
Richi langsung menjatuhkan dirinya keatas tempar tidur tanpa berganti pakaian. Dia dibantu Hugo melepas sepatu dan menyelimuti gadis yang sudah memejamkan mata itu.
Ya, akhirnya mereka sekamar. Sebab Richi bilang dia ingin cepat-cepat membaringkan tubuh karena lelah. Jadi, Hugo yang punya seribu harapan itu, memesan satu kamar supaya bisa memeluk gadis itu selama tertidur.
Hugo sendiri heran, kenapa Richi sampai selelah itu. Padahal biasanya tenaga Richi seperti baja bahkan sulit tumbang.
Tapi daripada penasaran, Hugo lebih memilih membiarkan Richi beristirahat dan diapun membuka laptop untuk mengerjakan tugas-tugasnya.
~
Richi terbangun. Dia langsung melihat punggung Hugo yang tengah menatap laptop di depan. Dia sedang belajar.
"Hugo."
Lelaki itu memutar badan. Lalu tersenyum melihat Richi yang sudah duduk bersandar.
"Jam berapa ini?" Tanya Richi dengan mata separuh terbuka.
"Jam delapan. Tidur lagi saja."
"Lapar.."
Hugo tertawa kecil. Tadi dia mengajak Richi pergi makan sebelum ke hotel tapi gadis itu menolak karena terlalu mengantuk, katanya.
"Aku sudah belikan kau baju tadi. Sana mandi, aku tunggu di lobi."
Hugo menutup laptopnya lalu keluar dari kamar. Sementara Richi, dia meraih ponsel untuk mengirim pesan pada Ibunya, supaya wanita itu tidak khawatir nantinya.
Setelah mandi dan memakai baju yang dibelikan Hugo, Richi menatap dirinya di depan kaca sambil menahan tawa. Bagaimana pun selera Hugo manis juga.
Richi menutup pintu. Dia merogoh tas saat ponselnya berdering, dari nomor yang tak dikenal.
"Halo?" Sapa Richi pada orang diseberang.
'Hai, sayang.'
Richi mengenali suara itu. "Virgo?" Richi penasaran, bagaimana bisa lelaki itu mendapatkan nomornya?
'Wah, kau mengenali suaraku. Aku senang.' Terdengar tawa kecil dari seberang. 'Besok aku ingin berkencan. Aku akan menjemputmu pukul 12 siang.'
"A-aku ada kelas." Jawab Richi bohong.
'Tidak masalah. Aku akan menjemputmu ke kelas. Kau tahu siapa aku kan, sayang. Aku sudah bilang, kalau aku tidak suka dibantah.'
Napas Richi menderu. Tangannya sudah mengepal. Sialan, Virgo benar-benar mempermainkannya.
'Baiklah, selamat istirahat, sayang.'
Virgo menutup teleponnya, membuat Richi kesal setengah mati. Bagaimana bisa lelaki itu sesuka hati? Sejak kapan pula Richi bisa diatur-atur seperti itu? Hah, Richi sangat jengkel. Dia benar-benar akan membuat perhitungan dengan anak itu.
"Hei, aku tunggu dari tadi dibawah. Kenapa lama sekali?" Hugo mendatanginya. Sudah lebih dari satu jam dia menunggu, tapi Richi malah bengong di depan pintu kamar.
"Wah, cantik sekali pacarku." Hugo mendaratkan kecupan di pelipis Richi.
"Siapa yang pilih baju ini?"
"Tentu aku. Memangnya siapa lagi? Aku tadi beli dua. Besok kau ada kelas, kan?"
Richi mengangguk saja lalu menggandeng tangan Hugo menuju lantai bawah.
__ADS_1
"Kita kemana?" Tanya gadis itu semangat.
"Pertama-tama, kita cari makan dulu. Lalu kita coba keliling taman. Katanya Ventown sangat indah di malam hari."
Richi tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Sebelum itu, pakai ini." Richi menyerahkan masker hitam pada Hugo.
"Aku tidak mau kalau sampai kau dikenali dan membuatku kesal karena harus menunggumu difoto sana-sini." Oceh Richi panjang lebar, membuat Hugo terkekeh namun menuruti saja kemauan pacarnya.
Tapi apalah daya. Richi semakin memandangi Hugo. Memakai masker tak membuat tampannya luntur. Justru dia tampak sangat keren.
Ya, sejak menjadi model, lelaki itu tambah tampan dan gagah. Dia benar-benar menjaga diri dan semakin rajin berolahraga.
Masker dan bomber jeket senada membuat penampilan lelaki itu semakin menawan dimata Richi.
"Sudah?"
"Hah. Nasib punya pacar supermodel!" Richi malah kesal sendiri dan berjalan duluan. Membuat Hugo terheran, apakah itu efek kelaparan?
~
Hugo sengaja menyewa lantai dua sebuah restoran yang terkenal enak dan mewah di kota itu. Dia sengaja melakukan itu supaya Richi tidak perlu lagi mengomel soal menampakkan wajah di depan umum saat bersamanya. Jadi, dia memilih untuk cari aman dengan menyewa saja, demi keberlangsungan yang damai bersama sang pacar.
Sejak tadi, Richi pula tak henti mengunyah. Dia terus memesan makanan dan menghabiskan apa yang ada diatas meja. Tentu Hugo keheranan dengan hal itu. Namun dia hanya memperhatikan saja, kadang memesan makanan lagi untuk kekasihnya yang seperti tak makan berhari-hari.
"Chi, sebenarnya ada apa?" Tanya Hugo saat melihat Richi menghabiskan makanan terakhir.
"Ada apa? Tanya gadis itu balik setelah berhasil menelan makanannya.
"Kau beda sekali. Tadi kelelahan, sekarang kelaparan. Apa olahragamu seberat itu?"
"Hugo, bisa dengarkan aku sebentar?"
"Iya. Aku akan mendengarkan."
"Begini,-"
Richi terhenti saat sebuah ponsel diatas meja berdering. Dia meraihnya, sedetik kemudian ia tersadar kalau yang ia ambil adalah ponsel Hugo. Bukan sekali dua kali, berkali-kali Richi salah ambil ponsel karena punya mereka yang sama.
"Ponselmu." Richi menyerahkan ponsel yang masih berdering itu. Lalu membiarkan Hugo berbicara beberapa menit. Setelah selesai, lelaki itu kembali meletakkan ponselnya disebelah ponsel Richi.
"Mau bilang apa tadi?" Lanjut Hugo pada Richi.
"Hm.. soal lingkungan kampus. Ada anak laki-laki yang-"
Lagi, ponsel Hugo berdering. Panggilan lain datang, membuat Richi kesal menatap ponsel itu.
"Sebentar, sayang. Ini dari kantor agensi." Hugo berbicara lagi, beberapa menit sampai membuat Richi bosan dan beranjak keluar. Melihat itu, Hugo gelagapan. Dia tahu Richi mulai marah.
"Nanti saya hubungi lagi.." Hugo menutup telepon dan berlari mengejar Richi. Gadis itu sudah tidak terlihat. Padahal jelas Hugo nampak dia baru turun dari tangga.
"Hugo Erhard? Model majalah TheMost, kan?"
Dua orang perempuan yang berpapasan dengannya langsung mengenalinya, karena Hugo lupa memasang maskernya.
"Ah, iya."
"Wah. Akhirnya bisa ketemu. Boleh minta foto??"
"Maaf, aku buru-buru. Maaf, ya.." Ucap Hugo sembari menaikkan maskernya kemudian berlari kecil mencari Richi.
__ADS_1
Hugo mengedarkan pandangan, mencari sosok yang sangat ia kenali rupanya. Dan ia menemukan Richi walau gadis itu membelakanginya.
Richi duduk dibangku panjang. Dia tampak tenang padahal angin sedang kencang, sementara gadis itu tidak memakai jeket.
Dari belakang, Hugo membentangkan jeketnya dibahu Richi, membuat gadis itu menoleh dengan wajah yang kusut. Kaki kanannya melipat keatas sembari ia pijit-pijit.
Melihat gadis itu melepas high-heels dan memijit kaki, Hugo langsung duduk disebelahnya.
"Aku jatuh disitu." Ucapnya dengan murung, menunjuk tempat dimana ia terjatuh tadi.
Hugo malah terkekeh sampai membuat Richi menatapnya dengan tajam. Bisa-bisanya Hugo menertawakannya.
"Wahaha. Sayang sekali aku tidak lihat langsung." Ucapnya ditengah tawa. Membuat Richi langsung membuang wajah kesal. Padahal kakinya benar-benat keseleo sampai membuatnya sulit berjalan.
Hugo melepaskan tas Richi dari bahu gadia itu, lalu memakaikan dibahunya sendiri, meraih sepatu Richi kemudian berjongkok di depan gadis itu, menepuk punggungnya sendiri. "Ayo, naik. Kita keliling taman."
Richi memakaikan jeket Hugo dengan benar, lalu melingkarkan tangannya dan naik kepunggung Hugo.
Lelaki itu menggendong Richi dengan tangan yang menenteng sepatu high-heelsnya. Sementara tas Richi menggantung di lehernya.
Pemandangan yang unik, tentu membuat orang-orang sekitar menatap Hugo, tapi dia tak peduli.
Richi tersenyum puas. Walau kakinya masih sakit, tapi digendong belakang begini membuatnya sangat senang. Apalagi dia bisa mencium aroma rambut Hugo yang maskulin, juga memeluknya erat dari belakang.
"Jangan senyum-senyum."
Ucapan Hugo membuat Richi melipat bibirnya. "Aku tidak senyum!"
"Aku tahu kau senyum."
"Memangnya kenapa kalau senyum?"
"Senyummu cantik, nanti dilirik orang."
Richi tergelak. Padahal gombalan biasa, tapi kalau Hugo yang mengatakannya, dia tidak bisa menahan diri untuk sebuah kebahagiaan yang mencuat keluar dari dalam hatinya.
"Kau sendiri bagaimana? Pamer abs perut?"
"Laki-laki kan, biasa. Kecuali itu kau, baru aku akan marah." Sahut Hugo.
"Jadi aku tidak boleh marah?"
"Marah buat apa? Tidak ada yang bisa menyentuh dan memiliki tubuhku kecuali kau.
Lagi-lagi Richi tersenyum. Memang benar, tapi rasanya dia tetap ingin Hugo menutupnya.
"Kalau kau mau, kau bisa menikmatinya malam in- aaahhh." Hugo meringis sebab Richi menjambak rambutnya. Keseruan dua orang itu ternyata mendapat perhatian dari sekelompok orang.
"V, bukankah itu pacarmu?"
Virgo menyipitkan mata, melihat siapa perempuan yang digendong oleh laki-laki bertubuh tinggi. Mereka tertawa dan tampak akrab sekali.
"Benar. Itu Richi." Sahut Andrew.
Virgo mengeraskan rahangnya. Dia geram, bisa-bisanya ia melihat pacar barunya bermesraan dengan laki-laki lain di hadapan teman-temannya pula.
"Mau bermain-main sebentar, V ?" Tawar Andrew sambil berseringai lebar.
TBC
**Pen aku lagi pening kepala. Abis kejedot keras kemaren. Puyeng😵💫 maap kalo telat up ya. Syahdu juga bntar lagi aku up.**
__ADS_1