
"Maafkan aku." Bisik Daren pada gadis itu.
"Ceritakan padaku, Daren. Aku perlu tahu."
Daren mengajak Olivia duduk berdua. Disana, ia mulai menceritakannya.
"Bibi benar. Sejak lahir, aku sudah dijodohkan dengan seorang yang juga keturunan bangsawan. Kami berhubungan baik."
"Berhubungan baik?" Beo Olivia.
"Dia gadis yang waktu itu memanggilku saat kita tengah video call."
Mendengar itu, Olivia mendadak lesu. Jika demikian, apa yang mereka lakukan saat disana?
"Olivia, aku dan dia tidak punya hubungan lain. Kami sama-sama tidak ingin dijodohkan. Makanya, saat belajar satu minggu disana, kami saling mendukung untuk lulus. Karena.. ada beberapa hal yang harus kami lakukan supaya kami bisa bebas dengan ikatan itu." Jelas Daren pada Olivia. Gadis itu menatapnya tanpa berkedip.
"A-apa itu? Apa aku bisa membantumu?"
Daren menggelengkan kepalanya. "Tidak, Olivia. Ini wajib kukerjakan sendiri. Kalau aku gagal, aku harus menuruti semua permintaan Ayahku."
"Termasuk menikahi perempuan itu?"
Daren mengangguk, lalu menggenggam kedua tangan Olivia.
"Dia juga punya kekasih. Mereka menjalaninya diam-diam. Apa kau bisa melakukan hal yang sama?"
Olivia dengan cepat mengangguk. "Iya. Aku bisa menjalaninya diam-diam." Olivia kemudian mengeratkan genggamannya. "Aku tidak mengerti apa sebenarnya tugasmu itu. Tapi, kumohon lakukanlah dengan benar supaya kau bebas."
"Pasti, sayang. Aku hanya butuh kau untuk mendukungku." Ucapnya sembari menghapus air mata Olivia. "Ingat, Bibi pun jangan sampai tahu."
Olivia akhirnya tersenyum lalu mengangguk. Dia memeluk Daren dengan erat. Daren adalah cinta pertamanya, tentu dia memiliki harapan dengan lelaki itu. Dia ingin memiliki hubungan yang awet seperti orang-orang pada umumnya.
Richi yang melihat keduanya sudah berpelukan, berbisik pada Hugo. "Kau bilang mereka sulit bersatu, kenapa malah pelukan dan terlihat bahagia seperti itu?"
Hugo terkekeh lalu menyentil pelan jidat Richi. Membuat gadis itu langsung cemberut memegangi dahinya.
"Baru pertama aku melihatmu kepo dengan urusan orang lain." Ucap Hugo, kemudian ikut menatap kedua orang yang tengah pelukan itu.
"Daren harus menjalani syarat dari ayahnya supaya bisa menolak perjodohan itu. Dan sudah dari dulu dia berusaha, sampai sekarang kulihat dia semakin bersemangat saat Olivia menerima cintanya."
"Tapi, bagaimana kalau ayahnya tahu?" Tanya Richi masih berbisik.
__ADS_1
"Kurasa mereka akan menjalaninya diam-diam." Jawab Hugo setengah berbisik. Lalu dia menopang dagu menatap kekasih di depannya.
"Ada apa? Kenapa kau malah menatapku seperti itu?" Tanya Richi, merasa aneh dengan Hugo yang senyam-senyum menatapnya.
"Setelah melihat Daren, aku merasa.. ternyata jalanku lebih mudah. Walau ada dua panglima yang menjagamu, tapi aku sudah berpikir kalau aku menang. Ayahku pun menyukaimu. Apalagi Ibumu, dia begitu menginginkan aku menjadi menantunya."
Richi cengo, menganga mendengar penuturan terakhir Hugo. "Siapa yang bilang Ibu begitu menginginkanmu menjadi menantu?"
"Tentu saja aku. Waktu aku kesana, Ibu menyambutku dengan saaangat baik. Dia juga terus menggenggam tanganku. Yah, kurasa dia terharu karena aku menyelamatkannya dari bom di tubuhnya waktu itu. Hehee."
"Kapan kau datang??"
"Waktu kau marah dan tak di rumah. Hei, dengar, ya. Walau kau tidak suka padaku, ibumu sudah sangat menyukaiku."
"Lalu, kau mau menikahi ibuku?" Ucap Richi santai.
"Apaa!? Bukan! Intinya, kau tidak bisa kemana-mana karena akulah laki-laki yang disukai ibumu. Dia akan menghalangi laki-laki lain yang mendekatimu. Hahahahahaha." Hugo tertawa layaknya penjahat yang berhasil menculik putri raja.
"Cuma ibuku, Hugo. Ayah dan Ricky akan selalu ada dipihakku. Apalagi Ricky, dia pasti dengan gampang menendangmu."
Tawa Hugo berhenti seketika. Dia menatap Richi cukup lama dengan wajah serius.
"Jadi, aku memang harus memenangkan hati mereka juga, ya."
"Bukan mereka. Tapi aku. Kuncinya ada di aku. Kalau mereka suka tapi aku tak suka, memangnya mereka bisa apa?" Richi menaikkan alisnya, menunggu jawaban Hugo, tapi laki-laki itu mengatupkan bibirnya.
Melihat Hugo kalah, Richi tersenyum lebar lalu membuka novel dan mulai lagi membacanya. Sementara Hugo, wajahnya sudah berubah kesal sejak Richi mengatakan itu.
Clair duduk di dekat Richi. Wajahnya tampak lelah karena banyak pesanan hari ini. Dia menatap kesal ke arah Daren dan Olivia yang bermesraan disana.
"Hah. Sial sekali. Aku tidak bisa berkutik karena Daren membayar waktu Olivia padaku."
"Kau sudah bisa menerima pegawai baru." Sahut Richi masih fokus pada novelnya.
"Aku sedang mempertimbangkannya." Jawabnya kesal.
"Nona, saya ingin pesan." Clair beranjak, dia kembali ke meja bartender saat seseorang datang untuk memesan.
"Richi sayang, bagaimana kalau kita makan malam berdua. Aku rindu momen itu." Ajak Hugo dengan wajah berseri.
"Tapi, aku ingin kau memakai dress dan sedikit berdandan seperti kau mendatangi Damian gila itu. Aku iri. Kau bahkan sangat cantik saat menemuinya." Sambung Hugo lagi.
__ADS_1
Richi memilih diam sebentar, memandang Hugo dengan wajah datar sampai akhirnya dia bersuara. "Ternyara seleramu belum berubah, ya, Hugo."
"Ah, aku tidak memaksamu. Tapi kalau kau mau memakai jeans sobek-sobek juga tidak masalah.
"Benarkah? Oke, kalau gitu malam nanti jemput aku, ya."
Hugo mendesah halus. "Okee.." Jawabnya dengan sedikit pelan. Dia lesu dengan reaksi Richi. Saat dibilang pakai celana sobek, perempuan itu langsung bersemangat dan memintanya untuk langsung menjempunya.
...🦋...
Di malam harinya, Hugo sudah bersiap dengan setelan jas yang amat rapi. Tak lupa ia menata rambutnya supaya lebih terlihat menawan bagi Richi.
Kemarin, perempuan itu sempat protes saat Hugo menunjukkan style rambut yang mau ia terapkan. Katanya, model itu jelek dan tidak cocok untuk Hugo. Tak lupa pula ia mengamcam Hugo apabila lelaki itu tetap memaksa untuk memotong rambut dengan gaya begitu, Richi tak akan mau menemuinya sampai rambutnya tumbuh seperti sedia kala.
Tentu hal itu membuat Hugo senyum-senyum sendiri sampai saat ini. Dia merasa senang kalau Richi mau mengomentari penampilannya berdasarkan apa yang gadis itu suka. Dan kali ini, Hugo menyisir rambutnya ke belakang dengan rapi. Karena gadis itu bilang, dia menyukai Hugo dengan menampakkan dahi.
Hugo sudah berdiri di depan mobilnya, menunggu Richi keluar dari rumah. Perempuan itu memintanya untuk menunggu saja diluar gerbang. Entah kenapa, mungkin dia tak ingin membuat Hugo bertemu dengan Ricky atau sang ayah yang tengah ada di rumah.
Hugo mengeluarkan ponsel saat menunggu sudah lebih dari lima menit lamanya.
Dia meletakkan ponselnya di telinga, menunggu Richi mengangkat, namun tidak juga dijawab.
"Hugo."
Sebuah panggilan membuatnya menoleh, dia terpaku disana.
Richi berjalan perlahan. Dia menahan senyum melihat Hugo yang terpana dan terus menatapnya tanpa kedipan sekalipun.
Richi mendongak, lalu menaikkan dagu Hugo supaya laki-laki itu menutup mulutnya yang ternganga.
"Bisa kita pergi sekarang?"
Hugo menunjukkan seringainya, lalu tertawa pelan sambil terus memperhatikan Richi dari atas sampai bawah.
"Kau.. benar-benar bisa membuatku terpesona." Bisik Hugo lalu membuka jas hitamnya.
"Eh, kenapa?" Gadis itu terkesiap saat Hugo memakaikan jas di bahunya.
"Ini terlalu seksi." Bisik Hugo dengan senyum nakalnya.
__ADS_1