
Richi bisa merasakan orang-orang itu menatapnya saat berjalan dibelakang Harry. Namun saat dia melihat balik, orang-orang itu tertunduk.
"Ini ruang pribadiku. Kita makan siang dulu, ya." Harry mempersilakan Richi masuk dan duduk di meja kecil.
Tak lama, beberapa orang datang membawa makanan dan minuman, meletakkannya di atas meja.
Harry menuangkan minuman ke dalam gelas kosong di depan Richi.
"Ini anggur La Mancha, aku membelinya di Spanyol. Tenang saja, ini tanpa alkohol. Coba saja."
Richi mengangkat gelas, mencium aroma minuman yang berwarna pekat itu. Ya, dia tidak mencium bau alkohol di dalamnya.
Harry tersenyum saat Richi mulai meminum sedikit anggur itu.
"Bagaimana? Sudah aku bilang, itu tidak memabukkan." Ucapnya lalu menyantap makanannya lagi.
__ADS_1
"Setelah makan, aku akan membawamu ke ruang peroperasi. Disana akan aku perkenalkan cara kerja perusahaanku."
Richi merasa sedikit pusing, dia melihat ke arah Harry yang terus makan sembari berbicara tentang perusahaannya yang tidak bisa Richi tangkap, dia mulai berpikir bahwa minuman tadi pasti mengandung obat tidur atau sejenisnya.
Apa Harry yang melakukannya? Wajah Harry terlihat berbayang. Laki-laki itu terus saja mengoceh tentang dirinya dan perusahaannya tanpa memperhatikan Richi yang sejak tadi berusaha memfokuskan pandangannya.
Kepala Richi terasa berat, pandangannya sudah sangat kabur namun Harry berbicara tanpa jeda.
BRUK!
Lagi, Richi ambruk. Tubuhnya jatuh ke bawah karena sudah tidak kuat menahannya dan Harry dengan cepat membawanya keluar dari ruangannya.
~
Richi mengerjap, mengusir pandangan yang kabur di matanya. Dia langsung menegakkan tubuh saat teringat terakhir kali dia terjatuh.
Richi terkejut saat mendapati tangannya terikat dan dia ternyata terduduk di sebuah kursi.
Mata Richi membulat saat melihat sosok Harry berdiri membelakangi dirinya. Dia menatap ke luar jendela dengan tangan yang dimasukkan dalam kantong celananya.
"Kau sudah bangun?" Harry bertanya tanpa menoleh, membuat Richi bertanya-tanya. Apakah Harry selama ini sudah tahu dan berpura-pura? Jika Harry tahu tentang dirinya, kenapa selama ini dia diam dan memperlakukannya dengan baik? Bukankah seharusnya Harry bisa membunuhnya saat dia sendiri yang melakukan kesalahan tadi malam? Mengapa Harry malah membawanya ke Penthouse dan mengecup kepalanya?
Pertanyaan Richi yang menumpuk tak satupun terjawab, sebab Harry pun kini terlihat enggan banyak bicara.
Lalu jika sekarang dirinya disekap, sejak kapan Harry tahu? Apa benar Harry sudah tahu siapa dirinya sebenarnya?
Harry berjalan lalu duduk di hadapan Richi dengan wajah yang terlihat sendu, entah mengapa.
Dia mengelus lembut pipi Richi, "Kau berjalan terlalu jauh. Padahal aku sudah jatuh hati padamu". Ucapnya tanpa ekspresi.
"A-apa maksudmu?" Richi tidak paham maksud perkataan Harry.
Harry mengusap bibir Richi dengan ibu jarinya secara perlahan. "Kau menyakiti perasaanku." jawabnya dengan nada yang hampir tak terdengar. Richi mengerutkan dahinya, Jika Harry mengetahui siapa dirinya, kenapa respon Harry benar-benar terlihat sakit hati karena cinta?
"Menyakiti perasaanmu?" Tanyanya dengan bingung sementara Harry terus menatap matanya dengan tatapan sendu.
...🦋...
...(Flash Back On)...
Harry terus tersenyum bahkan saat baru saja sampai disekolah. Dia tidak sabar menunggu untuk pulang dan berharap semoga saja Richi masih di Penthouse-nya. Bukankah hal yang sangat luar biasa saat terbangun dari tidur bisa melihat gadis pujaannya ikut terbaring disebelahnya?
Wajah senyum Harry tak luput dari pandangan anak-anak di sekolahnya.
"Wah, tuan Harry sedang bahagia, ya?" Seorang gadis berpakaian cheerleader menyapanya.
__ADS_1
"Benar. Saya sedang bahagia." Senyum Harry semakin terpancar. Dia lalu melihat pakaian gadis itu.
"Kalian latihan?" Tanyanya.
"Iya, akan ada perlombaan Cheerleader minggu depan."
Harry menoleh kesana kemari. "Shera mana?"
"Shera sedang berganti pakaian. Kalau begitu, saya permisi dulu." Gadis itu tersenyum pada Harry dan melangkah pergi, bergabung dengan temannya yang lain.
Shera keluar ruangan dan berjalan dengan wajah lesu. Gadis itu ketua cheers dan dia benar-benar sangat cantik saat memakai seragamnya. Rok pendek berwarna fanta dan atasan yang sangat sempurna di tubuhnya yang tinggi.
Harry memandanginya sambil tersenyum, walau dia tahu gadis itu pasti tengah bermuram karena kejadian malam tadi. Harry berniat menyenangkan gadis itu setelah misinya selesai.
Melihat Shera yang melakukan pemanasan, Harry memilih memperhatikannya sebentar dan bersandar pada tiang penyangga.
Tampak seseorang menunjuk Harry pada Shera, dengan senyum lebar Harry melambaikan tangan saat melihat Shera menoleh padanya lalu tersenyum malas dan melakukan pemanasan lagi tanpa memperdulikan Harry.
Harry tergelak, melihat Shera ngambek justru menambah semangatnya. Harry masuk ke kelasnya dan mengikuti pembelajaran.
Harry terus melirik jam di tangannya, rasanya waktu berjalan sangat lambat. Tiba-tiba dia teringat pada Richi yang sempat meracau tadi malam. Gadis itu menyebut mawar putih saat tengah tertidur. Entah apa yang dimimpikannya, namun nampaknya dia ingin bunga itu.
Harry berdiri saat jam pelajaran berganti. Dia menyandangkan tasnya berniat pulang cepat karena tidak sabar bertemu Richi.
Harry menyempatkan membeli bunga mawar putih untuk Richi. Dia keluar dari mobil dan berjalan menuju Penthouse-nya dengan senyuman lebar, membayangkan wajah Richi yang pasti akan senang saat dirinya membawa mawar putih. Richi pasti bingung kenapa Harry bisa tahu apa yang dia inginkan.
Senyuman Harry semakin melebar saat melihat Richi berjalan keluar dari hotel.
Harry mempercepat langkahnya supaya gadis itu tidak meninggalkannya terlalu jauh, namun langkahnya terhenti saat melihat Richi tersenyum lebar entah kepada siapa. Mata Harry menatap ke arah mata Richi memandang, dia melihat seorang laki-laki bersetelan jas hitam berlari kecil ke arah gadis itu.
Harry terdiam, pemandangan di depannya sangat mengejutkan. Dia Hugo Erhard, berlari ke arah Richi yang tengah tersenyum lebar menatapnya. Hugo memeluk tubuh gadis itu dan Harry bisa melihat dengan jelas bahwa gadis itu membalas pelukannya.
Sesuatu didepannya itu seperti meremukkan tubuhnya. Dia melemas, bunga mawar putih itupun terjatuh dari genggamannya. Pemandangan yang membuat hatinya terkoyak seketika. Bagaimana mungkin Richi dan Hugo terlihat sangat bahagia, berpelukan dan saling merangkul berjalan bersama.
Harry menatap nanar pada keduanya, apa yang telah ia lewatkan? Kenapa Richi terlihat sangat bahagia bersama Hugo? Apa mereka memang berpacaran?
Harry membeku di tempatnya, kenapa dia bisa kehilangan pikirannya saat berhadapan dengan Richi? Dia melewatkan sesuatu, dia tidak mencari tahu siapa gadis itu. Dia tidak pernah curiga pada gadis yang teramat memikat hatinya.
Harry menghembuskan napas yang sejak tadi ia tahan. Apa maksud perempuan itu mendekatinya? Richi, jika dia menyukai Hugo Erhard, kenapa dia mendekati dirinya sampai seperti itu? Lalu, bukankah Hugo juga mendekati Shera?
Harry mengepalkan tangannya, dia merasa tertipu. Mengapa gadis itu melakukan ini padanya? Harry mengeraskan rahangnya, sampai mobil Hugo yang perlahan menghilang dari pandangannya, Harry pun meninggalkan tempatnya.
TBC
○●○●○●
__ADS_1
Halo, Jangan lupa singgah ke Karya Author yang lain, ya. Menikahi Lelaki Tunanetra